
"Bunda, dia ngapain sih ikut kita?" tanya Adam padaku dengan wajah kesal melihat kearah Andi yang saat itu dengan Naura
Aku diam tidak menjawab, aku takut salah jawab yang akan membuatnya bingung
"Lihat tuh ayuk, isshh nggak suka aku" lanjutnya
"Kita dekati kakak saja bunda, kasihan, kakak kan sama seperti adek, belum ngerti mana baju yang bagus dan pas buat kakak" usulnya
Aku menyetujui karena memang Mikail sendirian memilih baju. Segera aku dan Adam memilihkan baju untuk Mikail.
Cukup lama kami bertiga memilih, hingga akhirnya setumpuk pakaian aku berikan pada pelayan.
Kudengar para pelayan berbisik
"Gila, baju mahal yang diborongnya, boros sekali ibu itu"
Aku menoleh kepada mereka
"Yakinlah, bila sekarang saya boros itu karena dulu saya hanya bisa melihat"
Kedua pelayan itu menunduk takut
"Saya tidak marah, jangan takut" lanjutku sambil berjalan meninggalkan mereka berjalan menuju kasir
Naura berlari kearahku dengan membawa beberapa gamis
"Bundaaaa, belikan buat ayah juga ya, please..." ucapnya lirih menatap kemataku
"Tidak!!!" jawabku cepat sambil mengambil gamis di tangannya lalu meletakkan depan kasir
"Hitung semua mbak!" ucapku ketus
Kasir yang aku bentak segera mengambil tumpukan baju dengan cepat.
Dua orang pelayan membantunya memasukkan baju tersebut kedalam tas belanja, sama cepatnya
Wajahku makin tak senang ketika kulihat Naura kembali berdiri di dekat Andi dan menggandeng lengannya
"Bisa cepat lagi tidak mbak?" kataku kembali dengan nada kesal
"Maaf bu, sebentar" jawab si kasir dengan tegang
Aku menarik nafas dalam dan beristighfar dalam hati, menyadari kesalahanku menumpahkan marah bukan pada tempatnya
"Maafkan saya mbak, saya sungguh meminta maaf" ucapku menyesal
Kasir itu mengangkat kepalanya dan tersenyum kaku kearahku
"Maukan memaafkan saya?" ucapku melunak
Kasir itu mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.
"totalnya Rp. 8.765.900 bu" ucapnya
Aku segera mengeluarkan kartu atm dan memberikan pada kasir tersebut.
Kedua pelayan yang tadi memasukkan pakaian ke dalam tas telah berdiri di sebelahku
"Kami ambilkan troli dulu bu" ucap salah satu dari mereka.
Aku mengangguk dan menoleh kearah kedua jagoanku yang berdiri di sebelahku
Tak lama dua pelayan tadi telah kembali mendorong masing-masing troli dan mereka segera memasukkan belanjaanku.
Aku mengambil kembali kartu atm yang diberikan kasir lalu menyelipkan dua lembar uang merah ketangannya
"Untuk beli es" ucapku sambil segera menggandeng kedua jagoanku
Aku tidak melihat lagi kearah kasir yang wajahnya langsung ceria ketika menerima tip dariku
"Bunda!" kejar Naura ketika kami sudah di pintu keluar
Aku menghentikan langkahku, begitu juga dengan kedua pelayan yang mendorong troli tadi
"Ayah mau ngomong sama bunda" lanjut Naura dengan mata penuh harap
Aku mendengus, lalu menoleh kearah Andi yang berdiri tak jauh dariku
"Tidak bisa, kita kan mau jalan-jalan lagi" jawabku
__ADS_1
"Sebentar saja bunda, ya?" bujuk Naura
Dadaku rasanya mau meledak saking kesalnya.
"Kalau kata bunda tidak bisa, tidak bisa Yuk, beritahu dia untuk segera pergi!" bentakku pada Naura
Kulihat mata Naura berkaca-kaca. Aku segera mengusap wajahku karena bingung dan kesal campur aduk.
"Mau apa lagi dia?" ucapku pada Naura
Naura menggeleng
"Tapi ayuk mohon, bunda mau ngomong sebentar sama ayah" jawabnya
Aku menoleh kepada kedua jagoanku, Mikail bersikap biasa saja, sedangkan Adam kembali cemberut.
