
"Ahhhhh.... sakiiitttt...." Bu Mira kembali meraung sambil menarik kencang rambutnya
Sudah lebih dua bulan mereka di rumah sakit ini, tapi belum juga ada kepastian kapan bu Mira akan dioperasi
Pihak rumah sakit telah memberitahu pak Hermawan, jika operasi tidak bisa memakai kartu jaminan kesehatan, harus biaya sendiri
Sejak saat itu, seluruh keluarga bingung kemana mereka akan mencari biaya untuk mengoperasi bu Mira
Jalan satu-satunya yang mereka lakukan adalah dengan menawarkan mobil mereka pada orang sekampung. Bahkan Dimas sampai membuat iklan di media sosial pribadinya
"Mobil mbah mau dijual?, kenapa ya?" gumam Naura begitu membaca status yang dibagikan Dimas
Naura hanya membaca tanpa berkomentar. Dibacanya semua pertanyaan dari komentar orang-orang yang menanyakan harga bahkan tahun mobil
Mobil pak Hermawan mobil tua, mobil KUDA tahun 1998, tentulah harga ditawarkan orang-orang tak tinggi
Sedangkan biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit, seharga lima kali lipat mobil yang ditawar pembeli
"Kita harus bagaimana lagi?" keluh Andi saat mereka rembukan keluarga
Laras dan mbak Ningsih hanya bisa diam.
"Joni, kita sebagai anak lelaki mempunyai tanggung jawab besar pada ibu kita. Apa pendapat kamu?"
"Jangan tanya aku mas, mas tahu sendiri aku hidup dari mertuaku, jika bukan karena mertuaku mana bisa aku hidup enak"
"Ya setidaknya kamu bicara pada mertuamu, pinjam uang mereka"
Maria langsung memasang wajah masam
"Muka kamu mengapa jadi rusak begitu?" ucap Laras ketus
Maria membuang muka, malas berdebat dengan Laras
"Ini ibuk gimana kalau kita tidak ada biaya?, mobil ditawar murah sama orang"
Kembali semuanya diam. Andi berkali-kali menarik nafas dalam
"Mas Indra, bagaimana mas, ada solusi, mas dan mbak Ningsih sebagai anak tertua di sini"
Mas Indra dan mbak Ningsih saling pandang
"Jujur Ndi kalau uang puluhan juta kami tidak ada, tapi kalau sebatas lima juta ada, kita semua patungan untuk mencukupi biaya operasi ibuk. Nanti setelah mobil laku uangnya bisa kita gabung dengan uang mobil"
"Masih nggak cukup juga mas" jawab Andi
"Lah terus gimana?, apa rumah ini kita jual saja??"
DIAM...
Semuanya tak ada yang bersuara mendengar usul mas Indra. Sampai akhirnya Laras bersuara
"Jika rumah ini dijual kami mau tinggal dimana?"
Kembali semuanya diam
"Patungan juga semampu kita, tidak bisa banyak. Apalagi saya juga sudah berkeluarga, anak istri saya perlu biaya hidup" tambah Joni
"Ayo lah Jon, diantara kita cuma kamu yang bisa diandalkan" keluh Andi
"Sudah saya bilang tadi mas, hidup saya itu ditanggung mertua saya, saya tidak ada apa-apa"
Andi menarik nafas panjang mendengar jawaban terakhir Joni
"Uang kamu kemana Ndi, kamu kan duda nggak ada tanggungan. Anak kamu sudah hidup mewah semua sekarang, tidak mungkin kan kamu kasih uang kamu dengan mereka. Mereka masih kecil saja kamu tidak menafkahinya, apalagi sekarang" cibir Laras
"Uang saya ada, tapi tidak sampai ratusan juta juga mbak. Tiap bulan kak Angga tetap memberi gaji saya, tidak pernah dipotongnya, selalu profesional"
"Nah, berarti banyak dong uang kamu"
"Banyak apa, hidup di rumah ini siapa yang menanggungnya kalau bukan saya mbak? mbak tahu sendiri bapak serabutan kerjanya, mana sudah tua juga, jadi gaji aku dipakai untuk kebutuhan hidup kita. Apalagi anak mbak banyak, semuanya aku yang nanggung"
Wajah Laras langsung masam mendengar keluhan Andi.
