
Ozkan berlari kencang kearah basement untuk mengambil mobilnya. Begitu sampai basement segera dia berlari menuju mobilnya dan dengan ngebut segera keluar dari area basement
Aku yang menunggu di lobi berkali-kali meringis ketika sakit di perutku datang
Sampai di luar, Ozkan kembali berlari masuk lobi dan dengan cepat membawa istrinya keluar dari apartemen
Aku masih meringis ketika berdiri dari kursi roda. Dengan sangat hati-hati, Ozkan membimbing istrinya masuk ke mobil
Setelah aku duduk, abang segera memutar tubuh, masuk juga ke mobil, duduk di belakang kemudi
Jalanan kota Jeddah sedikit lengang karena saat itu hampir sepertiga malam. Dan itu memudahkan Ozkan mengendalikan mobil membawa istrinya menuju rumah sakit
"Sabar sayang ya" ucap Ozkan sambil menatap cemas ke wajah istrinya yang meringis
Aku tidak menjawab, aku terus saja menggigit bibirku menahan sakit.
Akhirnya mobil masuk ke kawasan rumah sakit, dengan cepat Ozkan menghentikan mobil tepat di pintu masuk rumah sakit.
"Tunggu disini dulu sayang ya" kembali Ozkan berkata pada istrinya lalu turun dari mobil berlari masuk kedalam gedung rumah sakit
Tak lama Ozkan telah kembali dengan empat orang perawat yang mendorong brankar
Dengan sigap para perawat itu membantuku naik ke brankar, dan mereka segera mendorong brankar masuk ke dalam rumah sakit
Ozkan terus saja memegangi tangan istrinya yang semakin mengerang kesakitan
Wajah Ozkan kian menegang, sampai mobilnya lupa diparkirkannya, untunglah pihak keamanan rumah sakit segera menemuinya dan mereka yang memarkirkan, baru setelah itu pihak keamanan rumah sakit mengembalikan kunci mobil padanya
Ozkan ikut masuk kedalam ruang persalinan. Dilihatnya istrinya telah dipasangkan infus dan dokter kandungan mereka juga sudah datang
"Masih bukaan lima, kurang lebih dua jam lagi" kata dokter pada Ozkan
Aku yang kesakitan mulai gelisah. Berkali-kali aku meremas sprei menahan sakit
Melihat istrinya kian kesakitan, Ozkan kian panik. Di genggamnya terus tangan istrinya bahkan dia merelakan tangannya dicengkeram kuat oleh Indah ketika istrinya itu merasakan kembali sakit yang tiba-tiba
Aku memeluk pinggang abang yang berdiri di sampingku
"Kamu yakin mau melahirkan normal?" suara Ozkan terdengar kian panik
Aku mengangguk dan terus saja menenggelamkan wajahku di perutnya
Di sela kepanikannya Ozkan mengeluarkan handphone yang ada di saku celana jeansnya
Berkali-kali kudengar abang menghembus nafas kasar.
"Anne..."
Aku mengangkat kepalaku ketika kudengar abang menyebut kata anne
Sebelah tangan Ozkan dipakainya untuk mengelus kepala Indah
"Gulsen, tolong bangunkan anne, sejak tadi aku telpon ke hpnya tidak diangkat, itulah sebabnya aku menghubungi nomor rumah"
Alu melepas pelukanku di pinggang abang dan kembali bergerak gelisah
"Gulsen, sekarang kamu bilang dengan anne, istriku mau melahirkan sekarang kami sudah di rumah sakit"
Tak menunggu jawaban Gulsen, Ozkan segera mematikan handphone dan kembali mengelus kepala istrinya
"Tolong dokter, istri saya makin kesakitan"
Dokter yang sedang menyiapkan alat-alat medis kembali mendekat dan kembali mengecek pembukaan
"Masih bukaan tujuh"
Aku kembali menarik nafas dalam dan kian bergerak gelisah karena sakit makin terasa dan tak berhenti-henti
"Eeehhhhhh..."
Ozkan segera membungkuk ketika didengarnya suara istrinya ngeden
Dokter yang masih berada di dekatku kembali memeriksaku
"Cepat suster, sudah bukaan sembilan" ucapnya dokter cepat
Nafasku kian memburu, dan wajah abang Ozkan kian tegang.
