
Aku berjalan pelan keluar dari dalam ballroom dan celingukan karena aku tidak melihat siapapun kecuali para pelayan yang berjalan hilir mudik membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
Disaat aku celingukan, seorang bodyguard datang dan menghampiriku
"Ayo mbak" ucapnya dengan suara berat
Aku tak bergeming, jujur aku takut. Bisa jadikan ini penculikan, batinku.
"Jangan takut, kami hanya menjalan tugas, kami tidak akan berbuat yang tidak senonoh sama mbak" lanjutnya
Ada sedikit lega demi mendengar penjelasannya. Aku berjalan pelan mengikuti bodyguard itu masuk ke dalam lift.
Pintu lift terbuka dan dia menyilahkanku untuk keluar lebih dulu. Aku keluar dari lift dan berhenti.
"Kemana?" tanyaku
"Ikuti saya kalau begitu" jawabnya
Aku kembali berjalan di belakang mengikuti bodyguard itu.
Kami berjalan kearah keluar pintu hotel. Sesampainya di luar hotel, telah terparkir sebuah mobil mewah berwarna hitam SUV Land Cruiser.
Bodyguard itu membukakan pintu mobil, lalu mempersilahkanku masuk. Setelah aku masuk, diapun ikut masuk dan duduk di sebelah supir.
"Kita ke Peak" ucapnya
Si supir mengangguk dan segera menyalakan mesin mobil. Mobil perlahan meninggalkan hotel dan mulai melaju kencang ketika tiba dijalan raya.
Aku melihat suasana malam tahun baru di Kota Pekanbaru untuk pertama kalinya. Jalanan sangat ramai hingga menyebabkan macet.
Klakson mobil-mobil dan salip menyalip antar motor di sela-sela mobil tidak terelakkan. Aku sangat menikmati itu. Keramaian, kebisingan, semarak suara terompet, semuanya begitu menyenangkan untuk ku.
Berbeda halnya dengan bodyguard yang duduk di depan, berkali-kali dia mengumpat geram dan melihat jam di pergelangan tangannya.
"Apa tidak ada jalan lain?" bentaknya pada si supir.
"Kalau malam tahun baru dimana-mana macet bos" jawab si supir
Dia mendengus kesal.
Setelah cukup lama terjebak macet akhirnya mobil dapat kembali melaju normal.
"Cepat sedikit, jika terlambat saya bisa kena marah bos" ucapnya gelisah
Si supir melajukan kembali mobil dengan kencang. Dan berhenti setelah sampai di tempat tujuan.
Aku turun begitu pintu mobil terbuka. Di depanku berdiri sebuah bangunan hotel yang tak kalah megah seperti tempat ku menginap.
"Ayo mbak" ucap bodyguard.
Aku kembali berjalan mengikutinya. Di dalam hotelpun ternyata ramai. Sama seperti di tempatku tadi, sepertinya di sini juga ada
pesta.
Kami berjalan menuju lift. Setelah pintu lift terbuka, kami masuk dan bodyguard menekan angka 29.
Mataku terbelalak ketika melihat dia menekan angka 29. Benar ini aku akan dibawa ke lantai 29? batinku. Aku menggigit bibirku. Takut kembali melanda, aku gelisah di dalam lift hingga akhirnya lift berhenti dan pintunya terbuka.
Kami keluar dan kembali aku mengikuti bodyguard itu berjalan.
"Kita mau kemana pak?" tanyaku akhirnya dengan takut
"Mbak ikut saja" jawabnya tanpa menoleh padaku.
__ADS_1
Aku mengangkat bagian bawah gaunku untuk memudahkanku berjalan menyusulnya yang berjalan cepat.
Aku agak kesusahan ketika menaiki tangga. Gaunku yang panjang dan heels yang kupakai menyulitkanku untuk melangkah cepat ditangga yang berkelok-kelok.
Beberapa kali aku terpaksa berhenti untuk membenarkan gaunku agar tidak terinjak.
Akhirnya aku melepaskan heels dan mengangkat tinggi gaunku hingga sebatas lutut dan berjalan menaiki anak tangga menyusul bodyguard yang sudah tidak terlihat.
Nafasku ngos-ngosan ketika sampai di rooftop. Aku segera menurunkan gaunku dan kembali memakai heels.
Kulihat sekeliling rooftop yang ternyata adalah sebuah restoran high class karena begitu banyak meja kursi tertata apik di sana. Tapi yang membuatku heran adalah mengapa tidak ada satupun pengunjungnya.
Mataku tertumbuk pada bodyguard yang membelakangiku seperti sedang berkata dengan seseorang.
Aku masih diam di tempatku, menarik sebuah kursi, duduk lalu mengatur nafasku yang masih ngos-ngosan.
"Langsung kesana mbak" kata bodyguard yang tiba-tiba telah berdiri di sebelahku.
Dengan kaget aku menoleh padanya lalu mengikuti arah ibu jarinya yang mengarahkanku untuk kesebuah meja yang sudah tersedia makanan dan minuman di atasnya.
