
Pasca melahirkan aku tidak boleh tidur, padahal jika mau jujur aku capek sekali, rasanya badanku remuk redam.
Selama dua jam aku juga tidak boleh bergerak, harus lurus, tidak boleh miring sedikitpun. Tentu saja itu sangat membuat pegal, tapi ini aku nikmati karena ini adalah kali keempatnya aku dalam posisi seperti ini.
Kedua bayiku tidur di dalam box inkubator khusus bayi. Mereka di tempatkan ditempat berbeda. Aku terus melihat kearah mereka yang matanya terpejam
Abang Ozkan sejak tadi terus saja duduk di kursi diantara kedua bayi kami. Dapat kulihat jika dia sedetikpun tak ingin beralih dari sana.
"Abang..." lirihku
Abang menoleh, dan tersenyum ke arahku
"Aku haus, boleh ambilkan aku minum?"
Ozkan segera bangkit dan berjalan kearah meja di sebelahku berbaring. Membuka botol air mineral dan memasangkan pipet. Lalu sambil memegang botol, Ozkan segera memberi minum istrinya
Aku minum sedikit, karena memang itu hanya alasanku saja
"Katanya haus, kok cuma sedikit minumnya?"
Aku tersenyum dan segera mengulurkan tanganku
"Pengen dipeluk" ucapku manja
Sambil tersenyum abang berjongkok dan memelukku
"Sejak tadi abang cuma memperhatikan twins, aku dicuekin" rajukku
Seperti tersadar jika istrinya merasa diabaikan Ozkan membetulkan posisi berdirinya
Ditariknya kursi lalu duduk disebelah ku
"Tidak ada satupun di dunia ini yang bisa mengalihkan kasih sayang abang sama kamu" lirihnya
Aku diam, terus memandangi wajah tampannya
"Kamu sangat berharga untuk abang, maafkan abang jika tadi abang mengabaikan mu" lanjut Ozkan sambil mengecup kening istrinya
Rasanya ingin sekali aku memiringkan tubuhku agar bisa memeluk pinggangnya
Seperti tahu apa keinginan istrinya, Ozkan berdiri kembali, menunduk dan memeluk istrinya.
"Abang sangat menyayangimu Indah" bisik abang sambil mendaratkan ciuman lembut di pipiku
"Berapa menit lagi sih bang dua jam, aku sudah nggak kuat, ngantuk sekali"
Ozkan melirik jam di pergelangan tangannya
"Sudah dua jam lebih sayang, sekarang kamu bisa tidur" jawab Ozkan
"Sekarang jam berapa?" tanyaku
"07. 45" jawab abang singkat
Karena tadi aku melahirkan sebelum jam 05.00 subuh dan itu artinya sudah lebih dua jam aku melek. Sekarang adalah waktunya aku tidur, untuk memulihkan tenagaku
Dengan sayang Ozkan membelai rambut istrinya, sambil sesekali mendaratkan ciuman sayang di wajah dan kening istrinya.
Aku memiringkan tubuhku
"Duduk sini!" ucapku manja meminta abang Ozkan untuk duduk di sebelahku
Ozkan menurut, dia segera bangkit dan duduk di sebelah istrinya yang terbaring.
Begitu abang telah duduk aku segera memeluk pinggangnya dan menenggelamkan wajahku di perutnya
Ozkan terus membelai rambut istrinya dan tak lama dapat didengarnya jika nafas istrinya sudah terdengar teratur
Ozkan memejamkan matanya, lalu kembali terbuka dengan cepat ketika dia teringat bagaimana tadi Indah berjuang melahirkan anaknya
"Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana kau berjuang antara hidup dan mati melahirkan anak-anakku" lirihnya sambil terus mengusap-usap kepala Indah
Handphone di kantongnya bergetar, dengan susah payah dia mengeluarkan benda itu, karena ada kepala Indah di atas perutnya
Anne❤️
"Ya anne?" jawab Ozkan setelah mengucap salam
"Rumah sakit mana?, anne dan babamu serta bodyguard sudah di bandara, dan kami akan menuju ke rumah sakit"
Ozkan menyebutkan nama rumah sakit dengan lirih karena dia tak ingin istrinya terbangun
Sementara di bandara
Setelah turun dari dalam jet pribadi, tuan Yilmaz dan nyonya Aylin segera keluar lewat pintu khusus vvip dengan pengawalan ketat kelima bodyguardnya.
Setelah mengetahui rumah sakit mana tempat menantunya bersalin, seorang bodyguard segera menyetop tiga buah taksi, dan dengan segera taksi meluncur membawa mereka ke rumah sakit
Tak butuh waktu lama, akhirnya taksi yang membawa rombongan tuan Yilmaz sampai di sebuah rumah sakit modern kota Jeddah
Kembali handphone Ozkan bergetar, dan kembali dengan suara lirih dia menjawab panggilan anne
"Kami sudah sampai di bawah, kamu di lantai berapa?"