__ADS_1
Dua orang perawat segera membetulkan posisi kakiku, mereka menekuk kakiku. Dan dokter yang telah memakai sarung tangan medis dengan sabar memberiku aba-aba untuk tenang dan mengambil nafas teratur
Abang terus di sampingku, dia menggenggam tanganku dan mengangkat bahuku ketika aku ngeden
Aba-aba dari dokter aku ikuti dengan benar, menarik nafas teratur dan membuangnya perlahan bahkan ketika dokter menggunting jalan lahirku, aku bisa melihatnya karena bertepatan dengan aku ngeden dan mengangkat tubuhku
Ozkan memejamkan matanya ketika melihat dokter menggunting jalan lahir Indah, tanpa terasa butiran bening mengalir di pipinya
Setelah jalan lahirku digunting, aku merasakan ada cairan hangat keluar dari sana, aku tahu, itu air ketubanku yang pecah, dan aku makin merasakan ingin ngeden terus
"Terus sayang, iya bagus, kepalanya sudah mulai kelihatan" dokter terus bersuara yang membuatku makin bersemangat untuk ngeden
Kembali Ozkan menitikkan air matanya melihat wajah Indah yang merah ketika ngeden
Tapi dia terus berusaha tenang dan terus mengangkat bahu istrinya.
"Ayo Indah, sedikit lagi"
Dengan sekuat tenaga aku kembali ngeden, dan dengan cepat pula dokter menarik keluar tubuh bayi.
Suara tangis bayi pecah di ruangan itu. Aku menghembuskan nafas lega dengan kelelahan, lalu menatap abang Ozkan yang tersenyum bahagia dengan air mata yang memenuhi wajahnya
Dokter segera memberikan bayi yang baru saja dilahirkan ke seorang perawat
Lalu kembali lagi aku merasakan ingin ngeden. Aku kembali ngeden, dan sama seperti tadi dokter terus membimbingku.
Nafasku sudah hampir habis tetapi bayi keduaku belum juga mau keluar. Ozkan sudah tak terkira lagi paniknya, apalagi melihat wajah istrinya yang sudah putih, pucat pasi
Tapi aku selalu optimis, walau aku kelelahan tapi aku selalu mengatakan dalam hatiku, jika aku bisa
"Terus sayang, kepalanya sudah mulai kelihatan, ayo sayang" kembali dokter dengan sabar membimbingku
Aku kian semangat, terlebih ketika kudengar suara tangisan bayi pertamaku yang tak berhenti
"Ayo sayang yang kuat, kamu bisa" ucap Ozkan dengan suara bergetar ketakutan
Aku kembali berusaha ngeden dan sampai akhirnya aku merasakan dokter kembali menarik bayiku
Kembali suara tangisan pecah dan dengan cepat dokter meletakkan bayi kedua yang aku lahirkan ini di atas dadaku.
Lalu menyusul bayi pertamaku juga di letakkan di atas dadaku.
Abang sama denganku, tangisnya pecah dan berkali-kali dia menciumi keningku yang basah oleh keringat.
"Terima kasih sayang, terima kasih" hanya kalimat itu yang bisa diucapkannya, selebihnya dia terus menciumi kening istrinya dan mengelus rambutnya yang berantakan
Aku mendongakkan kepalaku kearah abang dan tersenyum bahagia padanya
Sementara dua bayi mungil yang ada di atas perutku terus berusaha bergerak kearah pu***ng su**ku
Mereka yang diselimuti oleh dokter ku dekap dengan kedua tanganku.
Dapat aku rasakan jika bayi keduaku telah mulai menghisap dan aku tersenyum pada abang. Sementara bayi pertamaku masih terus berusaha bergerak
Selagi aku dan bayiku sedang melakukan inisiasi menyusui dini, dokter dan perawat membersihkan tubuhku dan mengeluarkan ari-ari dalam rahimku.
"Sampai lupa bertanya, jenis kelamin anakku apa dokter" ucap abang yang masih terus duduk di sebelahku sambil tersenyum
"Yang pertama tadi laki-laki dan yang kedua perempuan"
Aku dan abang makin merekahkan senyum dan kembali aku lihat abang meneteskan air mata
Kembali Ozkan mengecup kening istrinya dengan dalam dan terus membelai rambutnya
"Terima kasih sayang" lirihnya lagi
Lalu abang ikut membelai kepala kedua anaknya.
Setelah IMD dirasa cukup, maka kedua perawat mengambil kedua bayi yang ada di dadaku, membersihkan mereka dan mengeluarkan sisa air ketuban dari mulut mereka.
