
Kulihat bu Mira memandang pasrah ke arahku, tumben, biasanya wajahnya selalu muram dan sadis bila melihatku
"Indah, saya mohon, tolong kami"
Aku tersenyum sinis kearah Andi.
"Berhentilah mengiba padaku, karena aku tidak akan tertipu lagi dengan wajah sok polos mu itu, aku bukan Indah bodoh yang dulu, yang bisa kau tipu"
"Naura, suruh pergi ayahmu!!"
Naura bergeming dia masih terisak, Adam yang masih berdiri di sebelahku segera berdiri di hadapan Andi
"Ayah pergilah, jangan ganggu kebersamaan kami yang hanya beberapa hari ini"
Andi dengan mata merah memandang Adam
"Ayah, tolong pergilah. Adek benar, kami sudah terbiasa tanpa ayah, kami ingin menikmati waktu bersama bunda, lusa saya dan adek harus kembali lagi ke Jawa, mungkin bunda pun akan kembali lagi ke Jeddah"
"Ibumu sakit Ndah" lirih pak Hermawan
Aku melirik sekilas kearahnya lalu pindah pada Bu Mira.
"Sakit rupanya dia, pantesan nggak mencaci aku dari tadi" batinku
"Kami numpang istirahat sebentar di sini, karena tadi ketika kami ke rumah sakit, rumah sakitnya penuh, jadi ibumu belum bisa di rawat"
Aku diam, sedikitpun tak berkomentar, aku hanya menatap kearah mereka yang berdiri berpanas-panasan.
Tampak Bu Mira nafasnya seperti tersengal, dia sedikit membungkukkan badannya mengurut-urut dadanya, pak Hermawan membantu dengan ikut mengurut bahunya
Andi yang begitu melihat ibunya seperti itu langsung bergegas memegangi pundak ibunya
Ketiga anakku hanya memperhatikan, Adam dan Mikail saling toleh, Naura mematung di sebelahku
"Bunda, boleh mbah istirahat sebentar disini?"
Aku menggeleng kearah Mikail.
"Bunda mau masuk, kalau kalian mau disini terserah"
Aku segera memutar badanku meninggalkan teras
Kudengar bu Mira batuknya makin parah, dan tak lama terdengarlah suara panik Andi dan Naura
Sebelum masuk aku menoleh kembali kebelakang, kulihat jika bu Mira pingsan, Andi dan pak Hermawan mengangkat tubuhnya.
Adam dan Mikail ikut juga membantu, Naura yang terlihat panik juga memberikan jalan pada mereka untuk masuk ke dalam teras
"Boleh ya bun?"
Aku tak menjawab pertanyaan Naura aku segera masuk.
Tak lama Naura terlihat masuk, dan menuju kebelakang, telah keluar membawa kotak obat dan alat tensi darah
"Mau apa kamu?"
Naura menghentikan langkahnya
"Mbah pingsan bunda, ayuk cuma mau meriksa mbah"
Aku melengos, kembali amarah memenuhi dadaku
"Bunda, boleh ya mbah dan ayah masuk, sebentar saja. Mbah terlihat lemas bunda, tidak akan lama kok mereka disini"
Aku bergeming mendengar bujukan Mikail yang masuk menyusul Naura
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Artinya: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahman : 60)
Aku menarik nafas panjang mendengar penjelasan Mikail. Mikail dengan cepat memelukku
"Kakak tahu bunda kecewa sama mereka, mereka telah banyak berbuat jahat sama bunda, tapi bunda akan sangat mulia di mata Alloh karena bunda membalas kejahatan mereka dengan kebaikan"
Aku menepuk pundaknya
"Luasnya hati kalian nak"
Mikail tersenyum, menggenggam erat tanganku.
Dengan menghembus nafas berat aku mengikuti langkahnya yang membimbing tanganku keluar, menuju teras
"Bawa masuk mbah kalian"
Naura yang sedang menggosokkan minyak kayu putih ke tangan bu Mira yang seputih kertas, mendongak ke arahku
__ADS_1
Andi dan pak Hermawan pun melakukan hal yang sama. Dengan pelan mereka berdua membimbing bu Mira yang tampak lemah masuk.
Mata ketiganya mengelilingi ruangan luas tempat mereka duduk. Bahkan tangan bu Mira mengelus pegangan kursi.
Aku hanya memperhatikan mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Adam dan Mikail duduk di sebelahku, Naura ke dapur dan muncul telah membawa tiga cangkir teh hangat.
