Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Apa Yang Kau Tabur, Itu Yang Akan Kau Tuai


__ADS_3

"Bagaimana Ras?" tanya bu Mira tak sabar saat Laras terburu-baru masuk kedalam mobil


Laras tidak menjawab, dia terus tersedu. Melihat anaknya menangis bu Mira makin yakin jika terjadi yang tidak mereka inginkan.


Pak Hermawan diam, belum menghidupkan mesin mobilnya. Dia masih menunggu sampai Laras tenang


Setelah Laras agak mereda tangisnya bu Mira kembali bertanya


"Apa kata mereka?"


Dengan menarik nafas berat sambil memegang tangan mungil anak perempuannya yang tertidur Laras menjawab dengan sendu


"Kata salah satu dari mereka, dua hari yang lalu memang mas Rudi menjemput Tina di rumahnya. Dan katanya lagi, mereka adalah suami istri" jawab Laras yang diakhiri dengan kembali tersedu


Kepala bu Mira seperti dihantam gada yang besar mendengar jawaban Laras, penglihatannya gelap dan dia tak sadarkan diri.


Laras yang melihat ibunya ambruk makin menangis. Pak Hermawan kebingungan. Reva, anak perempuan Laras menangis ketika suara gaduh mengganggu lelapnya


"Kita bawa langsung kerumah sakit ibu kamu" ucap pak Hermawan panik sambil segera memutar mobil menuju rumah sakit terdekat.


...****************...


Perlahan bu Mira membuka matanya. Aroma obat langsung tercium oleh hidungnya.


Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat langit-langit kamar lalu menoleh kekanan kiri


Pak Hermawan yang menyadari istrinya sadar segera bangkit mendekat kearah ranjang istrinya


"Syukurlah ibu sudah sadar" ucapnya


Bu Mira bergeming. Dia belum menjawab apa-apa. Dilihatnya Laras duduk termenung menatap kosong.


"Ras..." lirihnya


Laras diam, bergeming. Dia tidak mendengar jika ibunya memanggilnya, dia terlalu sibuk membayangkan nasibnya yang berputar kearah bawah, memikirkan penghianatan suaminya, memikirkan nasib kedua anaknya, terutama Reva yang baru berumur setahun.


Airmatanya kembali mengalir. Dia merutuki bagaimana dia bisa kecolongan. Bagaimana perselingkuhan suaminya dan Tina tidak disadarinya padahal mereka seatap.


Yang tak habis menjadi pikirannya adalah kapan itu terjadi, karena Tina dan suaminya tidak pernah pergi bersama atau mengobrol akrab. Mereka bersikap layaknya ipar dan hanya saling sapa.


Dia menutup wajahnya membayangkan yang tidak-tidak. Apalagi tadi teman Tina bilang jika mereka adalah suami istri, bisa jadi mereka telah melakukan hubungan terlarang. Hatinya kian sakit dan airmatanya kian mengalir deras


"Ibu jangan banyak pikiran, tadi kata dokter ibu darah tinggi. Jika itu terus berlanjut dikhawatirkan nanti ibu terkena stroke" ucap pak Hermawan pelan


Bu Mira menoleh kearah suaminya, matanya berkaca-kaca


"Mengapa ini terjadi sama kita pak?, apa salah kita?" ucapnya sambil berurai airmata


Dengan sabar pak Hermawan menghapus airmata yang mengalir di wajah istrinya. Dia menghela nafas berat


"Ini cobaan untuk kita bu, kita yang sabar" jawabnya


"Habis harta kita pak. Kebun kita habis" lanjutnya terisak


Pak Hermawan kembali menarik nafas berat


"Nanti kita jual saja mobil truk kita untuk mengembalikan uang pak kades" jawab pak Hermawan setelah lama diam


Bu Mira tak menjawab, dia malah makin tersedu


"Dasar menantu-menantu setan, tidak tahu diuntung, sudah diberi tumpangan malah maling!" geramnya


Laras masih tersedu. Reva yang merengek tidak dihiraukannya. Karena kasihan, akhirnya pak Hermawan yang menggendongnya keluar, membawanya berjalan di koridor rumah sakit


"Mas Rudi kok tega ya buk sama saya, padahal saya sudah jadi istri yang baik untuk dia" ucap Laras sesenggukan


Bu Mira tak menjawab karena saat ini dia juga sedang menangis.


Akhirnya mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, keduanya larut dalam kesedihan yang mendalam


Jika Laras bersedih karena dikhianati suaminya, maka bu Mira merasakan sakit dua kali lipat. Selain ditipu dengan kedua menantunya, dia juga harus kehilangan kebun sawitnya.


Bayangan jatuh miskin sudah berkelebat di depan matanya.


