
Andi menatap heran ketika pagi ini dia sampai di kantor anak buahnya pada bergerombol dan tidak menyadari kedatangannya.
Bahkan security yang biasa menyambut dan mengarahkan mobilnya untuk parkirpun pagi ini absen dari tugasnya, malah ikut bergerombol dengan karyawan yang lain.
Andi segera turun dari mobil dan berjalan menghampiri para karyawannya.
"Eh ehm" dia berdehem
Sontak semua karyawannya menoleh dan memandang tak enak hati. Bahkan security langsung berlari ke pos tempatnya berjaga.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Andi dingin kepada para karyawan yang masih belum memulai kegiatan mereka.
"Baca koran pak" jawab seorang bapak paruh baya yang sedang memegang koran sambil melihat kearah Andi
"Tidak biasanya" jawab Andi
"Hari ini berita di koran luar biasa bos, makanya kami antusias membacanya" jawab Afdal
"Apa ada berita kecelakaan?" tanya Andi lagi
"Ini lebih dari kecelakaan bos, tapi ini angin ****** beliung diiringi badai petir dan gemuruh ombak" jawabnya lagi
Yang lain terkekeh mendengar jawaban Andi
"Lebih mirip tsunami" sambungnya lagi
Afdal yang sejak tahu bahwa Andi telah mentalak Indah, jadi bersikap cuek dengan Andi walaupun Andi adalah bosnya sendiri.
Mendengar jawaban tersebut, Andi dengan tidak sopan segera merebut koran ditangan bapak paruh baya itu.
Matanya terbelalak, wajahnya menegang. Di halaman pertama terpampang wajah Indah dengan lawyernya dengan judul berita "PENGACARA KONDANG 3M MENGINJAKKAN KAKI DI BUMI SILAMPARI DEMI MEMBELA SEORANG WANITA"
Koran tersebut langsung Andi serahkan ketangan bapak tadi dan dia bergegas masuk ke dalam.
Seluruh karyawan memandang kepergiannya dengan sinis.
"Mati sekarang kau Andi" ucap bapak tadi
"Geram aku melihat berita ini, jika mbak Indah butuh saksi, aku bersedia menjadi saksinya" jawab Rian
"Serius kamu?" tanya Afdal
Rian menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Gampang lah itu, nanti kita datang ketika mereka sidang lagi" ucapnya
Bersama-sama mereka kembali membaca berita itu. Bahkan secara bergantian koran itu bergiliran dari tangan ketangan
Andi yang masuk keruangannya terlihat sangat gusar.
"Awas kamu Indah. Akan aku buat kau menyesali ini semua" geramnya
Segera dia menelpon pengacaranya
"Siapkan bukti untuk sidang minggu depan pak, aku tidak ingin dipermalukan" ucapnya gusar
"Akan saya usahakan pak. Tapi apa anda yakin? kita tahu sendiri siapa kuasa hukum mantan istri anda pak, saya bukanlah apa-apa dibanding beliau. Kasus seperti ini bagi lawyer Indah hanyalah masalah ringan. Sekali tepuk, seperti menepuk debu, selesai kita" jawab lawyer Andi dari seberang
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kita cari bukti perselingkuhannya" jawab Andi
"Baiklah pak kalau begitu, selamat pagi"
Panggilan berakhir. Andi segera mengendurkan dasi dan duduk di kursi kerjanya dengan emosi.
...****************...
"Deekkkkk" pekik bu Yaya pagi ini saat aku masuk kekantor setelah dari dalam kelas.
"Apa sih yuk, kaya orang budek saja deh aku dipanggil kek gitu" jawabku sambil berjalan menuju mejaku.
"Ini beneran??" ucapnya lagi sambil memamerkan koran di tangannya padaku
Aku terkesiap. Aku segera mendekati yuk Yaya dan meraih koran di tangannya.
Benar, di koran ini terpampang wajahku, pak Hotlan dan pak Abraham.
"Seriusan dek pengacara kamu beliau?" tanya yuk Yaya lagi
Aku tercenung. Koran ditanganku segera diambil bu Isma, dan guru yang lain segera mengerubungi meja bu Isma.
"Wowww" komentar mereka begitu melihat koran itu
"Serius Ndah kata koran ini?" tanya mereka
Aku diam
"Yak ellah, malah melamuuun" jawab yuk Yaya sambil menepuk kasar bahuku
Aku terperanjat dan langsung mengelus bahuku yang terasa sakit.
"Ihh ayuk nii"
Beliau terkekeh. Lalu yang lain segera duduk di dekat kami, bahkan ada yang sampai menarik kursi demi mendengar jawabanku
"Serius ini Ndah?" ulang bu Isma lagi
Aku menarik nafas dalam sambil menatap wajah penasaran mereka.
