Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kembali Lagi ke Jeddah (2)


__ADS_3

"What is that Daddy?" teriak Serkan kearah segerombolan sapi yang berbaris diiringi tuannya


"That is cows"


Keduanya tampak menganggukkan kepalanya


"Ghadan sakhadhak fi nuzhat fi alhuqul" (Besok kakak akan bawa kalian jalan-jalan ke sawah)" ucap Naura


Aku tersenyum melalui kaca spion kearah Serkan dan Defne yang wajahnya tampak sumringah


"Hal bi'iimkani alquduma?" (Saya boleh ikut?)


Naura menoleh kebelakang mengangguk sambil tersenyum


Mobil yang ku kemudikan makin mendekati arah rumah umak bapakku


"Abang dulu waktu kesini pasti heran kan melihat daerahku?"


Abang terkekeh


"Loh, papa pernah kesini bun?" tanya Naura kaget


"Pernah, dulu waktu melamar bunda sama nenekmu dan adik-adikmu?"


Naura kembali menoleh kebelakang


"Jadi adek tahu kalau bunda sudah menikah?"


Adam mengangguk. Naura cemberut


"Kok nggak ada yang ngasih tau ayuk" jawabnya cemberut


"Karena saat itu ayuk sangat kekeuh ingin bunda rujuk sama ayah ayuk itu" jawab Adam kesal


Aku segera berdehem, tidak enak sama abang


"Maafkan anak-anak ya bang" ucapku


"It's doesn't matter sayang"


Aku tersenyum kearah abang melalui spion, sementara Adam dan Naura tersenyum tak enak hati


Akhirnya mobil kak Andri berbelok kearah lorong rumah umakku. Sepanjang lorong telah banyak tetanggaku berbaris. Aku segera menurunkan kaca mobil dan segera menyapa mereka


"Ohh itu nah bunda" teriak mereka sambil berebutan mengulurkan tangan ke arahku


Aku yang sedang mengemudi sedikit kerepotan karena uluran tangan mereka


"Iya, sabar" jawabku


"What happened?" Emir kaget dengan kerumunan orang yang mendekati mobil mereka


"Our neighbors. They welcomed my bunda home, they really happy know Bunda come home"


Emir melongo melihat melalui kaca mobil. Aku sangat pelan menjalankan mobil, hingga akhirnya mobil berhenti dan aku keluar maka jadilah, insiden yang sejak tadi aku bayangkan


Seluruh tetanggaku berebutan memelukku. Hingga Abang dan yang lainnya terjebak tak bisa keluar dari dalam mobil


Klakson mobil travel di belakang kami memaksa kerumunan orang yang memelukku sedikit mundur


"Masuk rumah dulu, kasihan adik saya" ucap kak Angga melongok kan kepalanya dari dalam mobil


Terdengar suara tangisan Defne, aku yakin dia takut melihatku dikerubungi orang banyak. Aku dengan susah payah menoleh kearah mobil untuk melihatnya dan ingin meyakinkannya jika aku baik-baik saja


"Roqqot ‘ainaaya shauqon


Wa li Thoibata dzarfata ‘ishqon


Fa ataitu ilaa habiibi


Fahda’ ya qalbu wa rifqon


Shalli ‘alaa Muhammad


Assalamu'alaika yaa, Ya Rosulalloh


Assalamu'alaika yaa habiibi, Ya NabiyyaAllah


Ya Rasulullah


Qolbun bil Haqqi ta’allaq


Wabi ghari hira’a ta’allaq


Yabkii yas’alu khaliqahu


Fa ataahul wahyu fa ashraq


Iqra’ iqra’ ya Muhammad

__ADS_1


Assalamu'alaika yaa, Ya Rosulalloh


Assalamu'alaika yaa habiibi, Ya NabiyyaAllah


Ya Rasulullah"


Berhasil. Sholawat bapakku mampu membuat orang yang tadi begitu heboh perlahan mengikuti bapakku bersholawat hingga aku bisa membetulkan hijabku yang sudah berantakan dan membukakan pintu mobil untuk suami dan anak-anakku


Aku segera mengambil Defne yang menangis dan menggendongnya keluar, sementara bapakku terus bersholawat, aku mengikutinya dengan lirih juga para tetanggaku juga masih mengikutinya.


Sambil mulut mereka bersholawat, tangan mereka menggapai mengelus wajah dan kepala Defne


Abang keluar sambil menggendong Serkan. Kembali kehebohan terjadi. Para tetanggaku yang umumnya para ibu-ibu begitu melihat abang langsung kembali berteriak dan menarik-narik tangan abang.


Abang tersenyum kepada semua orang, sambil berusaha meloloskan diri agar bisa masuk kedalam rumah.


