Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Rumah Baru


__ADS_3

Nama adalah doa, sepertinya itu tepat saat kami memberikan nama kepada anak kedua kami, aku sengaja memberinya nama Mikail, yang aku ambil dari nama salah satu Malaikat Alloh SWT. Malaikat Mikali yang bertugas membagi rezeki.


Jika disaat Naura kami masih mengontrak, saat hamil Mikail kami sudah memiliki tanah dan Alhamdullillah saat dia belum sampai berusia tiga bulan kami sudah mulai membuat rumah.


Berkat keuletan dan kerja keras suamiku, akhirnya kami bisa membangun rumah impian kami. Lokasi rumah kami tidak begitu jauh dari rumah kedua orang tuaku.


Karena Mikail masih bayi, jadi hari raya idul fitri tahun ini kami tidak pulang kampung. Sebenarnya suamiku mendapatkan sebuah mobil sebagai kendaraan inventaris dari kantor. Tapi berhubung Mikail masih terlalu bayi untuk diajak jalan jauh, akhirnya lebaran tahun ini kami putuskan tidak pulang kampung.


Seperti pagi ini, lebaran keempat tepatnya. Sejak pagi aku telah bangun jauh sebelum anak-anak dan suamiku bangun. Aku harus membereskan rumah dan memasak serta mengerjakan tugas yang lain. Jadi ketika kedua anakku bangun dan mereka membutuhkanku, aku sudah tidak sibuk di dapur lagi.


Jam delapan pagi suamiku bangun, seperti kebiasaanya, selesai shubuh dia pasti balik tidur lagi.


"Pagi bun" ucapnya ketika dilihatnya aku sedang mengepel dapur


"Hemm" jawabku tanpa mengalihkan perhatianku


"Aku hari ini sudah masuk kerja, sudah ada sarapan belum bun" tanyanya


"Semua sudah beres, kalau ayah mau sarapan, mandilah dulu, setelahnya baru boleh sarapan" jawabku menoleh kearahnya


"Siap nyonya" jawabnya


Aku tersenyum mendengarnya dan segera mencuci kain pel lalu masuk ke kamar melihat kedua anakku yang masih pulas.


...+++++++++...


Tok tok tok


"Assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar


Aku segera meletakkan mainan anakku yang ada ditangan ku dan beranjak kearah pintu depan.


"Ayuk jagain adek ya" pintaku pada Naura sebelum berjalan kearah depan


Dari balik kaca jendela aku bisa melihat siapa yang datang. Rombongan mertuaku.


Segera aku buka kunci dan menarik gerendel pintu lalu membukakan pintu untuk mereka.


Setelah pintu terbuka, aku dapat melihat siapa saja yang ada di sana. Ibu bapak mertua ku, mbak Ningsih dan mas Indra beserta Dimas, mbak Laras, mas Rudi dan Raffa dan si bungsu, Nina.


"Waalaikumussalam, silahkan masuk pak buk, mbak, mas" jawabku sambil melebarkan daun pintu.


Mbak Ningsih langsung menghambur kepelukanku. Kami saling berpelukan hangat, ku lihat ada air mata menggenang di matanya. Ipar ku satu ini memang paling lembut hatinya. Dia begitu mudah menangis.


Lepas dari mbak Ningsih, Nina tak kalah hangatnya memelukku. Kali ini dia begitu antusiasnya memelukku. Memang terakhir kali kami bertemu adalah ketika lebaran tahun lalu. Itu artinya sudah satu tahun kami tidak bertemu.


"Andi mana?" tanya bapak mertuaku begitu dia sudah duduk di kursi.


"Dia sudah masuk kerja pak" jawabku.


"Oh iya, silahkan di cicipi, seadanya" jawabku sambil membuka toples.


Terdengar suara Mikail menangis, aku segera masuk ke dalam meninggalkan rombongan mertua dan iparanku


"Bunda adek nangis" adu Naura begitu melihatku.


"Uhh sayang bunda, cup cup jangan nangis yaa" jawabku sambil meraih dan menggendongnya.


"Ada embah Yuk diluar, yuk ikut bunda, salim sama mbah" ucapku sambil menggandeng tangan mungil Naura.


Naura mengikuti langkah kakiku. Dan Mikail, begitu dalam gendonganku dia langsung diam.


Aku masuk lagi keruang tamu. Dan Naura langsung berlari kearah Dimas dan mereka berdua langsung berpelukan.


