
Aku mengangguk pada perempuan yang tadi disebutkan bernama Hatice Kaderimin. Tetapi perempuan itu masih bersikap dingin seperti tadi.
"Atas tujuan apa anda mengikuti saya?" tanyaku pada Rio
Rio mengeluarkan sejumlah foto dari dalam jasnya dan menyerahkannya padaku.
Di sana terpampang jelas foto aku dan abang, saat kami makan malam, saat kami jalan, saat kami tertawa, saat kami berpelukan, berciuman dan juga saat kami saling bermanja.
Dengan bingung aku melihat semua foto-foto itu. Setelah selesai aku mengembalikan semua foto tersebut kembali ketangan Rio
"Ini maksudnya apa?" tanyaku bingung
"Anda tidak berhak mengambil foto saya dan abang" lanjutku
"Do you know him?" akhirnya perempuan cantik di sebelahku bersuara
"Yes, of course I know him" jawabku
Tampak perempuan itu tersenyum sinis.
"Really you know him?" ulangnya
Aku diam. Kembali perempuan itu tersenyum sinis
"You didn't know him deeply, who is he, how his family, how his life, how his last" ucapnya dingin
"I know him more" jawabku
Kembali perempuan itu tersenyum sinis
"You see this picture more detail" ucapnya sambil memberikan beberapa lembar foto ketanganku
Dengan cepat aku melihat foto yang diberikan perempuan itu. Airmataku tidak dapat aku tahan saat aku melihatnya.
Disana terlihat jelas foto pernikahan antara abang dan Hatice, foto-foto kebersamaan mereka, kebahagiaan mereka, keluarga besar mereka, dan terakhir foto seorang anak lelaki kecil yang berambut sama seperti Hatice, coklat kemerahan
"Abang..." ucapku tercekat tak percaya.
Aku membekap mulutku tak percaya dengan semua kenyataan ini.
"He is my husband, his name Ozkan Yilmaz, he moved around four years ago" ucap wanita itu
Aku hanya mendengarkan saja. Aku sudah tidak bisa menjawab lagi, airmataku semakin deras mengalir
"He is a son of a famous billionaire in Turkey. His parents' wealth is famous all over the world. The owner of a large company Yilmaz Corporation. Maybe you've heard of the company's great empire"
(dia adalah seorang putra milyuner ternama di Turki.
Kekayaan orang tuanya tersohor di seluruh dunia. Pemilik perusahaan besar Yilmaz Corporation. Mungkin kamu pernah mendengar tentang kerajaan besar perusahaan itu)
Aku menggigit bibirku kuat, menahan sakit yang tiba-tiba mendera dadaku
"As a same woman, please back him to me" ucapnya lemah
Dadaku makin sesak. Ya Rabb, aku tidak menyangka jika orang yang kucintai ternyata sudah beristri, ternyata aku mencintai suami orang. Hal yang sangat aku benci adalah perselingkuhan.
Dan ternyata aku adalah wanita selingkuhan?? Aku menutup wajahku.
"Anda kenalnya nama dia adalah Ariadi kan?" tanya Rio
Aku diam tidak menjawab, ya aku memang lebih mengenal abang dengan nama Ariadi. Betapa bodohnya aku, tidak mungkin nama orang luar itu seperti nama orang Indonesia.
Dan lebih bodohnya lagi kenapa aku tidak pernah bertanya tentang siapa abang sebenarnya.
Aku merutuki kebodohanku dalam hati.
"Sekarang anda sudah tahu siapa Ariadi sebenarnya, dan seperti apa kehidupannya. Sekarang, apakah permintaan Nyonya Hatice pada anda untuk anda menjauhi Tuan Ozkan bisa anda penuhi?"
Aku menoleh pada Hatice yang juga menatapku dengan mata yang berbeda seperti tadi.
Ada luka dan sedih di mata itu. Aku pernah ada diposisi dia, saat suamiku berselingkuh dan aku tahu bagaimana rasa sakitnya diselingkuhi.
"Trust me, I will stay away from your husband. And I promise I will never see him again. Trust me" ucapku pada Hatice
Dapat kulihat Hatice menarik nafas lega. Dan aku segera keluar dari dalam mobil itu, berlari masuk dan menaiki tangga menuju kekamarku
Aku mengetuk dengan kasar pintu yang terkunci. Terdengar Linda menyahut saat aku memanggil namanya
Ketika pintu terbuka aku segera memeluk erat Linda. Kembali airmataku tumpah
"Kenapa Ndah?, kamu kenapa?" tanya Linda heran
Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa menangis. Dengan bingung Linda membawa Indah masuk dan menenangkannya.
Setelah cukup tenang aku menceritakan semuanya pada Linda. Linda sama seperti aku, dia juga sangat kaget dan tak percaya
"Apa aku tidak berhak bahagia ya Lin?" tanyaku serak
Linda kembali memeluk dan mengusap bahuku.
