Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Jadi Detektif Dadakan


__ADS_3

Aku pulang kerumah dengan membawa luka di hatiku. Sepanjang perjalanan airmataku tak berhenti mengalir. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi airmata ini terus saja mengalir.


Ketika sudah tiba tak jauh dari rumah kami, aku menghentikan laju motorku dan melihat wajahku kearah spion. Aku tak ingin anak-ananku mengetahui mata sembabku.


Aku mengeluarkan bedak tabur bayi yang selalu ku bawa dalam tas ku, menaburkan sedikit ketangan lalu menyapukannya kewajahku, dengan harapan itu bisa mengurangi sedikit sembab dan mata merahku akibat menangis.


Setelah dirasa cukup, aku kembali melajukan motor dan menuju kerumah.


"Yeayyy bunda pulang" si bungsu berlari begitu melihat laju motorku.


Aku tersenyum kearahnya dan langsung memarkirkan motor dan segera menangkap tubuhnya yang berlari kearahku.


Ku ciumi pipinya dengan dalam, menghirup aroma "syurga" kalau kataku.


"Bunda bawa jajan?" tanyanya polos


Aku mengangguk sambil membawanya masuk ke dalam rumah. Mbak Dian sedang menyapu rumah ketika aku masuk, aku tersenyum dengan tak enak hati padanya karena telah lewat dari jam biasanya.


"Maaf ya mbak" kataku


"Biasa saja bunda"


Aku lalu masuk kekamar dengan masih menggendong Adam. Sesampainya di kamar, Adam aku letakkan di atas kasur dan aku mengganti pakaianku.


Adam mulai membuka tas ku dan mendapatkan jajan yang tadi aku belikan.


"Kasih ayuk sama kakak ya dek" kataku


Adam menganggukkan kepalanya lalu berlari keluar kamar sambil berteriak


"Ayuk kakak, ada jajan"


Terdengar teriakan dan lari gradak gruduk di luar. Tak lama telah terdengar suara ribut mereka yang rebutan jajan dan suara mbak Dian yang melerai.


"Maafin anak-anak ya mbak, karena mereka rumah jadi kotor lagi, padahal mbak sudah nyapu tadi" kataku lagi-lagi tak enak hati.


"Namanya juga anak-anak bun"


Aku duduk di kursi sambil memperhatikan ketiga anakku makan jajan. Kembali mataku menerawang


"Ya kan bun?" Mikail mengagetkanku dengan tiba-tiba menarik tanganku.


"Apa kak?" jawabku tergagap


"Besok sama ayah sama bunda ya jalan-jalannya" mbak Dian yang menjawab


Aku menoleh tak faham arah omongan mbak Dian, tapi yang kulihat Mikail dan Naura bersorak gembira.


"Bunda melamun terus dari tadi sampai Kakak ngomong tidak bunda jawab-jawab" ucap mbak Dian


Aku menghela nafas berat dan mengusap wajahku.


"Astaghfirullah" lirihku


"Besok bunda tidak ada jam kan?, ajaklah anak-anak jalan-jalan, bunda perlu refreshing" nasehat mbak Dian


"Aku besok ada urusan mbak, aku nitip anak-anak lagi" jawabku lesu


"Bunda baik-baik saja?"


Aku mengangguk.


Sehabis adzan Ashar mbak Dian berpamitan setelah sebelumnya aku memberikan empat bungkus sate yang tadi aku beli buat oleh-oleh untuk Mbak Dian karena telah seharian menjaga anak-anakku.


Hpku berbunyi tanda pesan masuk, segera aku buka karena itu pesan dari Rian.


"*Ini alamatnya mbak, Jl. Kenari no 12 Kelurahan Amula Rahayu"


"Terima kasih Yan*" balasku.


...****************...


Entah ini kebetulan atau entah ini memang rezeki ku, dengan mudahnya aku mendapatkan sebuah rumah dengan nomor yang diberikan Rian kemarin sore.


Aku melewati saja rumah itu, ekor mataku sedikit mengerling melihat suasana di halamannya. Sunyi. Mungkin yang punya rumah memang sedang tidak ada. Karena saat itu memang masih jam kerja.


Aku menjalankan motorku dengan perlahan menuju sebuah warung makan yang tidak jauh dari rumah yang ku intai.


Setelah memarkirkan motor aku duduk di kursi yang telah tersedia dan memesan semangkuk model dan segelas es jeruk. Suasana menjelang siang yang cukup terik membuatku kehausan dan langsung menyeruput es begitu es sampai di hadapanku.


