Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kedatangan Dimas


__ADS_3

Sepuluh hari terakhir aku nikmati dengan keluarga besar ku tanpa Mikail.


Adam H-5 sudah sampai di rumah, secara khusus abang dan Serkan yang menjemputnya di Bandara.


"Emang abang tahu jalannya?" tanyaku saat itu


"Google map" jawab abang yang membuatku terkekeh


Sejak Adam pulang, Serkan tidur bersamanya. Defne dengan Naura dan aku sama abang.


Padahal bisa saja mereka di kamar masing-masing, tapi keempat anakku tak mau pisah. Pingin mereka sih mereka tidur berempat dalam satu kamar, tapi tentu saja aku melarangnya.


Bisa-bisa mereka bukan tidur tapi mengobrol. Sebelum sepertiga malam Naura dan Adam sudah di dalam musholla. Aku dan abang selalu kalah oleh mereka, tiap kami berdua masuk musholla pasti keduanya sudah di sana


Sepuluh hari terakhir dimanfaatkan oleh twins untuk merujoah juz 30. Tentu saja keduanya cepat hafal karena di rumah Jeddah aku sering mengajari mereka.


"Sayang, disini bayar zakatnya seperti apa?"


Lalu aku menjelaskan jika kebiasaan di sini itu bayar zakatnya di masjid, tapi kalau abang mau, kami bisa memberi langsung kepada para mustahiq.


Kami berdua mulai menghitung berapa banyak zakat mal yang harus kami keluarkan. Dari harta kami di Jeddah sampai dengan harta ketiga anakku, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak.


H-3 pagi menjelang siang dua buah mobil box terdengar mengklakson di luar pagar. Dengan cepat Adam yang sedang bermain badminton dengan Serkan segera membuka pagar


"Mengantarkan paket dek" ucapnya pada Adam


Adam mengangguk, saat dia hendak masuk kedalam rumah, aku telah keluar.


"Bawa masuk dan letakkan di teras saja mas" ucapku


Maka keempat pengantar paket itu segera membuka mobil box dan mulai mengeluarkan isi di dalamnya.


Adam ikut membantu menurunkan barang, begitu juga dengan mbak Dian dan kawan-kawannya yang aku minta untuk datang ke rumah turut membantu juga


Sekitar setengah jam pekerjaan menurunkan barang selesai, abang yang tadi juga turut membantu menoleh ke arahku


"Sayang, apa kamu mau buka toko pakaian ?"


Aku tersenyum sambil melingkarkan tanganku ke pinggangnya


"Boleh kan?"


Abang mengerutkan keningnya lalu dengan memiringkan bibirnya abang mengangkat bahu


"Mama, this is Puasa, no peluk-peluk"


Aku terkekeh kearah Defne yang ngomongnya belepotan dengan wajah cemberut


"Are you jealous sweety?"


Defne tetap cemberut, tentu saja dia iri, daddynya itu adalah miliknya, Serkan yang kembarannya saja diamuknya apabila memeluk daddynya lama-lama. Di rumah yang mempunyai kuasa atas abang adalah Defne🤭🤭


Abang terkekeh, dengan iseng abang memelukku yang membuat Defne yang tadi menghitung tumpukan pakaian bergegas berlari kearah kami dan menarikku agar aku melepas pelukanku pada abang


Bertiga kami tertawa yang membuat mbak Dian dan yang lainnya ikut tertawa pula melihat kecemburuan Defne


"This my daddy, my mine, not yours"


Aku makin mengeratkan pelukanku, dan Defne sambil tertawa terus berusaha melepaskan kami


Akhirnya aku mengalah dan melepaskan pelukanku pada abang, melihatku tak lagi memeluk daddynya, Defne segera melompat ke bahu abang yang membuat abang terpaksa menggendongnya


"Kalau adek dengan papa, berarti mama punya kakak" ucap Adam segera memelukku


Wajah Defne langsung berubah ketika melihat Adam memelukku, cepat dia merosot dan memelukku juga


"My Mama juga"


Aku mengelus kepalanya sambil tersenyum


"Bun, ini nyusunnya gimana?"


Aku menoleh kearah mbak Dian, dengan Defne yang masih memeluk pinggangku, aku berjalan kearah mbak Dian dan teman-temannya yang berjumlah lima orang


"Kita susun sesuai ukuran ya mbak, kalau koko, koko semua, kalau gamis, gamis semua"


Mereka mengangguk. Ba'da Dzuhur pekerjaan rombongan mbak Dian yang dibantu aku dan Naura selesai.


