Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sah!!!


__ADS_3

Minggu pagi, setelah selesai jogging aku menghampiri ummi yang duduk di atas rumput


Melihat Indah datang ummi segera mendongakkan kepalanya dan memberi kode untuk Indah duduk di sampingnya


"Saya mau minta maaf sama ummi" lirihku ketika sudah beberapa menit duduk


Ummi menoleh dan menatap dalam pada Indah


"Maaf karena telah mengecewakan ummi" lanjutku sambil menunduk


Ummi memutar bahuku menghadap kearahnya


"Harusnya yang minta maaf itu ummi karena tidak memahami mu"


Aku mengangkat kepalaku


"Ummi merestui mu, menikahlah dengan Ozkan"


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya, lalu ummi memelukku


"Ummi sudah tahu segalanya dari Alima, dan ummi harap, kamu mendapatkan kebahagiaan mu"


"Ummi merestui kalian menikah tapi dengan satu syarat"


Aku melepas dekapan ummi dan memandang ragu padanya


"Jangan tinggalkan ummi, teruslah jadi pemimpin di hotel Ar Mursalat, kembangkan hotel itu, karena itu akan menjadi milikmu"


Aku melongo mendengar ucapan ummi. Ummi mengangguk dan tersenyum kearah Indah


"Kau adalah anak kedelapan ummi, walau kau tidak lahir dari rahim ummi, tapi ummi sangat menyayangimu"


Mataku langsung basah mendengar ucapannya, aku langsung mendekapnya dan terisak di pelukannya


"Entah dengan cara apa saya membalas jasa ummi" isakku


Ummi terus membelai kepalaku


"Dengan hidup bahagia dan tidak terbebani lagi" jawab ummi


"Jangan sungkan berbagi suka dukamu pada ummi, jangan sama Alima"


Aku melepas dekapanku pada ummi dan tertawa


"Karena saya pasien nona Alima, jadi saya harus jujur padanya" jawabku yang membuat ummi tersenyum


...****************...


"Mereka boleh menikah, tapi di sini di rumahku, bukan di rumah anda" ucap ummi pada tuan Yilmaz ketika mereka makan siang


"Saya mana baik menurut anda saja, saya menurut"


Alima tersenyum dengan mata berbinar pada ummi


"Jadi Indah akan menikah?" tanya suami nona Alima


"Iya sayang" jawab Alima


"Kapan?"


Semua mata tertuju pada tuan Yilmaz. Tuan Yilmaz yang ditatap diam, dia juga tidak tahu kapan.


"Saya tidak tahu kapan, tapi kalau bisa secepatnya" jawabnya


Ummi meraih smartphone yang terletak di pinggir piringnya, lalu membuka smartphone tersebut


"Kamu kesini sekarang"


Aku yang di dalam kamar sedang skype dengan kedua putraku langsung mengakhiri obrolan kami ketika ummi memintaku turun


"Ya ummi?" ucapku begitu tiba di meja makan


Ummi meletakkan sendok lalu meraih gelas, meminum air putih


"Kalian rencana nikahnya kapan?"


Aku menggeleng


"Astaghfirullah" jawab ummi panjang yang membuat yang ada di meja makan tertawa


"Begini saja tuan Yilmaz, mereka kita nikahkan tiga hari lagi"


Mataku langsung terbelalak


"Tiga hari lagi ummi?" tanyaku kaget


Ummi menoleh ke arahku


"Iya, hari rabu kalian menikah, besok akan ummi suruh anak buah ummi menyiapkan segala berkas yang dibutuhkan untuk pernikahan kalian, dan anda tuan Yilmaz silahkan anda suruh Ozkan menyiapkan segala berkas miliknya, selasa kalian terbang kesini, dan kamu Alima, kamu hubungi semua EO terbaik yang ada di Jeddah untuk membuat pesta mewah di rumah kita"


Alima menganggukkan kepalanya sambil tersenyum cerah


"Tapi ummi?"


"Nggak ada tapi-tapian, kamu hubungi keluargamu di Indonesia, suruh mereka terbang kesini"


Aku menelan ludahku, bingung harus kaget apa harus bahagia dengan keputusan mendadak ummi ini


"Dan kamu Malik, jika kamu tidak keberatan, kamu bisa ikut membantu"


"Siap ummi, dengan senang hati"


"Kamu cepatlah makan, jangan mengurung diri terus di kamar" ucap ummi lagi padaku


"Iya, nanti ummi"


"Sekarang, di sini. Duduk!"


