
Air mata kembali mengalir deras dari sudut mata Andi mendengar Indah yang telah memaafkannya
Aku kembali duduk dan mengatur nafasku yang menangis begitu emosional tadi
"Yok nak, kita sama-sama baca Yasiin" ucapku pada Adam yang masih berdiri di belakangku
Adam mengangguk, Naura pindah ke sebelah Mikail sambil meneruskan bacaan Yasiin nya tanpa henti
Adam membaca Yasiin sambil menggenggam erat tangan ayahnya, sedangkan Naura sambil mengusap-usap kepala ayahnya.
Melihatku dan Adam membaca Yasiin, anggota keluarga Andi yang lain ikut membaca, termasuk abang
Abang membaca Yasiin sambil memegang pundak Adam yang tampak sedikit berguncang karena dia sesenggukan
Lima belas menit kami selesai membaca surah Yasiin dilanjutkan dengan ketiga anakku membaca Surah Ar-Rad.
Selesai membaca surah Ar-Rad, ketiganya sama-sama berjongkok di depan Andi
Naura yang paling duluan. Aku lihat dia sangat emosional, air matanya mengalir deras dan matanya sudah sangat bengkak
"Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" bimbing Naura pilu
"Asy..... hhhaaaddduuu...."
Naura menganggukkan kepalanya dengan kuat melihat ayahnya mulai bergumam mengucap Syahadat
Tapi hanya sampai di sana mulut Andi bergumam, karena setelahnya kembali mulut Andi terkunci
"Ya Alloh...." ratap Naura pilu
Berganti Mikail yang menggenggam tangan ayahnya
"Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah"
Andi tak bereaksi, matanya masih terlihat melotot dan mulutnya bergumam tak jelas, sedangkan kedua tangannya kejang dan kaku
"Ya Alloh ampuni ayah hamba ya Alloh...." pekik Naura sambil memeluk tubuh Andi dan kembali dia menangis histeris
Mikail menarik tubuh Naura yang menindih dada ayahnya sambil menggelengkan kepalanya
"Kita harus ikhlas yuk, harus ikhlas"
Naura segera memeluk Mikail dan menangis tersedu-sedu
"Minta maaflah nak sama ayah kalian...." ucapku yang juga menitikkan air mata melihat kesedihan di wajah Naura
Naura langsung ambruk di lantai, terduduk dengan menangis pilu sambil memegang betis ayahnya
"Tolong jangan pergi dulu ayah..." ratapnya
Aku segera memeluknya erat
"Jangan halangi jalan ayahmu nak, jangan bebani dia dengan ketidak ikhlasan mu" bujuk ku sambil mengelus kepalanya
"Ayuk sangat sayang sama ayah, ayuk belum sanggup jika harus kehilangan ayah, bunda" jawabnya terbata-bata
Semua yang ada di dalam ruangan menyusut mata mereka melihat Naura yang sangat terpukul
Suara gumaman Andi makin terdengar sangat kencang
"Aaarrggghh.... aaarrgghhh...."
"Ya Alloh ayah..." kembali Naura bangkit dan memeluk ayahnya
Kali ini Mikail dan Adam membiarkan ayuknya menangis sepuasnya di dada sang ayah
Mereka berharap setelah ini Naura akan ikhlas melepas ayahnya
"Tolong siapa saja di ruangan ini yang masih menyimpan sakit hati sama ayah saya, tolong ampuni ayah sayaaaa...." ratap Naura pilu
"Bunda, ini pasti bunda..." ucap Naura seperti orang tak sadar
Dengan cepat Naura memegang kedua bahuku dan menatapku nanar
"Tolong maafkan ayah kami bunda, tolooongg..." ucapnya sambil mengguncang bahuku
Adam dengan cepat menarik tangan Naura yang mengguncang bahu bundanya dengan kasar
__ADS_1
"Istighfar yuk!" bentaknya
Naura masih seperti tak sadar, dia terus mengguncang-guncang bahuku dan menuntut ku agar mau ikhlas memaafkan ayahnya
"Aku, aku yang belum ikhlas memaafkan ayah!!!!" teriak Adam
Tangan Naura yang tadi mencengkeram kuat bahuku terlepas dengan lunglai
Mikail begitu mendengar jawaban Adam langsung memeluk erat adiknya sambil menangis tertahan
"Ikhlas dek... ikhlaaasss..."
