
Naura menggeleng
"No, I'll stay here. My mother has gone far away, then I have to go far away too? I don't think so, because I am a surrogate mother for my grandmother and my mother's brothers and sisters"
Emir cukup lama terdiam mendengar jawaban Naura
"Mikail sudah jauh, dan bisa jadi nanti Adam juga bakal jauh jika dia benar-benar jadi tentara, terus siapa yang akan mengurusi klinik?, siapa yang akan nunggu rumah?"
"Bunda di Jeddah, untung-untung setahun sekali pulang, bahkan kemarin sampai tujuh delapan tahun baru pulang"
"Kasihan nenek jika aku harus pula meninggalkannya"
"Memang dimanapun itu bumi Alloh, tapi untuk sekarang saya lebih nyaman disini" sambung Naura sambil tersenyum
"Oh iya tuan muda, tuan muda bisa ajak Adam berkeliling jika bosan di sini, bisa kan dek?"
Adam mengangguk cepat, tepat disaat pintu ruangan Naura diketuk dan muncul seorang perawat
"Buk, ada pasien mau lahiran"
Naura segera berdiri
"Sorry young master, I have to go"
Emir mengangguk
Naura segera turun diiringi perawat yang memanggilnya tadi
"Pasien kapan?"
"Barusan datang bu, karena perjalanan jauh makanya baru tiba sekarang"
"Di ruang persalinan?"
"Iya bu"
Naura mempercepat langkahnya. Dan segera masuk kedalam ruang persalinan
Didapatinya bidan senior telah menangani pasien. Dengan sabar Naura membimbing pasien untuk tenang dan menarik nafas teratur
"Mbak Naura yang menangani, ibu melihat saja" ucap bidan senior
Naura menurut, dan dengan rasa percaya diri dia menolong persalinan sampai selesai
Bidan Maliana hanya melihat kinerja Naura untuk memastikan jika Naura benar-benar bisa dilepas mandiri
Satu jam berikutnya, dengan usaha kuat dari pasien dan juga dengan bantuan Naura dan dua orang perawat, akhirnya lahirlah bayi perempuan dengan selamat
Dengan sarung tangan yang masih berlumuran darah, Naura mengangkat bayi mungil tersebut dan menyerahkan pada perawat untuk membersih bayi dan meletakkan di atas dada ibu bayi untuk IMD
Tangis haru mengalir dari kedua mata pasien, Naura yang juga terharu mengelus kepala pasien sambil mengucapkan selamat
"Terima kasih bu bidan"
Naura mengangguk sambil terus mengelus kepala pasien
Setelah itu Naura mengeluarkan ari-ari, sementara seorang perawat telah menyiapkan alat untuk menjahit jalan lahir yang robek
Di luar ruangan persalinan, Emir mendengar suara Naura, dan dia tersenyum ketika didengarnya suara nyaring tangisan bayi
"Sekarang tuan muda tahukan bagaimana pekerjaan ayuk saya?"
Emir mengangguk
Selesai dengan menjahit jalan lahir, Naura memasangkan pembalut dan mengganti baju pasien. Sementara bayi diadzankan oleh ayahnya
"Tiga jam lagi kita pindah keruang perawatan ya bu, untuk sekarang ibu istirahat dulu, tapi jangan tidur selama dua jam dan jangan bergerak. Jika dirasa dari jalan lahir keluar banyak darah segera beritahu perawat yang berjaga di sini"
"Baik bu"
"Sekali lagi selamat ya bu, saya pamit keluar dulu"
Sambil tersenyum Naura segera keluar dari ruangan persalinan diiringi bidan Maliana
"Wah, ini sih sudah bisa dilepas mandiri" ucap bidan Maliana yang membuat Naura tersenyum
Saat membuka pintu, didapatinya Adam dan Emir duduk di kursi tepat di samping pintu
"Loh, sejak kapan disini dek?"
Adam dan Emir berdiri, bidan Maliana memandang sekilas pada Emir lalu dia berjalan meninggalkan Naura
"Congratulation Naura"
Naura tersenyum dan menganggukkan kepalanya
...****************...
Aku yang berada di rumah turut membantu mbak Dian dan mbak Ningsih yang membuat kue untuk acara yasinan malam nanti
Sedangkan untuk nasi, seperti biasa aku memesan jasa katering.