Aku segera memeluk Adam, menenangkan hatinya, kedua pelayan yang berdiri mematung hanya bisa saling toleh
"Ayo mbak, itu mobil saya" ucapku segera turun.
Kedua pelayan tadi terus mendorong troli sampai di sebelah mobilku yang terparkir, setelah mobil terbuka mereka memasukkannya dan menyusunnya dengan rapih.
"Terima kasih mbak ya" ucapku kepada keduanya sambil menyelipkan tip untuk mereka
Lalu kedua jagoanku masuk kedalam mobil begitu juga aku
"Bunda tunggu!" ucap Andi yang menarik pintu mobil saat akan kututup.
"Kamu mau apa, hah?!" teriakku
"Tolong bun, please. Aku mau ada yang dibicarakan"
"Stop memanggilku dengan sebutan bunda, kamu bukan siapa-siapa saya!" jawabku emosi
Aku menoleh kebelakang, kulihat kedua jagoanku menatap bingung kearah kami
Aku segera mendengus kesal
"Jauhkan tangan kotor kamu dari mobil saya!!" bentakku
Andi bergeming dia masih menahan pintu mobil.
Andi dengan lesu melepas pintu mobil, lalu dengan kesal aku membanting pintu mobil dan segera menghidupkan mesinnya.
Baru aku melajukan mobil, aku lihat Naura berdiri tepat menghadangku dengan merentangkan kedua tangannya. Aku ngerem mendadak dan menyadari jika Naura belum masuk mobil.
Aku segera mematikan mobil lalu turun, berjalan kearah Naura
"Naura nggak mau ikut sampai bunda mau ngomong dengan ayah!" teriaknya
Teriakan Naura memancing orang-orang di sekitar mall termasuk security dan juru parkir. Aku menghembus nafas kasar.
"Terserah kalau itu mau kamu, tapi bunda tidak akan mau berbicara sama dia!" tunjukku emosi kearah Andi yang berdiri di sebelah mobilku
"Kalau begitu Ayuk akan menabrakkan diri ayuk kejalan sana!" ancam Naura menunjuk kejalan raya yang padat
Wajahku menegang mendengar ancamannya
"Jangan nak, jangan!" jawabku panik
"Oke, bunda mau. Tapi bunda mohon kamu jangan melakukan hal yang bisa membuat bundamu mati detik ini" jawabku sambil segera memeluk Naura
Lalu aku membimbing Naura berjalan kearah mobil
"Ayuk mau naik motor sama ayah" ucapnya yang membuatku kembali tertegun
Aku menghembus nafas dalam dan menoleh kearah Andi
"Bicara di sini saja" ucapku dingin
"Saya sudah menyiapkan tempat, bunda ikuti saya dari belakang" jawab Andi yang membuatku kembali harus menghembus nafas dalam
Naura lalu melepaskan tangannya dari genggamanku lalu berjalan kearah Andi dan menggandeng lengan Andi.
Sekuat tenaga aku menahan airmata yang siap tumpah, lalu aku terhenyak duduk di belakang kemudi
Mikail yang duduk di bagian tengah memajukan tubuhnya memeluk tanganku
Aku segera menoleh dan mengelus kepalanya
__ADS_1
"Akan ku hancurkan semua manusia yang membuat bundaku menangis" ucapnya pelan
Aku mencium kepalanya, lalu kembali menarik nafas dalam dan mengikuti motor Andi yang lewat di samping mobil kami
...****************...
"Kita main di sana saja yok dek!" ajak Naura kepada kedua adiknya ketika kami sampai di tempat tujuan
"Ini Bukit Sulap sekarang, tidak sangka ya bun bisa jadi sebagus ini, dulu waktu kita main kesini, belum sebagus ini" ucap Andi ketika melihatku memandang berkeliling di taman Bukit Sulap. Bukit Kebanggaan Kota Lubuklinggau.
