Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Aku Harus Pergi


__ADS_3

Karena tak ingin penasaran, niat awal yang ingin ketoilet, aku urungkan. Aku segera berjalan kearah meja pak Abraham


Abraham yang sejak tadi memang membuntuti Indah, ketika Indah mendekatinya bersikap biasa saja


"Bapak juga disini, tidak mungkin ini kebetulan" ucapku ketika aku sudah di dekat pak Abraham


Pak Abraham tersenyum kearahku sambil mengulurkan tangannya.


"Apa kabar Ndah?" tanya pak Abraham


Aku segera menyambut tangan beliau lalu berpindah menyalami pak Tomo


"Aku tahu, bapak pasti disuruh tuan Ozkan, kan?" ucapku pelan karena aku tak ingin menjadi perhatian pengunjung yang lain


Pak Abraham tersenyum, aku melengos melihat jawabannya. Tanpa beliau menjawab aku sudah tahu


"Mau apalagi tuan Ozkan menyuruh bapak membuntutiku?"


"Mbak Indah pasti tahu jawabannya" balas pak Abraham


Aku menghembus nafas berat


"Tolong bapak sampaikan pada beliau, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah nyaman bekerja di sini, aku dapat majikan yang baik, dapat gaji yang besar, itu artinya awal mula tujuanku kesini Insha Alloh akan tercapai" jawabku putus asa


"Kami hanya menjalan perintah, mbak" jawab pak Tomo


Lagi aku menghembus nafas dalam


"Aku terima kebaikan bapak berdua, tapi tolong jangan rusak pekerjaanku, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini" jawabku panik


"Kami tidak akan merusak reputasimu mbak, kami hanya akan menyampaikan apa yang kami lihat pada bos, itu saja" sambung pak Tomo


Aku diam, aku bingung harus berkata apalagi agar dua bodyguard ini mengerti


"Maaf aku tinggal pak, aku tidak ingin majikan saya curiga karena saya tinggal lama" jawabku akhirnya sambil segera berdiri dari kursi lalu menuju toilet seperti niatku semula.


"Kok lama?" tanya ummi saat aku duduk di depan beliau


"Ehm, itu ummi" jawabku bingung.


"Ya sudah, cepat habiskan makananmu, kita kembali lagi kekantor, pekerjaan kita masih banyak" ucap ummi


Aku segera menyendok makanan kedalam mulutku, sambil sesekali melirik kemeja pak Abraham.


Setelah selesai makan siang, aku dan ummi segera keluar dari dalam cafe tersebut lalu kembali berjalan menuju kantor kami


Sebenarnya bisa saja kami naik mobil, tapi ummi ingin kami berjalan, selain sehat juga karena tempatnya tak jauh dari kantor.


Aku yang mengetahui jika aku sekarang diawasi pak Abraham menjadi sedikit tidak tenang. Aku takut jika mereka ketahuan dengan ummi, maka ummi akan meragukan karakterku.


Setiba di kantor aku segera kembali fokus menatap layar komputer, kembali sibuk bekerja. Begitu seterusnya setiap hari hingga akhir tahun.


Sampai hari ini, ini adalah hari terakhir seluruh karyawan bekerja, karena besok tanggal 31 Desember kami semua akan libur akhir tahun dan akan kembali bekerja tanggal 02 Januari.


Maka hari ini, kami seluruh karyawan sangat sibuk. Kami lembur hingga sampai jam sepuluh malam.


Ummi sudah pulang duluan tadi, dan aku menolak ajakannya karena pekerjaanku belum kelar.


Setelah ummi menjanjikan akan mengirim supir untuk menjemputku lalu ummi pulang, dan aku kembali berkutat dengan pekerjaan.


Saat seluruh karyawan sudah memilih pulang, aku juga bersiap untuk pulang.


Sekarang aku sedang berada di dalam lift. Tak butuh waktu lama, maka aku sudah sampai di lobby kantor.


Aku segera keluar berbarengan dengan karyawan yang lain. Karena mereka sudah mengenalku, jadi tak butuh basa basi lagi untuk kami saling mengobrol.