Sementara abang seperti tak mau meninggalkanku, dia terus saja menggenggam tanganku dan terus saja menciumiku
"Masing-masing beratnya 2,6 kilogram dan 2,5 kilogram" ucap perawat yang telah selesai memakaikan baju pada kedua anakku
"Tunggu disini dulu sayang, abang mau mengadzankan mereka"
Aku mengangguk, dan menoleh pada abang yang menggendong salah satu anak kami.
__ADS_1
Saat perawat dan dokter membersihkan tubuhku dan memakaikan ku pembalut aku mendengar lirih suara abang yang mengumandangkan adzan.
Selesai dengan satu bayi, abang meletakkannya di dalam box khusus bayi lalu kembali abang mengambil bayi satu lagi dan kembali aku dengar lirih suaranya mengumandangkan adzan
...****************...
"Nyonya...Nyonya..." Gulsen terus mengetuk pintu kamar majikannya
Nyonya Aylin yang masih terlelap tidak mendengar panggilan Gulsen
Tapi Gulsen tidak putus asa, dia terus mengetuk pintu kamar itu berkali-kali
Tuan Yilmaz yang mendengar segera membuka matanya dan segera duduk
"Kenapa Gulsen tengah malam begini menggedor pintu kamar kami, tak biasanya" ucapnya sambil turun dari ranjang
Dengan segera beliau berjalan kearah pintu dan membukanya. Tampak olehnya wajah tegang Gulsen
"Ada apa?"
Gulsen menarik nafas dalam sebelum menjawab
"Tuan muda Ozkan menelpon katanya istrinya mau melahirkan"
Tuan Yilmaz segera kembali masuk dan segera membangunkan istrinya
"Askim, askim.. bangun, istri Ozkan mau melahirkan"
Dengan cepat nyonya Aylin membuka matanya dan duduk menatap nanar suaminya
"Kita ke Jeddah sekarang, istri Ozkan melahirkan"
Nyonya Aylin langsung tersadar dan dengan segera bola matanya membulat berbinar bahagia
"Dari mana kamu tahu, askim?"
"Gulsen. Katanya tadi Ozkan menelpon"
Dengan cepat nyonya Aylin meraih handphone yang diletakkannya di atas meja sebelah ranjang
"Astaghfirullah, sepuluh panggilan tak terjawab dari Ozkan, tiga jam yang lalu" ucapnya dengan suara tercekat
"Ayo askim, sekarang juga kita berangkat" ucap nyonya Aylin langsung melesat keluar dari dalam kamar
"Ganti dulu pakaianmu" teriak tuan Yilmaz
Tapi nyonya Aylin sudah turun kebawah, segera dia meneriakkan nama Gulsen
Dengan cepat Gulsen menemuinya
"Siapkan baju saya, saya mau ke Jeddah"
Setelah itu dia masuk ke dapur, membuatkan dua gelas susu dan setelah menenggak habis susu di gelasnya, dia segera naik kembali membawakan suaminya susu
"Cukup minum ini" ucapnya sambil memberikan gelas susu pada tuan Yilmaz
Tanpa komentar tuan Yilmaz segera meminum susu yang diberikan istrinya lalu mereka dengan cepat turun
Lima bodyguard telah menunggu mereka di depan.
Gulsen telah berdiri dengan koper besar yang berisikan pakaian majikannya
"Titip rumah dan tolong beritahu Canan dan Ozlem" ucap nyonya Aylin sambil mencium kedua pipi Gulsen
Tuan Yilmaz yang sudah masuk mobil hanya melambaikan tangan kearah Gulsen
Setelah nyonya Aylin masuk, mobil mewah hitam itu segera keluar dari dalam istana kediaman tuan Yilmaz diiringi satu mobil mewah di belakang mereka yang berisikan empat bodyguard. Satu bodyguard lagi berada satu mobil yang sama dengan tuan Yilmaz
"Apakah pesawat kita sudah siap?" tanya nyonya Aylin
Tuan Yilmaz hanya mengangguk karena saat itu dia seperti sedang menelpon seseorang
"Siapkan mansion yang kemarin saya lihat, jangan ada satu detail pun yang terlewatkan"
Lalu kembali tuan Yilmaz memasukkan headphone kedalam saku jasnya
Sementara nyonya Aylin yang masih memakai piyama tidur segera merebahkan kepalanya di dada suaminya
__ADS_1
"Akhirnya kita punya cucu dari Ozkan, askim..." ucapnya terharu
Tuan Yilmaz mengangguk, menggenggam tangan istrinya dan mengelus-elus nya pelan