"Diminum mbah, ayah"
Ketiganya hanya menganggukkan kepala, aku terus saja menatap mereka dengan malas
"Terima kasih Indah karena kamu sudah mempersilahkan kami masuk"
Aku melirik kearah Andi.
"Ibu sudah lama sakit, tapi baru terdeteksi sekarang" lanjutnya
"Sakit apa mbah yah?"
"Kalau kata dokter tumor otak"
Aku menaikkan alisku begitu mendengar sakit mantan mertuaku itu. Tumor otak?, lumayan parah
Lalu Andi dan pak Hermawan bercerita panjang bagaimana mereka selama berbulan-bulan ini keluar masuk rumah sakit mengobati bu Mira.
Bahkan kebun sawit mereka sekarang hanya tinggal satu paket lagi, selebihnya habis terjual untuk biaya pengobatan.
Aku berdiri meninggalkan tempat itu tanpa permisi, telingaku rasanya muak mendengar cerita mereka yang seolah-olah minta dikasihani dengan ku
"Bunda naik dulu nak, kalau kalian mau makan sudah bunda sediakan"
Dengan santai aku menaiki tangga menuju lantai atas diiringi tatapan mata Andi dan orang tuanya
"Iya kak, nanti aku bilang sama kakak" ucapku berhenti di tengah tangga ketika kak Andri menelpon
"Kak, uwak ngajak ke showroom mobil tempat kakak beli mobil kemarin, kata uwak bos showroom nya mau ketemu kakak"
Mereka yang ada di bawah menoleh ke arahku
"Iya bunda, kakak siap-siap"
Dengan segera Mikail berdiri dan berlari kecil menyusulku, sampai di dekatku dia segera merangkul pundakku
Mata Andi sangat iri melihat Mikail yang sangat sayang kepada bundanya. Adam melirik pada Andi
Andi menatap kearah Adam dan tersenyum tak enak hati
"Jam berapa mau ke rumah sakitnya mbah?" tanya Naura
Bu Mira yang merebahkan kepalanya ke sandaran kursi hanya menatap lemah
"Nggak tahu kapan nak, karena rumah sakit full" jawab Andi
Naura langsung gelisah, dia tak ingin mbah dan ayahnya bermalam di sini, jika itu terjadi bisa kacau nanti
Sebuah klakson mobil membuat Naura dan Adam berdiri
"Uwak..." ucap Adam
Wajah Andi langsung berubah tegang, apalagi ketika terdengar suara berat kak Andri mengucap salam
"Oh, ada tamu rupanya?" ucap kak Andri menatap dingin kearah Andi dan orang tuanya.
Kak Andri duduk, menatap kearah mereka
"Mau ngapain kalian ke rumah adikku?"
Tak ada jawaban, bu Mira masih seperti tadi, tetap terlihat lemas
Kak Andri segera menoleh kearah Naura dan memandang tajam kearahnya
"Ayuk yang ngajak mereka kesini?"
Naura menggeleng
"Terus?"
"Maaf kak, kami hanya numpang mampir sebentar kesini, karena kami niatnya tadi mau ke rumah sakit, ngobatin ibu, tapi rumah sakit full"
"Oh, jadi kalian pikir rumah adik saya rumah singgah?"
Andi kembali menundukkan wajahnya
"Jangan-jangan ini hanya akal-akalan kalian karena ingin melihat rumah adikku"
Naura langsung menggelengkan kepalanya kearah kak Andri, tidak setuju dengan ucapan uwaknya
__ADS_1
"Kalian lihat kan sekarang bagaimana rumah adik saya untuk ketiga anaknya?, rumahnya tiga lantai"
"Lantai pertama tempat kita sekarang, berisikan ruangan besar ini dan ruang makan serta dapur"
"Lantai kedua, tiga kamar, kamar Mikail dan dua kamar kosong, beserta satu ruangan besar khusus untuk adikku dan anak-anaknya bersantai"
"Lantai tiga begitu juga, ruangan luas, kamar Naura dan kamar Adam, bagian belakang ada kolam renang juga"
"Nanti di depan ini akan ku suruh tukang kebun menanam aneka buahan, karena adikku sangat suka makan buah"
"Apa kalian tahu berapa luas bangunan ini?, saya rasa lima kali lebih luas dari rumah kalian"
Pak Hermawan hanya diam, tidak kak Andri ceritakan pun dia tahu, jika rumah ini besar dan luas
"Oh iya Andi, rumah kamu yang terjual dulu sudah jadi milik adik saya sekarang, dan bangunannya telah kami ratakan sesuai permintaan adik saya, sekarang di bekas rumahmu itu sudah kami tanami aneka sayuran dan buahan"
Wajah Andi terkesiap mendengar jika rumahnya yang dulu sekarang jadi milik Indah bahkan bangunannya telah dihancurkan
"Tidak ada sisa kenangan dari masa lalu adik saya yang tersisa buatnya, semua dia musnahkan. Bahkan rumah dimana ketiga anaknya tinggal ketika kecil pun diratakannya dengan tanah"
"Ayok wak!"