"Kakak Mas" ucapnya sambil menghambur kepelukan Dimas.


"Anak siapa te?" tanya mbak Ningsih begitu melihatku.


"Anak kedua kami mbak" jawabku sambil memperlihatkan Mikail pada mereka.


Tampak sekali wajah kaget dari mereka. Mbak Ningsih langsung bangkit dari duduknya dan langsung memeluk kami sambil menangis tersedu.


"Ya Alloh, mengapa ga ngasih kabar Te kalau lahiran" ucapnya terbata di sela tangisnya.


Segera diambilnya Mikail dari pangkuanku dan langsung menciuminya.


Ibu dan bapak mertuaku tak bergeming. Mereka bersikap biasa saja disaat mbak Ningsih dan mas Indra sibuk bermain dengan Mikail.


"Kapan te lahirannya" kali ini Mas Rudi yang bertanya.


"30 Maret tadi mas" jawabku.


"Ohh" jawabnya sambil menganguk-anggukkan kepalanya.


Laras terlihat acuh dan tak perduli, sedangkan Raffa, anaknya bergabung dengan Dimas dan Naura bermain.


"Kok ga ngasih kabar?" tanya ibu mertuaku akhirnya.


"Pertamanya kami memang berniat untuk memberi kabar, tapi mengingat kesibukan bapak dan ibuk makanya tidak kami kabari" kilahku.


"Rumah ini rumah kalian apa ngontrak?" tanya Laras sinis.


"Alhamdulillah rumah kami sendiri mbak" jawabku bangga


"Ohhh" jawabnya ber "o" panjang sambil manggut-manggut.


"Banyak ya uang Andi sampai sudah bikin rumah" sambung ibu mertuaku.


"Alhamdulillah bu" balasku

__ADS_1


"Oh iya, kok tahu kami di sini?" tanyaku


"Tadi kami ke kontrakan kamu, tetangga kamu bilang kamu sudah pindah, terus kami tadi mampir ke rumah bapak kamu, nah beliau lah yang ngasih tahu rumah kalian" mbak Ningsih yang menjawab sambil masih terus menggendong Mikail.


"Rumah baru, anak sudah dua, hebat kamu ya" ujar ibu mertuaku sinis. "Kasihan anakku Andi jadi pembantu kamu, nyari uang banting tulang untuk kamu dan anak-anak kamu, sementara kamu ongkang-ongkang kaki di rumah" sambungnya lagi.


"Inikan anak-anaknya kak Andi buk, jadi sudah kewajibannya untuk menghidupi dan memberikan kami tempat tinggal yang layak" belaku


"Terus kenapa ga kasih kabar saat buat rumah?" tanya ibu mertuaku lagi


"Itu bisa ibuk tanyakan langsung sama kak Andi" jawabku karena tidak mau panjang lebar lagi berdebat dengannya.


"Jam berapa dia pulang?" tanya apak mertuaku


"Biasanya sore pak, tapi berhubung ini hari pertama masuk kerja setelah cuti lebaran, biasanya tengah hari sudah pulang" jelasku


"kita tunggu saja Andi pulang" jawab bapak mertuaku


"Yuk Nin, bantu mbak di dapur, kita masak sama-sama" ajakku pada Nina.


Nina langsung beranjak dari keponakan-keponakannya dan berjalan ke arahku yang juga sudah berdiri.


"Titip Mikail ya mbak" ucapku pada mbak Ningsih.


"Oalah nganti lali takon, sopo jenenge Te? (oalah, sampai lupa bertanya, siapa namanya Te?) tanya mbak Ningsih sambil terkekeh.


"Mikail Dandi Wijaya" jawabku


"Mikail?" tanya Dimas


"He eh" angguk ku menoleh padanya sambil tersenyum.


"Mirip lagu tepuk malaikat waktu mamas TK ya buk" ucapnya kearah mbak Ningsih.


Mbak Ningsih mengangguk dan Dimas bernyanyi lirih sambil bertepuk tangan


"tepuk malaikat, satu jibril, dua mikail, tiga isrofil, empat izrail"


Aku tersenyum dan mengelus kepalanya sambil berlalu kedapur diikuti Nina.


Sesampai di dapur, lalu aku mengeluarkan bahan masakan yang terrsedia di kulkas.


Selagi kami mengolah bahan masakan, ibu mertuaku, bu Mira menyusul kebelakang.


