
Aku melihat bagaimana Mikail yang berjalan segera dipeluk teman semasa kecilnya, secara bergantian mereka saling peluk
Juga kulihat Mikail langsung membungkuk bersujud di pangkuan kiyai yang menepuk-nepuk bahunya dan mengusap-usap kepalanya
Kulihat Mikail tampak menyusut matanya, aku yakin Mikail sangat merindukan kiyai nya tersebut
Lalu menyusul pula keempat sahabat Mikail, secara bergantian mereka menyalami kiyai tadi
Pak RT hanya menatap bengong dan niatnya yang tadi hendak memandu acara terhenti mendadak
Mikail segera berjalan, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti ketika di dekat teras ada abang yang berdiri dengan merentang kedua tangannya
Pelukan hangat yang abang beri untuk Mikail mampu membuat seluruh tamu undangan yang hadir terkesiap dan saling berbisik-bisik
"Jika tidak tuan itu baik hati, tidak mungkin itu si Mikail akan begitu erat memeluknya" bisik sebuah suara
"Anak-anak yang beruntung" timpal yang lain
Kembali rombongan Brendi, Alfath, Marko dan Budiman bertemu abang. Dan keempatnya mencium punggung tangan abang dengan takzim
Giliran Mikail tiba di dekatku, dia segera mencium punggung tanganku dan mencium keningku dengan dalam
"Acara kita pending sejenak" ucap pak RT, karena dilihatnya jika seluruh keluargaku memeluk erat Mikail
Selagi acara di pending, pak RT mempersilahkan seluruh tamu undangan untuk memakan kue yang kotak kuenya telah ada di tangan masing-masing hadirin undangan
Akmar yang melihat lima orang bertubuh tegap masuk agak sedikit terkesiap, terlebih ketika dilihatnya satu diantara mereka memeluk erat Naura yang tampak meneteskan air mata
Akmar ingat, dulu ketika dia menghadiri acara wisuda Naura, pria muda itu pernah video call dengan Naura
"Oh, jadi ini adiknya yang tentara itu" batinnya
Adam yang begitu melihat jika Mikail masuk langsung melompat kebelakang sang kakak. Dan berpelukan erat lah mereka
Kak Andri mendekat kearah pak RT memberitahu jika yang memimpin tahlil bukanlah Adam lagi melainkan Mikail
Setelah selesai bertemu seluruh keluarga besarnya, Mikail lalu duduk di luar, di sebelah sang kiyai.
Sedangkan keempat sahabatnya duduk di sebelah Ozkan
Acara tahlilan dimulai setelah sebelumnya ada ucapan permintaan maaf dari pak RT kepada pada tamu undangan
Mikail meminta izin kepada sang kiyai sebelum dia memimpin tahlil.
Kembali aku harus bangga dengan anak-anakku. Semoga bukan hanya ilmu dunia yang mereka kuasai tapi juga ilmu agama
"Aku berhasil mengantarkan ketiga anakku, Andi..." batinku
Acara terus berlanjut, bukan hanya tahlil yang dipimpin Mikail, tetapi juga doa dia yang memimpin
Doa yang disampaikan Mikail sangat menyentuh hati, selain doa dalam bahas Arab, dia juga secara khusus mendoakan ayahnya menggunakan bahasa Indonesia
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Aa’fu ‘anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkhalahu, Waghsilhu Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihii Minal khathaa Ya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas. Wa Abdilhu Daaran khairan Min Daarihii Wa Ahlan Khairan Min Ahlihii Wa Zawjan Khairan Min Zawjihi, Wa Adkhilhul Jannata Wa A ‘Idzhu Min ‘Adzaabil Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzaabin Naar.”
__ADS_1
"Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah ayah kami. Dan muliakanlah dia di tempat tinggalnya, luaskan lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan dan dosa seperti baju putih yang bersih dari kotoran.
Dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya pula. Masukkan lah dia ke dalam surga-Mu, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.”
"Kepada ayah yang telah pergi terlebih dahulu. Di sini aku terus berdoa untukmu."
"Ayah, semenjak kepergianmu, rasanya hidup begitu rumit. Aku sangat ingin menceritakannya padamu."
"Ayah, seandainya kau masih di sini, aku ingin bermain denganmu seperti dulu dan menceritakan banyak hal tentang hidupku. Tetapi sekarang aku hanya dapat dekat denganmu, dalam doaku."
"Aku percaya, engkau pun sebenarnya tidak pernah ingin meninggalkan kami."
"Kepergianmu membuatku mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, kepergianmu pun mengajarkan bahwa Alloh selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan."
"Ya Allah, haramkan wajah ayahku dari disambar oleh api neraka. Karunia kan buatnya surga tanpa hisab."
Naura yang mendengar suara Mikail, sudah terisak-isak.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا
Allāhummaghfir lil muslimīna wal muslimāt, wal mukminīna wal mukmināt, al-ahyā’i minhum wal amwāt, min masyāriqil ardhi ilā maghāribihā, barrihā wa bahrihā, khushūshan ilā ābā’inā, wa ummahātinā, wa ajdādinā, wa jaddārinā, wa asātidzatinā, wa mu‘allimīnā, wa li man ahsana ilainā, wa li ashhābil huquqi ‘alaynā.
