
"Kalian bertiga ikut saya ke Jeddah!" ucap Ozkan ketika dia dan Abraham sudah turun dari pesawat yang membawa mereka dari Lubuklinggau
Ketiga bodyguard berbadan besar itu saling toleh dan tak berani protes setiap kata perintah yang diucapkan Ozkan.
Mereka terus berjalan di belakang Ozkan dengan tegap dan penuh kewaspadaan
Wajah Abraham tampak bingung, tapi dia memendam perasaannya. Dia khawatir akan kena semprot jika dia menolak
"Beli empat tiket!" ucapnya kearah Abraham
Abraham mengangguk dan segera memutar badannya kearah loket. Ozkan yang menangkap perubahan pada wajah Abraham segera menghentikan langkah bodyguard terdekatnya
"Berhenti kamu!!" ucapnya dingin
Abraham menghentikan langkahnya dan memutar balik badannya menghadap kearah Ozkan lagi
"Kamu kenapa?" tanyanya
Abraham diam, tidak berani menjawab
"Dari Lubuklinggau kamu kelihatan biasa saja. Terus kenapa ini ketika kita sampai Jakarta malah kamu berwajah tegang begitu?"
Abraham tampak menghembus nafas dalam, Tomo dan Binsar juga kelihatan tegang
"Tidak mau jawab?!" ucap Ozkan lagi dengan nada dingin yang sama
"Istri saya mau melahirkan bos.
Itulah sebabnya saya bingung mau ikut ke Jeddah" jawab Abraham takut-takut
Wajah Ozkan yang semula dingin berubah lunak dan ramah
"Kenapa kamu tidak bilang, bodoh!!" ucapnya sambil menepuk pundak Abraham
Abraham tersenyum kaku
"Saya takut bos" jawabnya
Ozkan untuk pertama kalinya tersenyum di depan ketiga bodyguardnya
"Kembali ke apartemen kita!" ucapnya
Dengan sigap, kembali ketiga bodyguard besar itu mengikuti langkah Ozkan.
Berempat mereka naik mobil yang dikendarai Tomo
"Kapan kamu menikah?" tanya Ozkan ketika mereka di perjalanan
Abraham yang duduk di sebelahnya menoleh dan menjawab
"Hampir lima tahun ini, bos!"
Ozkan yang semula pandangannya lurus kedepan langsung menoleh dan menatap tajam Abraham
"Lima tahun?!"
Abraham mengangguk, dan dia yakin jika dia akan kena marah
"Kenapa tidak kasih tahu saya!!!" bentak Ozkan
Binsar yang duduk di depan sampai terlonjak kaget, begitu juga dengan Tomo
"Karena saat itu bos sedang terpuruk karena mbak Indah" lirih Abraham
Ozkan mengusap wajahnya
"Bos macam apa saya ini. Apa yang terjadi dengan anak buah saya sendiri sampai saya tidak mengetahui" batinnya
"Antarkan saya kerumah kamu!"
"Tapi bos, penerbangan bos bagaimana?" tanya Binsar
__ADS_1
"Itu urusan gampang!" sahut Ozkan
Tanpa bertanya, Tomo segera melajukan mobil kearah daerah tempat Abraham tinggal.
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah asri berdesain minimalis. Tomo segera turun dan membuka pintu mobil untuk Ozkan.
Abraham juga turun dan berjalan kearah rumahnya yang pintunya terbuka
"Papaaaa...." teriak anak lelaki kecil berlari ketika melihat Abraham
Abraham langsung menangkap anak lelaki itu dan mengangkatnya, dan memutar-mutarkan badannya, anak kecil tersebut tertawa riang saat Abraham mengangkatnya
Ozkan tersenyum melihat pemandangan di depan matanya
"Apakah aku nanti bisa seperti ini?" batinnya
Binsar dan Tomo berdiri tegap di belakang Ozkan. Abraham segera mempersilahkan Ozkan dan dua sahabatnya masuk
Seorang perempuan dengan perut besar berjalan kedepan ketika didengarnya anaknya berteriak
Abraham segera berdiri dan mencium kening istrinya
"Bos saya" lirihnya menoleh pada Ozkan yang menatap iri mereka
Tangan istri Abraham terulur, dan dengan setia Abraham menarikkan sebuah kursi besar untuk istrinya duduk
Dengan kesusahan istri Abraham duduk.