__ADS_1
"Ehmm kasih tahu nggak yaaa?" jawabku sambil terkekeh
Langsung aku jadi bulan-bulanan mereka. Mereka spontan memukul dan mencubitku dengan gemas
Aku makin terkekeh melihat mereka yang kesal dengan reaksiku.
"Aku juga nggak tahu ibu-ibu dan ayuk-ayuk" jawabku sambil tertawa dan menghindari cubitan mereka
"Lah? kok bisa?" Yuk Yaya menjawab sambil ikut bengong
Aku mengangkat bahuku.
"Cerita cerita cerita" desak mereka.
Lalu aku menceritakan bagaimana sidang kemarin. Bagaimana pak Hotlan sampai, bagaimana aku mengembalikan maharku, tapi tidak aku ceritakan jika abang yang meminta pak Hotlan.
"Benar-benar ya itu laki, mahar yang hak kamu diminta kembali. Ku sumpahi mati cepat dia" ucap bu Kris emosi
"Besok kalau kamu sidang kami ikut ya?" ucap yuk Yaya lagi
"Buat apa yuk?"
"Mau berfoto sama lawyer kamu laahhhh" jawabnya sambil terkekeh yang diikuti tawa yang lain.
"Momen langka ini bu ibu, secara beliau loh lawyernya selebritis, dan sekarang beliau ada di sini, bela teman kita, masa kita nggak datang? aku mau datang ah, aku mau selfi sama beliau" lanjut yuk Yaya lagi
"Kalau semuanya mau menghadiri sidang, terus yang mengajar siapa?" tanya pak Suparno yang tiba-tiba muncul
"Kita liburkan saja pak, sehariiiii saja" usul bu Jamilah
Pak Suparno menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan para ibu-ibu itu malah tertawa melihat bosnya bingung.
...****************...
"Nggak usah ikut mak, biar aku datang sendiri saja" ucapku pagi ini saat aku menitipkan kedua anakku.
"Tapi umak penasaran bagaimana proses sidang kamu" jawab umakku ngeyel
"Doakan saja aku" jawabku
"Andi kurang ajar itu pasti didampingi keluarganya, masa kamu sendirian?"
"Ada temanku mak"
Dengan kecewa umakku akhirnya mengalah.
"Kakak sama kak Angga nanti bakal datang" ucap kak Andri yang muncul dari dalam
"Aduhhhh kacau ini" batinku
"Sebelas" jawabku pelan
"Nanti kami pasti kesana"
Aku diam, sebenarnya aku tidak ingin keluargaku menghadiri persidanganku. Aku tidak mau mereka emosi melihat Andi dan keluarganya.
"Kalau kakak nggak usah datang kenapa?" ucapku lirih
Kakakku langsung menatap tajam kearahku.
"Kakak ingin melihat wajah pengecut itu. Kakak ingin memastikan kalau dia masih bisa bernafas saat keluar dari ruang sidang"
Hadeehhh kacau ini, batinku. Setelah itu kakakku langsung mengeluarkan motor besarnya lalu memanaskan mesin dan masuk lagi kedalam mencium punggung tangan umakku dan aku mencium punggung tangannya.
Hp ku berdering. Abang.
Aku segera masuk kedalam kamar.
"Assalamualaikum abang" jawabku
"Waalaikumussalam, Indah" balas abang
"Abang sehat?" tanyaku bingung karena memang aku bingung harus bicara apa sama abang
Terdengar suara abang terkekeh diseberang.
"Kamu masih nervous bicara sama abang"
Degup jantungku kian berpacu cepat.
"Bahkan degup jantungmu bisa abang dengar"
Aku tersenyum.
"Pak Hotlan sudah ada di Lubuklinggau dari semalam. Bisa dipastikan jika beliau tidak akan terlambat seperti kemarin"
"Abang..."
"Iya?"
"Jangan buat aku makin banyak hutang budi sama abang, abang sudah terlalu baik sama aku"
"Aku melakukan ini karena aku perduli sama kamu Ndah"
"Tapikan aku bukan siapa-siapa abang, aku tidak mau terlalu berhutang budi sama abang, itu saja"
__ADS_1
"Sekarang kamu memang bukan siapa-siapa aku. Tapi mungkin besok kamu adalah apa-apanya aku"
Aku memejamkan mataku menahan malu, aku diam. Tidak berani menjawab ucapan abang
"Apakah wajah kamu merah sekarang?"
Deg!!
"Ihh abanggg..." jawabku dengan manja
"Please jangan bersuara seperti itu, suara kamu yang manja seperti itu membuat abang ingin terbang kesana" jawab abang sambil terkekeh
Kembali wajahku memerah.
"Semangat ya Ndah, semua bukti sudah disiapkan oleh pak Hotlan. Andi tidak akan bisa berkutik. Nanti akan ada surprise buat kamu"
"Surprise? surprise apa bang?" tanyaku penasaran
"Kalau kamu tahu sekarang, itu bukan surprise namanya"
Aku memasang wajah merajuk.