"Nggak ada cara lain, rumah ini harus kita relakan untuk dijual. Mulai besok kita mulai tawarkan sama orang kampung, kali aja ada yang berminat"
Semuanya kembali diam mendengar ucapan mas Indra
"Nggak ada cara lain apa mas?, kami mau tinggal dimana nanti?" ucap Laras dengan suara sendu
"Itu nanti kita pikirkan, diujung desa ada rumah kosong tidak terpakai, atau di dekat balai desa juga ada, semuanya bisa kita bicarakan dengan pak kades jika kita mau tinggal di sana" jawab Andi
__ADS_1
Laras menarik nafas dalam dengan wajah yang ditekuk
"Mengapa kamu tidak meminta tolong pada anak-anakmu saja Ndi?, mereka kan banyak uangnya, uang 250 juta bukan apa-apa bagi mereka"
Andi menarik nafas dalam sambil menggaruk-garuk kepalanya
"Jangan gila mbak, uang Naura yang dipinjamkannya pada saya dua juta waktu kita kehabisan uang di Jawa saja belum saja kembalikan, kok ya sekarang saya mau pinjam lagi sama dia, kemana wajah saya, saya sembunyikan?"
"Ya habisnya nggak ada cara lain Ndi, cuma itu jalan satu-satunya. Kebun sawit anak kamu ratusan hektar, tiap hari panen, sekali panen cukup itu uangnya untuk biaya ibuk"
Ningsih menarik nafas panjang mendengar ocehan Laras, sementara yang lainnya diam
"Aku nggak bisa mbak, aku nggak bisa melakukan itu. Apa nanti kata Indah jika dia tahu. Naura pasti akan meminta izin sama bundanya. Dan aku yakin Indah tak akan setuju"
"Apa kalian lupa bagaimana jahatnya ibuk sama Indah?, jelas Indah tak akan meminjamkan uang pada kita. Belum Indah yang tidak akan setuju, kak Andri yang akan lebih dulu menentang"
"Kalian tahu sendiri bagaimana benci kak Andri sama saya, jika tidak karena Naura mungkin saya sudah mati di tangannya"
Kembali semuanya diam mendengar penjelasan Andi.
"Jadi keputusannya apa ini?, sudah malam, kami mau pulang" ucap Maria
"Keputusannya rumah ini kita jual" kata Andi
"Gila kamu Ndi, aku dan anak-anakku mau tinggal dimana?"
"Itu urusan mbak, saya pusing mikirnya"
"Nggak ada otak kamu Ndi!"
Andi hanya bisa menarik nafas panjang mendengar kemarahan Laras
...****************...
"Tante lihat postingan kak Dimas?" tanya Naura pada Nina pagi ini ketika mereka bersiap mau berangkat ke klinik
Nina hanya mengangguk pelan
"Bahkan pagi ini mbak Ning bilang rumah ibuk dan bapak bakal dijual"
Naura menarik nafas dalam melihat wajah sedih di wajah Nina
"Kami akan patungan untuk tambahan biaya ibuk, doakan mbah wedok agar bisa sembuh seperti sedia kala ya Yuk?"
Adam yang mendengar obrolan Naura dan Nina hanya bisa menarik nafas dalam
"Mbah memang jahat sama kami, tapi ketika mendengar jika rumah dan mobilnya akan dijual sedih juga rasanya"
"Aku harus tanya kakak, apa yang harus kami lakukan" gumamnya dengan segera mengambil handphonenya
Segera Adam menelpon Mikail yang saat itu baru selesai apel
"Ya dek?"
"Kakak baca postingan kak Dimas?"
"Nggak, kakak nggak punya sosial media, kenapa dek?"
"Ah adek lupa, kalau kakak adek ini adalah Tentara yang tak tertarik dunia maya"
Terdengar tawa Mikail
"Kenapa dek memangnya?"
Adam lalu menceritakan semuanya, Mikail yang mendengarkan jadi tampak murung
"Kita harus gimana kak?, kira-kira kalau kita bilang bunda jika kita mau bantu biaya mbah, bunda bakal marah tidak ya?"
"Kira-kira menurut adek?"
"Bakal marah..."
Lalu keduanya kompak tertawa.
"Sudahlah dek, mbah ada anaknya yang harus berpikir bagaimana mencari jalan terbaik, kita berdoa saja semoga semua ada hikmahnya dan mbah cepat sembuh"
"Gitu ya kak?"
"Iya, memang begitu harusnya. By the way, gimana hati kamu, sudah legowo?"