"Tidak, tidaakkkk" teriaknya


Laras yang mendengar ibunya berteriak segera bangkit dan memegang tangan ibunya


"Buk, yang tenang buk, yang tenang" ucapnya panik

__ADS_1


Saat Laras panik, kebetulan seorang perawat masuk. Dengan cepat perawat itu ikut menenangkan bu Mira.


Tapi mereka berdua kewalahan. Akhirnya perawat tersebut keluar dan tak lama telah kembali lagi bersama seorang dokter yang tadi memeriksa bu Mira


Segera dokter tersebut memberikan suntikan pada bu Mira, yang tak lama berselang membuat bu Mira kembali tenang


"Ibu jangan banyak pikiran, darah ibu naik lagi ini. Kalau ibu tidak bisa mengontrol emosi ibu, dikhawatirkan nanti ibu terkena stroke"


Laras menatap iba pada ibunya yang menatap kosong.


"Jika ibunya mengamuk lagi, segera panggil kami" ucap dokter tersebut.


Laras menganggukkan kepalanya.


Setelah memeriksa secara intensif, dokter dan perawat itu lalu keluar


...****************...


"Ya Alloh buk, ibuk kenapa?" ucap Ningsih yang tergopoh masuk kedalam ruangan rawat inap bu Mira


Bu Mira masih seperti tadi, pandangannya kosong dengan airmata yang terus mengalir


Ningsih segera memeluk ibunya sambil menitikkan airmata


"Ibuk kenapa pak, kemarin masih sehat, kok ini tahu-tahu dirawat" tanyanya pada pak Hermawan yang duduk dengan wajah muram


Dimas yang sudah besar segera duduk di samping mbah akungnya. Menatap dengan cemas


"Ras, ibuk kenapa?" tanya Ningsih kearah Laras yang matanya sembab


"Mbak lihat sendiri kan kalo ibuk sakit. Ya itu artinya ibuk sakit" jawab Laras ketus


Ningsih membuang wajah dengan kesal mendengar jawaban adiknya tersebut


"Kak, ajak Hanum keluar saja, nggak baik dia di dalam ruangan ini" ucap Ningsih pada Dimas


"Ini malam buk" jawab Dimas singkat


Ningsih menarik nafas berat. Dia bingung bagaimana malam ini, tidak mungkin dia mengajak anaknya menginap di rumah sakit ini


"Ibuk kenapa?" tanyanya pelan pada bu Mira


"Ibuk miskin sekarang Ning, harta ibuk habis" ucap bu Mira sambil tersedu


Ningsih segera melepas pelukan pada ibunya lalu memandang bingung


"Kebun sawit bapakmu dijual oleh Rudi dan Tina" lanjut bu Mira tersendat


Mata Ningsih langsung terbelalak kaget mendengar ucapan ibunya.


Dia segera menarik kursi lalu duduk di dekat ibunya sambil menatap menuntut jawaban pada bapak dan ibunya


"Maksudnya apa buk, aku nggak ngerti" jawab Ningsih


Pak Hermawan menundukkan kepalanya.


"Kebun ibuk habis Ning, habis" kembali bu Mira menjawab sambil terisak


Ningsih memandang bingung antara ibu bapaknya dan Laras


"Benar pak?" tanya Ningsih kearah bapaknya yang sejak tadi menundukkan kepalanya


Dengan menarik nafas dalam pak Hermawan mengangguk lemah


"Kok bisa?"


"Dijual oleh Rudi dan Tina" jawab pak Hermawan singkat


"Iya maksud saya kok mereka bisa menjualnya kenapa?" tanya Ningsih yang masih bingung karena belum menemukan titik terang dari masalah ini


"Mereka berdua kabur, sepertinya mereka berdua berselingkuh" lanjut pak Hermawan


Ningsih menutup mulutnya mendengar ucapan pak Hermawan. Sementara Laras kembali terisak


"Tadi kami sudah mencari Tina kekontrakannya yang dulu, tapi mereka tidak ada. Terus kami pergi kekantor bekas dia kerja dulu, disana ada teman Tina ngomong kalau Rudi yang menjemput Tina dan mereka mengaku jika mereka berdua suami istri" lanjut pak Hermawan


Ningsih semakin kaget, kepalanya menggeleng tak percaya. Sementara Laras kian terisak.


Lama mereka diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Kamu kan istrinya Ras, masa kamu tidak merasakan perubahan Rudi?" ucap Ningsih lirih


Laras menghapus airmatanya dengan lemah


"Selama ini mas Rudi baik-baik saja mbak, mas Rudi tidak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan" jawab Laras pelan


Ningsih menarik nafas dalam.