__ADS_1


Saat tiba diluar kantor, aku celingukan karena mobil jemputanku belum juga datang.


Aku segera memundurkan kakiku, ketika ada sebuah mobil berhenti tepat di depanku.


Saat kaca depan mobil tersebut dibuka, aku nyaris saja berteriak karena kaget.


Di dalam sana ada tuan Ozkan yang memamerkan senyum manisnya kearahku.


Aku menelan ludah demi melihat tuan Ozkan di depan mataku. Karyawan yang mulai berkurang saat itu hanya melambaikan tangan kearahku ketika taksi mereka datang. Aku membalas lambaian tangan mereka dengan senyum yang begitu kaku.


Sampai akhirnya tinggal aku saja yang belum dijemput. Aku makin gelisah, sementara tuan Ozkan masih duduk dibelakang kemudi dengan mata masih memandang tajam kearahku


Karena putus asa menunggu jemputan yang tak kunjung datang, akhirnya aku memilih berjalan meninggal tuan Ozkan.


Aku segera mempercepat langkahku dengan harapan segera mendapatkan taksi agar aku bisa terhindar dari tuan Ozkan.


Ozkan yang menyadari jika Indah menghindarinya segera turun dari dalam mobil lalu mengejar Indah


Tanganku segera ditarik tuan Ozkan ketika beliau dapat mensejajari langkahku


Aku terpaksa berhenti dan menghindari tatapannya


"What happen Indah?, why you ran?"


Aku diam saja. Aku tak berani menatap mata tajamnya.


"Tidakkah kau merindukanku Indah?" lirih Ozkan dengan suara pilu


Aku menggigit bibirku. Aku bergeming, aku masih berharap jika jemputanku segera datang


"Indah, tolong bicara sama abang, jangan diam begini"


Aku menarik nafas dalam lalu dengan keberanian yang kukumpulkan aku mendongak menatap matanya


Ya Rabb, mata itu, batinku


"Abang sangat merindukan kamu Indah"


Aku masih diam, aku masih menikmati mata itu. Mata yang begitu mempesona bagiku, mata yang bisa membuat jantungku serasa melompat dari tempatnya


Karena tak juga mendapat jawaban dari Indah, Ozkan dengan lancang menarik Indah kedalam pelukannya


Aku yang tak menyangka akan mendapatkan serangan yang begitu tiba-tiba, tidak bisa menghindar saat tubuh jangkung itu mendekapku


Aku merasakan bagaimana tuan Ozkan memelukku erat, menciumi puncak kepalaku dan mengusap-usap bahuku


Aku yang memang sangat merindukannya hanya diam saja dan menghirup dalam-dalam aroma maskulin tubuhnya. Aku memejamkan mataku berharap bahwa waktu akan berhenti


"Kembali, kembalilah sama abang, Ndah. Abang tidak bisa jauh dari kamu" lirih Ozkan sambil masih memeluk erat Indah


Mendengar ucapan Tuan Ozkan, aku membuka mataku. Perlahan aku meregangkan tanganku yang memeluk pinggangnya.


Mundur sedikit lalu membenarkan hijabku.


"Mengapa tuan disini?" tanyaku sambil mendongak kearahnya


Ozkan mengusap kasar wajahnya


"Apakah kamu tidak bisa memanggilku dengan sebutan abang lagi?" tanya Ozkan sedih


Aku diam sambil masih menatap matanya


"Bisakah kita kembali seperti dulu Indah? bisakah kau manja dan mencintaiku seperti dulu?" tanyanya frustasi


Aku tersenyum hampa

__ADS_1


"Aku mencintai seorang Ariadi, bukan tuan Ozkan" jawabku pelan


Ozkan mengusap wajahnya


"Aku Ariadi, Indah. Ariadi mu. Lelaki yang kau cintai" jawab Ozkan frustasi


Aku menggeleng


"Ariadiku telah pergi, dia tidak ada lagi. Ariadiku telah melukaiku, dia telah membohongiku, dan aku telah melupakannya. Bagiku dia tidak ada lagi" jawabku pilu sambil berurai airmata


Ozkan kembali menarik Indah dalam pelukannya.