"Sabar, siapa yang bilang begitu. Kamu berhak bahagia, kamu tahu itu. Mungkin sekarang waktunya belum tepat" jelasnya
Aku menghembus nafas dalam, kenyataan ini memang sangat pahit buatku. Tapi harus aku telan sepahit apapun itu
__ADS_1
...****************...
Malam minggu
Malam ini aku tidak berharap jika abang akan datang. Karena aku yakin saat ini pasti dia sedang bersama istrinya.
Cukup bagiku menangisinya. Menangisi kebodohanku dan menangisi kegagalan cintaku yang layu sebelum berkembang
Linda hari selasa nanti akan terbang ke Taiwan, dan tentu saja itu membuatku makin sedih, karena akhirnya aku tidak ada teman sekamar lagi.
Tapi tadi siang aku sudah menghadap kepala yayasan, aku menanyakan apakah aku bisa berangkat dalam waktu dekat. Dan awalnya beliau terkejut, karena kata beliau berkasku di cancel, dan aku tidak bisa ke Arab Saudi karena ada seseorang yang meminta kepada yayasan untuk mengcancel kepergianku.
Setelah aku memohon dengan sangat, akhirnya beliau kembali mengurus berkasku dan kembali memasukkan namaku dalam list tenaga kerja tujuan Arab Saudi.
"Aku sendirian kalau kamu berangkat" ucapku sedih
"Kamu pasti akan berangkat juga, jangan sedih, aku akan selalu ingat kamu kok" jawabnya
Kami berpelukan.
"Janji ya Lin setelah sampai Taiwan kamu hubungi aku" ucapku
Linda mengangguk
"Saat kita pulang ketanah air, kita reunian ya" ucapnya sambil terkekeh
Aku ikut terkekeh mendengar ucapannya.
Pintu diketuk, aku dan Linda saling tatap
"Jangan-jangan cowok itu Ndah?"
Aku kaget. Bisa jadi, pikirku
Linda segera berdiri berjalan kearah pintu dan membukakan pintu. Dan benar saja, ternyata abang.
Aku segera membuang mukaku saat aku melihat jika yang berdiri itu adalah abang
Linda tetap berdiri didepan pintu menoleh antara aku dan abang bergantian
"Boleh saya masuk?" tanya abang
Linda diam. Ariadi mengerutkan keningnya. Tanpa menunggu jawaban Linda dia segera mendorong pintu agar terbuka lebar
"Sayaangg" abang langsung merentangkan tangannya hendak memelukku
Aku segera mengangkat telapak tanganku menyuruhnya berhenti.
"Aku pergi sebentar" ucap Linda
"Stop Lin. Kamu disini saja!" jawabku kencang
Ariadi makin mengerutkan keningnya
"What happen honey, what's wrong?" tanyanya bingung
"Jangan pernah temui saya lagi tuan Ozkan Yilmaz yang terhormat" ucapku dengan suara bergetar
Ariadi terkejut mendengar Indah menyebutkan nama aslinya.
"Jangan jatuhkan harga diri anda demi seorang wanita buruk rupa seperti saya"
Airmataku sudah menganak di pelupuk mata. Linda yang berdiri di depan pintu memandang iba pada Indah
"Sayang ada apa? Apa maksud kamu?"
"Saya sudah berbicara sangat jelas kepada tuan, sekarang tuan bisa pergi. Dan saya memohon pada tuan jangan temui saya lagi" ucapku terbata dengan airmata yang jatuh
Ariadi mengusap dagunya. Tampak dia menghembuskan nafas kasar menahan marah.
"Kamu kenapa Indah?, kalau ada masalah bilang sama abang" ucapnya frustasi
"Lebih baik tuan pergi dari sini. Jangan pernah temui saya lagi, dan saya mohon stop halangi kepergian saya untuk ke Arab"
"Tuan, silahkan anda pergi, maaf, bukan kami mengusir anda, tapi kami hanyalah orang biasa, kami tidak pantas berada dikalangan elit seperti kalian" ucap Linda dengan sendu
Ariadi memutar badannya menghadap Linda
"Bilang sama saya, ini ada apa?" tanyanya frustasi
Linda minggir dari depan pintu dan tangannya menyilahkan untuk abang pergi dari hadapan kami
Sambil mengusap wajahnya Ariadi keluar tapi sebelum itu, dia kembali menoleh menatap Indah yang mendongak kelangit kamar menahan airmatanya yang jatuh berderai
Setelah abang pergi aku terduduk di lantai dan menangis tergugu. Linda segera memeluk sahabatnya itu dan mengusap bahu Indah yang terguncang.
...****************...
Dengan gusar Ariadi kembali kedalam mobil. Matanya kembali menatap kearah kamar Indah. Segera diambilnya handphone
"Abraham, kesini sekarang juga. Cepat!"
