Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bertemu Bang Ariadi


__ADS_3

"Pin nya kak?" tanya kasir pada saat aku akan membayar belanjaanku.


Astaghfirullah, aku tidak tahu apa pin atm suamiku.


Aku menoleh kalau-kalau bu Suryati telah selesai belanja dan bisa membantuku. Tapi aku tidak melihat beliau.


"Coba angka ini mbak" ucapku menyebutkan angka kelahiran suamiku.


Kasir itu lalu menekan tombol mesin yang ada dihadapannya, lalu di menggeleng.


"Salah kak, yang lain coba. Masa kakak nggak inget pin atm sendiri?"


Wajahku langsung memerah karena malu.


"Coba angka ini mbak" aku menyebutkan angka kelahiran Naura.


"Salah lagi kak, kakak bayar cash saja ya" jawabnya


Aku terkesiap..Ya Rabb, di dompetku hanya ada seratus ribu..Sedangkan baju yang tadi aku beli lebih dari itu harganya.


"Gimana kak?, atmnya akan terblokir jika tiga kali salah memasukkan pin. Sebaiknya kakak bayar cash saja, atau kalau tidak kakak mundur dulu, nanti kesini lagi. Kasihan sudah banyak yang antri.


Dengan menahan malu aku keluar dari barisan antrian depan kasir.


Aku segera mengambil hp yang ada dalam tas ku, niatku hendak menelpon suamiku, menanyakan kode pin atm nya.


Panggilan tersambung, tapi tidak di jawab. Kembali aku menelpon tapi masih tidak juga dijawab. Lalu aku mengirim sms.


"Yah, kode pin nya berapa?, aku mau bayar, tapi aku tidak tahu pin nya berapa"


Terkirim.


Hingga lima menit belum juga ada balasan. Kembali aku mendial nomor suamiku berharap jika kali ini akan diangkatnya.


Sementara di hotel, Andi yang masih kesal memilih membiarkan hpnya berdering saat istrinya menelpon.


Hp tersebut hanya dilihatnya saja, lalu dipilihnya mendiamkan dan tidak menggubris panggilan istrinya.


Begitupun ketika pesan masuk, Andi sama sekali tidak membuka apalagi membacanya.


Dengan sedih bercampur kesal aku memasukkan kembali hp kedalam tasku. Lalu celingukan mencari keberadaan bu Suryati. Karena tidak menemukan beliau, aku berinisiatif berkeliling mall SKA yang terkenal di Pekanbaru ini.


Aku seperti orang hilang berkeliling sendiri. Tapi dengan percaya diri aku melihat-lihat kebagian outlet baju gamis. Harga yang tertera di sana sangatlah fantastis, berbeda dengan baju yang tadi aku ambil. Puas berkeliling di outlet gamis, aku pindah ke sepatu. Sepatu di sana sangatlah bagus-bagus dan tentu saja harganya juga bagus. Aku menelan ludah sendiri ketika aku melihat sepatu yang sangat bagus. Aku tersenyum kecut ketika menyadari jika harga sepasang sepatu itu setara dengan gajiku satu semester.


Aku melirik jam di pergelangan tanganku, jarumnya sudah menunjukkan angka 3 lebih. Ya Rabb, itu artinya kami di sini sudah lebih dari dua jam.


Aku berjalan lagi ke outlet mainan anak. Aku tersenyum melihat-lihat berbagai jenis mainan di sana. Bisa dipastikan jika aku membawa ketiga anakku kesana, mereka pasti akan sangat kegirangan.


"Sabar Nda, kamu tidak ada uang, cukup melihat saja ya" bisik hatiku.


Disaat aku masih sibuk melihat-lihat mainan, tiba-tiba hp ku berdering. Dengan semangat aku meraih hp yang ada dalam tas berharap jika itu panggilan dari suamiku.


Aku menelan pil pahit ketika di layar tertera nomor bu Suryati.


"Assalamualiakum bu" ucapku


"Waalaikumsalam, mbak Indah dimana"


"outlet mainan bu"


"Sudah belanjanya?"