Aku menuruti perintah ummi lalu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan


"Makan yang banyak, nasi yang bisa mengenyangkan bukan cinta" lagi ummi berkata yang membuat wajahku bersemu merah


...****************...

__ADS_1


"Abang, ummi minta kita menikah rabu besok!" ucapku pada abang melalui panggilan telepon


"Bagus dong, lebih cepat lebih baik" jawab abang


"Tapi keluargaku belum ada persiapan lah abang jika mendadak kaya gini"


"Semua serahkan sama abang, biar Abraham abang suruh ke Lubuklinggau sekarang untuk membawa calon mertuaku kesini"


"Ummi ingin kita menikah di sini, di rumahnya, bukan di Turki"


"Di mana saja bagi abang tak masalah, asalkan kita halal. Jadi jika abang menciummu, anne tidak akan marah lagi"


Dresssss...


Wajahku langsung terasa panas. Kembali ingatan kepergok anne melintas di kepalaku


"Abang yakin, saat ini pasti wajahmu bersemu merah"


Aku terkekeh


"Abang sih, nggak bisa nahan" rajukku


"Aku lelaki normal sayang, melihatmu mana bisa aku tahan"


"Stop! stop!! ini sudah ngelantur kayanya" potongku mendengar jawaban vulgar abang


Kudengar abang terkekeh


"Tiga malam lagi ya sayang...."


"Apanya??" jawabku


"Abang akan memakan mu!" jawab abang sambil terkekeh kembali


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku


"Abang, ini serius. Jangan bercanda"


"Abang juga serius!


Huffff aku menghembuskan nafas kasar menghadapi kegilaan abang


Aku diam, merajuk


"Hei sayang, jangan marah. Kan sudah abang bilang tadi, besok abang suruh Abraham menjemput orang tua mu, dan langsung membawa mereka ke Jeddah. Lusa abang yang akan kesana, kamu sabar ya menunggu abang"


Aku tersenyum mendengar jawaban abang


"Akhirnya ya bang..." ucapku lirih


Ozkan yang saat itu berbaring di kamarnya tersenyum


"Iya, akhirnya perjuangan kita akan mencapai finish, terima kasih karena terus mencintaiku"


"Aku juga mengucapkan terima kasih karena abang mau menerima masa laluku" jawabku haru


"Jangan menangis, karena abang tidak suka melihatmu menangis"


Aku terkekeh


"Abanggggg...." geramku


Ozkan terus terbahak


...****************...


Abraham sudah kembali menginjakkan kakinya di bumi Lan Serasan Sekentenan. Dia tampak menelpon dan dengan cepat dia berjalan keluar dari Bandara Silampari


Sebuah mobil travel berhenti di depannya dan pak Abraham segera masuk


"Ketempat kita kemarin" ucapnya pada supir travel yang segera melajukan mobil dengan pelan


Setengah jam setelahnya, travel putih itu telah berhenti tepat di depan pagar rumah pak Ahmad


Abraham turun, dan segera mendorong pintu pagar besi. Pak Ahmad yang saat itu sedang menonton tivi segera berjalan keluar ketika terdengar sebuah salam


Segera dia membuka pintu dan tampaklah olehnya wajah Pak Abraham


Pak Abraham segera menyalami pak Ahmad yang tampak kaget. Lalu beliau segera masuk ketika pak Ahmad mempersilahkannya masuk


"Saya kesini karena diperintahkan tuan Ozkan untuk membawa bapak ke Jeddah, lusa tuan Ozkan dan mbak Indah akan menikah" buka pak Abraham setelah menyeruput teh hangat yang disuguhkan bu Siti


Mata pak Ahmad dan bu Siti yang juga duduk di sana langsung berkaca-kaca.


"Besok jam sepuluh travel yang ada di luar pagar akan menjemput bapak dan ibu, baru setelahnya kita langsung terbang ke Jakarta, kemudian dilanjutkan ke Jeddah"


"Karena saya tidak bisa lama-lama, saya mohon pamit sekarang. Pesan tambahan dari tuan Ozkan untuk bapak dan ibu tidak usah membawa pakaian, karena akan disiapkan oleh mereka di Jeddah"


Setelah menghabiskan teh, pak Abraham berpamitan.


