Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Talak Setelah Shubuh


__ADS_3

25 Maret 2007


Suara adzan shubuh yang saling bersahutan membangunkanku dari tidur nyenyakku.


Aku segera turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi dan segera berwudhu.


Setelah itu aku berjalan kekamar depan, tempat dimana suamiku tidur.


Aku melihat dia masih begitu pulas. Aku ingat, kemarin dia pulang sebelum maghrib, dan setelah itu dia fokus menghadap laptop. Dan Hpnya pun sering sekali terdengar berdering.


Dan akupun mendengar jika suamiku berbicara dengan sopan dan seperti ragu. Aku tidak tahu siapa yang menelponnya, tapi yang kutahu, setiap telponnya berdering dan selesai pembicaraan wajah suamiku terlihat tegang.


"Yah, shubuh" ucapku


Tidak ada sahutan. Aku menghembus nafas berat. Entah ini shubuh yang keberapakalinya yang selalu diabaikan suamiku.


Padahal jika dia tahu bagaimana pentingnya shalat shubuh itu, pasti dia akan segera bangun.


Terlepas dari dia seorang pendosa, menghadap Alloh adalah suatu kewajiban. Dan sebagai istri sudah kewajibanku mengingatkan suamiku untuk shalat.


Lima menit aku duduk di sebelah suamiku, terdengar nafasnya yang teratur.


"Yah, shubuh" kembali aku memanggilnya


Suamiku menggerakkan badannya, menggeliat lalu mengubah posisi membelakangiku


Akhirnya aku berdiri dan meninggalkan kamar, lalu masuk ke mushala yang ada di rumah, shalat sendirian.


Butuh waktu sepuluh menit untuk aku menyudahi shubuhku. Setelah melipat sajadah dan mukena aku kembali kekamar suamiku yang masih tidur nyenyak


"Yah, bangun. Shalat"


Masih tidak ada jawaban


"Yah?"


"Hemmm" hanya itu jawaban suamiku


"Ayo bangun, shalat dulu"


"Nanti"


"Sudah jam lima lewat loh. Hampir jam setengah enam"


"Iyaaa"


"Ayo bangun"


"Nanti"


Dengan menghembus nafas dalam aku kembali meninggalkan kamar. Pergi kedapur dan memulai aktifitas.


Kuambil hp, lalu aku memutar mp3 yang ada di dalam hpku.


Sambil bersenandung aku mencuci piring. Selesai itu aku pindah dengan mengisi rice cooker. Aku lirik jam yang tergantung di tembok, jam enam kurang lima belas menit. Tapi belum ada tanda-tanda suamiku akan bangun.


Aku kembali lagi masuk kamar depan dan kembali membangunkan suamiku. Tapi sama seperti tadi, tidak ada reaksi. Jikapun ada hanya "Hemm, iya, atau nanti"


Tapi aku tidak putus asa. Kali ini aku membangunkannya bukan hanya dengan panggilan tapi juga dengan menggoyangkan tangannya.

__ADS_1


"Kalau mau shalat, shalat saja sendiri!" bentaknya


Aku diam. Aku berhenti menggoyangkan tangannya. Lalu aku duduk di sebelahnya


"Dalam Al-Qur'an surah Al-Isra' ayat 78 dijelaskan bahwa


أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا


“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).”


"Itu artinya bahwa shubuh itu penting yah" ucapku lagi


Suamiku masih belum bangun juga. Kali ini dengan nekad aku goyangkan badannya dengan kencang sampai tubuhnya bergerak kekiri kanan saking kuatnya aku menggerakkan badannya.


Suamiku langsung terduduk. Dan dengan mata merah karena baru bangun dia menatapku dengan marah.


Aku tersenyum padanya, aku senang karena kali ini aku berhasil membangunkannya


"Shalatlah, setelah itu baru tidur lagi" ucapku sambil berdiri meninggalkan suamiku yang masih bersungut-sungut


Aku kembali kedapur, menyiapkan bumbu ikan yang mau kubuat pepes. Suara lagu hindi dari hpku masih berputar, dan aku mengikuti liriknya


"Dasar istri tidak ada adab!"


Aku terkejut mendengar suamiku membentakku.


Aku segera menoleh dan meletakkan pisau dapur yang aku pakai mengupas kunyit.


Suamiku masuk kedapur dengan wajah marah lalu duduk di kursi makan.


"Istri kurang ajar" sambungnya


"Kenapa sih yah?" tanyaku


"Kamu itu istri kurang ajar, tidak ada adab sama suami" bentaknya dengan marah


"Astaghfirullah, salah aku apa yah?" tanyaku sambil berdiri mematikan mp3.


"Kamu itu tidak ada adab membangunkan suami, saya ini bukan anak kecil yang seenak perut kamu, kamu bangunkan dengan cara tadi"


"Ya Alloh, gara-gara tadi, ya sudah maaf" jawabku masih dengan tersenyum


"Jangan mentang-mentang kamu rajin shalat terus kamu menganggap bahwa kamu itu alim!"


Aku diam, tidak mempedulikan omongannya, terus saja aku memotong-motong bumbu


"Apa kamu tidak bisa membangunkan saya dengan baik-baik?" bentaknya


Kali ini emosiku mulai naik karena aku terus dibentak dan disalahkan


"Sudah berapa kali aku membangunkanmu Yah, dari selesai adzan sampai waktu shubuh mau habis"


"Aku membangunkan dari panggilan pelan sampai aku goyang-goyangkan tangan, tapi ayah masih tidak juga bangun" belaku


"Hemmm" dengusnya


"Makanya aku tadi bangunkan dengan mengguncangkan tubuh ayah karena waktu shubuh mau habis" sambungku


"Tapi aku tidak suka dengan cara kamu membangunkanku seperti tadi. Kamu anggap apa aku hah? aku ini kepala keluarga, mana rasa hormatmu? aku bukan anak kecil yang bisa sekehendak kamu perlakukan seperti ini"

__ADS_1


"Astaghfirullah. Aku tadi sudah membangunkan dengan cara baik-baik, tapi ayah tidak bangun" jawabku frustasi.


