
Aku sampai di rumah hampir pukul delapan malam. Kulihat ruang tamu tampak gelap. Sepertinya Andi tidak menyalakan lampu.
Setelah memasukkan motor kegarasi, aku membuka kunci rumah. Lalu aku menyalakan seluruh lampu.
"Bun?" terdengar suara Andi
Aku diam saja tak menyahut. Dia keluar dari dalam kamar dan menatapku, aku tetap tak perduli.
Tak lama mobil kakakku tiba, aku segera melirik Andi, wajahnya seketika berubah tegang
Aku segera keluar lagi dan menggendong Adam, kubawa masuk kekamar. Sedangkan kakakku menggendong Mikail. Saat dia masuk dilihatnya Andi
"Kenapa wajah kamu?" katanya berhenti dan menatap kearah Andi.
"Ah, kecelakaan kecil kak"
Kakakku hanya mengangkat alis dan menarik sudut bibirnya lalu membawa anakku masuk, setelah meletakkan Mikail bersebelahan dengan Adam, aku keluar lagi hendak mengambil Naura yang juga tertidur, tapi ternyata telah lebih dulu diangkat oleh kakakku.
"Mau minum kak?" tawarku
"Tidak usah" jawabnya
"Kamu kecelakaan dimana?" tanya kakakku sambil duduk di kursi
"Kemarin kak pas di Pekanbaru"
"Indah kamu ada yang luka?" tanya kakakku sambil menoleh padaku
"Ehmmm..." jawabku menggantung, sengaja ingin membuat Andi panik
"Aku kecelakaan sendiri kak, tidak dengan Indah" Andi cepat memotong
"Oh baguslah kalau kamu kecelakaan sendiri tidak dengan adikku" jawab kak Andri dingin
Andi menelan ludahnya.
"Ya sudah, kakak pulang" pamitnya
Aku dan Andi mengantarkan kakakku sampai teras, setelah mobilnya berjalan menjauh, baru kami masuk
Aku diam saja saat pintu telah tertutup. Andi menatap istrinya dengan canggung
"Bun?" panggilnya
Aku pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun padanya
"Bun" kejarnya
Aku masuk kekamar lalu segera kututup pintunya
"Bun?" Andi mengetuk pintu kamar
Aku diam tak menjawab. Dia masih mengetuk dan memanggilku
Karena merasa terganggu, akhirnya aku bangkit dan segera kubuka pintu kamar
"Kenapa?" tanyaku ketus
"Lapar" jawabnya memelas
"Makan sendirikan bisa!"
Dia menggeleng
Hufffff aku membuang nafas kesal.
Aku segera kedapur, memanaskan sayur sop dan mengambilkannya nasi.
Setelah sop hangat, aku masukkan ke dalam mangkuk, di piringnya aku juga meletakkan sepotong ikan nila goreng. Baru setelah itu aku letakkan dihadapannya yang telah duduk di meja makan.
Langkahku terhenti ketika dia kembali memanggilku
"Bun?"
"Astaghfirullah, apa lagi?" jawabku kesal sambil memutar badanku menghadap kearahnya
"Suapin" jawabnya dengan nada memelas
"Ihhhh ogah amat!" sahutku
"Tolong"
"Kenapa tadi waktu ada ibu kamu, kamu tidak minta suapin sama dia. Kan kamu anak mama, apa-apa ngadu keorang tua" sindirku
Andi diam, dia menundukkan kepalanya. Aku jadi kasihan melihatnya. Walau di hatiku masih kesal, tapi tak urung aku kembali lagi lalu menarik kursi dan mengambil piring yang ada di hadapannya.
Aku segera menyendokkan nasi lalu mengarahkan kemulutnya
"Ayo, ak" ucapku selayaknya gayaku menyuapi Adam ketika dia makan
__ADS_1
Andi membuka mulutnya dan mulai mengunyah nasi.
Dengan sabar aku menyuapinya makan. Bahkan ketika mulutnya belepotan aku lap pakai tissue. Sepanjang menyuapinya wajahku tetap masam
Berbeda dengan Andi, walau wajah istrinya masam dia tampak bahagia karena Indah masih perhatian dan mau mengurusinya.
"Makasih bun" jawabnya disuapan terakhir
Aku tak menjawab. Aku segera beranjak menaruh piring dan gela kotor ke wastafel dan mengambil obatnya di kamar
Aku membuka dan meletakkan pil yang harus dia minum sebelum tidur. Mengambil air putih dan meletakkan dihadapannya
"Diminum, biar cepat sehat" kataku
Andi tanpa membantah meminum pil yang telah aku letakkan di depannya. Setelah itu aku mengolesi salep luka di kaki, tangan dan pinggiran matanya
Selesai semua aku menuntunnya kembali ke kamar depan, merapikan tempat tidur dan membaringkannya.
Setelah dia berbaring aku menyelimutinya lalu mematikan lampu kamar dan keluar kembali kekamar dimana aku akan tidur bersama ketiga anakku.
...****************...
"yeay kok nggak sms eyke sih, somsek yaaa"
Sepagi ini aku sudah mendapatkan pesan dari kak Jennifer. Saat ini baru pukul lima kurang.
Aku terbangun, membuka hp dan ternyata ada sms dari Jennifer.
Aku tersenyum membacanya.
"Nanti aku telepon ya kak, tapi aku mau shalat dulu" balasku
Setelah mengirimkan pesan tersebut aku segera turun lalu keluar dari dalam kamar. Berjalan kekamar depan, mengecek kondisi suamiku yang ternyata masih nyenyak.
