Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Mikail Lahir


__ADS_3

30 Maret 2003


Alhamdulillah subuh ini aku melahirkan anak kedua kami. Lagi-lagi tanpa adanya satupun pihak keluarga suamiku yang menungguiku. Cuma ada ibuku, yuk Yana kakak perempuanku dan suamiku.


Persalinan kali ini begitu luar biasa bagiku, karena aku sampai harus memakai oksigen untuk membantu pernafasanku.


Tepat pukul 05.35 anakku lahir disaat suamiku sedang melaksanakan shalat shubuh. Disaat dia menengadahkan tangannya sedang berdoa, dia mendengar suara tangisan, dan langsung dia berlari keruangan persalinan tanpa melipat lagi sajadahnya


Dilihatnya aku sedang dibersihkan oleh dua orang perawat. Selang oksigen masih menutup di hidungku saat itu. Beranjak dia membelai kepalaku.


"Selamat ya bun" ucapnya


Aku tersenyum lemah, rasanya ingin sekali mata ini terpejam, setelah dua puluh tujuh jam menahan rasa sakit dan tidak tidur.


"Jangan tidur selama dua jam kedepan ya mbak" ucap seorang perawat ketika dilihatnya mataku makin sayu


"Iya" jawabku singkat.


Suamiku segera keluar dan tak lama telah kembali dengan segelas kopi di tangannya.


"Minum ini bun biar ga ngantuk" ujarnya


Aku terkekeh. Bagaimana mungkin aku bisa minum kopi, karena aku tidak suka minuman manis. Tapi demi kesehatan ku dan saran bu Bidan tadi aku menuruti.


Dengan telaten dia menyendokkan air kopi kemulutku. Aku bergidik ketika meminumnya. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama bagiku meminum kopi. Dulu ketika melahirkan Naura malah kopi pahit yang dibuatkannya untuk ku.


"Mas nya keluar dulu ya, mbaknya mau kita jahit dulu" Bu Rini, bidan langganan kami muncul dengan senyum mengembang di wajahnya.


Andi segera menarik kursinya dan meletakkan cangkir kopi diatas meja nakas. Diusapnya kepala ku sebelum keluar meninggalkanku.


"Dibius kan buk? tanyaku


"iya lah mbak, kalau tidak, bisa teriak-teriak mbak nya" jawab bu Rini dan lagi-lagi masih dengan senyum ramahnya.


Perawat yang mendampingi bu bidan dengan cekatan telah menyiapkan peralatan untuk membius dan menjahit bekas persalinanku.


Aku sedikit meringis ketika jarum bius menembus kulitku. Tak lama bu bidan dan asistenya telah memulai menjahit sambil mengobrol ringan dengan ku.

__ADS_1


"Banyak ya bu?" tanyaku


"Lumayan, luar dalam" jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari jahitannya.


"robeknya besar ya bu?" tanyaku lagi


"iya, tapi ga papa mbak, yang penting bayinya sudah keluar, robeknya bisa dijahit, jadi bisa rapet lagi" selorohnya sambil tertawa.


Aku pun ikut tertawa mendengar ucapannya.


Sekitar lima belas menit bu Rini telah selesai dengan jahitannya. Dua orang perawat yang sejak tadi membantunya kini membereskan segala peralatan bekas menjahit.


Setelah mencuci tangan dan kembali menengok kondisi ku, bu Rini keluar dari ruangan.


...+++++++++...


Ibuku ikut kami pulang kekontrakan untuk mengurusiku selama masa pemulihan pasca melahirkan.


Aku libur dulu mengajarnya. Aku sudah minta izin dengan kedua kepala sekolahku agar mereka mengizinkan selama aku dalam pemulihan.


Kerepotan ibuku mengurusiku dan kedua bocilku begitu membuatku terharu. Bagaimana tidak, disaat kami masih pulas tidur, ibuku telah bangun. Menyiapkan air hangat untuk aku dan kedua anakku mandi, memasak untuk kami sarapan, dan membersihkan rumah.


