
Kurasakan abang terus mengusap punggungku, sementara aku masih saja terisak
"Abang janji, kapanpun kamu mau pulang, abang akan bawa kamu kesini lagi"
Aku tak menggubris bujukan abang, aku terus saja menangis.
Dengan sabar abang juga berdiri di dekat jendela di sebelahku, sedetikpun dia tak beranjak meninggalkanku
Sementara kedua anak kembarku yang duduk di kursi terus menatap sedih padaku
Dan kelima bodyguard yang berjaga melakukan hal yang sama, mereka berjaga tapi terus memandang kearah aku dan abang
"Sayang ayo duduk!"
Aku menggeleng
Abang lalu duduk di kursi di dekatku, dan tangannya terus menggenggam sebelah tanganku
"Masih lama untuk kita sampai Jakarta, ayo duduk dulu"
Aku menarik nafas dalam mendengar bujukan sabar abang
"Ya Alloh alangkah banyak berkah yang Kau berikan pada hamba" batinku
Abang menatap mataku dengan dalam, dan dapat kurasakan jika mata itu penuh cinta
Abang menggerakkan tanganku yang digenggamnya lalu memasang senyum manis
Aku hanya tersenyum getir kearah abang lalu duduk di sebelahnya.
Dengan sayang abang meletakkan kepalaku ke dadanya dan mengelus-elus punggungku bahkan sesekali mencium puncak kepalaku
"Kamu itu sangat beruntung sayang, kamu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangimu, tidak semua orang bisa seberuntung kamu"
Aku menarik kepalaku dan menatap mata abang
"Abang sangat menyayangimu, begitu juga dengan kedua orang tuamu, mereka rela melalukan apapun untukmu, bahkan rela jauh darimu karena mereka tahu bahwa surga mu ada pada abang, tapi abang tidak akan pernah melarang mu untuk menemui mereka kapanpun kamu mau, tapi dengan satu syarat"
Aku makin menatap mata abang dengan penasaran
"Jangan pernah meninggalkan abang..."
Aku memukul lengannya sambil tersenyum mendengar gombalannya
Dan kulihat abang juga tersenyum karena akhirnya dia berhasil membuatku tersenyum
"Jangan menangis lagi, matamu sudah sangat bengkak"
Aku mengusap wajahku lalu kembali menempelkan kepalaku di dada abang
"Semua orang sangat menyayangimu, jadi kamu jangan sedih lagi, ya? bahkan Abraham pun sangat menyayangimu"
Aku menyunggingkan senyum mendengar ucapannya
"Pak Abrahamnya mana?"
Abang menarik bahuku menghadap kearahnya dan kulihat wajahnya langsung berubah datar
Aku menutup mulutku menahan tawa
"Awas kalau kamu berani memujinya"
Aku langsung memeluk abang dan terkekeh. Dan Ozkan menarik nafas lega karena wajah cemburunya tadi berhasil membuat istrinya tertawa
"Tertawa lah dengan lepas sayang, jangan menangis lagi, hati abang sangat hancur melihatmu bersedih"
Aku mengangguk dan tetap tak menjauhkan kepalaku dari dadanya
Hingga akhirnya pesawat sedikit berguncang dan kurasakan jika akhirnya pesawat landing
Setelah pesawat benar-benar berhenti, akhirnya dengan mesra abang menggandeng tanganku untuk turun
Saat itu hampir tengah malam ketika kami sampai di Jakarta, dan kulihat jika kedua anak kembarku pulas tertidur
"Apa mereka dibangunkan saja?"
__ADS_1
Abang menggeleng melainkan dengan memberi kode menggerakkan jari pada dua bodyguard dari Jeddah yang segera datang kehadapan abang, abang langsung memberi perintah pada mereka
"Yurjaa aliaetina' bitiflayna , fanahn nanzaliq lifatrat min alwaqt"(tolong jaga kedua anak kami, kami mau turun sebentar)
"Naeam sayidi" (Iya tuan)
Lalu abang segera mengangkat tubuh Defne dan meletakkannya di kamar lalu abang kembali lagi ke kursi dan mengangkat Serkan
Setelah meyakinkan jika twins masih terlelap di kamar mereka masing-masing, abang mengajakku turun.