Adam kembali menangis sesenggukan mendengar bujukan Mikail
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
"Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."
Adam terus menangis tersedu-sedu mendengar nasihat Mikail
"Kasihan ayah dek..." bujuknya
"Ayuk mohon, ikhlaskan hatimu dek.. ikhlaskan...." ucap Naura kembali sambil ikut memeluk kedua adiknya
Tangan Andi bergerak seperti terangkat kembali. Refleks ketiga anaknya langsung mendekat dan memegangi kedua tangan Andi
Sambil menarik nafas panjang dan berurai air mata Adam berbisik di telinga Andi
"Ayah... aku minta maaf atas semua kesalahan dan dosaku pada ayah... maafkan aku ayah..."
Kepala Andi bergerak ke kanan ke kiri dengan kuat
Naura kembali menutup mulutnya melihat kondisi ayahnya yang kian tersiksa
Mikail dan Adam kembali mengucapkan syahadat di depan Andi bahkan membisikkannya di telinga sang ayah
"Ayah... aku minta maaf untuk semua salah dan dosaku, dan aku juga telah memaafkan semua kesalahan dan dosa ayah padaku" bisik Mikail dengan air mata yang mengalir
"Ayuk, minta maaflah sama ayah, ikhlaskan ayah, jangan halangi jalan ayah lagi. Aku dan adek sudah meminta maaf, ayuk yang belum" lirih Mikail sambil memegangi pundak Naura
"Maafkan atas semua kesalahan ayuk yah..." hanya itu yang dapat diucapkannya karena suaranya telah hilang, kalah dengan tangisnya
Kembali keduanya membimbing Ayah mereka mengucap syahadat. Tetapi lagi-lagi mulut Andi terkunci.
Adam mengambil tangan ayahnya yang digenggam Naura. Dia mengangkat wajahnya keatas langit-langit ruang icu, mengerjap-ngerjapkan matanya menahan air mata yang terus mengalir tanpa henti
Ditariknya nafas panjang, lalu dia setengah membungkuk mendekat ke wajah ayahnya
"Ayah, aku Adam. Aku anak ayah. Dan demi Alloh dan juga demi Rasulullah aku memaafkan semua kesalahan ayah padaku" lirihnya dengan sesenggukan
Naura dan Mikail langsung saling berpegangan mendengar suara Adam yang bergetar
"Pergilah yang tenang ayah, jangan pikirkan kami lagi, kami semua sudah besar, kami bisa jaga diri kami"
"Ayah yang tenang, kami berjanji kami akan menjadi anak yang membanggakan ayah"
"Kami berjanji kami akan selalu mendoakan ayah...."