"Sudah"


"Ibu masih di outlet sepatu, kalau kamu selesai belanjanya, kamu bisa kesini kan?"


"Iya bu"


Panggilan terputus. Aku segera keluar dari outlet tersebut lalu berjalan kearah outlet sepatu yang tadi aku lihat.


Aku celingukan mencari keberadaan bu Suryati. Disaat aku celingukan sebuah tangan menarik ku dari belakang.


Aku kaget dan hampir terjatuh. Dengan sigap tangan itu menangkapku. Aku mendongak dan betapa kagetnya aku ketika aku melihat seorang pria yang berbadan tinggi besar sedang memegang pundakku yang nyaris terjatuh.


Dengan gugup aku membetulkan posisi tubuhku agar kembali berdiri tegak.


"Terima kasih" ucapku


"Kakak tidak melihat ada pegawai yang membawa troli dengan barang yang sangat tinggi"


"Oh" jawabku yang menyadari bahwa memang ada karyawan yang mendorong troli dengan segunung kardus di trolinya yang berjalan menjauh dari kami.


Sepertinya pegawai tersebut tidak menyadari keberadaanku karena tingginya barang yang dibawanya sehingga tadi dia hampir menabrakku.


"Saya Ariadi" ucapnya mengulurkan tangannya


Aku menyambut tangannya dan menyebutkan namaku


"Indah"


Dari usianya bisa dipastikan jika dia diatasku, tapi mungkin karena ingin menghormati, beliau memanggilku dengan "kakak".


"Hei, ditungguin malah disini" bu Suryati yang tiba-tiba muncul mengagetkanku.


Ariadi tampak menganggukkan kepalanya kearah bu Suryati dan dibalas beliau dengan anggukan juga


"Mana belanjaannya?, katanya tadi sudah selesai?" bu Suryati langsung bertanya ketika dilihatnya Indah tidak menenteng satupun tas belanjaan.


"Nggak ada yang cocok buat aku bu" jawabku berbohong

__ADS_1


"Oh ya?" tanyanya tak yakin


Beliau tampak curiga dengan jawabanku.


Ariadi yang sedari tadi dengan kami, sepertinya belum berniat untuk pergi. Dan hal tersebut membuatku tidak nyaman untuk ngomong yang sejujurnya pada bu Suryati.


"Abang temannya Indah?" bu Suryati bertanya


"Iya bu, baru saja" jawabnya


"Maksudnya?" kejar bu Suryati


Lalu aku menceritakan bagaimana Ariadi menyelamatkanku dari troli yang nyaris menabrakku tadi.


"Oh, terima kasih ya telah menolong anak saya" bu Suryati langsung berubah ramah


"Oh, ibu, ibunya Indah?" Ariadi langsung mengulurkan tangannya dan bu Suryati segera membalas jabatan tangan dari Ariadi.


"Sama seperti abang, ibu baru juga jadi ibunya"


Kami langsung terkekeh. Menyadari jika dari tadi Ariadi menatapku, aku segera mengalihkan pandanganku menghindari matanya.


"Terima kasih ya, bang atau nak ini ibu manggilnya?" ucap bu Suryati lagi


"Ariadi saja bu"


"Oke baiklah, terima kasih ya Nak Ariadi, kami mau melanjutkan belanja lagi, sepertinya Indah belum menemukan baju yang cocok dipakainya untuk acara meet and great malam ini"


"Oh, baiklah kalau begitu, silahkan" jawabnya sopan


"Terima kasih bang, mari" pamitku


Lalu aku dan bu Suryati berjalan menjauh dari Ariadi dan masuk ke outlet pakaian yang juga tadi sempat aku kunjungi.


Ariadi menatap Indah yang berjalan menjauh darinya dengan lekat.


Dia mengulum senyum di bibirnya, lalu mengusap wajahnya sambil beristighfar.


"Indah.."


Ucapnya lirih sambil berjalan masuk dan mulai memilih sepatu yang dicarinya.


...****************...


"Ini sepertinya cocok untuk kamu" bu Suryati memberikan sebuah dress panjang khusus perempuan berhijab.