Kak Andri menoleh kearah tangga dimana Mikail telah berdiri menunggunya
"Adek mau ikut?" tanya kak Andri
Adam menggeleng
"Ayolah, kita beli mobil buat adek"
Mata Andi dan pak Hermawan langsung terbelalak
"Beli yang sama dengan punya kakak, ya Kak" ucapku pada kak Andri
"Hampir satu M itu sat" jawab kakakku sambil ekor matanya melirik ke wajah Andi dan orang tuanya
"Jangankan 1 M, 1 T aku belikan" jawabku sombong menatap kearah Andi
"Ayuk mau ikut juga?"
Naura menggeleng
"Kamu nanti beli mobilnya, klinik kamu masih dalam pembangunan, bulan Juni begitu kamu selesai wisuda, Pajero Merah langsung untuk kamu" jawab kakakku
Kembali wajah Andi dan kedua orang tuanya menegang. Aku sangat menikmati kekagetan wajah mereka
"Atmnya kak" ucapku sambil memberikan atm ke tangan Kak Andri
"Oh iya kak, nanti kakak lewat polsek kan?, tolong kak minta dua polisi kesini, jagain rumah. Aku tidak nyaman mereka ada di sini"
Andi mengangkat kepalanya memandang ke arahku
"Saya crazy rich sekarang, bisa sajakan kalian berniat jahat sama saya" jawabku enteng membalas tatapannya
"Oh iya Naura, kasih makan tamu kita, tanyakan sama mereka jam berapa mereka mau ke rumah sakit?"
Naura hanya mengangguk
"Terserah adek kak mau mobil apa, tapi kalau bisa samakan dengan punya kakak, aku nggak mau membeda-bedakan anakku, satu aku belikan mobil, satunya juga, satunya aku jadikan tentara yang lain juga aku jadikan tentara" sambungku sambil melihat kearah pak Hermawan dan bu Mira yang dulu sangat membanding-bandingkan ku dengan menantunya yang lain
"Kalau adek mau Fortuner bunda?"
"Terserah" jawabku sambil mengusap wajah Adam, untuk mengusap kepalanya sudah tak bisa lagi, karena aku kalah tinggi
Kedua anak lelakiku menyalamiku lalu mereka pergi sambil berangkulan
Aku tersenyum kearah mereka yang tampak akur
"Lihat pak Hermawan, kedua anak lelakiku akur, tidak saling iri dengki, karena didikanku dan juga didikan kedua orang tuaku pada mereka berhasil, mereka jadi anak yang berbakti tidak menyimpang dari agama"
Wajah pak Hermawan terkesiap
"Aku kumpulkan banyak harta agar mereka tidak menjual akidah mereka demi uang receh" sindirku
"Diminum tehnya, jika sudah selesai kalian bisa istirahat, Naura kamu tunjukkan kamar tamu di sebelah sana pada mereka" tunjuk ku pada satu ruangan tak jauh dari ruang tamu
Naura kembali mengangguk.
"Tenang saja bu Mira, saya tidak akan menyuruhmu tidur di lantai seperti saya dulu yang tidur di lantai ketika Naura masih bayi, dan juga di rumah saya tidak ada gudang, jadi kalian bisa berganti baju di dalam kamar itulah, bukan di gudang" sambungku sambil tertawa mengejek
"Dulu tas pakaian kita di tarok mbahmu di gudang, jadi selesai mandi bunda berganti baju di gudang yang berdebu, kita tidur di ruang tamu beralaskan tikar tipis, hanya dengan satu bantal" aku kembali tertawa
"Semuanya saya ingat bu Mira, tidak ada yang terlupakan, bahkan sayur kangkung masakan saya yang anda lepehkan karena kata anda ada racunnya pun saya masih ingat"
Wajah Bu Mira sudah tak karuan bentuknya. Ketiganya menundukkan kepala
__ADS_1