Aku berdiri dan berjalan ragu kearah meja yang tadi ditunjukkan bodyguard. Sedang bodyguard itu langsung pergi ketika aku berjalan.
Tak jauh dari meja itu, ada seorang lelaki yang memakai jas berwarna hitam membelakangiku.
Dengan takut aku berjalan mendekati meja itu.
"Permisi?" ucapku ragu
Tidak ada sahutan. Aku makin gelisah. Degup jantungku berdegup kian kencang dan tak karuan.
"Maaf?" ucapku lagi
Badan itu berbalik dan mataku terbelalak
Orang yang tadi membelakangiku tersenyum hangat kearahku yang membuat aku sangat lega
"Alhamdulillah, aku fikir siapa" ucapku lega
Ternyata orang itu adalah abang Ariadi. Dia segera mendekatiku dan mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya. Kami berjabat tangan dengan hangat. Tapi aku sedikit meringis saat abang Ari sedikit agak kencang ketika menggenggam jariku. Karena disana juga ada luka bekas cambukan
"Kenapa?" tanyanya khawatir dan melihat jariku yang terluka
"Ini kenapa?" tanyanya lagi
"Oh, ini luka kecil saat di kamar tadi bang" bohongku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya
Ari menatap serius kewajah Indah.
"Yakin?" ulangnya
Aku mengangguk cepat.
"Silahkan duduk" ucapnya setelah menarik kursi untukku.
Setelah aku duduk, bang Ari lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri dan kami duduk saling berseberangan
"Ini apa bang?" tanyaku menatap bingung kearah meja dan wajahnya secara bergantian
"Dinner" jawabnya singkat
Aku tersenyum malu. Dan menundukkan wajahku yang mungkin saat itu berubah merah. Debar jantungku menjadi aneh.
__ADS_1
"Apaan sih" batinku demi mengetahui bahwa jantungku berdebar tak karuan.
"Kamu sangat cantik malam ini Ndah" pujinya
Aku makin deg-degan dan kembali menundukkan wajahku karena malu mendengar pujiannya.
Berkali-kali aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering.
"Are you okay?" tanyanya begitu mendapati Indah yang hanya diam dan menunduk gelisah.
"Iya bang" jawabku gugup
"Ayo kita makan saya sudah dari tadi menunggu kamu. Saya lapar" ucapnya untuk mencairkan suasana
Aku tersenyum canggung lalu mulai memotong daging yang ada di piring dengan perlahan.
"Ini resto kan bang?" tanyaku disela-sela makan kami
"Iya" jawabnya singkat
"Kok tidak ada pengunjung lain?" tanyaku lagi
"Tempat ini sengaja aku reservasi malam ini khusus untuk kita"
Winggggsss!!!
Rasanya tubuhku melayang di udara saking bahagianya.
"Kamu suka?" tanyanya
Aku hanya bisa mengangguk. Tidak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk.
Makan malam kami terhenti ketika di langit mulai berterbangan kembang api yang sangat banyak yang menandakan pergantian tahun sedang dimulai.
Aku segera bangkit dari kursiku dan berlari kecil kearah pagar pembatas. Aku mendongakkan kepalaku sambil tersenyum takjub melihat ribuan kembang api yang menyala di langit.
"Waaahhhhh" tak sadar bibirku menggumam takjub.
Aku segera memejamkan mataku untuk Make a wish. Aku menyebutkan harapan-harapanku ditahun depan dan mengucap syukur untuk tahun yang telah aku lalui.
Aku terkaget ketika tubuhku dipeluk dari belakang. Aku yang sedang berdoa langsung membuka mataku dan segera melihat ada dua tangan yang memeluk erat pinggangku.
Jantungku seperti melompat. Degupnya semakin kencang
"Jangan dilepas Ndah" ucap suara bang Ari ketika aku akan melepaskan tangannya dari pinggangku.
Aku mematung, menelan ludah yang tiba-tiba tersekat. Bang Ari makin erat memelukku dan dapat kurasakan dia mencium puncak kepalaku.
"Tolong diamlah sebentar, izinkan aku memelukmu" lanjutnya
Aku makin membisu, tak berani bergerak.
"Tuhan, tolong hentikan waktu sebentaaaar saja" lirihnya.
Aku mendongak menatap kearahnya yang sedang memejamkan matanya.
Pikiranku beradu. Ini salah Indah bisik malaikat, ini benar Indah bisik setan. Kamu sudah bersuami, bisik malaikat. Suamimu tukang selingkuh, dia saja sering melalukan ini. Kenapa kamu tidak, bisik setan.
Aku masih tak bergeming. Aku membiarkan bang Ari terus memelukku. Aku memejamkan mataku menikmati pelukan hangatnya.
Sementara kembang api di langit sudah berhenti tetapi bang Ari sepertinya masih betah memelukku. Dan aku sendiripun, masih membiarkan dia memelukku.
Aku semakin erat memejamkan mataku. Sementara jantungku kian berdegup kencang. Dan bang Ari pun berkali-kali menciumi puncak kepalaku
__ADS_1