"Besar juga rumah kalian" ucapnya sambil mengedarkan pandangan.


"Lumayan buk" jawabku sambil tidak mengalihkan perhatian dari daging ayam yang sedang ku bersihkan.


Banyak sekali pertanyaan ibu mertuaku seputar rumah baru kami. Aku dengan sabar menjawab setiap pertanyaannya.


Satu jam berlalu, dan masakan telah terhidang di meja. Segera aku memanggil semua yang ada di depan untuk bersantap siang. Bapak mertua ku, pak Hermawan segera bangkit dan menuju dapur, diikuti yang lainnya juga.


Selagi rombongan makan siang, terdengar suara mobil berhenti di depan. Aku faham itu suara mobilnya Kak Andi.


Terdengar Naura memanggil ayahnya ketika mobil berhenti.


"Horee, ayah pulang. Ayah ayah" ucapnya sambil melompat kegirangan.


Andi langsung menangkap tubuh Naura dan menggendongnya.


"Ada embah" ucapnya lagi


"He eh ayah tahu. Ayuk sudah salin mbah belum?" tanya Andi sambil masuk ke dalam rumah.


Naura menganggukkan kepalanya.


"Assalamualaikum" ucap Andi


"Waalaikumussalam" jawabku sambil berjalan ke depan menyambut suamiku.


"Adek mana bun?" tanyanya sambil masuk menuju dapur menemui keluarganya.


"Sama mbak Ningsih, dari tadi anteng di gendong sama ibuknya" jawabku tersenyum.


"Dipenakke pak buk" ucapnya ketika melihat kedua orang tuanya masih makan.


"Makan oom" tawar mas Indra dan mas Rudi hampir berbarengan.


Andi mengangguk dan mencomot empek-empek yang telah selesai aku goreng.


"Sini mbak adeknya, mbak makan dulu" ucapnya sambil hendak meraih Mikail dari gendongan mbak Ningsih.


"Ga usah, Mikail le anteng wae kok ket mau" (ga usah, Mikailnya tenang saja kok dari tadi)


"Oh yo wis nak ngunu, penakke yo, aku arep neng ngarep" (oh, ya sudah kalau gitu, nikmati ya, aku mau ke depan).


Andi lalu berjalan ke depan sambil menggandeng tangan Naura yang sedari tadi terus menempel padanya.


...+++++++++...


"Kok ga ngasih kabar oom kalau tante lahiran?" tanya mbak Ningsih saat semuanya telah duduk santai.


Andi diam sejenak. Aku pun diam sambil menggendong Mikail yang sepertinya mulai mengantuk.


"Aku trauma mbak"


"Trauma?" tanya ibu mertuaku


"Iya buk, aku trauma. Dulu waktu Indah melahirkan Naura, dari awal kontraksi sampai lahir, sampai akikahan saya kasih tahu, tapi apa? apakah bapak sama ibuk langsung datang menengok? tidak kan? Saat Naura sudah berumur hampir sebulan dan acara akikah sudah dimulai baru bapak ibu datang" jawab Andi

__ADS_1


"Ohh, jadi karena itu kami juga tidak kasih tahu kalau kamu bangun rumah?" tanya ibu mertuaku lagi


"Apa ibuk bapak mau bantu, saat aku buat rumah?" tanya Andi


"Maksudnya?" Laras bertanya


"Ya, maksud aku gini loh mbak, apa dengan aku kasih tahu kalau kami mau buat rumah, bapak sama ibuk mau bantu aku?, Enggakkan?


"Kamu kok gitu sih Ndi?" suara ibu mertuaku mulai pelan. Raut wajahnya langsung berubah sendu.


Andi tersenyum kecut melihat kearah ibunya.


"Mobil baru Ndi?" bapak mertuaku mengalihkan keributan kecil antara anak dan istrinya.


Semua mata langsung menoleh keluar.


"Oh iya, kok kita ga ngeh ya?" ucap Nina


"Wahh makin berduit kamu kalau gitu Ndi" ujar Mas Rudi


"Alhamdulillah mas, rezeki anak-anak saya" jawab Andi


"Kapan belinya mas?" tanya Nina


"Mobil inventaris kantor itu Nin, bukan mobil mas mu. Doakan mas ya semoga mas bisa beli mobil baru juga" jawab Andi.


"Inventaris?" kening Laras berkerut.