Sementara dua bodyguard langsung berjaga di depan pintu kamar Serkan dan Defne
Pak Abraham dan dua bodyguard lainnya berjalan di belakang kami dengan posisi siaga, dan terus di belakang kami ketika kami menuruni tangga
Agak jauh kulihat Mikail berjalan cepat kearah pesawat dan berdiri di ujung tangga. Dan ketika abang turun, Mikail langsung mencium takzim punggung tangan abang. Lalu memelukku erat ketika selesai menyalami abang
"Astaghfirullah mata bunda kenapa?"
Aku hanya tersenyum dan mengusap tangannya, lalu kami berjalan keluar dari landasan dan disambut dengan keempat sahabat anakku
Empat pemuda yang gagah berani itu segera membungkukkan badan mereka ketika bersalaman denganku
"Sehat bunda?" tanya mereka
Aku mengangguk dan tersenyum kearah mereka
Mikail terus menggandeng tanganku ketika kami berjalan keluar bandara sementara pak Abraham dan pak Tomo berjalan di belakang, dan pak Binsar berjalan di samping abang
Ketiga bodyguard berbadan besar itu berjalan gagah tak kalah gagahnya dengan kelima tentara yang saat ini bersama kami
Ketika sampai di coffee shop yang tak jauh dari bandara, Mikail segera menarik kan sebuah kursi untukku dan mengelapnya terlebih dahulu sebelum aku duduk
Perlakuan manis anakku tersebut membuatku tersenyum bahagia kearahnya
"Tempatnya sudah steril bunda" candanya yang membuat kami semua tergelak
Aku lalu duduk, dan segera Mikail menggenggam tanganku. Abang yang melihat perlakuan manis Mikail padaku hanya bisa tersenyum
"Hibur lah bundamu kak, karena sejak dari rumah sampai di pesawat kerjanya menangis terus"
"Pantesan mata bunda sangat bengkak"
Aku menarik nafas panjang dan menatapnya dengan dalam
"Pikiran bunda melayang jauh nak karena meninggalkan nenek kalian"
Mikail menatap dan kembali menggenggam erat tanganku
"اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Allah menggenggam jiwa seseorang ketika matinya dan menggenggam jiwa seseorang yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan jiwa seseorang yang ajal kematiannya telah tiba dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Az Zumar: 42)
"Kakak yakin tadi adek dan ayuk juga telah memberitahu bunda tentang ketentuan takdir Alloh"
Aku mengangguk.
"Ayo bunda jangan terlalu larut dengan sedihnya, yakinlah ada uwak dan uwo yang bakal jagain nenek, dan apa bunda lupa, ayuk kita punya klinik, jadi ketika nenek sakit, akan langsung ditangani"
Sekali lagi aku disadarkan dengan ketiga anakku, bahwa sudah semestinya aku ikhlas menerima apa yang telah ditakdirkan Alloh padaku
"Ayo sayang diminum cappuccino nya, lalu kita pulang, kasihan Serkan dan Defne"
Aku mengangguk dan segera menyeruput cappuccino hangat hingga habis
Setelah selesai, aku menatap dalam mata anak keduaku, dan Mikail merengkuh pundakku
"Sudah kakak bilang dulu, bunda jangan menangis lagi. Sekarang tak ada lagi yang harus bunda tangisi, karena In Syaa Alloh bunda telah berhasil menjadi manusia berguna, menjadi anak yang berbakti dan juga menjadi bunda yang hebat"
Kembali aku menghapus air mataku yang lolos ketika mendengar ucapannya
Dengan pelan Mikail membantuku berdiri dari kursi lalu menuntunku berjalan kembali masuk ke bandara
Kembali ketiga bodyguard mengawal kami dan semuanya berhenti ketika kami sudah berdiri di dekat tangga pesawat
Langkahku terhenti dan aku segera memeluk Mikail. Kembali mataku basah dan kulihat Mikail juga menyusut matanya
__ADS_1
"Hati-hati dijalan bunda, papa. Tolong jangan pernah berhenti mendoakan kami"
Aku mengangguk sambil mengusap kepalanya yang diletakkannya di bahuku
"Maafkan bunda nak karena harus selalu meninggalkanmu" saat berkata seperti itu kembali aku merasakan ulu hatiku sakit
Pilu sekali rasanya karena aku harus meninggalkan Mikail lagi. Diciumnya dengan dalam keningku dan diciumnya dengan takzim punggung tanganku
Brendi dan Alfath mendekat dan menepuk pundak Mikail saat mereka lihat jika anakku itu menangis
Mikail menoleh kearah kedua sahabatnya lalu dia tersenyum getir, kemudian Mikail mengangkat kedua tangannya, dan kamipun mengikuti apa yang dilakukannya
"Bismillahirrahmanirrahim"
الحَمْدُ للهِ/سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
Alhamdulillahilladzi/subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinina, wa inna ila rabbina lamunqalibuna.