Sepeninggal pak Abraham, pak Ahmad segera menghubungi ketiga anaknya.


Sejam kemudian, keenam anak dan menantunya telah berkumpul semua. Mereka lalu mengadakan rembukan kecil dan disepakati jika yang akan terbang ke Jeddah adalah pak Ahmad, kak Angga dan kak Andri. Bu Siti tidak ikut karena tidak ada yang menjaga Mikail dan Adam. Padahal Vera istrinya kak Andri memaksa biar selama mertuanya ke Jeddah, kedua keponakannya itu tinggal bersamanya.


...****************...


Singkat cerita, sampailah pak Ahmad beserta kedua anak lelakinya dan Pak Abraham di bandara King Abdul Aziz pada sore hari


"Sebentar lagi bapak akan kesini lagi, naik haji beberapa bulan lagi" ucap kak Angga yang memegang erat tangan bapaknya


Sementara itu di hotel Ar Mursalat, keluarga Ozkan juga sudah datang semua tadi siang.


Binsar yang berjaga di depan kamar yang di tempati Ozkan segera merogoh kantong celananya ketika ada panggilan masuk


"Mana yang jemput kami, kami sudah sampai ini!"


Pak Ahmad dan kedua anaknya menatap berkeliling pada bandara yang baru sekali ini mereka datangi


"Alhamdulillah Indah sudah sering naik pesawat" ucap pak Ahmad


Kak Andri tersenyum mendengar ucapan bapaknya


"Nanti kita minta belikan pesawat sama suaminya pak, biar bapak naik pesawat terus tiap hari" selorohnya yang membuat pak Ahmad dan Kak Angga tertawa

__ADS_1


"Kita duduk di sana dulu pak, yang menjemput kita masih on the way" ucap pak Abraham mengajak keluarga Indah duduk di kursi waiting room


Aku yang tidak diperbolehkan ummi keluar terus berjalan mondar mandir dalam kamar.


Tanganku sudah dipasangkan inai oleh para pelayan yang juga tampak bahagia dengan pernikahanku. Dan parahnya lagi smartphoneku disita nona Alima.


Katanya aku tidak boleh menghubungi siapapun juga, terutama Ozkan.


Setengah jam menunggu, akhirnya mobil jemputan dari pihak ummi tiba di bandara, dan langsung menemui Abraham yang dia kenal lewat foto yang diberikan Ozkan


Mobil melaju membelah jalanan kota Jeddah. Kak Andri, pak Ahmad dan Kak Angga tampak begitu terpukau dengan jalanan kota Jeddah. Berkali-kali mulut mereka mengucapkan asma Alloh


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi masuk kesebuah istana, dan lagi-lagi ketiganya dibuat takjub akan kemegahan rumah keluarga Ummi Afsha


"Pantesan gaji Indah besar, rumahnya saja seluas sepuluh kali lapangan bola" gumam kak Angga


Melihat orang tua Indah datang, ummi yang saat itu melihat para EO menghias rumahnya segera menghampiri


"Assalamualaikum" sapanya ramah


Kompak mereka menjawab salam ummi Afsha dan mengulurkan tangan mereka menyalami ummi


"I am Ummi Afsha, Indah's mother in Jeddah"


"Namanya ummi Afsha, dia bilang dia ibunya Indah di Jeddah, jadi bisa dipastikan inilah bosnya Indah" ucap kak Andri kearah bapaknya dan kak Angga


Mereka bertiga menganggukkan kepala dan tersenyum kearah ummi


"Bawa mereka ke kamar yang telah di siapkan!" perintah ummi pada satu orang pelayan laki-laki


Lalu pelayan itu mengajak pak Ahmad dan kedua anaknya kelantai tiga memakai lift, menuju kamar mereka untuk istirahat.


...****************...


Subuh Rabu


Tok Tok Tok!!!