"Tina benar-benar hebat, dulu dia menjadi simpanan Andi selama tiga tahun, dan Indah tidak menyadarinya. Sekarang dia menjadi simpanan Rudi, dan kalian serumah tidak ada yang mengetahuinya" jawab Ningsih sinis


Laras langsung memandang Ningsih dengan tajam


"Mbak jangan samakan aku dengan Indah. Indahkan bodoh makanya Andi selingkuh bertahun-tahun tidak disadarinya!" jawabnya ketus


Ningsih terkekeh mencemooh mendengar jawaban Laras


"Lah, kamu bilang Indah bodoh, lah kamu apa?, pintar?" jawab Ningsih sinis


Laras terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ningsih. Tersadar jika ucapannya adalah bumerang bagi dirinya sendiri


"Bisa jadi mereka sudah lama berselingkuh dan kamu tidak menyadarinya" lanjut Ningsih lagi


Laras diam, wajahnya makin ditekuk mendengar perkataan Ningsih


"Dari awalkan aku sudah bilang, Tina itu bukan perempuan baik, jika dia perempuan baik mana mungkin dia jadi selingkuhan Andi dan menghancurkan rumah tangga Andi. Ehh, malah kalian membela dia, membangga-banggakannya karena dia jauh lebih cantik dari Indah, jauh lebih segalanya kata kalian"


"Dan sekarang, kalian rasakan sendirikan bagaimana dia menggigit kalian?"


"Mbak kalau mau menceramahi kami lebih baik mbak tidak usah kesini, kesini bukannya nolongin malah buat masalah makin runyam!" sungut Laras


"Mbak memang kesini awalnya karena mbak khawatir sama keadaan ibuk waktu tadi bapak nelpon, tapi setelah mbak tahu duduk perkaranya, bagaimana ya?" jawab Ningsih bingung


"Mau kasihan tapi memang ini kesalahan kalian karena melihara ular, mau marah tapi kok ya nggak tega, orang kena musibah kok dimarahin, ya itu tadi, seperti kata pepatah, apa kau tabur itulah yang akan kau tuai. Saat kau menabur dusta, maka kau akan menuai badai karma"


Laras makin menatap benci kearah Ningsih sedang bu Mira masih terisak


"Jadi maksud mbak ini karma untuk kami?" bentak Laras


"Bisa jadi" jawab Ningsih santai


"Kurang ajar" teriak Laras


Ningsih tersenyum sinis mendengar ucapan adiknya


"Sudah ah buk, jam besuk sebentar lagi habis. Kami mau pulang saja" ucap Ningsih sambil berdiri dari kursinya


"Kamu nggak nginap nungguin ibumu Ning?" tanya Pak Hermawan lirih


Ningsih menatap kewajah bapaknya


"Besok Ningsih kesini lagi pak, tapi kalau menjaga dan menginap di rumah sakit ini rasanya tidak mungkin. Hanum masih empat tahun, takut virus rumah sakit menyerang tubuhnya"


"Tapi ini kan sudah malam, kalian apa tidak takut pulang kerumah? kan jaraknya jauh" lanjut pak Hermawan


"Kami tidak pulang kerumah pak, kami mau menginap di rumahnya nenek Naura" jawab Ningsih santai sambil memasangkan jaket ketubuh Hanum


Wajah pak Hermawan berubah kaget ketika Ningsih menyebut rumah nenek Naura


"Apa mereka mau menerima kamu?" tanyanya dengan nada khawatir


Ningsih tersenyum


"Kami sering main kerumah pak Ahmad, nengokin Naura dan adik-adiknya, dan selama ini mereka welcome sama kami. Mereka masih menganggap kami keluarga mereka. Dan asal bapak tahu, Naura dititipin Indah di rumah orangtuanya karena dia jadi TKW ke Arab sekarang"


Wajah bu Mira dan pak Hermawan menunjukkan raut kaget mendengar penjelasan Ningsih


"Itulah sebabnya, hampir tiap bulan kami nengokin mereka, karena kami kasihan pak sama Naura dan dua adiknya, masih kecil ditinggal bundanya merantau"


Pak Hermawan dan istrinya masih diam


"Ya sudah, ibuk istirahat jangan banyak pikiran, besok kami kesini lagi" ucap Ningsih sambil mencium punggung tangan ibunya.


Lalu Ningsih keluar dari dalam kamar tempat bu Mira dirawat, menuju parkiran motor lalu Dimas menjalankan motor dengan pelan menuju rumah pak Ahmad


Sepeninggal Ningsih, pak Hermawan masih tertegun memikirkan ucapan Ningsih tadi jika Indah sekarang jadi tkw di Arab


"Hem, jadi tkw di Arab toh perempuan murahan itu. Makin jadi LA dia, Lo***e Arab" ucap Laras ketus


Pak Hermawan tak merespon ucapan Laras, dia hanya diam saja

__ADS_1


__ADS_2