
Hari masih pagi ketika Andi menggendong anaknya buat jalan-jalan pagi. Indah sibuk mencuci piring yang sudah menumpuk. Dia menghela nafas berat ketika melihat rantang yang dibawanya kemarin masih utuh seperti semula, ketika mereka sampai.
Dibukanya rantang tersebut, dipindahkan rendangnya, tetapi nasinya telah basi. Diciumnya lauk yang lain, dan dicicipi untuk meyakinkan, apakah masih layak atau tidak.
Ternyata, hanya nasinya yang basi. Yang lain masih baik-baik saja. Selesai membuang nasi yang telah basi dan mencuci rantangnya, dia menghangatkan rendang dan lauk yang lainnya.
Sambil bersenandung lirih dia sibuk di dapur. Ibu mertua dan saudari iparnya tidak kehilatan batang hidungnya, mungkin mereka masih tidur.
Selesai menghangatkan sayur, Indah segera mengepel lantai dan beres-beres rumah. Dia tidak ingin pagi ini mertuanya memasang wajah masam lagi ketika melihat rumah masih berantakan.
"Joni kemana sih kok dari kemarin tidak kelihatan?" tanya Andi muncul dari pintu belakang.
Indah yang lagi mengepel lantai mengangkat bahu.
"Neng omah bojo ne" (di rumah istrinya) Ningsih yang tiba-tiba muncul menjawab.
"Lah ngopo de e nengkono yuk?" (Lah ngapain dia disana yuk?)
"Halah emboh, bendino nengkono, kerjo wae balek rono" (Halah entah, setiap hari disana, kerja saja pulangnya kesana)"
Ningsih masuk dan langsung membuka tudung saji
"Wah, sudah selesai masaknya te?" tanyanya.
"Iya mbak, kalau mau sarapan, silahkan, itu rendang yang aku bawa kemarin dari rumah dan lauk pauknya sudah aku hangatkan" jawab Indah sambil meletakkan ember bekas ngepel di kamar mandi.
"Rajin banget kamu te, tiap tahun bawa punjungan" ucapnya sambil mengambil piring dan mulai mengisi nasi serta lauk pauknya.
"Tradisi dikami kaya gitu mbak" jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kain pel yang dicucinya.
Ningsih hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mulutnya sudah terlalu penuh dengan nasi untuk menjawab.
Andi duduk di sebelah kakaknya Ningsih.
"Bapak ibuk apa tidak marah yuk lihat Joni sudah di tempat calonnya, padahal mereka belum sah, aku heran kok mereka merestui Joni sama Maria yang jelas-jelas beda agama" keluhnya.
"Kan kamu tau sendiri, bapak ibuk itu matre, Maria itu anak wong sogeh, yo jelas setuju lah. Mana itu Maria sudah bunting" jawabnya
"What?" Indah tersentak
"Astaghfirullah" ucapnya berbarengan dengan sang suami.
"Bagus dong, cepat gendong cucu, dari pada lama-lama, lihat, banyak orang bertahun-tahun belum punya anak. Lah ini adik kamu cepat dikasih, kan bagus" sang ibu yang tiba-tiba muncul langsung menjawab.
Indah dan Andi menggelengkan kepala mendengar jawaban sang ibu. Sang ibu masuk kamar mandi dan mencuci mukanya. Setelah itu ikut duduk di meja makan.
"Tumben sudah beres" ucapnya sambil melihat keatas meja.
"Nyoh sarapan buk, enak loh masakannya Indah" ucap Ningsih yang tetap lahap
"Ra sudi" jawab sang ibu. Indah yang masih di dapur jelas mendengar jawaban ibu mertuanya, dia cuma diam.
"Yo wes, tak entek ke" lanjut Ningsih.
"Bawa saja pulang yuk, di sini juga ga bakal dimakan" Laras yang muncul menjawab. Merah padam wajah Indah mendengarnya. Tak ingin semakin panas hatinya, Indah meninggalkan dapur dan ke teras depan.
...++++++++++...
Hari +4 lebaran
__ADS_1
Di rumah telah ramai pihak keluarga yang mau ikut mengantarkan Joni melamar.
Pak Hermawan beserta keluarga telah siap juga. Mereka segera menaiki mobil Grandia merah mereka, dan yang lainnya yang ada mobil, naik mobil masing-masing dan selebihnya naik motor masing-masing.
Indah dan suami naik motor, Naura di gendong mbak Ningsih naik mobil. Sekitar lima belas menit sampailah mereka di sebuah rumah yang megah. Dari bentuk rumahnya saja sudah bisa ditebak kalau si empunya rumah pasti orang kaya.
Rombongan segera masuk ke dalam rumah yang telah ada pihak keluarga Maria. Segera mereka bersalaman. Tak lama muncul Joni dan Maria, keduanya memasang senyuman ketika melihat pihak keluarga Joni telah datang.
Tak perlu menunggu waktu lama acara lamaran di mulai. Pihak keluarga Maria mulai menyebutkan apa saja mahar yang diminta Maria dan apa saja seserahan yang diminta pihak orang tua Indah.
Dan yang paling mengejutkan adalah permintaan mereka yang menginginkan Joni untuk mengikuti keyakinan Maria.
Tentu saja hal tersebut membuat Andi tersentak. Dia berbisik pada ayahnya untuk tidak menyetujui sekarang dan akan melakukan rembukan keluarga dahulu, baru setelahnya mereka akan memberi jawaban.
Selesai acara, mereka semua makan. Tapi tidak dengan Indah. Dia hanya duduk menggendong dan bermain dengan Naura. Bahkan ketika Andi mengajaknya dia menolak halus.