Terdengar tawa kecut dari Adam
__ADS_1
"Kamu itu tidak hitam dek, kamu itu manis. Kakak bangga punya adik seperti kamu, berbadan besar dan tinggi. Orang-orang akan yakin jika yang tentara itu kamu bukan kakak"
Terdengar tawa Adam
"Sebentar lagi ada pembukaan tentara, pilihlah kamu mau jadi apa. Kopaska, Denjaka, Kopassus, atau Ryder, kakak akan selalu dukung kamu dek, baik doa maupun dukungan yang lain"
"Satu yang harus kamu ingat, warna kulit kita memang berbeda, tapi kita dilahirkan dari rahim yang sama, tumbuh dari asi yang sama walau kamu yang mengambil jatah kakak"
Mendengar itu Adam terbahak-bahak
"Kakak ini bisa saja ya buat aku nggak sedih lagi"
"Karena kamu itu adik kakak, kita berdua selalu sama-sama. Ingat tidak dek, kita cuma pisah setahun ketika kita di pesantren, terus tahun depannya kita sama-sama lagi, begitu seterusnya"
"Iya ya kak, jadi kangen sama-sama lagi"
Keduanya sama-sama tersenyum mengingat bagaimana dekatnya mereka berdua
...****************...
Bu Mira kumat lagi, dengan kuat dia mencengkram rambutnya dan membentur-bentukannya di tembok sambil meraung-raung
Pak Hermawan yang saat itu hanya sendirian menungguinya kewalahan ketika istrinya kumat
Sambil berteriak panik beliau memanggil dokter dan perawat. Ditariknya bahu istrinya agar tidak membenturkan kepalanya terus.
"Istighfar buk, istighfar.."
"Sakiiittt.... sakiiittt....heeerrrgggghhh...." teriak bu Mira dengan mata melotot tajam
Tak berapa lama dokter masuk mendengar teriakan pak Hermawan. Dengan segera dia membantu pak Hermawan memegangi bahu bu Mira agar tak terus mengamuk
Sepuluh menit kemudian bu Mira tenang, rambutnya acak-acakan, wajahnya sepucat kertas, sekujur badannya basah oleh keringat.
"Ada kemungkinan istri saya akan sembuh dokter?"
Dokter diam, menundukkan kepalanya
"Semuanya ada di tangan Tuhan pak, kami sebagai dokter hanya bisa berusaha"
Setelah memeriksa sebentar keadaan bu Mira dokter lalu keluar. Bu Mira terbaring lemah, dengan telaten pak Hermawan mengelap keringat di kening istrinya, merapihkan rambutnya lalu mengganti pakaiannya.
Sambil dipijat perlahan oleh pak Hermawan, lama kelamaan bu Mira terpejam.
Tapi di tengah malam dia kembali kumat disaat dokter spesialis kanker sedang tak ada di tempat. Yang ada hanya perawat
Makin lama keadaan bu Mira makin drop, dan dilarikan keruang ICU dengan cepat oleh pihak rumah sakit
Selang terpasang di sekujur tubuh bu Mira, bahkan bantuan pernapasan juga terpasang di hidungnya.
"Hubungilah pihak keluarga pak" ucap dokter yang segera datang ketika ditelpon pihak rumah sakit
Wajah pak Hermawan menegang mendengar ucapan dokter. Lemas sudah kakinya. Dia terduduk lemas dilantai sambil menutup wajahnya dan menangis tertahan
"Keadaan bu Mira makin lemah, kami tidak yakin jika beliau bisa bertahan lama, bapak yang sabar"
Pak Hermawan makin tenggelam dalam tangisnya. Setelah agak tenang barulah dia menghubungi anak-anaknya
"Apa pak, ibu di icu dan kritis?" teriak anak-anaknya ketika diberi tahu
Secepat kilat mbak Ningsih berkemas, berteriak membangunkan Dimas. Begitu juga dengan Andi, secepat kilat dia keluar dari rumahnya memanaskan mesin mobil, dan masuk kembali membasuh mukanya
Laras sama halnya dengan yang lain, dia segera berkemas dan langsung melesat masuk mobil.
Dengan cepat Andi mengemudikan mobil, pikirannya sudah tak karuan ketika tadi mendengar suara bapaknya yang menangis ketika menelponnya
"Hati-hati Ndi, jangan ngebut" ucap mbak Ningsih
Andi tak menghiraukan ucapan mbaknya, dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Subuh mereka telah melewati perbatasan antara kabupaten Musi Rawas dan Musi Banyu Asin
Karena jalanan masih sepi, Andi jadi makin leluasa mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa dia sadari jika di depan sedang ada perbaikan jalan
Sehingga mobil yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi tak bisa menghindari alat berat yang terparkir
Mobil menghantam keras alat berat hingga berkali-kali jatuh bergulingan diiringi teriakan dari penghuni di dalam mobil
"Aaaaaahhhhhhh....."
"Allahu Akbar..."
__ADS_1
Braaaaagggghhhh....