
"Sabar Indah, sabar, kamu perempuan hebat, banyak perempuan diluar sana yang rapuh dan memilih jalan singkat untuk mengakhiri masalahnya, tapi kamu tidak, kamu menjadikan masalahmu ini sebagai semangatmu, saya hargai itu" ucap nona Alima sambil terus mengusap-usap pundakku
"Dari cerita kamu tadi, bisa saya simpulkan kalau kamu ini depresi dan trauma. Saya bisa menangkap dari ketakutanmu membuka hati untuk lelaki lain dan depresi karena kamu harus selalu bersikap baik-baik saja, padahal sebenarnya kamu sangat butuh kekuatan"
"Saya akan memberikan obat dan berbagai treatment agar kamu bisa sembuh dan tidak trauma lagi. Tapi yang paling penting disini adalah niat didiri kamu untuk sembuh dan bangkit"
Aku mengangguk mendengar penjelasan nona Alima.
"Apakah saya termasuk orang yang depresi nona?" tanyaku pelan
"Secara tidak langsung iya, karena kamu dihadapkan dengan keadaan dimana kamu harus menjadi kuat dan tangguh, dan juga karena kamu terbebani dengan ekspektasi yang besar, sehingga menuntut kamu harus mewujudkan ekspektasi itu" jawab Nona Alima
Aku terdiam, memang kuakui, keinginanku untuk mewujudkan mimpi ketiga anakku adalah yang paling utama bagiku, hingga aku tidak memperdulikan bagaimana keadaan mentalku
"Ya sudah, berhubung hari sudah malam, besok kita lanjut lagi Setiap malam saya akan mendatangi kamu, mengajak kamu bercerita dan jangan ada lagi yang kamu tutup-tutupi agar saya tahu treatment apa yang cocok saya berikan sama kamu" ucap nona Alima sambil berdiri
Aku memasang senyum padanya. Nona Alima kembali mengelus pundakku
"Ini sudah awal yang baik Indah. Dengan kamu mau bercerita pada saya, beban di hati kamu sedikit berkurang, dan ini akan lebih baik lagi jika semuanya kamu ceritakan"
Aku menganggukkan kepalaku.
Lalu aku mengantarkan nona Alima sampai depan pintu kamar, setelah nona Alima berjalan agak jauh, barulah aku menutup pintu lalu merebahkan tubuhku di atas kasur
Aku menarik nafas panjang
"Ya Rabb, semoga jalanku menceritakan semua masalahku pada nona Alima tidak salah" ucapku lirih sebelum memejamkan mata
...****************...
Sejak malam itu, maka nona Alima akan selalu mendatangi kamarku, mengajakku bercerita.
Berbagai cerita aku sampaikan padanya, mulai dari kegiatan harianku hingga pekerjaanku.
Jika pertanyaannya mulai kearah serius, maka aku menyadari jika saat itu nona Alima sedang mengobatiku.
Entah karena beliau memang seorang Psikiater yang baik atau memang aku merasa nyaman, jadi aku lebih luwes menceritakan semua pengalamanku. Termasuk tentang abang
"Jadi sampai sekarang kamu tidak berhubungan lagi dengan lelaki itu?" tanya nona Alima ketika aku menceritakan tentang abang
Aku menggeleng
"Apa kamu tidak mencintainya lagi?" tanya nona Alima
Aku tersenyum malu, sedangkan nona Alima terkekeh
"Harus saya akui, jika kamu memang keras kepala" ucap nona Alima ketika tawanya berhenti
"Bagaimana jika dia sudah menikah?, sudah lama loh Ndah kamu tidak berhubungan sama dia, hampir enam tahun"
Aku terdiam mendengar ucapan nona Alima
"Wah, iya, jangan-jangan abang memang sudah menikah" batinku
__ADS_1
Wajahku berubah mendung. Nona Alima kembali menangkap perubahan mimik Indah.
"Berarti dia masih punya rasa cinta, walau rasa itu tertutupi dengan trauma masa lalunya" batin nona Alima
"Berarti kami tidak berjodoh nona" jawabku sendu
Nona Alima tersenyum kearah Indah.
"Itu artinya trauma kamu belum akut" jawabnya
Aku mengerutkan keningku.
"Kamu masih bisa jatuh cinta, dan itu bagus" sambungnya
Aku tersenyum kearah nona Alima.