"Iya mbak, sekarang saya kepala cabang, itulah makanya saya dapat kendaraan inventaris dari kantor" jelas Andi


"Wahh selamat ya oom" Mbak Ningsih menepuk pundak Andi.


"Oh iya, maaf ya Pak, kami tidak mudik seperti biasanya karena Mikail masih kecil mau diajak jalan jauh. Kasihan dia" jelas Andi


"Karena itulah makanya kami yang datang kesini" jawab pak Hermawan.


"Bukan karena kamu sudah merasa beruang kan Ndi, makanya kamu tidak mudik?" selidik Laras


"Mbak ngomong apa sih?" jawab Andi tak senang mendengar ucapan kakaknya itu.


"Ya sudah, intinya kami bahagia karena kamu sudah punya rumah sendiri sekarang, sudah punya mobik juga dan punya anak juga" terang pak Hermawan untuk mencairkan suasana yang mulai tidak kondusif"


"Thr buat ibuk jangan lupa Ndi" ucap ibu mertuaku.


Aku diam. Aku tidak perduli, toh itu adalah haknya suamiku mau memberi thr kepada ibunya atau tidak. Yang pasti, setiap tahun Nina, Dimas dan Raffa bakal dapat thr dari kami.


"Ibuk kaya Raffa sama Dimas saja minta thr" jawab Andi.


"Tahun ini kan kamu ga ngaterin punjungan buat ibuk, jadi gantinya duit saja" sambungnya.


"Kalau kamu sudah jadi kepala cabang, itu artinya gaji kamu makin besar kan Ndi? jadi thr buat ibuk jangan samakan dengan keponakanmu ya" ucapnya lagi


Andi hanya menggelengkan kepala saja mendengar ucapan sang ibu.


Setelaj itu, mereka mengobrol ringan sambil menikmati kue dan empek-empek yang tadi ku goreng. Setelah pukul empat sore bapak mertuaku berpamitan.


"Sudah sore, kami pamit ya Ndi" ucap pak Hermawan.


Aku segera beranjak dari kursi dan masuk ke kamarku untuk mengambil uang thr buat Nina, Dimas dan Raffa. Setelah aku mengambil uang sebanyak satu juta buat aku bagikan dengan mereka bertiga, aku keluar dari kamar.


"Ini buat Nina" ucapku sambil memberikan amplop berisikan empat lembar uang merah ketangannya.


"Makasih ya mbak" jawab Nina dengan mata berbinar.


"Ini buat kakak Dimas" ucapku sambil berjongkok kearah Dimas.


Tangannya langsung meraih amplop yang telah ku isi tiga lembar uang merah.


"Makasih tante" ucapnya


Aku mengangguk dan beralih ke Raffa yang berdiri bersebelahan dengan Dimas.


"Ini untuk kakak Raffa"


"Makasih te" jawabnya.


Setelah selesai memberi thr untuk mereka, aku menoleh ke arah suamiku. Seperti mengerti kodeku, Andi segera masuk dan tak lama telah keluar dengan uang di tangannya.


"Buat ibuk" ucapnya sambil menyerahkan uang tersebut ke tangan ibunya.


Wajah Bu Mira langsung sumringah ketika menerima uang merah yang cukup banyak dari anaknya.


"Mbak mana?" protes Mbak Ningsih


Aku terkekeh. Segera aku masuk ke kamar lagi, dan mengisi dua amplop dengan masing-masing lima lembar uang merah buat mbak Laras dan mbak Ningsih.


Aku keluar kamar dan memberikan amplop itu pada mereka berdua.


Wajah kedua iparku langsung sumringah ketika menerima amplop yang ku berikan, tawa langsung berderai ketika amplop telah ditanga mereka.


Setelahnya mereka semua berpamitan pulang. Aku dan suamiku serta Naura mencium punggung tangan mereka semua.


Sebelum keluar rumah, Mbak Ningsih masuk ke kamarku dan mencium pipi Mikail yang terlelap.


Setelahnya dia memeluk ku bergantian dengan Nina, sementara yang lain sudah mulai masuk mobil.


Aku benar-benar bagahagia mendapatkan perlakuan dari kedua iparku tersebut. Mereka benar-benar menyayangiku layaknya saudara mereka sendiri.


Bapak mertuaku mulai menghidupkan mobil dan perlahan mobilpun melaju meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


Lambaian tangan kami mengiringi ketika mobil mulai melaju meninggalkan halaman


__ADS_2