
"Nona, saatnya saya kembali ke Jeddah" ucap pilot pesawat jet pribadi nona Alima ketika aku duduk setelah keluar dari ruangan abang
Aku dengan wajah yang masih bergelayut mendung menoleh padanya
"Terima kasih banyak pak" lirihku
Beliau mengangguk, lalu beliau menoleh pada pak Binsar yang juga masih berdiri di depan pintu ruang ICU
"I back to Jeddah, please save her"
Pak Binsar mengangguk lalu mendekati kami, dan duduk di sebelahku
"Maafkan saya karena tidak bisa menjaga dan melindungi pak Ozkan"
Aku menarik nafas dalam mendengar ucapannya
"Tolong doakan keselamatannya pak" lirihku
Pak Binsar mengangguk. Lalu pilot nona Alima menyalami kami berdua, lalu setelahnya beliau pergi meninggalkan rumah sakit
Lalu kami berdua kembali sama-sama diam, aku terkejut ketika smartphone di saku jaketku berdering
"Nona Alima" gumamku ketika tersadar jika dari subuh tadi aku belum mengabarinya
"Bagaimana Ozkan?" suara nona Alima langsung terdengar ketika panggilan tersambung
"Belum sadar" jawabku lemas
"Kamu yang kuat ya Ndah, percayalah jika semuanya akan baik-baik saja"
"Terima kasih nona, maaf karena saya lupa mengabari nona"
"Tak mengapa, saya mengerti"
Ku lihat pak Binsar berdiri dan berjalan menjauh. Aku tidak mempedulikannya, aku terus mengobrol dengan nona Alima, terkadang diselingi dengan isakan tangis.
"Jangan dulu pulang, pastikan Ozkan sembuh total"
"Tapi nona?"
"Pekerjaan kamu sudah saya hubungi keponakan saya, anak tertua kakak saya, biar dia yang handle"
"Lalu ummi?"
"Jangan pikirkan ummi. Sudah saya bilang, ummi urusan saya"
"Dan saya akan secepatnya bicara sama uncle"
"Terima kasih nona"
"Sama-sama Indah. Jagalah kesehatan kamu, jangan lupa makan dan istirahat" nasehat nona Alima ketika panggilan berakhir
Lalu aku memasukkan kembali smartphone kedalam saku jaketku. Kembali berdiri dan mengintip abang melalui kaca jendela.
"Sadarlah abang..." lirihku sambil berlinang air mata
"Makanlah dulu" suara pak Binsar yang berdiri di belakangku mengagetkanku
Aku menggeleng. Pak Binsar mengambil tanganku lalu memberikan bungkusan ketanganku
"Dari tadi saya lihat belum ada sebiji makananpun masuk kedalam tubuh anda, jika terjadi sesuatu pada anda kami yang akan disalahkan bos"
Aku kembali menoleh kearah abang
"Anda harus banyak tenaga untuk menunggui bos Ozkan, bukan?"
Aku menoleh kearah pak Binsar lalu mengangguk dan menurutinya kembali duduk. Lalu dengan pelan aku membuka kotak makanan yang tadi diberikannya padaku
Aku memakan makanan itu dengan susah payah
"Dinikmati, anggap saja makanan itu sebagai tenaga anda untuk bergadang malam nanti"
Aku tersenyum segaris mendengar ucapannya
"Dalam keadaan begini, mana mungkin aku bisa makan pak"
"Dipaksa"
__ADS_1
Aku mengangguk dan kembali mengunyah makananku
...****************...
Sore hari, anne dan Canan kembali lagi kerumah sakit. Mereka segera mengintip melalui jendela kaca, persis seperti yang tadi kulakukan
Dokter lewat dan dengan cepat dihentikan oleh anne
"Saya bisa masukkan?"
Dokter mengangguk, lalu anne mengikuti dokter masuk setelah memakai baju khusus.