"Untuk ayuk jangan jadi beban ayah, ada aku dan kakak yang akan terus menjaga dan melindunginya"
"Aku ikhlas ayah memaafkan semua kesalahan ayah padaku, aku ikhlas, ikhlas ayah...." isaknya dengan bahu berguncang
Secara perlahan kaku dan kejang ditubuh Andi mengendur. Dan suara erangan gumaman tak jelas yang sejak beberapa hari ini keluar dari mulut Andi pun berhenti
Mata Andi yang semula melotot tajam secara perlahan mulai meredup
Melihat perubahan drastis yang terjadi pada ayahnya, Naura makin menangis histeris
"Asyhadu an laa ilaha illallah" bimbing Adam
Mulut Andi bergerak pelan
"Asyhadu an laa ilaha illallah" ucapnya nyaris tak terdengar dan terputus-putus
"Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" sambung Adam
Kembali mulut Andi bergerak-gerak
__ADS_1
"Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" sambungnya dengan sangat sukar karena nafasnya terputus-putus
Secara pelan matanya yang sejak tadi mulai meredup kini tertutup. Adam langsung memeluk tubuh ayahnya setelah sebelumnya dia menghapus air matanya
Setelah dirasakannya air matanya hendak mengalir, dengan cepat Adam mengangkat tubuhnya dari memeluk sang ayah
Melipat kedua tangan ayahnya di atas dada sambil kembali mengucapkan Syahadat
Layar komputer yang menampilkan detak jantung Andi telah berubah menjadi garis lurus
Naura yang mendengar suara dari layar komputer tersebut kian memeluk erat Mikail yang juga memeluk erat ayuknya
"Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raji'un..." ucap dokter Malkan setelah selesai memeriksa denyut nadi Andi dan memeriksa bola matanya
Adam mendekati kedua saudaranya, dan mereka bertiga berpelukan
Kembali aku menitikkan air mata melihat tangis pilu ketiga anakku
Naura melepas pelukannya pada kedua adiknya ketika dia merasakan sentuhan tanganku
Kupeluk erat gadis jangkung ku. Dan Naura kian menangis histeris di pelukanku
"Ikhlaskan nak, ikhlaskan" ucapku sambil mengelus pundaknya
...****************...
Setelah Andi dinyatakan meninggalkan dunia pada pukul 02.47 waktu Lubuklinggau, segera dokter melepas semua selang dan alat medis yang menempel di tubuhnya
Naura tidak keluar dari dalam ruangan ICU seperti kami. Dia terus menyaksikan bagaimana ketiga dokter dan beberapa perawat melepas selang di tubuh ayahnya
"Semoga engkau meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah ayah" lirihnya
Melihat Mikail keluar dari dalam ruang ICU, keempat temannya langsung mendekat dan bergantian memeluk erat Mikail sambil mengusap-usap pundaknya
"Yang sabar bro, ikhlas" ucap mereka
Mikail hanya bisa mengangguk.
Sementara pak Hermawan terduduk lemas di lantai sambil menangis dalam diam, Nina dan Ningsih mendekapnya sambil berurai air mata
"Proses selanjutnya bagaimana ini?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruang ICU
Nina dan mbak Ningsih langsung berdiri
"Apa tidak menunggu besok saja dokter?"
"Iya, besok. Maksud saya jenazah akan dibawa kemana?"
"Ke kampung halaman kami dokter" jawab Nina
"Tidak dokter, Andi akan dibawa ke rumah ketiga anaknya" jawabku
Nina langsung refleks memelukku dan menangis kencang
"Maafkan mas Andi mbak yaaa...."
Aku bergeming, hanya air mataku yang mengalir. Adam dan Mikail mendekat, Nina langsung menjauh
"Terima kasih bunda..." lirih keduanya yang kembali langsung terisak
Aku langsung memeluk keduanya, dan kembali kedua anakku menangis di pelukanku
"Kak, hubungi pak RT dan mbak Dian biar menyiapkan rumah" ucapku pada kak Andri yang segera mengeluarkan hpnya
Kulihat Serkan dan Defne tertidur di pangkuan pak Abraham dan pak Tomo
"Abang, apa tidak sebaiknya abang dan anak-anak pulang duluan?, kasihan Serkan dan Defne..."
Abang menoleh kearah Serkan dan Defne yang tak sedikitpun terganggu dengan hiruk pikuk kami
"Terus kamu bagaimana?"
"Aku akan disini dulu, mengurusi segala administrasi dan semuanya"
Ozkan tersenyum sambil menarik nafas panjang
"Inilah Indah yang abang kenal" lirihnya sambil mengusap kepalaku
__ADS_1