Suara adzan yang bersahut-sahutan membuatku meninggalkan suamiku yang masih terlelap. Setelah berwudhu aku segera shalat.
Aku yang sedang mencuci piring terpaksa menghentikan kegiatanku ketika hpku berdering
"Kak Jennifer" begitulah yang tertulis di layar.
Dengan cepat aku menerima panggilannya
"Assalamualaikum kak" ucapku
"*Waalaikumsalam, heiii yeay apa kabar?
"Baik kak, kakak?
"Alhamdulillah" jawabku
"Heh eyke mau tanya, mainan yang eyke kirim untuk anak-anak yeay sudah sampe belom?"
Aku mengernyitkan dahiku tak faham
"Lahhh malah diaammm"
Aku gelapan
"*Eh, maaf kak. Maksudnya mainan apa ya?"
"Uhhh yeay tahu nggak,..."
"Enggak*" potongku
"Ihhh, makanya dengerin dulu, jangan asal motong"
Aku terkekeh
"*Si bos ngasih eyke duit seratus jetong!"
"Hah?! serius kak*?" tanyaku
"Yup!! iri kan yeayy.." godanya sambil cekikikan
"Kok bisa kak?" tanyaku penasaran
"Ya bisa dong, kan eyke sudah jalani semua tugas dari dia"
"Ohh, enak ya kak" jawabku iri
"Iya, maka dari itu, waktu yeay sudah mau naik pesawat eyke mau nyusul yeay, bawa yeay balik kerumah eyke, biar yeay jadi atm berjalan eyke lagi"
Aku makin tak faham arah omongan kak Jennifer
"*Maksudnya kak?"
"Ya ampun, yeay emang peak ya*" lalu terdengar kak Jennifer terkekeh lagi
"Selama yeay disinikan, si bos nyuruh eyke buat jagain yeay, bawa yeay jalan-jalan, buat yeay cantik, itu semua eyke lakukan atas perintah bos"
__ADS_1
Aku faham sekarang. Pantaslah kak Jennifer selalu menganggap aku atm berjalannya. Benar-benar yah di ben***g, batinku
"Jadi kakak baik sama aku kemarin karena dibayar ya, bukan karena kakak ikhlas?" tanyaku sendu
"Awalnya sih iya eyke karena duit, tapi ujung-ujungnya eyke jadi tahu kenapa bos ngelakuin ini, dan eyke baik sama yeay tulus kok" suara Jennifee berubah panik
"Emang apa yang bos katakan sama kakak? pancingku
"Nggak ada, dia cuma nyuruh eyke jagain yeay dan buat yeay cantik biar suami yeay menghargai yeay dan nggak ngeduain yeay lagi"
Aku terdiam mendengar jawaban kak Jennifer. Sampai segitunyakah ??
"Hmm kak, kakak tahu kan siapa nama bos kakak itu?" tanyaku penuh harap
"*Lahh yeay gimana sih, masa yeay nggak sadar"
"Apanya kak*?" tanyaku makin penasaran
"Jadi yeay beneran nggak tahu siapa itu si bos?"
Aku menggeleng. Dan sedetik berikutnya sadar jika kak Jennifer tidak bisa melihat kalau aku menggelengkan kepalaku
"Nggak kak" jawabku
Kembali terdengar Jennifer tertawa
"Ihh kakak seriusan!" kejarku makin penasaran
"Coba deh yeay tebak selama yeay di sini, siapa yang telah baik sama yeay, yang perhatian" Jennifer bermain tebak-tebakan
"Kak Jen" jawabku polos
Kembali Jennifer terbahak.
"Indaaahhh, dekat aja udah habis yeay eyke unyel-unyel" jawabnya kesal
Giliran aku yang tertawa
"*Ayo tebak!" ucapnya kesal
"Pak Alam baik sama saya waktu di Pekanbaru. Tapi tidak mungkin beliau, beliau kan ada bu Suryati"
"Salah, bukan Pak Alam, bukan pula bu Suryati, yang lain*!"
"*Pak Afdal?"
"Salah"
"Bodyguard?"
"Salah*!" Jennifer terbahak ketika aku menyebut bodyguard
"Kok salah semua kak, perasaan sudah saya sebut semua deh" jawabku kesal
"Ada satuuuu lagii" jawab kek Jennifer yang makin buat aku penasaran
Aku berfikir keras menebak-nebak siapakah orang baik yang belum aku sebutkan. Ahh, aku jadi teringat lagi dengan satu nama, aku yakin kali ini jawabanku benar
"Ahhh aku tahu kak" jawabku dengan nada percaya diri
"*Siapa?
"Pak Michael*!" jawabku cepat
Kembali Jennifer tertawa
"Benarkan kak?" tanyaku makin penasaran
"Salah!! semuanya salah!!"
Aku cemberut. Ternyata bukan pula Pak Michael.
"Satu lagi, satu lagi" gumamku
"Cepat!" Kak Jennifer semakin menggodaku.
Terlintas satu orang lagi. Tapi aku tidak yakin. Ah, jantungku kok tiba-tiba berdebar ya saat aku mengingatnya. Aku tersenyum ketika mengingat orang itu, apalagi ketika momen saat berdua dengannya.
"Ndah?, yeay masih idupkan?" suara kak Jennifer menyadarkanku
"Ehh, iya kak" jawabku gugup
"*Siapa?"
"Ehhmmm... apa bang Ariadi?" ucapku pelan dan ragu-ragu*
"Nahhhh tuuuu baru tepat!
Hah?? tepat?
__ADS_1
Jadi selama di Pekanbaru yang selalu melindungi aku bang Ariadi??
Ah aku terhenyak saking kaget dan tidak percaya