"Besok kita lanjutkan lagi, ya?" ucapnya
Aku menganggukkan kepalaku. Sepeninggal nona Alima aku segera membuka laptopku, melihat foto abang yang aku aku save di sana.
"Abang" lirihku sambil menyentuh layar laptop.
Ada getaran aneh ketika aku menatap fotonya.
Ya Rabb rindu yang selama ini aku pendam rasanya seperti berhamburan keluar dari persembunyiannya.
Tak terasa butiran bening mengalir di pipiku.
Kubuka terus foto-fotonya, bahkan berulang-ulang dan menatap lekat pada tiap foto yang tampil
Dadaku kian sesak dibuatnya, aku membiarkan diriku menangis. Menangis karena rinduku yang berujung padanya.
...****************...
"Ummi, boleh kapan-kapan Indah ikut aku kerumah sakit?" tanya nona Alima pagi ini ketika aku dan ummi bersiap berangkat kekantor
Ummi nampak mengerutkan keningnya.
"Week end ummi, jadi tidak mengganggu pekerjaannya" sambung nona Alima seperti faham kebingungan umminya
"Untuk apa?, week end waktunya Indah istirahat, yaaa walaupun itu hanya istilah saja karena ulah ketiga pangeranmu itu yang selalu memaksanya Indah menuruti kemauan mereka jika week end"
Aku tersenyum
"Boleh ya mi, tiap hari minggu saja kok" desak nona Alima
"No mommy, Sunday is for us" teriak tuan muda Fadh yang muncul dari dalam
Ummi membuang wajah malas mendengar jawaban cucunya tersebut
"Tuh, kamu dengar sendirikan?!" jawab ummi
__ADS_1
"Only every sunday, honey" jawab nona Alima memutar tubuh menghadap anak keduanya yang telah siap berangkat sekolah
"No, nggak boleh" jawabnya sambil segera menggelayutkan tangannya pada tanganku
Aku memasang senyum hangat pada tuan muda Fadh
"Bunda nggak boleh ikut mommy!" ucapnya kearahku
"Siap tuan!" ucapku sambil memberi hormat padanya
"Bagaimana kalau sabtu?" ucap nona Alima lagi
Aku menoleh pada ummi
"Terserah kamulah, yang penting jangan suruh Indah bantuin kamu. Karena kami sudah ada asisten sendiri" jawab ummi
Nona Alima langsung tersenyum lega
Setelah pak Farhad tiba, aku dan ummi segera berangkat kekantor. Sedangkan tuan muda Fadh masih menunggu dua saudaranya yang lain.
...****************...
"Nah, kamu jawab semua pertanyaan di kertas ini" ucap nona Alima sambil menyerahkan beberapa lembar kertas padaku
"Apa ini nona?" jawabku ketika menerima kertas tersebut
"tes psikologis kamu" jawabnya
Aku melongo
"Apa ini harus nona?" tanyaku
Nona Alima mengangguk.
"Biar saja bisa mendiagnosis seberapa parah tingkat gangguan mental kamu" jawabnya
Aku melototkan mataku karena kaget mendengar jawaban nona Alima, tetapi nona Alima sendiri malah terkekeh, lalu dia meninggalkanku dan berjalan menuju ke kursinya.
Aku segera menjawab soal yang jumlahnya sangat banyak tersebut, berkali-kali kepalaku maju mundur saking banyaknya soal yang harus aku jawab
Hampir dua jam waktu yang aku butuhkan untuk menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Setelah selesai aku menyerahkan kertas tersebut pada nona Alima kembali
Nona Alima mengamati sebentar kertas yang tadi kuberikan padanya, lalu dia berdiri dan menghampiriku
"Kita keruangan terapi" ucapnya
Aku menurut saja. Maka aku mengikuti langkah nona Alima berjalan kesatu ruangan. Ketika tiba disana, ternyata ada beberapa orang yang sedang melakukan terapi.
Disana mereka ada yang berbaring, ada juga yang duduk. Aku melihat kesekililing ruang putih tersebut. Terdengar olehku suara musik khas terapi yang begitu syahdu
"Kamu bisa disini sebentar, rilekskan diri kamu" ucap nona Alima padaku
Setelah memanggil seorang terapis untuk melayaniku, nona Alima keluar.
__ADS_1
Aku berbaring di tempat yang sudah disiapkan, aku berusaha tenang dan menikmati setiap arahan dari terapis tersebut dan menikmati alunan suara musik yang terdengar