
"Gila apanya Alima?, niat ummi baik" jawab ummi
Alima pindah kekursi di sebelah umminya
"Baik menurut ummi, belum tentu baik untuk Indah ummi!" ucap Alima memelas
"Tolong, ummi jangan egois"
Ummi Afsha menarik nafas dalam, dan disaat bersamaan sebuah mobil berhenti, dan mereka kompak menoleh kearah luar
Dapat dilihat oleh Alima jika pamannya, tuan Malik membukakan pintu untuk Indah
Alima mengusap wajahnya dengan kasar dan membuang nafas dalam, dia berusaha tenang, dia tak ingin baik pamannya maupun Indah menangkap perubahan mimik wajahnya
"Kamu bisa lihatkan pancaran kebahagiaan dari wajah mereka" lirih ummi saat dilihatnya Indah masuk bersama tuan Malik
"Wahh, ceria sekali wajah kalian?" sambut ummi
Alima tersenyum kaku kearah pamannya dan memandang penuh arti pada Indah
"Seharian kami nonton bioskop, ummi" jawab Tuan Malik yang memang memanggil ummi dengan sebutan ummi pula
"Belum tidur sayang?" tanyanya sambil mengecup kening Alima
Alima kembali tersenyum kearah pamannya.
"Alima sengaja nunggu uncle, habisnya uncle sejak sampai belum mengobrol lama dengan Alima" rajuk Alima
Tuan Malik merengkuh pundak keponakannya itu
"Besok uncle free, jadi kita bisa mengobrol seharian" janjinya yang membuat Alima tersenyum manis
"Nonton film apa tadi?" tanya Alima menatap kearah Indah yang berdiri di sebelah ummi
"Bollywood, saya tidak menyangka jika tuan Malik menyukai film bollywood juga nona"
Alima melirik kearah tuan Malik yang tersenyum
"Kita memiliki selera yang sama" jawabnya
Mata ummi Afsha berbinar bahagia mendengar ucapan Indah dan Malik. Tapi berbeda dengan Alima, dia kembali menatap tajam kearah umminya yang tersenyum.
"Indah, saya tahu kamu capek. Kamu bisa istirahat" ucap Alima
Aku menarik nafas lega, tentulah aku sangat capek. Setelah berpamitan aku pergi meninggalkan tempat itu, menaiki anak tanga.
__ADS_1
Tuan Malik terus memandang kearah kepergian Indah sampai wanita itu hilang dari pandangannya.
"Sayang, ummi mau berbicara dengan Pamanmu, penting" ucap ummi
Alima menarik nafas dalam. Dia yakin umminya akan mengutarakan niat gilanya.
Dengan memendam rasa kesal, Alima pergi dari ruang tamu itu, setelah sebelumnya keningnya kembali dikecup sang paman
"Keponakan tercantik uncle" ucap Tuan Malik
...****************...
"Indah, ada yang ingin ummi katakan sama kamu" ucap ummi pagi ini.
Hari ini hari minggu, jadi beliau tidak kekantor. Saat itu kami sedang berlari kecil di taman istana.
Ketiga tuan muda yang juga ikut jogging berlari meninggalkan kami.
"Apa kita bisa berhenti sebentar?"
Aku menurut dan berjalan mengikuti ummi yang lebih dulu duduk di atas rumput sambil meluruskan kakinya
Peluh mengalir di kening kami masing-masing dan kami mengelap menggunakan handuk kecil
"Ada apa ummi?"
"Jika ummi minta sesuatu dari kamu, apa kamu mau memberikannya?"
Aku diam, aku menerka kemana arah omongan ummi
"Ummi tahu ini mungkin mendadak untukmu, tapi ini sudah ummi pikir sejak lama"
Dadaku kian berdebar tak menentu, perasaan aneh mulai menjalari dadaku
"Maukah kau mengabulkan permintaan ummi untuk menikah dengan Malik?"
Serasa petir menyambar tepat di atas kepalaku saat aku mendengar permintaan ummi
Aku mematung, membeku tanpa tahu aku harus melakukan apa. Tubuhku tiba-tiba bergetar dan dadaku rasanya sesak
Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-paruku agar aku bisa bernafas normal kembali
"Malik menyukaimu, itulah sebabnya dia datang kesini. Ummi telah mengirimkan beberapa fotomu beberapa bulan yang lalu padanya, dan sejak pertama kali melihat fotomu, dia langsung tertarik padamu"
"Ummi harap kamu juga bisa menerima Malik. Karena selama ini ummi tidak pernah melihatmu dengan seorang lelaki ataupun bergaul dengan lelaki"
__ADS_1
Aku mengangkat kepalaku, menatap kedepan, tanpa sengaja aku bertatapan dengan tuan Malik yang berdiri cukup jauh dari kami
Sesak kembali memenuhi rongga dadaku. Ya Rabb apa ini? permintaan macam apa ini? Apa yang harus aku lakukan?" batinku
Aku masih diam tidak menjawab permintaan ummi. Bagiku ini terlalu mendadak, dan bagaimana dengan abang?
Gemuruh dadaku ketika aku mengingat jika abang sudah melamarku dengan kedua orang tuaku, dan sekarang abang juga sedang ke Turki memberitahu orang tuanya tentang rencana pernikahan kami
Lantas mengapa tiba-tiba pagi ini malah ummi memintaku untuk menerima permintaannya menikah dengan tuan Malik???
Aku kembali menunduk, dan berkali-kali mengusap wajahku. Bayangan abang memenuhi otakku hingga aku tidak menjawab permintaan ummi
Alima yang sedang jogging yang melihat ummi dan Indah duduk di rumput segera mendekat
Di lihatnya Indah yang tertunduk dengan wajah tegang
"Semua baik-baik sajakan?" lirik Alima kearah ummi
Ummi mengangguk. Lalu menepuk pundak Indah
"Tidak harus saat ini kamu menjawabnya, tapi setidaknya kamu memikirkan permintaan ummi"
Aku tetap diam, dan Alima semakin yakin jika umminya telah mengutarakan niatnya menjodohkan Indah dengan paman Malik.
Apalagi ketika Alima menoleh kebelakang, didapatinya pamannya menatap kearah mereka
"Indah..?" panggil Alima
Aku masih diam
"Indah..!" Alima memanggil sambil menggerakkan pundak Indah
Aku mengangkat kepalaku dan segera memeluk nona Alima
Alima mengelus pundak Indah
"Biar saya yang selesaikan ini" lirihnya
Aku masih memeluk nona Alima dan tanpa kusadari air mata mengalir di pipiku. Aku menangis tertahan.
"St.... jangan nangis"
Aku tak perduli, aku terus saja terisak
"Apa, apa yang harus saya lakukan nona?" lirihku tercekat
__ADS_1
Alima terus mengelus pundak Indah, seakan memberikan kekuatan.
"Serahkan semua sama saya. Biar saya yang menghadapi ummi"