Sebuah dress berwarna nude yang sangat cantik dan elegan. Aku segera meraih dress tersebut dan melihatnya terlebih dahulu.


Seorang karyawan outlet segera menghampiriku


"Bisa dicoba di fitting room kalau kakak mau" ucapnya


"Gimana?" tanyanya begitu aku sampai.


Aku menggeleng dan menyerahkan baju itu ketangannya.


"Ga cocok bu" jawabku


Tampak beliau diam dan memutar badannya memilih lagi deretan dress yang terpajang. Akupun melakukan hal yang sama, aku memilih dress yang kira-kira pas menurutku.


Aku meraih satu dress berwarna peach sedangkan bu Suryati langsung memberi dua dress sekaligus, warna silver dan pastel.


Lalu aku dan bu Suryati kembali ke fitting room, belum sampai kami ke fitting room, kami berpapasan dengan abang Ariadi yang tak sengaja juga ada di outlet itu.


"Nah, kita ketemu lagi" ucap bu Suryati


Tampak bang Ariadi tersenyum ramah pada kami. Jantungku sedikit berdetak saat melihatnya. Sebagai wanita normal wajar jika aku mengagumi fisiknya, postur tubuh yang tinggi besar, bisa dipastikan jika tingginya lebih dari 180cm, soalnya aku yang hanya setinggi 155 tampak begitu pendek saat berdiri di dekatnya.


Alisnya yang hitam dan tebal serta bibirnya yang penuh selalu menampilkan senyum ramah, belum lagi matanya yang tajam. Dari kulit wajahnya bisa dipastikan jika tubuhnya juga putih bersih. Sekilas tampak dia seperti orang Arab.


"Sudah dapat bu baju untuk anaknya?" katanya sambil tertawa ketika menyebutkan kalimat "anaknya"


Bu Suryati menunjuk pakaian yang aku tumpuk di lenganku.


"Itu, dan rencananya kami mau ke fitting room, bisa kamu ikut dan menilai kira-kira baju mana yang pantas untuk Indah?"


Dengan kaget aku langsung menoleh dan menggeleng pada bu Suryati.


"Bisa bu" jawaban bang Ariadi jauh diluar pikiranku.


Aku tampak ragu, tapi tidak dengan bu Suryati. Beliau segera menarikku untuk mengikuti langkahnya. Jadilah aku berjalan di samping beliau dengan ragu.


Ketika di dalam fitting room aku mencoba dress yang ku pilih tadi, dress cantik berwarna nude. Setelah dirasa pas aku keluar meminta respon mereka


"Cantik, bagus dress ini" komen bu Suryati.


Aku menatap bang Ariadi yang diam menatapku. Aku tampak kikuk diperhatikan seperti itu.


Dia mengangkat jempol tangannya dan menarik sedikit bibirnya kesamping.


Aku lega, lalu aku masuk lagi dan mencoba dress pilihan bu Suryati, sebuah dress berwarna silver. Tak lama aku keluar setelah selesai memakaikan dress tersebut di badanku


"Wow" itu komentar pertama bang Ariadi ketika aku keluar.


Sama halnya dengan bu Suryati, beliau juga berdecak kagum


"Bagus banget dress ini di badan kamu Ndah, kamu makin cantik" pujinya.


Aku tersenyum mendengar pujiannya. Sementara Ariadi masih memandang takjub padaku.

__ADS_1


Terakhir aku mencoba dress berwarna pastel.


"Kamu cantik banget" ucap bang Ariadi keceplosan. Dan setelah sadar dengan ucapannya dia menutup mulutnya.


"Cantik bu?" ucapku pada bu Suryati yang mengamati kami bergantian.


"Ah, iya, bagus dan cantik sekali Ndah"


Aku segera masuk ke fitting room dan kembali memakai gamisku.


Aku keluar dengan kembali menentang tiga dress di lenganku.


"Bisa ngomong sebentar bu?" tanyaku pada bu Suryati.


Bu Suryati dan aku agak menjauh dari tempat berdirinya bang Ariadi. Aku menjelaskan jika aku tidak punya uang dan tidak tahu kode pin atm suamiku, suamiku ditelpon dan di sms tidak ada jawaban.