"Ayo te" ajak Ningsih.
Ningsih menjawab bahwa dia masih kenyang.
Dia hanya memperhatikan orang-orang yang lahap makan dengan sedikit mual.
Tak lama, setelah ngobrol ringan akhirnya mereka semua berpamitan. Dan kali ini, Joni diajak serta. Awalnya dia menolak, tapi Andi memaksanya.
Setiba di rumah dan setelah beristrirahat sejenak, pak Hermawan memanggil seluruh anak dan menantunya untuk berkumpul dan berembuk.
Belum lagi rembukan dimulai, Bu Mira mulai berceloteh
"Kamu tadi kenapa tidak makan Ndah?" tanyanya
"Masih kenyang buk" jawab Indah
Indah menggeleng cepat.
"Nggak kok buk"
"Terus kenapa? apa karena dia tidak seagama dengan kita lantas kamu tidak mau makan di sana?" Laras mengejar
Joni menatap tajam Indah. Tampak sekali ketidaksukaannya.
"Bojomu kok koyo ngono toh kang?" (istrimu kok seperti itu sih kak) ucapnya pada Andi
"Da' maa yariibuka, ilaa maa laa yariibuka, tinggalkan yang meragukanmu, lalu ambillah yang tidak meragukanmu, Hadits Riwayat Tirmidzi" jawab Indah
"Nah, aku berpatokan dengan itu, aku ragu, makanya aku tidak makan" lanjutnya
"Sok alim" jawab ibu mertuanya dengan ketus sedangkan Laras mencibir.
Indah diam saja, sementara Ningsih, Indra dan Rudi, suaminya Laras diam. Nina bermain di teras dengan ketiga keponakannya.
"Sudah-sudah" lerai pak Hermawan.
"Kita mau rembukan soal yang tadi, apa keputusan kamu Jon dengan permintaan orang tua Maria yang menginginkan kamu mengikuti keyakinan mereka?" tanyanya
Joni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Semua mata menatapnya.
"Aku harus apa?" Joni balik bertanya
"Kamu harus kuatkan keyakinanmu Jon, jangan kalah dengan mereka, kamu tidak boleh murtad!" jawab Andi
__ADS_1
Kembali hening. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing
"Tapi Maria ki wis meteng kang, kepiye, arep di apake?" (tapi Maria ini sudah hamil kak, bagaimana, harus diapakan)
"Maria yang harus ikut agama kita, bukan kamu, kamu laki-laki, kamu kepala keluarga, kamu harus tegas" Andi menambahkan
Joni meremas rambut kepalanya dengan bingung.
"Kalau ibuk sih terserah kamu Jon, ibuk sih pokoknya sangat setuju kamu menikah dengan Maria" sang ibu mendukung
"Jangan butakan mata kamu demi cinta dengan menggadaikan imanmu Jon" Indah menimpali
Laras melirik dengan malas.
"Indah benar Jon, kamu harus ajak Maria masuk agama kita bukan kamu yang murtad" Ningsih bersuara.
"Bapak bagaimana?" tanya Joni
"Bapak terserah kamu Jon, kan yang jalani hidup itu kamu" jawabnya
"Joni itu anak bapak, bapak akan berdosa dan dimintai pertanggung jawaban jika sampai Joni murtad" Andi emosi melihat tanggapan kedua orang tuanya.
"Kalau aku tidak ikut agama mereka, mereka bakal memenjarakan aku karena telah menghamili anak mereka dan tidak mau bertanggung jawab" jawab Joni frustasi.
"Jadi kamu ikut agama mereka" tanya suami mbak Ningsih
Joni diam.
"Hidup kamu bakal makmur nak kalau kamu menikah dengan Maria. Kamu tidak usah capek-capek kerja lagi, kamu tinggal mandori anak buah mertua kamu, kamu tinggal kipas-kipas saja di rumah" sang ibu menyela dengan antusias
"Astaghfirullah ibuk" bentak Andi
"Jangan munafik kamu Ndi, hidup itu butuh uang" jawabnya
"Ibuk mu benar Ndi, bapak juga setuju omongan ibukmu" Pak Hermawan menyambung.
Andi geleng-geleng kepala tak mengerti pikiran kedua orang tuanya.
"Jadi kamu bersedia untuk murtad?" tanya Andi dengan suara geram.
Joni mengangguk pelan.
"Astaghfirullah" jawab Andi, Ningsih, Indah, Rudi dan Indra berbarengan.
Tanpa sadar Andi berdiri dan melayangkan tinjunya ke wajah sang adik. Melihat itu semua yang ada berteriak panik. Joni terhuyung dan memegang wajahnya yang panas akibat pukulan sang kakak.
"Kurang ajar kamu ya, sudah berzina, dan sekarang mau murtad, sadar kamu Jon" teriaknya emosi.
Indah memegangi suaminya, menyabarkan.
Melihat itu kedua orang tuanya memaki-maki Andi, mereka tidak terima terhadap perlakuan Andi terhadap adiknya.
"Dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 217 di jelaskan bahwa barang siapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" ucap Indah memotong makian mertuanya terhadap suaminya.
"Tutup mulut kamu atau kamu akan ku tampar!" bentak sang ibu dengan mata melotot.
Andi segera menarik sang istri dan menyuruhnya berkemas. Setelah selesai berkemas, Andi segera membawa keluarga kecilnya pulang tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Ningsih dan Nina hanya menangis melihat motor Andi yang kian menjauh. Sementara di dalam rumah masih terdengar suara sang ibu yang marah dengan segala sumpah serapahnya.
__ADS_1