"Ya sudah, siap-siaplah. Pak Abraham sudah menunggu di lorong"
Panggilan terputus setelah abang mengucapkan salam.
Aku dengan segera langsung bercermin, membenahi baju dan hijabku, dan memeriksa bedak di wajahku. Dirasa cukup aku segera keluar kamar berpamitan dengan umak bapakku dan mencium pipi kedua jagoanku.
Lalu aku berjalan dan dapat kulihat mobil hitam pak Abraham telah terparkir.
Aku segera masuk dan pak Abraham langsung tancap gas
...****************...
"Bukti di sini menunjukkan jika tergugat memang melakukan perselingkuhan bapak hakim" ucap kuasa hukum Andi sambil menyerahkan beberapa lembar kertas kepada bapak hakim yang langsung diterima dan diteliti oleh beliau
Aku menatap tak percaya pada Andi. Ini dia yang berselingkuh kok aku yang dituduh. Aku menatap tajam kearahnya yang duduk tenang di seberangku.
Pak Hotlan berbisik di telingaku dan aku mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Di sana bisa bapak hakim lihat jika ada beberapa lelaki yang gonta ganti membawa mantan istri klien saya"
Merah wajahku menahan emosi. Kulihat kedua kakakku langsung berdiri dari kursinya.
"Anjing kamu Andi. Sini lawan aku kalau kamu berani, satu lawan satu kita" teriak kak Angga dengan mata merah sambil mengepalkan tangannya.
Ruangan langsung gaduh. Pak hakim langsung mengetuk palu untuk menenangkan ruang sidang.
"Tenang, tenang. Saudara jangan mengganggu sidang ini. Jika sekali lagi anda mengganggu sidang ini, maka kami akan mengusir saudara dari sini" ucap pak hakim
Kak Andri dan kak Angga langsung duduk kembali dengan masih mengepalkan tangan mereka.
"Bahkan berangkat sidang tadi, mantan istri klien saya dibawa oleh lelaki yang bukan mahramnya" lanjut kuasa hukum Andi
Aku menarik nafas dalam. Aku melirik kearah pak Abraham yang masih terlihat santai dan tidak terpancing emosi.
"Jadi kami mohon bapak hakim, untuk segera memutuskan jika memang klien saya ini tidak bersalah dalam rusaknya rumah tangga mereka, terima kasih bapak hakim" lalu kuasa hukum Andi duduk disebelah Andi.
Pak Hotlan berdiri
"Apakah bukti dari saudara sudah otentik?" tanyanya pada kuasa hukum Andi
"Oh jelas, kami membawa bukti tidak asal bapak hakim, selama seminggu ini kami sudah mengumpulkan banyak bukti" jawabnya kepada bapak hakim
"Bahkan jika bapak hakim mengizinkan kami akan membawa saksi" lanjutnya
"Diizinkan" ucap bapak hakim
Seorang lelaki yang tidak aku kenal segera berdiri dan dia segera diambil sumpahnya.
"Benarkah anda melihat jika saudari tergugat melakukan perselingkuhan?" tanya pak hakim
"Benar yang mulia, saya melihat sendiri jika perempuan itu sering dibawa oleh lelaki lain saat dia masih menjadi istri dari bapak Andi. Bahkan saya juga melihat jika akhir-akhir ini ada lelaki yang selalu mengiringi kemanapun dia pergi"
Aku menatap tajam kearah saksi itu. Ingin sekali rasanya aku memukul mulut sampahnya itu.
"Bahkan saya menyaksikan sendiri bapak hakim, jika selingkuhannya itu sering mengantarkan makanan kekontrakannya"
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kulihat pak Abraham masih tetap tenang.
"Keberatan yang mulia" sanggah pak Hotlan
"Justru yang melakukan perselingkuhan ini adalah penggugat, bahkan penggugat juga melakukan KDRT kepada klien saya"
Tampak wajah Andi menegang.
"Mungkin saudara penggugat lupa, jika sekarang sudah banyak perkantoran dan hotel-hotel memasang cctv" lanjut pak Hotlan
Andi makin gelisah.
"Bisa saya izin untuk menampilkan bukti laporan kami dalam bentuk slide bapak hakim?"
Tampak hakim ketua berbisik dengan kedua hakim anggota di kanan kirinya. Dan kedua hakim anggota itu tampak mengangguk-anggukkan kepala.
"Diizinkan"
Dengan tenang pak Hotlan mulai mulai menghidupkan laptopnya, seluruh yang ada di dalam ruang sidang hening ikut gugup melihat kira-kira apa yang akan dibuktikan oleh beliau
__ADS_1
Wajah Andi kian menegang. Berkali-kali dia mengusap peluh yang keluar di keningnya