Aku duduk sengaja mengarah kearah rumah bercat krem tersebut, itu tidak lain aku lakukan agar aku bisa tahu ada tidaknya orang di dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Hampir saja aku tersedak begitu aku melihat suamiku keluar dari rumah tersebut. Di belakangnya menyusul seorang perempuan cantik dengan rambut di cat pirang. Aku terus memperhatikan mereka walau jarak antara aku dan mereka lumayan jauh tapi aku begitu jelas melihat gerak gerik mereka.


Tak lama suamiku keluar dengan mobil xenia hitamnya dan berhenti di sebelah perempuan' tadi. Dengan cepat perempuan tadi membuka pintu mobil bagian depan dan mobil melaju pelan. Aku segera memasang masker di wajahku saat mobil mulai berjalan mendekat. Aku hanya melirik saat mobil tersebut lewat di jalan aspal yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatku duduk.


Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Jarum di sana menunjukkan angka sebelas lewat sepuluh menit.


Dengan hati panas aku menghirup kuah model dengan tangan gemetar. Rasa marah dan sedih bercampur aduk.


"Dasar perempuan gatel, ngotor-ngotorin lingkungan saja" aku mendengar penjual yang sudah separuh baya ngedumel tak jelas.


"Kita usir saja yuk, bawa sial lo**e itu" timpal ibu-ibu yang duduk tak jauh dariku.


"Itu laki sama perempuan sama gilanya, bagaimana kalau kita grebek saja"


Mulailah mereka berkasak kusuk ngegosip. Aku memasang telingaku merekam semua perkataan mereka.


Dari omongan mereka yang kutangkap, perempuan yang mereka sebut dengan nama Tina adalah perempuan nakal yang sering bawa lelaki ke kontrakannya.


Dan lelaki yang mereka sebutkan itu menuju kearah suamiku.


"Kalau aku jadi istri sah laki-laki itu uhhhhh sudah aku kasih cabe perempuan gatel itu" ucap seorang ibu dengan geram


Aku tersenyum dalam hati, bahwa bukan aku saja yang geram, merekapun geram rupanya.


"Kena hiv tahu rasa mereka berdua" timpal yang lain tak kalah geramnya.


"Kita laporin RT saja buk biar warga sama RT ngegrebek mereka"


"iya betul, bikin sial kita warga sini saja ulah mesum mereka itu"


"Sayang, cantik-cantik kok jadi lo**te"


"Kalau jelek nggak laku buk"


Mereka tertawa riuh rendah.


Setelah menghabiskan makananku aku segera pergi dari warung itu dan bergegas menuju kantor perempuan itu.


Kantor perwakilan gudang ro**k tempat perempuan itu bekerja tak jauh dari kontrakannya. Aku melihat beberapa orang SPG yang berpakaian minim mulai masuk mobil. Aku tahu ini saatnya mereka menawarkan jualan mereka ke konsumen-konsumen.


Diantara mereka akupun melihat ada Gustina. Tapi aku tidak melihat keberadaan suamiku. Mungkin dia sudah kekantornya.


Aku jadi punya ide, bagaimana jika aku menemui suamiku dikantornya. Karena aku yakin Gustina pasti akan menawarkan rokok kesana.


Tak butuh waktu lama, sekitar dua puluh menit aku telah sampai di ruko tiga lantai tempat dimana suamiku berada.


Kedatanganku mengundang tanda tanya karyawan lain yang mengisi barang ke dalam mobil-mobil box yang terparkir di halaman gudang.


Tampak mereka saling memberi kode menanyakan siapa aku.


Dengan sopan aku bertanya pada seorang security yang sedang berjaga.


"Maaf pak mengganggu, pak Andi nya ada?" tanyaku


Kembali para karyawan saling lirik.


"Mbak Indah?" Rian yang berlari dari dalam langsung menyapa ku dengan kaget.


"Hei" sapaku ceria seolah sudah akrab dengan Rian.


"Istri bos" jawab Rian mengarah ke teman-temannya.


Yang lain saling mengangguk dan melirik penuh arti.


"Pak Andi nya ada Yan?" tanyaku


"Ada mbak, mau saya panggilkan atau mbak masuk sendiri?" tanyanya ragu


"Beliau sibuk tidak?" tanyaku


"Hemmm, kurang tahu mbak" jawabnya bingung


"Oh, ya sudah biar saya telpon saja" ucapku sambil mengeluarkan hp dari dalam tas.