__ADS_1
"Mbak, bisa tidak nanti selesai acara tujuh harinya Andi, mbak bawa Maria kehadapan ku"
Mbak Ningsih yang sedang menyusun kue kedalam kotak menoleh ke arahku
"Baik te"
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku padanya
"Mbak usahakan dia datang dan nginap disini, agar besoknya sebelum aku pulang ke Jeddah aku bisa bicara empat mata sama dia"
"Iya te"
Aku dengar teriakan Defne mencari ku, dengan segera aku meninggalkan belakang dan menemuinya
"What happened sweety?"
"I want to go to ukhti's hospital"
Aku menghembus nafas dalam, haduhh batinku
"Sebentar lagi ukhti pulang nak, tunggu di rumah saja ya?" bujuk ku
"No!"
Aku celingukan mencari kira-kira siapa yang bisa aku mintai tolong mengantarkan Defne ke klinik
"Where is Daddy?"
Defne menunjuk ke atas, segera aku naik dan ketika membuka kamar kulihat abang sedang tampak serius menatap tabletnya
Aku mundur lagi, dan turun
"Nin...?" panggilku
Nina muncul dengan Alan
"Tolong Nin antar Defne ke klinik, dia ingin kesana"
Nina mengangguk
"Go to with aunty, okay?"
Defne mengangguk. Segera aku memasangkan hijab ke kepalanya dan Nina telah muncul dengan membawa kunci motor Dimas
"Ayo cantik..." ucap Nina ramah
Defne menurut dan naik lalu segera memeluk erat pinggang Nina. Sementara Alan berdiri di bagian depan
"Hati-hati Nin, kamu nggak lihat apa bagaimana tegangnya wajah Defne" ucapku menahan tawa
Nina juga menahan tawa ketika dia menoleh kearah Defne yang memeluknya erat
_Sementara di klinik_
Naura kembali masuk ke tiap ruangan, hanya sekedar menyapa atau memeriksa pasien rawat inap yang selesai melahirkan dengan bidan senior kemarin
Dengan setia Adam dan Emir menemaninya, hingga akhirnya Naura selesai dan mereka hendak naik kembali kelantai tiga ketika terdengar teriakan kencang Defne
"Ukhti....."
Kedatangan Defne membuat pegawai dan staff serta pengunjung dan keluarga pasien menoleh
"Maaf..." ucap Naura pada mereka yang memandang tak berkedip pada Defne
"Why you go didn't invite me?"
Naura nyengir kearah Defne yang memasang wajah marah
"Akhi Emir?" Defne tampak terkejut melihat Emir muncul di belakang Naura
"Why you in here?"
Emir tampak berfikir kira-kira mau mengatakan alasan apa pada gadis kecil di depannya saat ini
"'Aelam 'anak 'atayt 'iilaa huna li'anak tuhibu 'ukhti 'alays kadhalik ??? (saya tahu, kamu kesini karena kamu menyukai kakak perempuan saya kan???) ucap Defne sambil cekikikan
Mata Naura langsung terbelalak sedangkan tuan muda Emir tampak tersenyum malu
"Unfortunately you are late, because yesterday a special friend of my sister came here" (sayangnya anda terlambat, karena kemarin telah ada teman spesial saudara perempuan saya yang kesini)
Naura segera menutup mulut Defne yang terus terbahak, dan membawanya naik dengan paksa
"Adam, bilang sama ayuk, tante pulang dulu ya?" pamit Nina
"Iya tante" jawab Adam yang segera mengajak Tuan muda Emir naik keatas menyusul Naura dan Defne
Di dalam ruangan, Naura terus mengejar Defne yang terus menghindar dari gelitikannya
"Awas kamu ya, dasar anak nakal..." geram Naura dengan gemas
Lari Naura terhenti ketika Adam dan Emir masuk
__ADS_1
"Enough Defne, come here, sit near of ukhti"
Defne menggeleng, dia lebih memilih duduk di pangkuan Adam, Naura memandang tajam kearah Defne yang menjulurkan lidahnya
Adam terkekeh begitupun dengan tuan muda
Akhirnya, setelah petugas kantin membawakan pesanan Naura, mereka makan bersama
Tampak sekali kagoknya Emir dan Defne saat memakan bakso yang dipesan Naura
"What is this?"