"Nanti jam 2, start kita pengantaran" ucapku pada mereka yang dijawab mereka dengan anggukan kepala


Setelah kami semua shalat Dzuhur, istirahat sebentar, aku mengubungi kak Andri


"Sudah siap kak, mana mobilnya?"


"Mereka on the way, kamu tunggu saja"


Selesai berbicara pada kak Andri aku turun kembali ke teras, dan ternyata begitu aku sampai bawah, telah ada sepuluh buah angkot di bawah


"Assalamualaikum bunda" sapa mereka


"Waalaikumussalam" jawabku sambil tersenyum


Lalu aku meminta pada mereka yang tentu saja dibantu anak-anakku dan mbak Dian beserta teman-temannya mulai memasukkan pakaian yang tadi kami susun ke dalam mobil.


"Mau dibawa kemana itu sayang?, katanya mau buka toko?" tanya abang yang tampak heran

__ADS_1


"Ke panti"


Abang mengusap kepalaku dan menciumi puncak kepalaku


"Aku pesan pakaian ini sejak puasa hari kesepuluh, mungkin karena over load makanya barangnya baru sampai sekarang"


Abang menganggukkan kepalanya


"Kita ikut mengantarkan juga bagaimana?"


Aku menatap tak percaya padanya


"Serius abang mau?"


"Hei, kamu pikir suami tampanmu ini tidak mau ketempat seperti itu?"


Aku tersenyum dan mengusap lengannya


"Kita pinjam mobil bapak juga, mbak Dian dan yang lain ikut mobil bapak"


Abang mengangguk. Aku segera memanggil Naura


"Pinjam mobil nenek yuk ya, bilang sama nenek kita mau ngantar baju lebaran ke panti"


Naura mengangguk


"You wanna follow me?" ucapnya kearah Defne


"Where you go?


"Go to Nenek home"


"Nenek?"


"Yes, grandma. Indonesia called Nenek.


Defne ber O panjang


"Galak dak melok ayuk?" (mau tidak ikut ayuk?) sambung Naura


"What is that?" ucapnya makin bingung


Aku dan Naura langsung terkekeh


"This is Palembang language"


Defne tersenyum mendengar jawaban Naura


"Mau ikut?"


"Mau ikut?" ulang Defne kaku


Dengan cepat Defne mengangguk dan menggandeng lengan Naura


"Abi, I wanto to go grandma house, you wanna follow us?"


Serkan yang sedang membantu membawa barang segera menoleh dan meletakkan pakaian yang tadi telah diangkatnya


"Mama, daddy, I follow them, okay?"


Aku dan abang mengangguk


"Saya boleh ikut mereka?"


Aku membelalakkan mataku kearah Serkan yang mengucapkan kalimat itu walau agak terbata


"Tentu saja, apa sih yang tidak boleh untuk kamu" ucapku sambil mengusap kepalanya


"Aku bae pacak, ngapo kau idak" (Aku saja bisa, mengapa kamu tidak) sambung Serkan


Aku dan Naura beserta supir dan teman-teman mbak Dian terbahak mendengarnya


"Do you know from who the words like that honey?"


Adam terus terpingkal, aku menatap kearahnya


"Ahh... ini pasti ulah adek ya"


Adam menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada ke arahku sambil terus terpingkal


"Maafin adek bunda" ucapnya masih terpingkal


Naura segera menggandeng adik kembarnya, membawanya berjalan menuju rumah neneknya


Sepanjang jalan setiap berpapasan dengan warga, Naura dengan sopan menyapa mereka, bahkan ada sebagian orang sampai mencubit pipi twins


"If we run into people, don't forget to say hello or say sorry for passing by" (jika berpapasan dengan orang, jangan lupa ucapkan salam atau bilang maaf numpang lewat)


Twins menganggukkan kepala mereka.


Jadilah sepanjang jalan hingga sampai di rumah neneknya Naura mengajari mereka bahasa Indonesia


"Nek, kata bunda pinjam mobilnya untuk dibawa ke pantai, bunda mau ngantar baju lebaran"


Pak Ahmad yang begitu melihat twins langsung memangku keduanya

__ADS_1


"Nenek anang, right ukhti?"


Naura dan nenek anangnya tertawa mendengar ucapan Defne.


Setelah mendapatkan kunci mobil dari nenek anangnya, Naura segera mengeluarkan mobil dari garasi, dengan segera twins naik dan mereka segera pergi dari rumah neneknya


"Permisi numpang lewat nenek" teriak Serkan


Naura terbahak


"Not like this Dear, kami pulang nenek anang, assalamualaikum"


"Kami pulang nek anang, assalamualaikum" ulangnya


Pak Ahmad dan bu Siti melambaikan tangan sambil tersenyum pada tiga cucunya


...****************...