"Masuk saja anne, kami berada di lantai tujuh" jawab Ozkan lalu menyebutkan nama kamar tempat istrinya bersalin
__ADS_1
Nyonya Aylin dan tuan Yilmaz segera masuk, masih dengan pengawalan ketat mereka masuk kedalam lift
Keluar dari lift, kembali nyonya Aylin berjalan cepat. Tuan Yilmaz tertinggal di belakangnya
Sampai di depan pintu kamar sesuai yang tadi disebutkan Ozkan, nyonya Aylin segera masuk
Ozkan yang melihat pintu di dorong dari luar segera menoleh cepat. Anne sudah berdiri di ambang pintu dengan air mata yang membanjiri wajahnya
Sambil tersedu dia masuk dan merentangkan kedua tangannya.
Ozkan tersenyum dan segera memeluk annenya dengan sayang.
"Jangan berisik anne, Indah baru saja tertidur, dia kelelahan" bisik Ozkan
Nyonya Aylin melepas pelukannya pada Ozkan dan segera menunduk mencium kening Indah yang masih tampak lelap dengan meletakkan kepalanya di atas perut Ozkan
"Itu cucu anne" tunjuk Ozkan kearah dua inkubator
Nyonya Aylin segera berjalan kearah dua inkubator, sementara tuan Yilmaz baru masuk ruangan
Segera dia mencium kening Ozkan dan memeluknya erat
"Selamat ya askim..." lirihnya
Ozkan mengangguk dan tersenyum kearah babanya. Lalu tuan Yilmaz menunduk dan mengecup kening Indah
"Terima kasih karena telah rela melahirkan penerus keturunan keluarga Yilmaz" lirihnya
Ozkan tersenyum haru melihat babanya yang begitu sayang pada Indah
"Askim, sini!" panggil nyonya Aylin pada tuan Yilmaz
Tuan Yilmaz segera berjalan kearah istrinya, dan keduanya berpelukan
"Anak Ozkan kembar?" tanya tuan Yilmaz sambil terus memandang kedua cucunya
Nyonya Aylin mengangguk
"Maafkan aku sayang, aku lupa memberi tahumu jika Indah itu hamil kembar"
Tuan Yilmaz tak menjawab omongan istrinya, dia terus saja memperhatikan kedua cucunya
"Apa jenis kelamin mereka?" tanya anne pelan
"Perempuan dan laki-laki" lirih Ozkan
Kembali air mata nyonya Aylin mengalir dan tangannya terus bergerak seakan menyentuh kedua cucunya yang masih terlelap di dalam kaca inkubator
Saat mereka tengah asyik melihat cucunya, dokter masuk
"Biarkan saja, dia kelelahan, saya hanya ingin memeriksa kedua bayi anda"
Ozkan mengangguk. Dan dokter segera membuka kaca inkubator lalu mengeluarkan bayi dari dalam sana. Dengan pelan diletakkannya di atas tempat tidur khusus bayi
Nyonya Aylin segera mendekat dan melihat dengan antusias ketika dokter membuka dan memeriksa cucunya
Dokter menyuntik paha sang bayi, lalu terdengar tangisan kecil. Ozkan segera mengangkat kepalanya. Sedangkan nyonya Aylin tertawa sumringah mendengar tangisan dari mulut kecil cucunya
"Boleh saya menggendongnya?" tanya nyonya Aylin ketika dokter kembali membedong bayi lelaki itu
"Tentu saja boleh"
Dengan sangat bahagia, nyonya Aylin segera menggendong cucunya. Dan menciuminya berkali-kali
Lalu dokter mengeluarkan bayi satunya lagi dan melakukan hal yang sama seperti pada bayi pertama tadi
"Apakah anda ingin juga menggendongnya?" tanya dokter pada tuan Yilmaz yang juga antusias melihat cucunya saat di suntik
"Tentu dokter" jawab tuan Yilmaz cepat
Setelah dokter selesai membedong bayi perempuan itu, tuan Yilmaz segera menggendongnya
Diciumnya dengan dalam wajah cucu perempuannya itu. Tampak sekali kebahagiaan dari raut wajahnya
Lalu keduanya, duduk di sofa dan saling memamerkan cucu mereka. Tawa kecil dari kedua orang tuanya membuat hati Ozkan makin diliputi rasa kebahagiaan yang membuncah
...****************...
Entah sudah berapa lama aku tertidur, saat aku membuka mata, rupanya abang juga terpejam dalam posisi menyandar di pinggiran ranjang, sementara tangannya terus menggenggam tanganku
Aku mengedarkan pandanganku, lalu menoleh kearah inkubator yang sudah kosong. Aku gelagapan dan segera membangunkan abang
"Abang, abang anak kita mana?" tanyaku panik
Ozkan segera membuka matanya dan mengerjap-ngerjap sebentar
"Oh, anne sama baba yang menggendong mereka"
Aku menarik nafas lega
"Mana mereka sekarang?"