"Maafkan abang Indah. Maafkan abang, abang sangat mencintai kamu. Tolong maafkan abang"


Aku menangis dalam pelukan abang, aku peluk erat dirinya. Airmataku yang sejak tadi aku tahan, aku biarkan tumpah semua.


Untuk beberapa saat aku terus menangis di pelukannya. Setelah tenang, aku melepas pelukanku lalu menghapus kasar sisa airmata di wajahku


Dengan perlahan Ozkan membawa Indah masuk kedalam mobilnya. Sesampai di dalam mobil kembali mereka berpelukan.


"Abang mencintaimu Indah, sangat mencintaimu"


Aku hanya diam tak mampu menjawab karena airmataku sudah kembali mengalir saat kami berpelukan


"Berjanjilah sama abang, jika kamu tidak akan pernah meninggalkan abang"


Aku mendorong dadanya. Kuhapus sisa airmata, lalu memandang tajam kearah abang


"Tolong tinggalkan aku, jangan ganggu aku lagi, jangan ganggu cita-citaku"


Kening Ozkan berkerut demi mendengar jawaban Indah


"Maksud kamu apa?" tanyanya bingung


"Tuan sudah tahu apa tujuanku kesini. Aku ingin mewujudkan mimpi ketiga anakku dan membalaskan dendamku!"" jawabku emosi


Ozkan mengusap kasar wajahnya


"Tolong jangan halangi mimpiku, tolong lepaskan aku. Tuan bisa mencari banyak perempuan diluar sana yang setara dengan tuan. Aku tidak pantas bersanding dengan tuan. Apalah artinya aku yang hanya sebutir debu dibandingkan dengan tuan yang segunung berlian"


Ozkan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya mendengar ucapan Indah.


"Aku mencintaimu tanpa syarat Indah. Percayalah!" jawab Ozkan frustasi


"Aku pernah mengalami masa sulit tuan, dimana aku tidak direstui karena kami berbeda suku, dan sekarang? perbedaan kita bukan hanya suku tapi budaya dan negara kita juga berbeda. Aku yang dulu satu negara dan satu daerah saja ditentang, apalagi ini yang begitu banyak perbedaan. Aku tak mau kejadian masa laluku terulang lagi" jawabku lirih


"Orangtua abang pasti menerima kamu Indah. Percaya sama abang!"


Aku menggeleng


"Jika tuan memang mencintaiku, tolong lepaskan aku. Biarkan aku mengejar mimpiku" jawabku sambil kembali menangis


Ozkan yang tak tahan melihat Indah menangis segera memeluk erat Indah lagi


"Aku sangat mencintaimu abang, sangat mencintaimu, tapi ini terpaksa aku lakukan" lirihku pilu


Ozkan semakin erat memeluk tubuh mungil Indah. Tak terasa airmatanya juga mengalir


"Biarkan aku berusaha untuk pantas bersanding bersamamu, ketika aku sudah merasa bahwa aku pantas, maka aku akan kembali padamu, namun jika sampai akhir hayat itu tidak bisa juga aku penuhi, setidaknya aku bahagia bahwa aku pernah dicintai seorang Ozkan" lirihku pilu


Lalu aku segera mendorong tubuh Tuan Ozkan, dengan cepat membuka pintu mobil lalu segera turun dan berlari dengan airmata yang berhamburan keluar dari mataku


Disaat yang bersamaan mobil yang biasa mengantar jemput aku dan ummi muncul.


Melihat mobil itu berhenti, aku segera masuk dan dengan cepat menutup wajahku sambil menangis tersedu-sedu

__ADS_1


Ozkan yang melihat kepergian Indah hanya diam terpaku, airmatanya langsung mengalir tanpa sadar. Kembali dia merasakan hampa di dalam hatinya, tapi kali ini rasa itu jauh lebih sakit dan jauh lebih terluka


__ADS_2