"Tidak usah basa basi, waktumu tak lama" jawabku dingin
"Kita duduk di sana saja bun, di sana pemandangannya jauh lebih bagus" tunjuk Andi kearah sebuah taman rumput hijau yang ada patungnya
"Indah, nama saya Indah!" ucapku lagi karena tak suka dia menyebutku dengan sebutan bunda
Aku berjalan di belakang Andi, lalu duduk di atas rumput.
Aku lihat banyak pengunjung di sini, mereka berkelompok-kelompok, bahkan ada yang duduk berduaan, pacaran mungkin.
"Aku mau minta maaf" ucap Andi yang juga duduk di sebelahku
Aku menggeser agak menjauh darinya. Kuletakkan tas sebagai jarak biar dia tahu jika aku tidak suka duduk berdekatan dengannya
"Tolong maafkan aku Indah"
Aku tersenyum sinis menoleh kearahnya
"Maaf? maaf untuk apa?" tanyaku sinis
"Untuk semua kesalahan yang aku lakukan padamu" jawabnya lirih
Aku terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalaku
Adam dan Mikail yang sedang bermain perosotan tak hentinya memandang kearah bundanya. Terlebih Adam, wajahnya masih menampakkan kesal
"Tolong maafkan aku Indah. Tolong maafkan aku!" ucap Andi dengan mata berkaca-kaca
"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu Andi, tidak akan!" jawabku penuh penekanan
Tangan Andi bergerak ingin menangkap tanganku, Aku dengan cepat mengangkat tanganku menghindarinya
"Stop!!!, kamu lupa dengan sumpah kamu hah?!," ucapku emosi
Andi kaget dengan ucapan Indah
"Bukankah kamu sendiri yang mengharamkan tangan kamu menyentuhku, walaupun itu ujung kukumu, lupa??!!" ucapku lagi dengan melotot kearahnya
"Manusia itu yang dipegang omongannya, jika omongannya sendiri tidak bisa dipegang, jadi mau percaya apalagi?!, aku saja masih ingat dengan sumpah kamu, bagaimana kamu bisa lupa dengan sumpahmu sendiri"
"Kau mengharamkan aku, itu sama artinya kau menganggap aku seperti babi atau anjing!" lanjutku sambil tersenyum sinis
"Kalau kamu cuma mau bilang minta maaf, sudah aku jawab tadi, aku tidak akan pernah memaafkan kamu bahkan sampai tulang belulangku berubah kembali menjadi tanah!" geramku
Andi menundukkan kepalanya mendengar jawaban Indah
"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan?" lanjutnya
Aku tertawa mencemooh
"Kesempatan?, kesempatan yang mana ya?" tanyaku meremehkannya
"Aku bukan manusia bodoh yang akan kembali mempercayai kamu Andi, aku memang harus menjadi cukup baik dengan memaafkan kamu, tidak tidak harus menjadi bodoh dengan kembali mempercayai kamu. Dan sayangnya aku tidak akan memberikan keduanya"
"Aku tidak akan memaafkan dan mempercayaimu lagi!"
Andi kian menunduk lesu
"Aku tahu kesalahanku sangat banyak, hingga memang aku tak pantas mendapatkan maaf itu!" jawabnya
Aku mendengus kesal mendengar jawabannya
"Semua penghinaan dan caci makimu padaku, masih tersimpan rapih di otakku, semuanya. Fitnah, remehan dan perundungan kamu masih terekam jelas di memoriku"
"Semuanya, tanpa satupun yang terlewatkan. Penghianatan kamu, kebohongan kamu, caci maki keluargamu, bahkan pujianmu tentang Tina yang jauh lebih segalanya dariku"
"Lebih memuaskan birahimu, lebih cantik, lebih seksi, dan lebih-lebih yang lainnya. Tapi kamu lupa, bahwa dia adalah wanita murahan yang sering dipakai banyak lelaki, hingga akhirnya dia menunjukkan belangnya dengan merebut kakak iparmu sendiri" ucapku sambil kembali tertawa
"Yaa harus aku akui, Tina perempuan pintar, berkat dia aku bisa membalaskan sakit hatiku pada ibumu dan Laras"
__ADS_1
"Buat kalian yang pernah menghancurkan mimpi saya dan menyakiti diri saya, kalian harus hati-hati, karena dendam saya belum terbalaskan seluruhnya" ucapku sambil menatap tajam kemata Andi