Artinya: "Segala puji bagi Alloh/Maha Suci Alloh yang telah menundukkan semua ini bagi kita. Padahal kamu sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sungguh, kami akan kembali kepada Tuhan kami."
بِسْمِ اللهِ مَجْرَهَا وَمُرْسَهَآاِنَّ رَبِّىْ لَغَفُوْرٌرَّحِيْمٌ
Bismillaahi majrahaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim.
Artinya: "Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar, berlabuh, sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Aamiin....
Lalu Mikail kembali memelukku erat, begitupun dengan aku, rasanya aku tak mau melepaskan pelukanku padanya
"Jaga bunda ya pa, maaf jika aku harus selalu meminta papa untuk menjaga dan melindungi bunda kami"
Abang tersenyum dan menepuk bahu Mikail, lalu mereka berdua berangkulan, dan aku kembali menyusut mataku menyaksikan keduanya
Lalu secara bergantian keempat sahabat anakku menyalami kembali aku dan abang
"Titip Mikail ya, tolong kalian saling jaga dan saling perduli"
"Siap bunda, jangan khawatir"
Lalu abang menoleh kearah pak Abraham cs yang berdiri tak jauh dari kami
"Apa kalian bertiga tidak akan mengucapkan selamat jalan pada kami?"
Ketiganya tersenyum kaku lalu berjalan mendekat. Masih dengan sikap siaga dan tegap mereka menyalami abang yang menepuk bahu mereka
"Terima kasih karena telah jadi bagian dalam keluarga kami" ucap abang
Ketiganya mengangguk hormat. Lalu aku mendekati ketiganya, mengulurkan tanganku dan menyalami mereka dengan hangat
"Terima kasih bapak-bapak karena telah baik pada kami, terutama padaku dan ketiga anakku"
Pak Abraham mengangguk hormat mendengar ucapanku. Kulihat matanya tampak merah dan beliau terus mengedip-ngedipkan matanya seperti menahan tangis
"Terima kasih pak Abraham...." lirihku dengan berlinang air mata
"Sama-sama mbak, semoga selamat sampai tujuan" jawabnya bergetar
Ozkan menarik nafas dalam demi dilihatnya jika Abraham seperti akan menangis
Kembali abang menepuk-nepuk pundak pak Abraham yang langsung mengusap kasar wajahnya
"Beritahu kami bos jika butuh bantuan kami"
Abang mengangguk pasti kearah pak Abraham
Lalu selanjutnya abang meraih tanganku dan mengajakku naik. Sebelum melangkah kembali aku memeluk erat Mikail
"Yang ikhlas bunda, ini semua telah digariskan Alloh..." lirihnya
"Iya nak, bunda ikhlas, bunda ikhlas" lirihku
Dengan menarik nafas panjang akhirnya aku mengikuti langkah abang menaiki tangga pesawat.
Dan ketika sampai di depan pintu kembali aku dan abang menoleh dan melambaikan tangan kami
__ADS_1