
Naura sudah SD sekarang. Seluruh tabunganku nyaris terkuras untuk membelikannya seragam dan biaya-biaya pendaftaran.
Naura aku masukkan kesebuah madrasah dan aku memilih dia diantar jemput dengan mobil sekolah. Bukan karena aku sok-sokan beruang, tapi aku tidak ada waktu jika mengantar jemputnya dengan aktifitasku yang juga dituntut harus pagi tiba di sekolah
Kedua anak lelakiku aku ajak sekolah, saat aku mengajar mereka aku tinggalkan di kantor atau terkadang aku titipkan dengan satpam.
Umakku sudah melarang, beliau memaksa biar kedua anakku tersebut dititipkan dengannya.
Seperti siang ini, jam 11 aku sudah pulang, mampir sebentar kewarung untuk membeli bahan masakan.
Mataku tertumbuk pada brosur yang tertempel di rolling warung. Aku membaca brosur tersebut
..."Yayasan Cipta Mandiri"...
...Penyalur Resmi Tenaga Kerja Keluar Negeri, dengan tujuan negara Malaysia, Singapore, Arab Saudi, Hongkong dan Jepang....
...bla.. bla... bla...
Aku terus membaca sampai detail gaji dan syarat. Lalu aku memfoto brosur tersebut di hpku.
Setelah membayar belanjaan, aku pulang. Sampai dirumah ternyata Naura sudah pulang, aku segera masuk, mengganti pakaian dan segera masak untuk makan siang dan malam kami.
Aku menghembus nafas karena persediaan beras kami mulai menipis, mana aku belum juga gajian. Maklumlah sekolah swasta dan aku honorer pula, jadi memang harus bersabar menunggu gaji yang entah kapan cairnya.
Orang tuaku memang cukup berada, tapi sejauh ini, uang yang mereka kasih itu aku tabungkan untuk keperluan anak-anakku. Tapi uang itu nyaris habis saat Naura mau masuk SD.
Tidak mau larut bersedih aku segera memulai rutinitas ku. Setelah masak, aku memanggil ketiga anakku dan kami makan siang bersama.
Siang harinya, aku meninggalkan mereka bertiga, karena aku harus mengajar di sekolah SMA.
Naura yang sudah agak besar, mulai bisa aku titipin untuk mengasuh adiknya ketika kutinggalkan mengajar.
...****************...
"Ayah" Adam bergumam ketika menoleh tak sadar saat dilihatnya sebuah mobil silver lewat di depan jalan tak jauh dari tempatnya bermain.
Segera dia berdiri, berlari mengejar mobil tersebut yang berjalan pelan sambil terus berteriak
"Ayah, ayaaaahhhhh"
Naura dan Mikail yang tersadar adik mereka berlari segera menyusul berlari pula.
"Adekkkk..." teriak Naura
Benar, itu memang mobil yang dikemudikan oleh Andi. Dia sengaja lewat depan kontrakan Indah untuk melihat anaknya.
Tapi dia tidak sadar jika Adam mengetahuinya.
Adam terus berlari, begitu juga dengan kedua kakaknya yang mengejar di belakang.
"Ayah, adek minta uwit, adek mau beli pelmen" teriaknya
Tina melihat dari spion.
"Mas, kayanya itu anak kamu deh" ucapnya.
Andipun melakukan hal yang sama. Dia melihat dari spion, dan dia sadar jika yang mengejar itu adalah anak-anaknya.
"Berhenti mas" ucap Tina
"Kamu yakin?" tanya Andi ragu
"Iya" jawab Tina singkat
Andi segera mengerem mobilnya. Dan keluar dari dalam mobil.
"Ayaaahhhhhh...." teriak Naura kencang
Dia semakin kencang berlari demi diketahuinya jika yang berdiri di samping mobil saat itu adalah ayahnya
Naura segera menumbuk perut Andi. Dipeluknya pinggang pria yang tanpa ekspresi tersebut.
Adam dan Mikailpun akhirnya sampai dengan nafas yang tersengal.
