
Suara takbiran dari masjid-masjid dan mushalla malam ini begitu syahdu. Aku yang sedang sibuk mengaduk puding di atas kompor secara sadar mengikuti lantunan takbir tersebut.
Naura sibuk memotong-motong sayuran yang aku letakkan. Aku menghela nafas dalam saat aku melihatnya, sudah ke cegah berkali-kali tapi masih saja dilakukannya. Jadilah sayuran yang seharusnya bagus malah berubah tak keruan.
Suamiku duduk di depan pintu belakang rumah sambil mengisap rokoknya, dan tentu saja dengan handphone di tangannya. Pintu belakang sengaj kami buka agar udara dari sawah yang ada di belakang rumah bisa masuk. Sedangkan Mikail dan Adam bermain mobil-mobilan, masih di dapur itulah.
"Bunda, kemarin aku ketemu cewek ayah" Mikail berbicara tanpa mengalihkan perhatiannya pada mobil-mobilan yang dijalankannya.
Degg!!!
Aku spontan berhenti mengaduk puding yang sedang mendidih itu. Aku menoleh pada anak kedua ku itu. Menatapnya.
Lalu aku beralih ke suamiku yang seolah tak mendengar ucapan anak kami.
"Apa kak?" ulang ku
"Aku ketemu cewek ayah" ulangnya masih tanpa menoleh ke arahku yang sudah memasang wajah marah.
Aku menoleh pada suamiku. Ku tatap tajam dia yang juga menoleh ke arahku.
"Ah, kakak ini jangan aneh-aneh deh" jawab suamiku
"Terus kak?" kejar ku
"Sudah bun, omongan anak kecil jangan didengar"
Naura langsung menoleh kearah ayahnya.
"Ayah punya cewek?" tanyanya
Andi diam mendapat pertanyaaan dari anaknya. Aku masih di tempatku juga menatapnya.
"Ah kakak ini ngomongnya aneh yuk, jangan didengari"
"Anak kecil itu jujur, umur kakak baru empat tahun, jadi dia belum bisa bohong" sela ku dengan menekan emosi agar tidak terlihat oleh anak-anakku.
"Kapan kak?" tanyaku lagi
Andi mulai gelisah, duduknya mulai tak tenang. Berkali-kali dia menghembuskan asap rokok dengan kasar.
__ADS_1
"Waktu aku ikut ayah jalan-jalan"
Lemas rasanya kakiku mendengar jawaban anakku. Aku yakin Mikail tidak berbohong, mana mungkin anak sekecil itu bisa berbohong. Aku yakin dia jujur.
"Cantik ngga kak?" ayuk yang bertanya
"Ehmm, ngga tau" jawabnya
Aku beranjak kearahnya setelah sebelumnya mematikan kompor. Memangkunya dan mulai menginterogasinya.
"Kakak ngga bohongkan" tanyaku pelan
"Nggalah bunda, bohongkan dosa" jawabnya tanpa beban.
Nyuuutttt... tiba-tiba rasanya ada yang sakit di dalam dadaku.
"Kakak tahu tidak nama cewek ayah?
Dia menggelengkan kepalanya.
"Kakak sama cewek ayah jalan-jalan kemana?"
Itu artinya kejadian itu seminggu yang lalu. Andi memang mengajak kakak untuk jalan-jalan, dan benar ketika pulang dia membawa begitu banyak baju untuk kami.
"Kok kakak tahu kalau itu cewek ayah?" tanyaku lagi
"Dia ngomong dengan kakak"
Mataku makin tajam menatap Andi.
"Ceweknya pakek baju pink bunda, pulangnya ke arah yang banyak lampu-lampunya. Yang kata bunda lampu hijau untuk jalan, merah untuk berhenti dan kuning hati-hati"
Kembali dadaku sesak.
"Cewek ayah beli baju juga kak?"
Dia menganggukkan kepalanya. Aku manggut-manggut, sementara Andi makin gelisah.
"Cewek ayah, ayah kasih duit juga ngga kak?" si ayuk juga ikut-ikutan.
__ADS_1
"Iya, waktu cewek itu turun dari mobil ayah kasih duit"
"Kakak ngobrol apa sama cewek ayah?"
"Kakak cuma senyum-senyum saja, sambil ngomong cie cie ayah, ayah ada cewek yaa"
Aduh nak, kamu ngomong santai banget, tanpa beban. Aku yang mendengarnya ini yang sakit, ucapku dalam hati.
"Sudah, tidur ya" ajakku pada anak-anak, menggiring mereka masuk ke kamar.
Aku tinggalkan suamiku sendirian di belakang yang masih sibuk dengan kebingungannya.
...****************...
"Bun..."
Aku diam tak bergeming, aku terus saja membelakangi suamiku.
"Tidak mungkin bun aku mengkhianati kamu lagi"
Aku menutup telingaku dengan bantal, aku tidak menghiraukan setiap perkataannya.
Dengan pasrah akhirnya Andi merebahkan badannya di sebelah anak bungsunya. Pikirannya kian kacau membayangkan kekecewaan dan kemarahan istrinya. Bisa jadi momen maaf-maafan besok berubah menjadi momen marah-marah.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi Andi masih belum bisa memicingkan matanya. Suara nafas teratur dari istrinya cukup menandakan jika dia sudah nyenyak. Perlahan Andi turun dari tempat tidurnya, berjalan memutari ranjang menuju kearah istrinya yang pulas.
Ditatapnya wajah istrinya yang terlelap. Benar kata orang, jika ingin melihat sejauh apa cinta dan peduli kita pada pasangan, lihatlah tatkala dia tertidur. Wajah lelahnya akan tergambar di sana. Dari sana kita bisa melihat perjuangannya.
Hati Andi berdesir tatkala dilihatnya wajah lelap itu. Bisa dibayangkannya bagaimana hari-hari Indah dengan tiga anak yang masih kecil, rutinitas sekolah, rumah, anak, suami. Berputar terus seperti itu tiap hari.
Dibelainya perlahan rambut istrinya. Berbagai pikiran berkelebat di hatinya yang kacau.
Aku membuka mataku tatkala ku rasakan ada gerakan di atas kepalaku. Segera aku mengambil tangan itu dan menepiskannya dari kepalaku begitu tahu jika itu adalah tangan suamiku.
"Bun...,"
"Aku ngantuk, jangan ganggu" jawabku sambil kembali membelakanginya.
Lagi-lagi Andi menghela nafas dalam dan kembali ketempat tidurnya dan berusaha memejamkan matanya.
__ADS_1
...****************...