Lalu Abraham masuk kedalam dan telah keluar dengan membawa nampan berisi air putih dan dua toples makanan ringan.
Lalu Abraham sendiri menarik kursi untuk dirinya dan duduk di depan istrinya.
Tanpa canggung Abraham segera mengangkat kedua kaki istrinya dan diletakkannya di pangkuannya.
"Diminum bos, bro!" ucapnya kepada Ozkan dan sahabatnya
Dengan santai Abraham memijit kaki istrinya yang sudah tampak bengkak. Hati Ozkan makin iri saja melihat kelakuan manis Abraham pada istrinya
"Tinggal menunggu hari bos, makanya saya tidak bisa ikut bos!" ucap Abraham tanpa mengalihkan perhatiannya pada sang istri
Ozkan tampak menganggukkan kepalanya, faham
"Saya bahagia Abraham melihat kamu sekarang, kamu sudah ada mengurus, tidak luntang lantung lagi" ucap Ozkan sambil mereguk air dingin di gelasnya
Abraham dan istrinya tersenyum.
"Ini semua berkat bos" jawab Abraham
Lalu mengalirlah obrolan ringan mereka. Jika biasanya suasana akan tegang karena ketiga bodyguard takut dengan Ozkan, maka kali ini suasana berubah hangat dan penuh kekeluargaan.
Bahkan saat Ozkan dan dua bodgyguard lain berpamitan, Abraham berkata
"Saya doakan semoga bos bisa meraih kebahagiaan dan impian yang selama ini bos nantikan"
Ozkan tersenyum sambil menepuk pundak Abraham, lalu mengelus kepala anak lelaki Abraham
"Kabari saya jika istrimu telah melahirkan, dan iya, gaji kamu bulan ini saya tambah tiga kali lipat, anggaplah itu sebagai kebahagiaan saya melihat anak istrimu"
Wajah Abraham berubah sumringah ketika melihat notikasi masuk di smartphonenya, lalu dia kembali menjabat tangan Ozkan dengan hangat
...****************...
"Loh, kok abang sudah di kantor?" tanyaku ketika aku melihat abang telah duduk di kursinya
Ozkan mengulurkan tangannya dan aku segera maju meraih tangan abang dan mencium punggung tangannya, tapi abang malah menarikku dalam pelukannya
"Mana bisa abang lama-lama jauh dari kamu" bisik Ozkan
Aku tersenyum sambil mengeratkan pelukanku.
"Sudah ah, pagi-pagi sudah romantis-romantisan, ketahuan ummi kena marah kita" ucapku sambil melepas pelukan pada tubuh abang
__ADS_1
Ozkan tersenyum sambil menghembus nafas berat ketika melihat Indah berjalan kearah kursinya.
Lalu aku mulai membuka laptop, bekerja dan membuat laporan. Ozkanpun melakukan hal yang sama.
Lelah semalaman dalam pesawat hilang begitu dia melihat wajah Indah. Bahkan dia semakin bersemangat karena telah mengantongi restu dari kedua orang tua Indah
Mereka berdua bekerja secara profesional, ketika Indah butuh bantuan tak sungkan dia akan bertanya pada Ozkan, karena dia mengetahui, Ozkan sangat memahami dunia kerja dan dunia bisnis.