Aku beserta suami dan anak-anakku, ada mbak Dian dan kawan-kawannya juga beserta sepuluh supir yang tadi telah membantu kami mengantarkan hadiah baju lebaran ke panti saat ini sedang duduk manis di dalam restoran terkemuka di daerah ku


Kulihat twins tak tampak lesu sama sekali walau sudah seharian ikut membantu. Dengan manja keduanya duduk di dekat Naura dan Adam


Dengan telaten keduanya mengajari Twins bahasa Indonesia bahkan bahasa Palembang juga


"Tidak mau" ucap Naura


Lalu twins mengikutinya


"Dak galak" ucap Adam


Twins juga mengikuti


Aku dan abang beserta yang lain hanya bisa tertawa melihat mereka berempat


Setelah sampai waktu berbuka kami semua segera membatalkan puasa kami. Baru setelahnya para supir pulang setelah sebelumnya abang membayar ongkos mereka dan memberi THR untuk mereka


Kami sekeluarga dan rombongan mbak Dian segera shalat yang diimami oleh abang, selanjutnya kami pulang ke rumah.


Di depan pagar aku melihat seperti ada orang, setelah mobil kian mendekat barulah aku tahu jika itu adalah Dimas


"Siapa dia sayang?" tanya abang menoleh ke arahku


"Kakak sepupu Naura, anaknya kakak Andi"


Mobil berhenti dan Dimas yang duduk di dekat pagar segera bergeser dan menampilkan senyum pada abang saat abang membuka kaca mobil


"Kaaakkk..." sapaku


"Tante..." Mata Dimas langsung panas begitu melihat Indah


Aku segera turun dengan cepat, Dimas menyalami dan mencium punggung tanganku sambil menitikkan air mata, aku memeluknya dan mengusap-usap pundaknya


"Sudah besar kamu kak, dulu terakhir ketemu tante kamu masih kelas 6 SD"


Dimas hanya bisa mengangguk karena air matanya mengalir haru, begitupun aku, aku terharu bisa bertemu dengannya lagi


Abang juga turun, tapi abang membuka pagar baru setelahnya menghampiri kami dan Dimas menyalaminya


"Kakak Maaaassss...." teriak Naura sambil melongokkan kepalanya begitu melihat Dimas sedang menyalami bundanya


Abang segera masuk kembali kedalam mobil, memasukkan mobil ke halaman diikuti mobil yang dikendarai Naura


Begitu mobil berhenti Naura segera keluar dan berlari memeluk Dimas yang sedang mendorong motornya


Dimas tertawa dan segera menurunkan standar motor agar motornya bisa berdiri sempurna


"Kakak sejak kapan kesini?"


Dimas terus saja menatap Naura sambil tersenyum


"Kangennya kakak sama kamu dek, ya Alloh hampir delapan tahun kita tidak bertemu"


Naura tersenyum, dengan masih tetap manja Naura memukul-mukul lengan Dimas


"Makin jangkung saja kamu, sampai kakak mendongak melihat kamu"


Naura tersenyum, datang Adam dan twins, mereka lalu menyalami Dimas .


"Ajak kakak masuk nak, jangan-jangan kakak belum berbuka" ucapku


Naura langsung menatap Dimas


"Benar kakak belum buka?"


Dimas mengangkat botol minuman dingin dan roti yang diselipkan nya di motor


Dengan cepat Naura menarik tangannya, memaksanya masuk ke rumah, membawanya langsung menuju dapur


Dengan cepat pula Naura membuka tudung saji dan memberikan piring pada Dimas


"Kakak makan sekarang, ya Alloh kak, kok nggak ngabari"


Dimas dengan bibir terus tersenyum memandang Naura yang sangat sibuk menghidangkan makanan untuknya


Sedangkan aku yang begitu sampai di dalam rumah meminta mbak Dian dan kawan-kawannya istirahat dulu karena aku mau memandikan twins dan mengganti baju mereka

__ADS_1


Aku yang memandikan keduanya, abang yang menyiapkan baju. Seperti itulah kami berdua, selalu bahu membahu dalam urusan anak. Bahkan urusan anak lebih banyak abang. Terlebih ketika mereka masih bayi, abang yang memandikan dan mengganti baju mereka


Setiap aku mau melakukan pekerjaan itu abang selalu melarangnya, alasan abang "Kamu telah mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anak abang, tugas yang tidak bisa abang gantikan, jadi sebagai gantinya mengurusi mereka menjadi tugas abang. Lagian juga hanya memandikan dan menggantikan baju, urusan yang gampang sekali


__ADS_2