"Mungkin keluar"
"Anne dan baba sudah lama di sini?"
__ADS_1
Ozkan mengangguk dan kembali mengusap kepala istrinya
"Kamu sangat nyenyak sekali tidur, jadi aku melarang anne dan baba membangunkan mu"
Aku tersenyum dan kembali meletakkan kepalaku di perut abang
"Sepertinya sudah siang" lirihku
Ozkan melirik kembali jam di gelanggang tangannya
"Iya, hampir jam 12.00"
"Berarti aku lama sekali ya bang tidurnya" jawabku sambil terkekeh
Saat aku dan abang tertawa, pintu kamar terbuka dan muncul anne beserta baba
Aku segera berusaha untuk duduk, tentu saja dengan bantuan abang yang mengangkat bahuku
Aku tersenyum pada anne dan baba. Anne segera mendekat dan mencium keningku
"Selamat ya sayang" lirih anne
Lalu baba mendekat, dengan sayang beliau juga mencium keningku
"Semoga Alloh memberikanmu umur yang panjang" ucap baba
Aku tersenyum kearah baba dan anne.
Ketika aku mengelus wajah kedua anakku yang saat ini dalam dekapan anne dan baba, dokter dan perawat masuk
"Kita periksa lagi ya, jika sudah sehat sore ini bisa pulang" ucap dokter
Aku lalu menyandarkan tubuhku di bantal yang sudah disusun abang, lalu dokter memeriksaku.
Dokter bertanya apa saja keluhanku, dan aku menjawab tak ada, karena memang itu yang kurasakan
Setelah selesai semua pemeriksaan ku dan kedua bayiku, dokter keluar. Dan sore harinya kami sudah bersiap akan kembali ke apartemen karena memang kondisiku sehat
"Kalian tidak akan pulang ke apartemen itu lagi!" ucap tuan Yilmaz yang saat itu sedang menggendong cucunya
Aku yang sudah duduk di kursi roda mendongakkan kepalaku menatap abang
Ozkan segera menoleh kearah babanya
"Maksud baba?"
"Baba sudah menyediakan sebuah mansion untuk kalian tinggali"
Anne tersenyum sedangkan aku dan abang bengong
"Mansion untuk kami?" tanya Ozkan bengong
"Iya, untuk kalian" jawab tuan Yilmaz
"Babakan tahu, Ozkan ada apartemen baba"
"Apa kamu pikir baba akan merelakan kedua cucu baba hidup di lingkungan tertutup tanpa mereka bisa berlari di halaman luas?"
Ozkan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ini untuk kedua cucu baba, karena baba tahu jika baba memberikannya dari jauh-jauh hari kamu pasti menolak, karena baba tahu kamu itu gengsinya tinggi"
Aku tersenyum mendengar baba mengatai suamiku
"Baba ingin kedua cucu baba berlarian di halaman, berenang di kolam pribadi, bukan berlarian di lorong apartemen dan hanya melihat tembok"
Aku menunduk menahan tawa.
"Jika baba tahu anak kalian kembar, sudah pasti baba berikan dua hadiah untuk mereka"
Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum haru menatap baba
"Terima kasih baba" lirihku
Tuan Yilmaz menunduk menatap Indah yang mendongak kearahnya
"Baba yang harus berterima kasih sama kamu Indah, karena kamu telah berjuang menyabung nyawa demi melahirkan anak Ozkan dan cucu baba"
Aku menggenggam tangan abang yang memegang kursi roda, dan Ozkan segera mengelus kepala istrinya
"Kamu boleh minta apapun sama baba sebagai hadiah" lanjut tuan Yilmaz dengan mata berbinar
Aku tersenyum menahan air mata yang tak urung jatuh juga di pipiku. Anne yang sedang menggendong anakku berjongkok dan mencium keningku
"Jangan menangis, babamu melakukan ini karena dia sangat bahagia mendapatkan cucu dari kamu" ucap anne
Aku mengangguk dan mengusap air mata di wajahku. Lalu abang mendorong kursi roda keluar dari dalam ruangan perawatanku.
Melihat tuan Yilmaz keluar sambil membawa bayi dalam gendongannya, tiga orang bodyguard langsung mengawalnya.
Sementara yang dua lagi mengawal anne.
Aku dan abang berjalan paling depan, aku mengucapkan rasa syukur yang tiada terkira atas kebahagiaan ini. Belum pernah aku merasakan bahagia seperti ini. Pulang habis melahirkan dengan kedua mertuaku plus mendapatkan pengawalan yang ketat pula, belum lagi hadiah yang sudah menanti kami.
Semoga kebahagiaan terus menyertaiku Rabb, bisikku dalam hati sambil kembali memegang tangan abang
__ADS_1