Tampak kekesalan di wajah bu Suryati.


"Biar ibu yang bayar" jawabnya


"Jangan bu, dress nya mahal-mahal" tolakku.


"Anggap saja ibu traktir kamu"


"Tapi bu?" ucapku ragu


"Ayo, ini sudah jam empat lewat, sedangkan jam delapan kita harus sudah ada diruang acara" ucapnya


Mau tidak mau aku menuruti katanya. Lalu kami kembali kehadapan bang Ariadi yang masih setia menunggu kami.


"Makasih ya Nak Ari untuk penilaiannya" ucap bu Suryati


Tampak bang Ariadi mengangguk takzim.


"Jadi pilih yang mana kak?" tanya pelayan yang tiba di hadapan kami


Aku tampak menimbang-nimbang kira-kira dress mana yang akan aku ambil. Ketiganya bagus semua dan dengan harga yang fantastis pula. Sadar jika itu akan dibayari oleh bu Suryati maka aku memilih harga yang paling murah dari ketiganya, yaitu dress berwarna nude, pilihanku. Dan yang paling murah pun ternyata seharga delapan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Ya ampun satu dress sudah hampir satu juta. Sedangkan dua dress yang lain harganya di atas satu juta semua.


"Semuanya mbak" kata bang Ariadi


Aku cepat menoleh padanya. Tampak sekali kekagetanku.


"Tapi bang?" jawabku menggantung


Bang Ariadi telah berjalan ke kasir mengikuti pelayan tadi. Dan kami mengikuti langkah beliau. Jantungku derdegub sangat kencang. Bagaimana aku bisa membayar ketiga dress itu batinku frustasi.


Untunglah kasir tempat kami sepi, hanya ada kami bertiga.


"Eh, ini kakak tadi kan?" ucap sang kasir


Deg!! mati aku, batinku.


"Sudah ingat kode pinnya kak?" tanya kasir sambil memasukkan ketiga dress tersebut ke dalam paper bag masing-masing satu baju satu paper bag.


Bu Suryati dan bang Ariadi menoleh padaku. Aku seperti seorang pencuri yang tertangkap basah saking malunya.


"Tadi sudah kesini?" tanya bang Ariadi.


Aku mengangguk dengan pelan menahan malu.


"Terus?" kejarnya


"Itu atm milik suaminya, Indah tidak tahu pinnya, ketika ditelpon dan disms suaminya tidak menjawab" kali ini bu Suryati yang menjawab


Aku makin membenamkan wajahku saking malunya.


"Pakai ini" bang Ariadi langsung membuka dompet dan memberikan atm miliknya ke kasir tersebut.


"Jangan mbak" cegahku


Petugas kasir tersebut menghentikan tangannya dan tidak jadi memasukkan kartu atm bang Ariadi yang ada di tangannya.


"Aku minjam atm bu Suryati saja" ucapku


Bu Suryati segera membuka tas, dan mengambil dompet miliknya.


"Tidak usah bu, pakai punya saya saja mbak" ucapnya kembali pada petugas kasir


Tampak petugas kasir kebingungan.


"Jadi gimana ni? tanyanya


"Punyaku, ini kode nya" bang Ariadi menyebutkan kode pinnya.


"Sekalian dengan dress yang kakak cancel tadi tidak? dressnya masih di sini, belum kami kembalikan kepajangan?" ucapnya


Belum sempat aku menjawab, bang Ariadi lebih dulu menjawabnya


"Sekalian" ucapnya.


Lemas sudah kakiku. Wajahku makin memerah menahan malu, dan mataku mulai terasa panas.


Dengan cekatan kasir tersebut mengambil baju yang tadi dikatakannya. Memasukkan dalam paper bag yang mulai menekan tombol pada mesin atm mini yang ada dihadapannya.


Mataku telah berembun, perlahan dan pasti airmata mengalir di pipiku.



Kira-kira, Abang Ariadi tu kaya gini lah wajahnya.. hehehe

__ADS_1


__ADS_2