"Ayahhh" ucap mereka berdua sambil memeluk pinggang Andi.
Tina segera turun dari mobil, dia berdiri di sebelah Andi, sama seperti Andi diapun tanpa ekspresi
"Ayah kami kangen" ucap Naura
"Ayah kemana saja, kok tidak jemput kami" lanjutnya
Andi berjongkok di depan ketiga anaknya. Ditatapnya satu persatu wajah polos mereka.
__ADS_1
"Ayah di rumah kita, kan kalian tinggal sama bunda"
Ketiganya diam tak menyahut. Mereka tidak faham arah omongan Andi.
"Oh iya, ini bunda baru kalian" ucap Andi mengenalkan Tina pada ketiga anaknya
Naura menatap Tina. Wajahnya langsung cemberut
"Nggak mau. Dia bukan bunda kami. Bunda kami ada di sekolah" teriaknya
Tina memasang wajah datar, cuek.
"Ayo mas kita pulang!" ucap Tina
"Ayah adek mau pelmen, adek minta uwit, sibuu" Adam bersuara takut
Andi menatap kearah Adam
"Adam minta uang jajannya sama bunda saja yaa"
Tampak kecewa di matanya.
"Ayah, ajak kami pulang. Kami tidak mau jauh dari ayah" Naura mulai terisak
"Kalian tinggal sama bunda saja ya. Kan ayah sekarang ada bunda baru" jawab Andi
"Tapi dia bukan bunda kami!" Naura berteriak lagi
Tina segera masuk kedalam mobil tidak memperdulikan Naura yang berteriak
"Ayah, kami pengen jajan" rengek Mikail
"Kan tadi ayah sudah bilang, minta uangnya sama bunda"
"Sibu ayah. Adek mau pelmen" Adam mulai menangis
"Naura, ajak adik-adiknya pulang, ayah mau pulang" jawab Andi sambil berdiri
Naura terisak, begitu juga dengan Adam
"Adek mau jajan yah, dia pengen permen" jawab Naura
"Minta sama bunda kalian. Kan tadi ayah sudah bilang" suara Andi meninggi
Andi segera menghidupkan mesin mobil lalu menjalankan dengan perlahan
"Ayaaahhhh... adek mintak uwit yah" Adam berteriak sambil kembali mengejar
Andi hanya melihat melalui spion ketika Adam berlari mengejarnya
"Ayahhhhh"
Naura dan Mikail yang melihat adiknya kembali mengejar mobil yang dikendarai Andi, segera berlari mengejar Adam.
"Adeekkk, jangan dek, kita pulang saja yok" teriak Naura
Adam terus berlari, sampai akhirnya dia terjatuh keaspal.
Lututnya berdarah dan dia langsung menangis. Naura yang segera sampai segera membantu adiknya berdiri dan segera meniup lutut adiknya yang berdarah
"Kita pulang yok dek" ajaknya
Adam terus menangis. Naura segera memapah adiknya berjalan
"Adek mau jajan yuk, adek mau pelmen, mintak uwit sama ayah yuk" ucapnya sambil menangis
"Ayah kita sudah jauh dek" jawab Naura
Mikail sepanjang jalan hanya diam, Sementara Adam tak berhenti menangis. Sampai di kontrakan Naura segera mengajak keduanya mandi, tetapi Adam masih melanjutkan tangisnya.
Aku yang jam setengah enam baru sampai rumah langsung memasukkan motorku. Aku melihat ketiga anakku terduduk murung di ruang tamu.
Tak seperti biasanya, batinku.
Adam begitu melihatku langsung menangis kencang. Aku segera berjalan cepat kearahnya dan menggendongnya.
Tampak dia meringis ketika bersentuhan dengan blazerku.
Aku segera menarik kakinya. Dan kudapati lututnya yang memar berdarah.
