Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kau Berbohongpun Aku Percaya


__ADS_3

"Bunda kemana yuk?" tanya Andi ketika selesai mandi dan mencariku.


"Lari.. lari" jawab Naura dengan mulutnya yang penuh


"Lari?" ulang suamiku


Andi berjalan kekamar depan, dengan harapan ada istrinya di sana. Kosong. Lalu dia keluar lagi dan menuju ruang tamu, tapi Indah juga tidak ada


"Bunda?" panggilnya lagi


Aku yang mendengar panggilannya segera menutup mulutku agar dia tidak mendengar suara tangisku.


Lalu Andi melongok keluar lewat jendela, dengan harapan istrinya ada di teras. Tapi tetap tidak ada.


"Bunda, bunda dimana?" tanyanya sambil berjalan lagi masuk ke ruang tengah. Dilihatnya lampu kamar mandi depan menyala.


Andi segera berjalan kearah kamar mandi dan mendorong pintunya. Terkunci. Dia yakin istrinya ada di dalam.


"Bun?" panggilnya lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi


Aku tetap diam masih dengan membekap mulutku sendiri.


"Bunda, bunda kenapa?bunda baik-baik saja kan?" suaranya mulai terdengar panik.


Digedor-gedornya pintu kamar mandi dengan harapan aku membukakan pintu.


Aku tetap diam tak bersuara. Suaraku hilang oleh menahan tangisanku, aku membekap mulutku dengan harapan agar tangisanku tidak kedengaran dari luar.


"Bunda, bunda.." kali ini suara Mikail.


Ya Rabb, aku paling tidak kuat jika anakku sudah turun tangan.


Terdengar Mikail mulai menangis, aku segera mengambil air dengan gayung lalu membasuhkan kewajahku. Lalu aku bercermin, berharap agar sisa tangisanku tidak tertangkap oleh suamiku.


Klek, aku membuka pintu kamar mandi. Kudapati mereka bertiga berdiri tepat di depan kamar mandi.


Mikail masih menangis saat melihatku. Wajah Naura memucat ketakutan. Ya Rabb, dua malaikat kecilku begitu ketakutan. Aku segera melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengusap sisa air di wajahku.


Suamiku langsung memelukku begitu aku keluar dari kamar mandi.


"Kenapa? kenapa bunda?" tanyanya sambil mencium puncak kepalaku.


Aku diam membisu, tanganku mendorong pelan dadanya.


Aku meraih Mikail dan Naura, kupeluk mereka erat.


"Maafin bunda ya nak" ucapku dengan suara bergetar menahan tangis.


Andi mematung melihat tingkah istrinya. Dia bingung harus berbuat apa, dia bingung ada apa dengan istrinya.


Dia mengelus pundak istrinya yang saat itu berjongkok memeluk kedua buah hatinya.

__ADS_1


"Ayo kita duduk di ruang tivi" ajaknya sambil menarik pelan pundak istrinya agar berdiri.


Aku menghela nafas dalam lalu menggandeng kedua anakku mengikuti langkah kaki suamiku


"Ini buat bunda" ucap suamiku memberikan kantong belanjaan saat kami sudah duduk.


Aku mengambilnya dan mengintip isinya.


"Tengok dulu bun, semoga bunda suka" tambahnya


"Ini untuk ayuk, ini untuk kakak" ucapnya lagi kepada kedua anak kami sambil memberika kantong belanjaan yang berukuran lumayan besar.


Naura langsung mengambilnya. Dan membukanya.


"Yeee,, mainan" ucapnya kegirangan. Dia mulai menumpah seluruh isi kantong tersebut, berdua dengan Mikail dia mulai berbagi mainan tersebut.


Mikail dapat beberapa buah mobil-mobilan berbagai ukuran sedangkan Naura mendapatkan boneka, alat masak-masakan, dan alat musik berbentuk laptop.


Andi menggeser duduknya kedekatku. Digenggamnya tanganku sambil sesekali diciuminya. Aku tetap diam tak bereaksi.


"Suka bun?" tanyanya


"Apa?" jawabku


"Sama gamisnya" jawabnya


Aku meraih kembali kantong belanja yang tadi aku letakkan di meja. Aku buka dan mengambil gamis yang tadi dikatakannya. Gamis berwarna coklat engkap dengan hijabnya.


"Bunda kenapa?" tanyanya


"Apanya?" tanyaku balik.


"Tidur sama ayah di depan, sekarang keloni dulu anak-anak, setelah mereka nyenyak, pindah kekamar depan" ucapnya


Aku menggeleng. Suamiku langsung memiringkan posisi duduknya. Diangkatnya wajahku. Di tangkup dengan kedua tangannya.