"Ya Allah, ampunilah mukminin, mukminat, muslimin, muslimat, yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut, khususnya bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, mereka yang telah berbuat baik terhadap kami, dan mereka yang masih memiliki hak terhadap kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ. اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ وَالشَّفَاعَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لَاالَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ
Allāhummaghfir lahum, warhamhum, wa ‘āfihim, wa‘fu ‘anhum. Allāhumma anzilir rahmata, wal maghfirata, was syafā’ata ‘alā ahlil qubūri min ahli lā ilāha illallāhu Muhammadun rasūlullāh.
“Ya Allah, berikanlah ampunan, kasih sayang, afiat, dan maaf untuk mereka. Ya Allah, turunkan lah rahmat, ampunan, syafa’at bagi ahli kubur penganut dua kalimat syahadat.”
Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin
Tausiyah singkat dari pak Kiyai berhubungan dengan mengingat kematian
Setelah menerima mic, pak kiyai berdiri dari tempat duduknya, seluruh tamu undangan langsung fokus menatap beliau
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Jemaah dan para tamu undangan semua yang saya cintai,
Ingatlah bahwa di dunia ini ada kehidupan dan ada pula kematian.
Kematian adalah takdir yang sudah pasti dan tidak bisa kita negosiasikan.
Kematian sendiri merupakan gerbang pertama yang harus kita lewati untuk mencapai akhirat.
Prosesnya tidaklah mudah karena
Rasulullah saw. bersabda dalam HR. Bukhari:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya di dalam kematian terdapat rasa sakit.”
Ketika nyawa dicabut napas kita akan tersengal, mulut terkunci, anggota badan kita tanpa daya, dan pintu taubat pun tertutup.
__ADS_1
Pada saat itu tak ada yang bisa menghindarkan kita dari sakaratul maut
Oleh sebab itu, tanyakan pada diri kita sendiri, sudah siapkah kita menghadapi kematian? Sudah cukupkah bekal yang kita miliki selama ini? Pantaskah kita untuk bertemu Rabb kita? Layakkah kita untuk ditempatkan di dalam surga beserta kemewahan di dalamnya?
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang beriman yang senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat sehingga kita bisa mati dengan husnul khatimah. Mati dengan rida dari Allah Subhana Huwata'ala
Sebagaimana bunyi ayat 27-30 dalam surah Al-Fajr, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku,”
Semoga kita semua bisa mempersiapkan bekal yang cukup untuk menghadap Sang Khalik
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Tampak semua tamu undangan terpekur setelah tausiyah selesai, meresapi setiap kalimat dan kata yang disampaikan sang kiyai
...****************...
Selesai acara tahlilan, kiyai tak langsung pulang, beliau dan santri-santri tampak mengobrol akrab dengan Mikail dan sahabat-sahabatnya
Sedangkan Akmar dan Adam ikut dengan Ozkan bergabung dengan karyawan Cabang Salam Group
Mereka datang khusus karena penasaran dan ingin bertemu langsung dengan Ozkan, yang selama ini hanya bisa mereka dengar namanya saja
Naura, Serkan dan Defne segera naik ke atas, mereka langsung berselancar di dunia maya
Naura membuka WhatsApp, meminta maaf dan mengucapkan rasa terima kasihnya atas ucapan dan doa dari teman-temannya
Sedangkan Serkan dan Defne sibuk video call dengan tuan Yusuf Yilmaz.
Mereka bercerita bagaimana kampung halaman mamanya dan bagaimana di Indonesia orangnya sangat ramah dan penuh kekeluargaan
"Büyükbaba buraya gelmeli, büyükbaba kesinlikle bundan hoşlanacak"
"Burası çok heyecan verici, Cidde'de bulamadığımız o kadar çok şey var ki burada"
(Kakek harus datang kesini, kakek pasti akan suka.
Disini sangat seru kek, ada begitu banyak hal yang tak kami temukan di Jeddah, ada disini)
Nyonya Aylin ikut antusias mendengarkan cerita kedua cucunya
_Sedangkan Di luar_
Setelah rombongan Kiyai pulang, Mikail berpindah mendekati rombongan Ozkan yang masih tampak hangat mengobrol
Dengan sopan Mikail menyalami semua teman ayahnya dulu. Bahkan Afdal memeluknya, yang membuat Mikail terperangah
"Dulu oom pernah bertemu kamu ketika kalian tinggal dikontrakan, saat itu kamu masih sangat kecil" ucap Afdal menerawang sambil menoleh kearah pak Abraham yang berdiri di belakang Ozkan
Pak Abraham tersenyum mendengar ucapan Afdal
"Waktu itu oom bersama pak Abraham"
Mikail langsung menolah kearah pak Abraham, menatap penuh haru pada lelaki tegap dan dingin yang ternyata telah menjaganya sejak dia kecil
Lalu Mikail melirik kearah Akmar yang sejak tadi menatapnya, mengulurkan tangan, menyalaminya
__ADS_1
"Jika tidak keberatan, bisa kita bicara empat mata?" ucap Akmar
Mikail tampak terkejut, tapi dia segera mengangguk