Sebuah ketukan di luar pintu membuyarkan doa panjangku dalam shalat shubuh pagi ini


Masih dengan memakai mukena aku berdiri dan membukakan pintu


"Surprise.......!!!!" teriak suara cempreng


Aku langsung melompat kegirangan ketika di depanku berdiri kak Jen


Aku segera memeluknya erat dan kak Jen balas memelukku


"Kapan kakak kesini?" tanyaku sambil menyeretnya masuk


"Semalem!"


"Kok nggak langsung nemuin aku?"


"Bukan surprise dodol namanya kalau eyke nemuin yeay langsung"


Aku terkekeh dan kembali memeluknya


"Yak ampun, sumpah deh eyke seneng banget akhirnya yeay nikah sama bos gantenggg..." kak Jen berkata dengan mata berbinar


"Kakak kok tahu aku disini?"


"Apa sih yang nggak dilakukan oleh bos ganteng buat yeay?"


Aku tersenyum haru dan rasanya rinduku makin menggunung pada abang


"Bos ganteng nelpon eyke malem kemaren minta eyke yang riasan yeay, katanya dia mau ngasih kejutan buat yeay, uhhh romantis sekali sih tuh bos ganteng, iri deh eykeee"


Aku terkekeh mendengar ocehan kak Jen


"Terus eyke langsung cap cus prepared langsung terbang ke Jakarta, terus nyampe deh malem tadi. Yeay tahu nggak, eyke di hotel yang sama dengan bos" lanjutnya sambil cekikikan


Aku ikut tertawa mendengarnya


"Eh, yeay tahu nggak, bodyguard-bodyguardnya uhhhh... ganteng-ganteng bangeeedddd"


"Ah, ya ampun gegara yeay rumpi, lupa kan eyke nyuruh yeay mandi, hayo sana mandi, setelah itu cus eyke dandani, akan eyke buat yeay cantik secantik cantiknya"


Aku mengangguk sambil tersenyum dan segera melipat mukena ku, lalu masuk kedalam kamar mandi


...****************...


"Sah..!!!!" terdengar ucapan sah dari tempat dilaksanakannya prosesi ijab kabul


Aku yang masih duduk di dalam kamarku, segera mengangkat kepala dan menoleh pada kak Jen. Lalu kak Jen segera memelukku


"Selamat ya sayang, akhirnya kamu sah jadi istri bos!"


Aku mengangguk sambil menahan air mata yang siap tumpah di mataku.


Pintu kamar kami diketuk, muncul nona Alima. Alima tertegun di tempatnya demi melihat perubahan pada wajah Indah


"Wow, you are so beautiful" pujinya sambil masuk dan memeluk Indah


Aku yang saat itu memakai gaun putih segera diajak turun dengan nona Alima. Kek Jen sibuk merapihkan ekor gaunku agar terus menjuntai di belakangku


Lalu kak Jen berjalan di sampingku bersama dengan nona Alima yang menggenggam tanganku.


Di atas tangga, menuju ruang bawah tempat diadakannya proses ijab kabul tadi, aku melihat ada bapakku dan kedua saudara lelakiku yang mendongakkan kepala mereka kearah ku


Mataku makin terasa panas, aku langsung menangis. Kak Jen memegang pundakku seolah memberi kekuatan padaku, begitupun nona Alima, dia menepuk-nepuk punggung tanganku


Dengan pelan kami menuruni anak tangga, di luar dugaanku, kedua kakakku berdiri dan berjalan cepat menaiki tangga.


Nona Alima melepas genggamannya pada tanganku, lalu kedua kakakku memegang tangan kanan kiriku dan membimbingku turun


Air mataku makin deras mengalir menoleh pada mereka berdua yang juga matanya tampak basah. Aku menghentikan langkahku lalu berbalik memeluk kak Angga, kupeluk erat kakak tertinggi ku itu sambil terisak. Kurasakan dia menciumi puncak kepalaku dan mengusap-usap bahuku


Melihat aku memeluk kak Angga, kak Andri ikut memelukku, jadilah kami bertiga berpelukan dan bertangisan.


Alima yang mundur, naik satu tangga menyusut air matanya, begitu juga dengan kak Jen. Dia tak kuasa menahan air matanya melihat momen haru di depan matanya.


Setelah saling meluapkan emosi kami masing-masing, kedua kakakku kembali menuntun langkahku, di depan bapakku yang duduk di kursi, aku bersimpuh dan bapakku memelukku erat

__ADS_1


__ADS_2