"Bunda nangis, aku tahu" ucapnya lirih


Aku melepaskan kedua tangannya dari wajahku. Lalu aku kembali menunduk untuk menghindari tatapannya.


"Ayok nak bobok dulu ya, sudah malam" ucap suamiku sambil membenahi seluruh mainan baru anak-anak kami.


"Bobok sama bunda. Mau bunda" Mikail merengek.


Suamiku menggendong Mikail dan menggandeng Naura lalu meninggalkan aku sendirian yang masih duduk dengan tatapan kosong.


Satu jam buat suamiku membujuk Naura dan Mikail agar tertidur, setelah anak-anak tertidur, diapun mengecup kening ketiga anaknya lalu keluar kamar dan menemuiku yang masih duduk termangu.


Aku terkaget ketika suamiku memeluk pundakku. Ditariknya aku dalam dadanya. Tangisku sudah tidak tertahankan lagi. Aku langsung menangis di dadanya. Menangis dengan suara yang tak bisa kutahan seperti tadi ketika di kamar mandi.


Aku meremas bajunya, dan memukul dadanya. Tangisku tersedu-sedu, rasa sakit di hatiku tidak bisa aku tahan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Andi terdiam dengan perlakuan istrinya, dipeluknya erat istrinya itu. Berkelebat kemungkinan-kemungkinan dalam hatinya. Dalam hati dia mulai menduga-duga jangan-jangan Indah sudah mengetahui perselingkuhannya.


Setelah agak tenang, aku melepaskan pelukan suamiku. Dengan kasar aku mengusap kasar wajahku yang penuh dengan airmata.


"Bunda kenapa?" tanyanya lagi


Aku menggeleng. Andi frustasi menghadapi sikap istrinya yang hanya diam sambil beruraian airmata.


"Tidur sama ayah ya malam ini, sudah lama kita tidak tidur berdua" ucapnya lembut.


Aku diam tak bergeming. Aku berpura-pura tidak mendengarnya. Suamiku lalu masuk kekamar depan, membersihkan tempat tidur, lalu keluar lagi menemuiku.


"Yok" ucapnya sambil meraih tanganku mengajak berdiri.


Dengan lemah aku bangkit. Suamiku lalu merengkuh pundakku dan membimbingku berjalan menuju kekamar.


Direbahkannya tubuhku di atas kasur, dipakaikannya selimut dan diapun tidur di sebelahku.


Aku tidur membelakanginya, dan dia memelukku dari belakang. Dapat aku rasakan jika dia mencium kepalaku.


"Aku sayang sekali sama kamu bunda, sayang sekali" ucapnya pelan sambil masih menciumi kepalaku.


Aku merasa muak mendengar omongan dustanya itu. Ingin sekali rasanya aku meludahi wajahnya saking kecewanya aku.


Dibelainya kepalaku dengan harapan aku bisa diajaknya bicara.


"Bunda masih ingin diam?" tanyanya lagi.


Aku tidak bergeming, aku masih membelakanginya.


"Ya sudah jika itu mau bunda, ayah tidak apa-apa. Tapi nanti jika bunda sudah siap diajak bicara, ngomong ya sama ayah, ada apa. Jangan buat ayah khawatir" ucapnya lagi


"Ayah pulang capek-capek kok malah dicueki" lanjutnya sambil tertawa kecil.


Aku masih tidak perduli. Aku pura-pura memejamkan mataku.


"Ayah ini kerja buat kita bun, buat masa depan anak-anak kita. Bunda jangan berpikiran macam-macam, ayah tidak berbuat aneh-aneh di luar sana, percayalah sama ayah. Ayah sangat mencintai bunda, bunda segalanya buat ayah" bujuknya padaku.


Rasanya ingin sekali aku muntah mendengar rayuannya.


"Bun, bunda percayakan sama ayah?" ucapnya sambil menggoyangkan bahuku


"Bun?" ulangnya.


"Hemmm" jawabku ketus.


"Sayang bunda" ucapnya sambil kembali mencium kepalaku.


Lalu dia kembali memelukku. Mungkin karena dia lelah, akhirnya dia tertidur pulas sambil terus memelukku.


Dan aku? bagaimana aku? Aku masih belum bisa memicingkan mataku. Aku masih terisak menangis pilu.

__ADS_1


Walau malam ini aku tidur sambil dipeluk suamiku, tapi itu tidak mengurangi rasa sakit yang ada dalam hatiku.


__ADS_2