Abraham yang ternyata ada di luar bangunan yayasan segera memasukkan mobilnya. Dia segera turun dari dalam mobil dan berjalan kearah mobil Ariadi
__ADS_1
"Ya bos?" tanyanya saat kaca jendela mobil terbuka
"Temui Indah di atas!"
Abraham mengernyitkan keningnya.
"Dia tidak mau aku temui, tolong kamu temui dia. Tanyakan apa penyebabnya!"
Dengan cepat Abraham berjalan masuk menuju kearah kamar Indah.
Ariadi memperhatikan dari dalam mobil.
Setelah sampai di depan pintu, pak Abraham langsung mengetuk pintu. Aku dan Linda sama-sama menoleh. Dengan menarik nafas dalam aku membiarkan Linda yang berjalan hendak membuka pintu
"Mbak Indahnya ada?" tanya pak Abraham begitu pintu terbuka
Aku segera berdiri dan segera berlari kearah pak Abraham.
Abraham mengerutkan keningnya saat dilihatnya Indah menangis.
"Pak..." ucapku tersekat ketika sudah berdiri di depannya
"Abang pak, abang..." ucapku terputus.
Pak Abraham membawa ku masuk, dibawanya aku kebalkon. Tujuannya adalah agar Bosnya melihat Indah walau dari jauh
Aku duduk di kursi yang tadi diambilkan pak Abraham. Sedangkan dari bawah, Ariadi dapat melihat jika saat itu Indah duduk berhadap-hadapan dengan Abraham
"Awas kalau kamu berani menyentuhnya!"
Isi sms yang dikirim Ariadi kehandphone Abraham. Tapi karena dia fokus melihat Indah yang terisak sms tersebut tidak dibukanya.
"Ada apa dengan bos saya?" pak Abraham membuka suara
"Saya tidak menyangka jika bapak bersekongkol dengan abang untuk membohongi saya" jawabku sendu
Abraham kembali mengernyitkan keningnya
"Awalnya saya tidak menyangka jika bapak akan tega ikut membohongi saya" isakku
"Maksudnya apa mbak? Sumpah saya tidak mengerti" jawab pak Abraham
"Bapak bilang abang belum menikah, tapi ternyata abang sudah ada istri, bahkan sudah ada anak" jawabku serak
Abraham kaget mendengar ucapan Indah.
"Tidak mungkin mbak, tidak mungkin" jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Ariadi yang memperhatikan dari jauh ikut penasaran dengan ekspresi Abraham
"Saya sudah tiga tahun menjadi anak buahnya, kemanapun beliau pergi kami selalu menjaganya. Dan selama ini kami tidak pernah melihat beliau bersama perempuan"
Aku tersenyum sinis.
"Ternyata semua laki-laki itu sama. Sama-sama pembohong!" jawabku sinis
"Bagaimana kami tahu kalau mbak tidak cerita, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi"
Lalu aku menceritakan semuanya. Tentang Rio, Hatice dan juga anak lelaki yang ada dalam foto.
Wajah Abraham menegang saat mendengar kata tiap kata cerita yang keluar dari mulut Indah.
"Aku tahu bagaimana rasa sakitnya ditinggal suami berselingkuh pak, aku tahu" ucapku dengan mata sendu mengakhiri ceritaku
Pak Abraham memegang tanganku. Ariadi yang melihat segera mengepalkan tangannya. Terlebih saat dia melihat Abraham mengelus kepala Indah, emosinya langsung naik.
"Shitt !!" geramnya memukul setir
Setelah melihat Indah tenang, pak Abraham berpamitan, dan dengan langkah lesu dia menuruni anak tangga dan berjalan kearah mobil bosnya.
Ariadi yang sejak tadi menahan marah langsung membuka pintu mobil saat Abraham berdiri di samping mobilnya.
Secepat kilat ditariknya kerah baju Abraham
"Kurang ajar, berani-beraninya kamu menyentuh kekasihku" geramnya
Abraham hanya diam, dia pasrah jika harus mendapatkan pukulan dari bosnya. Wajahnya dimiringkannya, tidak berani menatap mata sang bos yang berkilat marah
Melihat reaksi sendu dari Abraham membuat Ariadi melepaskan cengkeramannya.
"Apa kata Indah?" tanyanya dingin
"Maafkan saya bos, sebelumnya saya harus memanggil apa ini pada bos? Tuan besar atau bos besar?" ucap Abraham sambil menunduk
Ariadi langsung memasang wajah dingin demi mendengar pertanyaan Abraham
"Apa maksud kamu?" tanyanya dingin
Tanpa diminta dua kali, Abraham langsung menceritakan semua yang dikatakan Indah tadi.
Tubuh Ariadi sedikit goyah, dia segera masuk kedalam mobil dan terhenyak sambil mengusap kasar wajahnya.
"Hatice... lagi-lagi kamu menghancurkan hidup saya!" geramnya
__ADS_1