"Ya sudah, aku minta maaf. Jangan teriak-teriak Yah, malu didengar tetangga. Masih pagi tapi kita sudah ribut" lanjutku


Mata Andi masih memancarkan kemarahan. Tampak sekali emosi dari tatapannya


"Heeemm, jangan mentang-mentang kamu pakai hijab jadi kamu menganggap bahwa kamu itu sempurna dan alim. Kamu itu percuma pakai hijab, hijab saja yang dibesarkan, tapi akhlak tidak!" ucapnya sinis


Aku segera berdiri, aku benar-benar merasa tersinggung dengan ucapannya kali ini.


"Tolong jangan bawa-bawa hijabku, aku merasa sangat tersinggung jika ada orang yang merendahkan pakaianku. Ayah boleh memaki aku sekehendak hati ayah, bahkan merendahkan aku serendah-rendahnya, tapi tolong jangan hina pakaianku. Pakaianku benar, tapi akhlakku yang masih perlu pembenahan" ucapku dengan bergetar menahan airmata.


Andi tersenyum sinis melihat aku yang berdiri.


Aku terus beristighfar dalam hati karena kemarahanku pada Andi yang telah menghina hijabku. Hatiku benar-benar terluka. Aku sangat kecewa padanya.


"Kalau ayah tidak suka aku bangunkan, aku berjanji aku tidak akan membangunkan ayah untuk shalat shubuh lagi" jawabku dengan airmata yang lolos mengalir


Andi masih menatapku dengan sinis


"Punya istri tidak ada adabnya, membangunkan suami tidak manusiawi, dasar perempuan munafik!" ucapnya kasar


"Iya, aku minta maaf. Aku minta maaf jika aku salah. Sudah aku bilang tadi, aku membangunkan dengan kasar tadi karena ayah belum juga bangun padahal waktu shubuh mau habis. Itu saja" belaku


"Kamu itu istri kurang ajar!" bentaknya


"Istri itu adalah pakaian suami, bagaimana istrimu itu tergantung bagaimana suami mendidiknya. Jika akhlakmu baik, Insha Alloh akhlak istrimu juga baik, tapi jika akhlak istrimu jelek, intropeksilah dirimu bisa jadi akhlakmu belum baik" jawabku


"Aku muak Indah selalu kamu ceramahi!" bentaknya


"Aku janji aku tidak akan membangunkanmu untuk shalat shubuh lagi. Aku pernah berkhayal, jika aku hidup sama kamu itu bukan hanya di dunia, tapi aku juga ingin hidup dengan kamu diakhirat" jawabku dengan terisak


"Jangan mimpi kamu Indah!" bentaknya


Aku menghapus airmataku. Sakit sekali rasanya mendengar ucapannya.


"Bismillahirrahmanirrahiim, aku berjanji aku tidak akan membangunkan kamu untuk shalat shubuh lagi Andi" ucapku lirih


Mata Andi menatap tajam kearahku, tangannya terkepal marah.


"Dan aku bersumpah AKU HARAMKAN DIRIKU MENYENTUHMU, WALAU HANYA UJUNG KUKUMU. MULAI HARI INI AKU TALAK SERIBU KAMU INDAH!!" ucapnya dengan menunjuk kearahku dengan gigi gemeletuk


Aku sontak menatap tak percaya pada suamiku. Airmataku tanpa bisa aku tahan lolos dengan derasnya mengalir di pipi.


Aku terduduk lemas mendengar ucapan talaknya. Aku benar-benar tidak percaya jika suamiku akan mengucapkan talak hanya gara-gara aku membangunkannya untuk shalat.


Melihatku terisak, Andi segera bangkit dari kursi dan meninggalkanku sendirian yang terduduk di lantai menangis menutup wajahku


Hari ini akhirnya kami bercerai. Walau ini yang aku inginkan, tapi begitu mendengar ucapan talaknya tadi, tak urung membuatku hancur juga. Apalagi tadi Andi mengucapkan talak seribu, yang sama artinya dengan talak tiga.


Ya Alloh, anak-anakku bagaimana? batinku. Airmata kembali mengalir deras ketika mengingat ketiga anakku.


"Kamu pergi dari rumah ini. Karena ini bukan rumah kamu. Sepeserpun di rumah ini tidak ada uang kamu. Jadi kamu tinggalkan rumahku sekarang!" usirnya


Aku membuka tanganku yang menutupi wajahku. Aku memandang tak percaya pada lelaki yang saat ini berdiri di depanku. Aku tidak mengenalnya, dia sangat berubah. Bukan Andi yang kukenal tujuh tahun yang lalu.


"Kamu punya telingakan? jadi tinggalkan rumahku hari ini juga. Bawa anak-anak kamu, dan jangan kamu bawa satupun barang yang aku belikan untuk kamu. Tinggalkan semua. Semua barang kamu, kamu bawa. Jangan ada satupun yang tertinggal di rumah ini!"


Aku segera bangkit lalu berlari masuk kedalam kamar memeluk ketiga anakku yang masih terlelap

__ADS_1


Airmataku masih deras mengalir. Tidak kusangka, ternyata begitu sakit rasanya di talak.


__ADS_2