Melihat papanya bisa keluar, Adam segera membuka pintu mobil lalu bersama dengan Tuan muda Emir dia turun


Kembali heboh begitu para tetanggaku melihat tuan muda Emir. Sampai wajah tuan Emir habis dicubit mereka.


Aku terkekeh melihat tuan Emir yang jadi bulan-bulanan para tetanggaku.


Sholawat bapakku yang mencoba memenangkan seakan tak mempan, aku hanya tersenyum bahagia melihat bagaimana antusiasnya mereka menyambut kami


"Bisa minggir tidak?!! kami mau masuk!!!" bentak kak Angga


Para tetanggaku kaget, sambil terkekeh mereka memberi jalan untuk kak Angga dan keluarganya masuk


"Maafkan kak Angga ya, ibu-ibu" ucapku tak enak


"Nggak usah diambil hati bunda, kami tahu bagaimana pak Angga. Dia baik kok orangnya" jawab mereka yang membuatku lega


"Aku boleh masuk?" tanyaku sambil terus menggendong Defne


Mereka mengangguk dan memberikanku jalan untuk masuk ke rumah umakku.


Aku masuk kedalam rumah, para tetanggaku menyusul. Rumah bapakku seperti ada hajatan saking penuhnya.


"Taeal maei" ucap Naura kearah Emir yang wajahnya kembali menegang


"Maaf ya ibu-ibu, bapak-bapak, anak bunda saya, saya bawa masuk dulu. Kasihan dia. Dia ketakutan melihat kalian" ucap Naura yang disambut semuanya dengan terkekeh


Lalu Emir mengikuti Naura naik keatas, kelantai dua.


"'Ant huna!"


Emir mengangguk dan menuruti kata Naura. Dia segera duduk di kursi yang ada di balkon kamar ini, menatap kebawah yang masih banyak orang


"Haaiii...." teriak Naura


Teman masa kecilnya begitu melihat Naura melambaikan tangan langsung melompat-lompat sambil memanggil-manggil Naura


Naura celingukan mencari jalan untuk turun, tapi tidak ada tangga seperti dulu, sewaktu dia masih kecil


"Ada tangga tidak di bawah?" ucap Naura lirih sambil berbicara dengan bahasa kode sambil menoleh kearah dalam takut ketahuan dengan nenek atau bundanya


Temannya celingukan, dan segera beberapa dari mereka berlari, dan tak lama telah menyandarkan tangga bambu di pinggir balkon.


"'Ana dhahib limuqabalat 'asdiqayiy , hal turid almaji'a?" (saya mau turun menemui teman-teman saya, kamu mau ikut?)


Emir berdiri dari kursinya lalu mendekat kearah Naura yang sudah menurunkan sebelah kakinya dari pembatas balkon


Wajahnya menatap tak percaya pada Naura


"Are you serious?"


Naura mengangguk dan segera turun tanpa menunggu jawaban Emir. Temannya segera memegangi tangga begitu melihat Naura turun.


Ketika Naura sampai di bawah mereka langsung berpelukan dan melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil


"Gila kamu Ra, kok malah lewat tangga, jadi keinget jaman kecil dulu" ucap salah satu temannya sambil terkekeh


"Di depan rame, rumah nenek saya penuh, saya nggak bisa lewat"


Kembali mereka tertawa. Lalu Naura mendongakkan kepalanya, begitu tangga bergerak. Dengan cepat Naura dan beberapa temannya memegangi tangga saat tuan muda Emir turun.


Ketika sampai di tanah, tuan muda Emir segera menepuk kedua tangannya yang dirasanya kotor. Teman-teman Naura tak ada yang bersuara ketika melihat Emir dari dekat, matanya mereka nyaris tak berkedip


"Kedip woy!" ucap Naura yang membuat semuanya kaget dan tertawa


"Ini cucu majikannya bunda saya, namanya Emir"


Emir menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum kearah teman-teman Naura


"Gileee, ganteng banget..." gumam mereka


Naura terkekeh mendengar ucapan semua temannya


...****************...

__ADS_1


Para tetanggaku pulang setelah terdengar adzan maghrib. Mereka sangat antusias melihat kedua anak kembar kami dan juga suamiku


"Cakepnya suami dan anak-anak kamu Indah" puji mereka


Abang tersenyum mendengar pujian mereka.


Setelah semua tetangga kami pulang, barulah kami semua mandi bergantian.


Serkan dan Defne tampak canggung sekali di rumah umak bapakku.