Segera aku mendial nomor Andi dan dia segera menangkatnya


"Hemm" hanya itu jawaban yang kudegar


"Aku diluar kantor kamu sekarang"


Tidak ada sahutan, dan telpon langsung terputus.

__ADS_1


Aku dengan santai mengobrol dengan Rian. Tampak sesekali karyawan yang lain berjalan membungkuk sambil mengangguk kearahku.


Aku membalas dengan anggukan dan senyuman ramah.


"Ahh sayang, tumben kamu kesini" Andi yang muncul dari dalam kantor langsung memelukku.


Mata para karyawan yang melihat Andi memelukku langsung saling lirik satu sama lain.


Rian segera melangkah mundur begitu Andi sampai.


"Makasih ya Yan" ucapku


Andi menatap heran kepadaku. Tapi aku tak menghiraukannya.


"Masuk yok sayang" Andi merengkuh pundakku berjalan masuk.


Beberapa karyawan tampak tersenyum dikulum tatkala melihat aku masuk bersama Andi.


Aku segera duduk di kursi yang empuk di ruangan kerja


suamiku yang untuk pertama kalinya aku datangi. Aku mengitari ruangan tersebut, dan mataku tertumbuk pada satu kursi yang ada dalam video yang Rian berikan padaku.


Aku menghela nafas dalam saat aku mengingat video tersebut.


"Apa maksud bunda kesini?" Andi bertanya dingin


Berbeda sekali perlakuannya saat di luar tadi.


Aku tersenyum sinis ke arahnya.


"Pengen ngeliat saja bagaimana suamiku bekerja" jawabku datar


Andi tersenyum menyeringai. Tampak sekali ketidaksukaannya.


"Tenang, aku tidak lama kok, aku cuma mampir. Tadi aku ada pertemuan dengan rombongan yayasan kota, makanya aku sekalian mampir" bohongku


Andi diam dan dia sama sekali tidak duduk di dekatku, dia duduk di kursi kerjanya.


Aku tidak mempermasalahkan itu. Toh antara kami memang sedang tak akur, jadi wajar jika kami saling menjaga jarak.


Terdengar ketukan pintu dari luar. Andi segera beranjak dari kursinya dan membukakan pintu.


"Ada spg rok** pak" rupanya yang datang adalah Rian.


Andi tampak kaget dan berpura-pura bersikap biasa saja


"Sampaikan pada spg itu aku tidak merokok" ucap Andi


Aku melengos mendengar ucapannya.


Andi segera menutup pintu dan berjalan kearahku. Lalu duduk berhadap-hadapan denganku.


"Kenapa tidak disuruh masuk, aku juga kepingin kenal dengan wanita yang telah dengan rela melayani suamiku di ranjangnya" ucapku sinis


Andi membuang nafas kasar.


"Oh, aku mengganggu waktu bercinta kalian ya?" ucapku lagi-lagi dengan sinis


"Jaga ucapan mu!" bentak Andi


"Ups" aku menutup mulutku.


"Sayang ya, kantor sebesar ini tidak ada cctv nya, coba kalau ada, terekam semua itu perbuatan kalian berdua" aku berkata masih dengan santainya.


Saat mulut Andi mau berkata aku segera berdiri dari kursiku dan berjalan menuju kursinya.


"Ingat Andi, jabatan itu hanya titipan, bila Alloh berkehendak maka dengan mudahnya kamu kembali jadi bawahan"


"Kamu menyumpahiku?" suara Andi meninggi


Aku menoleh kearahnya dan memasang wajah datar


"Karma itu ada Andi, apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai"


Andi mendengus kesal. Tampak rahangnya mengeras menahan marah.


"Aku pulang ya, aku tak tahan diruangan ini, aku mencium ada aroma-aroma sp**ma yang berceceran di ruangan ini" ucapku sambil meraih tas yang tadi aku letakkan di atas meja dan berjalan meninggalkan Andi dengan muka merah padamnya.


Sesampainya di luar kantor aku segera berpamitan dengan security dan Rian yang rupanya menungguku.


"Mbak pamit Yan, assalamualaikum" ucapku

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab mereka berbarengan.


Aku segera menganggukkan kepala kearah yang lain untuk berpamitan dan lalu menuju parkiran motor dan mengambil motorku


__ADS_2