"Adek kenapa yuk?" tanyaku pada Naura yang berwajah murung
"Jatuh" jawabnya singkat
__ADS_1
"Makanya jagain adek yang benar, masa cuma disuruh nungguin adek nggak bisa. Kalau adeknya bahaya gimana?" aku langsung mengocehinya
"Adek tadi ngejar ayah!" teriaknya
Deg!!!
Jantungku langsung berdetak kaget ketika aku mengetahui yang sebenarnya.
Aku segera duduk, Adam masih digendonganku
"Apa yuk? ngejar ayah?" tanyaku, kali ini dengan suara pelan
"Iya, tadi ada ayah" jawabnya
"Ayah kesini?"
Naura menggeleng
"Terus?" tanyaku penasaran
Lalu Naura menceritakan semuanya, dadaku turun naik menahan emosi, marah, kecewa, sakit hati, sedih semuanya campur aduk
"Adek cuma pengen pelmen bun" jawab Adam
Aku mengangguk kearahnya sambil menahan air mataku
"Iya nak, iya, nanti bunda belikan yah" jawabku bergetar
"Sibu bunda, tapi ayah nggak ngasih" sambungnya
Makin nyeri dadaku mendengarnya. Mikail sedari tadi hanya diam, aku segera mengambilnya dan mendudukkan dia di paha kiriku.
"Kakak kenapa?" tanyaku pelan
"Pengen jajan, tapi ayah nggak ngasih" jawabnya sendu
Airmataku nyaris tumpah. Aku segera mendudukkan mereka berdua di lantai dan segera berlari masuk kedalam kamar mandi
Sesampai dikamar mandi aku segera memasukkan wajahku kedalam bak mandi dan berteriak sekuat-kuatnya di sana
"Jahat kamu Andi, jahat kamu, kamu tega, kamu tegaaaaa" teriakku sambil menangis di dalam air
Aku mengangkat kepalaku, mengusap air yang bercampur airmata di wajahku.
Aku terduduk di lantai kamar mandi. Terisak sendirian di sana. Dadaku rasanya belum lega
Aku kembali memasukkan wajahku kedalam air, kembali berteriak sekencang-kencangnya
"Akan kubalas kamu Andi, akan kubalas" teriakku
Kembali aku mengangkat kepalaku, terduduk lagi dilantai, kembali menangis
"Bun? bun?" Naura mengetok pintu kamar mandi
Dengan cepat aku mengusap kasar wajahku
"Bunda ngapain di dalam kok lama?" tanyanya
"Bunda pup ya?" tanya Mikail sambil tertawa
"Iya nak" jawabku dengan suara serak
Kudengar mereka bertiga cekikikan mendengar jawabanku
"Hii, bunda pup, hiii" ucapnya sambil terus cekikikan
Aku yang masih berada di dalam kamar mandi menghembus nafas kuat-kuat untuk melegakan hatiku. Setelahnya aku langsung mandi.
...****************...
Disaat ketiga anakku terlelap, aku seperti biasa masih saja terjaga. Aku teringat dengan brosur yang aku foto siang tadi.
Aku kembali menatap layar ponselku bergantian dengan menatap wajah ketiga anakku.
"Sepertinya ini harus aku lakukan, aku tidak ada pilihan lain" bisikku
Airmataku menetes ketika aku kembali menatap wajah ketiga anakku yang terlelap.
Berbagai macam pikiran berseliweran di otakku.
"Jika terus bertahan di sini, bagaimana dengan nasib ketiga anakku, akan jadi apa mereka?, tapi jika mereka aku tinggalkan bagaimana mereka nanti?, siapa yang akan mengasuh mereka? Mereka tidak akan pernah aku serahkan sama Andi dan istri barunya. Bisa habis disiksa nanti anak-anakku. Atau aku menitipkan mereka pada umakku?, ahh kasihan beliau, sudah tua harus mengasuh lagi"
Berbagai pikiran berdengung di kepalaku. Aku memeluk ketiganya, meneteskan airmata
__ADS_1
"Apapun akan bunda lakukan demi kalian nak, walaupun nyawa taruhannya" batinku sambil terisak