Aku berdiri tepat di sebelah Canan mengintip ibunya abang yang tampak membelai sayang wajah abang
"Ini semua salah saya" kembali Canan bergumam ketika melihat anne menyusut air matanya
Aku menarik nafas dalam dan menggenggam pundaknya. Lalu kami berdua sama-sama menatap anne yang terus membelai wajah abang
Dapat aku tangkap jika tangan abang bergerak, kepalaku yang semula menempel di kaca segera aku tegakkan
"You see?? his hands are moving!" ucapku dengan wajah ceria pada Canan yang juga tampak tersenyum
"Abii..." lirihnya dengan air mata mengalir
Kami berdua berpelukan. Kembali kami lihat anne memeluk abang yang saat itu matanya terbuka.
Air mataku makin deras mengalir saat kulihat abang menoleh kearahku.
Aku menempelkan kelima jariku di kaca, seakan mengisyaratkan padanya bahwa aku ada di sini
Annepun menoleh kearahku dan kembali menoleh pada abang dan menciumi kening abang berkali-kali
"Karena dia telah sadar, kita akan periksa lagi bagaimana kondisinya, jika memungkinkan akan kita pindahkan keruang perawatan"
Anne mengangguk dan menyingkir dari tempatnya, memberikan ruang kepada dokter untuk memeriksa kondisi Ozkan
Beberapa perawat masuk diikuti seorang dokter lagi. Kedua dokter kembali memeriksa kondisi abang, sementara para perawat ada yang terlihat seperti mencatat, ada yang melihat layar komputer, ada yang memeriksa infus.
Aku dan Canan yang masih berdiri di tempat kami saling bergenggaman tangan
Lalu pintu kamar abang terbuka, dan empat perawat mendorong brankar abang. Aku dan Canan segera mendekati abang, begitu juga para bodyguard
"Abi...." Canan segera memeluk abang
Air mataku kembali mengalir saat melihat keduanya berpelukan.
Abang menoleh kearahku. Aku tersenyum tertahan sementara wajahku telah basah oleh air mata.
"Terima kasih.." desis Ozkan kearah Indah
Lalu perawat kembali mendorong brankar dengan diiringi lima bodyguard.
Anne yang keluar segera berpelukan dengan Canan.
Lalu kami semua mengikuti Abang yang didorong perawat masuk kedalam sebuah ruangan kelas khusus vvip.
Anne dan Canan segera masuk, sementara aku berdiri di depan pintu di dekat para bodyguard yang terus siaga
"Indah, masuk!" ucap anne yang keluar sesaat setelah dia masuk
Aku segera masuk, Abang menatap kearahku begitu juga Canan. Tangan kanan abang terulur kearahku. Tanpa sadar aku segera berlari dan menubruknya.
Tangisku yang sejak tadi aku tahan pecah di dadanya.
Dapat kurasakan jika abang membelai kepalaku
"Ssstttt... abang baik-baik saja, jangan nangis"
Aku semakin menangis kencang. Ozkan terus membelai kepala Indah
"Maut tidak berani mendekatiku, karena mimpiku masih banyak yang belum terwujud" lirihnya
Aku mengangkat kepalaku lalu mengusap kasar wajahku
"Berjanjilah bahwa ini adalah yang pertama dan terakhir" ucapku
Ozkan tersenyum. Seperti tersadar dari mimpi, aku terburu berdiri dan menoleh pada Canan dan anne dengan canggung
__ADS_1
"Sejak tadi dia terus menangisimu Ozkan" ucap anne sambil tersenyum padaku.
"Bahkan Canan yakin, dia belum mandi"
Anne dan Canan tersenyum begitu juga abang
"Sudah kukatakan anne, dia sangat mencintaiku" jawab Ozkan menatap mesra Indah
Aku yang tidak mengerti mereka ngomong apa hanya tersenyum kearah abang
...****************...
"Dimana bajingan itu kau tawan?" tanya Ozlem geram saat mereka di perjalanan menuju suatu tempat
"Di markas kita bos" jawab seorang bodyguard kepercayaan Ozlem
"Bagaimana akhirnya kalian tahu jika otak dibalik konspirasi ini adalah tuan Kaderimin?"