"Bunda dari kecil disini nak, bersama nenek dan juga saudara-saudara bunda" ucapku pada mereka yang bengong


"Adek kembar nggak biasa di rumah sederhana bunda, mereka biasa tinggal di istana, makanya heran"


Aku terkekeh mendengar jawaban Adam


"Bukan begitu sayang, mereka hanya bingung saja mereka ada dimana"


Umak bapakku tersenyum mendengar jawabanku


Selesai shalat kami makan bersama. Seluruh masakan dimasak oleh mbak Dian. Dia sangat hafal dengan masakan favoritku, hingga tak ada satupun yang tertinggal


Saat makan, kembali tuan muda Emir bingung mau mengambil makanan apa, dia menoleh kearah abang yang juga tampak bingung


Aku segera mengambil alih, aku ambilkan abang ayam panggang karena dia sangat suka ayam panggang lalu aku juga mengisi piringnya dengan capcay


"Tuan muda mau juga seperti uncle?"


Dia mengangguk, lalu aku mengisikan piringnya dengan menu yang sama dengan suamiku


"Itu apa bunda?" tunjuknya sama piring lonjong berisikan sambal tempoyak ikan


"Oh, ini sambal tempoyak ikan tuan muda, tempoyak itu adalah fermentasi dari buah durian, ini makanan khas Lubuklinggau, mau?"


Dia mengangguk pelan, lalu aku mengambil piring kecil memotongkan ikan yang utuh menaruhnya di dalam piring lalu ku letakkan di depannya


"Cicipi dulu sedikit, jika nggak suka nggak papa"


Emir mengambil sedikit lalu mencicipinya. Lama dia terdiam dan kami memperhatikannya sambil menahan tawa


Akhirnya dia tersenyum basi dan menggeleng


"Rasanya aneh bunda"


Meledak lah tawa ku, melihatku tertawa, aku menjelaskan apa yang dikatakan tuan muda yang membuat keluarga besar ku juga ikut tertawa


"'Iidha kunt turid 'an takun zawjat abn walidatik , ealayk 'an tunfiqaha (jika kamu mau menjadi menantu bundamu, kamu harus habiskan itu)" ucap abang menggoda Emir


"Papaaa...." Naura cepat menjawab dengan wajah yang langsung bersemu


Jadilah kami dua hari di Merasi. Esoknya Naura dan Adam mengajak tuan muda Emir, Serkan dan Defne ke sawah yang tak jauh dari rumah kami dulu, rumah masa kecilnya yang telah dijual ayah mereka.


Selain ke sawah, Naura juga mengajak mereka ke kolam ikan bapakku, Serkan dan Defne sangat kegirangan ketika pancing yang dilempar daddynya di sambar ikan.


Tuan Emirpun demikian, dia yang seumur-umur baru sekali melihat sawah dan kolam sama dengan twins, sangat antusias dan takjub


Hari keduanya aku mengajak abang untuk melihat kebun sawit ketiga anakku. Seperti yang dulu pernah abang katakan, dia ingin Off road, dengan meminjam mobil pak kades, abang dan Emir off road di jalan berlumpur menuju perkebunan.


Aku dan Naura menunggu di rumah pak kades mengobrol dengan para tetangga yang dulu pernah datang ketika aku kesana.


Barulah di hari ketiga, kami pulang. Aku memeluk umak bapakku dengan kesedihan yang tak bisa aku sembunyikan saat kami akan naik pesawat.


Kepada ketiga saudaraku, aku kembali menitipkan ketiga anakku. Saat memeluk Adam, anak bungsu ku, aku kembali menangis pilu


"Maafkan bunda karena tidak bisa menyaksikan kelulusanmu ya nak" ucapku


Adam mengangguk sambil terus memelukku


"Kalau nanti ketempat kakak, jangan lupa baju yang kita beli untuk kakak dibawa ya nak"


Kembali Adam hanya bisa mengangguk


Saat memeluk Naura aku juga menitipkan banyak pesan


"Belajarlah yang giat, nanti jika di Malang, harus bisa jaga diri nak ya, bunda doakan semoga ayuk bisa jadi bidan seperti cita-cita ayuk, sering-sering lihat adek sama kakak di pesantren, harus saling sayang ya nak, harus saling jaga"


Naura yang terisak hanya bisa mengangguk.


Lalu abang menyalami semua keluargaku dan memeluk Adam dengan erat.


"Jika kamu ingin tinggal di Jeddah, bilang sama papa, papa akan jemput kamu"


Adam mengangguk. Emir pun menyalami bapakku, Kak Angga dan kak Andri.


Saat di depan Naura, mereka hanya bisa saling memandang satu sama lain


"See you soon Naura, thank you for kindness to me in several days"


Naura mengangguk dan tersenyum pada Emir

__ADS_1


"I accept the challenge from Akmar, I will compete fairly to prove to you who is worthy of us" (saya menerima tantangan dari Akmar, saya akan bersaing secara sehat untuk membuktikan pada kamu siapa yang layak diantara kami)


Naura membelalakkan matanya dan menelan ludahnya demi mendengar ucapan Emir


__ADS_2