Naura diam tak menjawab pertanyaan Defne, melainkan dia memamerkan betapa nikmatnya bakso yang sedang dia makan
"This is meat ball" jawab Adam
Emir dan Defne mengangguk dan mulai mencicipi seperti Adam dan Naura yang begitu tampak lahap makan bakso
Hingga sore menjelang akhirnya mereka pulang, dan kembali wajah Defne terlihat tegang ketika dibonceng Naura
Keisengan Naura muncul ketika dilihatnya wajah sang adik memucat
"Dek, tukar motornya, adek pakai matic ayuk yang bawa CBR"
Adam dan Emir yang sudah duduk di motor terpaksa turun. Dan Naura langsung memasang standar motornya kembali
"Why ukhti?" tanya Defne dengan wajah yang masih tampak tegang
"We use brother Adam's motorcycle"
"What???!"
Naura menahan tawa dan dengan cepat diangkatnya tubuh Defne dan diletakkannya di motor Adam
Emir yang melihat Naura menghidupkan motor Adam dengan rasa percaya tinggi hanya mampu melihat tak percaya
"She was tomboy girl" ucap Adam yang juga menghidupkan motor
Emir diam, hanya mengangguk saja. Dengan pelan, Naura mulai melajukan motor dengan pelan, dan ketika tiba dijalan raya dia mulai agak mempercepat laju jalan kendaraannya yang membuat Defne memeluk erat pinggangnya
Naura sekuat tenaga menahan tawa saat dilihatnya tangan Defne memeluknya dengan penuh ketakutan
Sampai di rumah, telah ada beberapa tetangga yang membantu menyusun kursi dan memasukkan kotak makanan karena mobil katering sudah sampai
Aku yang melihat Defne memeluk pinggang Naura dengan memejamkan matanya langsung berlari kearah Naura yang memasang standar motor
"Astaghfirullah Ayuk, kamu apakan adek??" ucapku sambil segera menurunkan Defne dan memeluknya erat
Naura melepas helm dan langsung terbahak, melihat Naura terbahak aku memasang wajah marah
"Sorry bunda, salah siapa Defne duluan kok yang jahilin ayuk" jawabnya sambil ngeloyor masuk
Defne yang masih erat memelukku segera aku gendong dan ku ajak masuk
"Daddy...." pekik Defne ketika dilihatnya Daddy nya turun dari tangga dan dia langsung merosot dari gendonganku
Naura yang berpapasan dengan Ozkan langsung berlari naik menghindari kemarahan Ozkan
"What happened?" tanya Ozkan yang langsung mendekap Defne
"Daeat Naura Defni lirukub daraajat nariat , lidhalik kanat khayifatan" jawab Emir (Defne diajak Naura naik motor, jadi dia ketakutan)
Ozkan tersenyum dan mengusap kepala putri kesayangannya
"Its okay, are you happy?"
"Happy?, no Daddy, I am scared"
Lalu Ozkan membawa Defne kebawah, sedangkan Serkan yang sejak tadi bermain dengan Dimas dan bapakku segera menghampiri Defne dan memeluknya
"Are you sad?"
Defne mengangguk
"Ukhti just kidding, not serious"
...****************...
Malamnya kembali diadakan acara tahlilan, dan lagi-lagi banyak tamu undangan yang hadir
Emir duduk di sebelah Adam yang memimpin tahlilan malam ini, dan Naura duduk di sebelahku bersama dengan Defne yang mulai kembali manja padanya
Ketika tamu undangan mau pulang, dan dibagikan nasi kotak, tanpa sungkan Emir turut serta membantu pak Abraham cs membagikan nasi kotak
Sementara bodyguardnya terus mengawasi dari jauh.
Selesai acara dan semuanya telah pulang, sebelum naik ke kamar masing-masing, Emir berbicara jika besok siang dia akan kembali lagi ke Jeddah
"Kok begitu cepat tuan muda?" tanyaku
"Aku meninggalkan pekerjaan bunda, dan tidak ada yang menghandlenya, jadi maaf jika saya besok harus pulang"
__ADS_1
Aku mengangguk dan menatap haru pada Emir yang telah rela meninggalkan pekerjaannya demi datang kesini