"Kapan kita mau akikahan bun?" tanya Andi ketika sarapan pagi ini


"Nantilah, yang penting sayanya sehat dulu, untuk akikah bisa kapan-kapan kan?, walau sebenarnya sunnahnya itu ketika anak berusia tujuh hari" jawabku.


"Terserah bunda sajalah, ayah nurut" jawabnya lagi


Setelah selesai sarapan, Andi berpamitan berangkat kerja. Sebelum berangkat diciumnya pipi kedua buah hatinya dan mengelus kepalaku.


Benar kata orang, setiap anak itu membawa rezeki. Sejak aku hamil Mikail, kami telah bisa membeli tanah dan sudah mulai membuat pondasi. Dan suamiku, dia naik jabatan menjadi kepala cabang.


Sebagai kepala cabang, kesibukannya makin banyak. Jam pulangnya makin sore bahkan terkadang malam.


"Mertuamu kok ga nengokin kamu ya Ndah?" tanya ibuku saat kami duduk santai siang ini.


"Sibuk paling bu, kan sekarang bapak mertua saya sudah punya mobil truck lagi, buat loading sawit, jadi bisa jadi beliau sibuk" kilah ku

__ADS_1


"Dulu waktu Naura juga sama, mereka tidak nengokin bahkan saat akikahan pun mereka tidak menginap, tidak sampai dua jam sudah pulang"


"Sudahlah buk, ga penting. Yang penting buat aku itu ada ibuk, bapak sama kakak-kakak ku" jawabku sambil memeluk pundaknya


"Heran saja Ndah, kok mereka kaya gitu" sambung ibuku


Aku diam, aku tidak akan menceritakan bagaimana perlakuan mereka terhadapku. Aku tidak ingin menambah beban pikiranku. Aku hanya ingin ibuku tahu kalau aku baik-baik saja dengan mertua dan iparan ku.


"Suamimu apa tidak memberitahu orang tuanya kalau kamu sudah lahiran?" kembali ibuku bertanya


"Sudah bu" jawab ku.


Sebenarnya aku berbohong. Jauh sebelum aku mau melahirkan, Andi telah lebih dahulu ngomong kalau saat aku melahirkan, dia tidak akan memberitahu kedua orangtuanya lagi. Dia sudah terlanjur kecewa dengan perlakuan orang tuanya saat pertama kali aku melahirkan Naura.


"Nanti, saat kamu mau lahiran, kita ga usah ngasih tahu ibuk bapak ku ya bun" ucapnya kala itu


"Kenapa yah?" tanyaku


"Untuk apa, nanti ujung-ujungnya mereka juga ga bakal datang" jawabnya


"Terserah ayah saja deh, yang penting saat aku lahiran ayah ada di samping aku" ucapku.


Andi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Nanti jangan nakal ya nak kalau mau lahir, kasihan bunda" ucapnya sambil mengelus perutku.


Seperti mengerti, saat itu bayi dalam perutku menendang yang membuat Andi terperangah kaget bercampur bahagia.


"Ibu juga punya menantu, saat Diana mau melahirkan dan kakakmu Angga mengabari, ibu dan bapak langsung datang dan menunggui sampai selesai semua. Bahkan ibu sampai dua minggu mengurusinya bersama dengan ibunya" sambung ibuku yang membuatku tergagap dari lamunanku.


"Ibu memang mertua the best deh" selorohku sambil tertawa


"Bukan the best atau apa Ndah, tapi ibu itu punya tanggung jawab juga sebagai ibunya, Diana itu melahirkan cucu ibu, penerus ayahmu, sudah sepatutnya sebagai ibu dan sebagai perempuan, ibu perduli dan sayang sama dia" jelas ibuku


Aku mengangguk.


"Andai mertuaku kaya ibu" ucapku dalam hati.

__ADS_1


...++++++++...


__ADS_2