Begitu juga dengan Ozkan, dia tidak segan mengajari apapun itu pada Indah. Dia ingin membuat wanita itu percaya diri jika bersanding dengannya, dia ingin membuat Indah yakin jika dia pantas berdiri di samping Ozkan
"Sayang, kita makan yuk" ucap Ozkan mengeluarkan bungkusan yang tadi di letakkannya di sudut meja kerjanya saat jam istirahat
Aku yang masih fokus menatap layar laptop hanya menjawab dengan gumaman
Ozkan membuka bungkus makanan dan mengeluarkan isinya. Dibukanya penutup lunch box yang terbuat dari stainless tersebut dan tertegun melihat isi makanan yang ada di dalamnya
Di ciumnya makanan tersebut ingin memastikan jika makanan ini masih layak, lalu sedikit dia mencobanya dan matanya berputar demi merasakan makanan yang baru seumur hidup dimakannya itu
"Enak, tapi kok begini ya?" gumamnya
Aku yang mendengar gumaman abang, mengangkat kepalaku dan melihat kearahnya
"Ada apa bang?" tanyaku
Ozkan menoleh pada Indah dan menunjukkan lunch box di tangannya
Aku yang penasaran dengan ekspresi abang segera berdiri dan berjalan kearah mejanya
Mataku langsung terbelalak dan berbinar bahagia. Tanpa permisi aku segera mengambil lunch box di tangan abang mencium aroma makanan tersebut dengan nafas dalam
"Dari mana abang dapat ini?" tanyaku menatapnya menuntut jawaban
Ozkan menelan ludah, bingung harus menjawab apa
Aku segera mengambil sendok yang juga ada dalam kantong plastik di depan abang, lalu menyendokkan makanan itu kemulutku
"Ini masakan umakku" lirihku dengan mata yang langsung berkaca-kaca begitu makanan itu masuk kedalam mulutku
"Katakan padaku, abang dapat ini dari mana?" tanyaku makin penasaran
Ozkan masih diam dan makin bingung ketika airmata Indah sudah mengalir
Karena masih tidak mendapat jawaban abang aku segera menarik kantong plastik yang masih tergeletak di meja.
Mengeluarkan semua isinya. Dan aku makin terisak melihat seluruh isinya.
"Ini aroma nasi khas beras Merasi, dan ini juga sambal tempoyak ikan khas Lubuklinggau, dan ini, ini daun kemangi, umak sangat tahu jika aku sangat suka lalap daun kemangi. Dan ini, ini ikan nila panggang besar dengan bumbu kunyit, cuma umakku yang tahu kesukaanku" ucapku dengan terisak
Aku segera menyendokkan nasi lembut pulen tersebut kemulutku, diikuti dengan sambal ikan tempoyak kesukaanku.
Aku memakan makanan itu dengan air mata yang terus mengalir
"Cuma umak yang bisa masak seenak ini" tambahku masih terisak
Ozkan bangkit dari kursinya dan pindah kesebelah Indah, mengelus kepala wanita yang sangat dikasihinya itu
"Jawab aku, abang dapat ini dari mana?, seluruh Arab Saudi tidak ada makanan seperti ini. Ini hanya ada di Sumatera" lirihku tanpa menoleh pada abang
Aku lalu memutar sendok yang sejak tadi aku pakai untuk makan
"Indah"
Di belakang sendok itu terdapat namaku. Aku lalu menoleh cepat kearah abang yang masih menatap dalam kearahku
"Sendok ini cuma ada di rumah orang tuaku, di sini ada namaku. Karena seluruh perabotan umakku diberi merk dengan namaku, dengan alasan agar tidak tertukar dengan tetangga bila dipinjam"
"Abang masih belum mau menjawab?" tekanku
Ozkan mengambil lunch box di tangan Indah. Dan aku kembali menatap lunch box yang abang letakkan, mengambilnya dan mengangkatnya
Aku langsung menangis tersedu, karena di sana kembali aku mendapati ada namaku
__ADS_1
"Ini semua milik umakku" tangisku pecah