"Awalnya kami tidak tahu bos, tapi setelah melihat wajah penembak misterius itu barulah kami tahu jika dia adalah pembunuh bayaran suruhan tuan Kaderimin"
"Yang saya tahu, lelaki itu adalah penjahat yang telah biasa menghabisi orang, Dan kami juga mengetahui di mana markas mereka, Karena itulah kami langsung menyerbu lokasinya"
"Saat sampai kami langsung disambut dengan tembakan, maka terjadilah baku tembak saat itu"
"Saat kami masuk kedalam markas ternyata tuan Kaderimin ada di dalam sana"
"Singkat cerita bodyguard tuan Ozkan berhasil menembak kepala penembak tuan Ozkan. Padahal saat itu, satu temannya sedang di bawah ancaman. Saat itu kami menyerah dan menuruti perintah dari tuan Kaderimin, tapi dengan cepat bodyguard Indonesia itu menembak orang suruhan tuan Kaderimin tepat di keningnya. Sehingga temannya dan kami selamat, dan tuan Kaderimin yang ketakutan dengan mudah dicengkeram oleh bodyguard Indonesia itu, dan sekarang sedang kami tawan"
Ozlem yang mendengarkan penjelasan anak buahnya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dan memuji kehebatan Binsar dalam hatinya
Ozlem merogoh smartphone di dalam jasnya ketika mendengar ada panggilan masuk
"Abi sudah sadar..." terdengar suara Canan riang di seberang
"Alhamdulillah" jawab Ozlem sambil mengusap wajahnya
Lalu mobil masuk kedalam sebuah gedung mewah. Gedung basecamp para bodyguard keluarga Yusuf Yilmaz.
Melihat Ozlem turun dari dalam mobil, beberapa bodyguard yang sedang berjaga membungkukkan badan mereka.
Ozlem masuk dengan gagah kedalam gedung megah itu. Seorang bodyguard membukakan pintu saat Ozlem berdiri tepat di depan sebuah kamar, dimana ada tuan Kaderimin di dalamnya
Wajah Ozlem langsung berubah dingin ketika dilihatnya tuan Kaderimin tersenyum licik kearahnya
"Ternyata Tuan Yilmaz hanya mengirimkan anak ingusan ini untuk menghadapiku"
Ozlem diam tidak terpancing sedikitpun dengan provokasi tuan Kaderimin
"Rupanya tuan Yilmaz tidak menyayangi anaknya, dan lebih memilih anaknya mati di tanganku"
"Siapa yang kamu bilang mati?, hah?!" ucap Ozlem dingin
"Kakakku selamat dan sekarang dia baik-baik saja. Dan yang akan mati itu adalah anda!!!"
Wajah tuan Kaderimin terlihat kaget mendengar ucapan Ozlem
Ozlem tertawa menyeringai
"Aku akan membunuh anda secara pelan-pelan, hingga anda sendiri yang akan memohon kematian anda padaku"
Tuan Kaderimin meludahi wajah Ozlem, Ozlem langsung memejamkan matanya, sementara bodyguard yang ada di dalam ruangan itu segera mengarahkan pistol mereka kearah tuan Kaderimin
"Anak penjahat seperti kau tidak pantas berbicara padaku" geram tuan Kaderimin
"Sekarang yang penjahat itu anda apa saya?" ucap Ozlem sinis sambil mengelap wajahnya dengan tisu
"Ayah anda telah membuatku bangkrut, membuatku harus kehilangan perusahaanku dan karena ayahmu, aku terpenjara, oleh karena itulah, saya bersumpah akan membunuh seluruh anak dari tuan Yilmaz"
"Bertahun-tahun aku menunggu Ozkan pulang dan lengah, ketika dia lengah maka orang suruhanku kuperintahkan mengeksekusinya" ucapnya sambil tertawa
"Aku yakin saat ini dia sudah mati, karena pistol yang dipakai anak buahku bukanlah pistol sembarangan"
Ozlem tersenyum mendengar ucapan Tuan Kaderimin.
"Anda tuli apa anda bebal?, sudah saya bilang, abi saya baik-baik saja. Anda yang tidak akan baik-baik saja. Lebih baik saya sarankan sekarang anda banyaklah berdoa karena saya pastikan nyawa anda tidak akan sampai malam ini"
Tuan Kaderimin masih terlihat santai dan tak takut sedikitpun. Malah dia semakin percaya diri
__ADS_1