
Sampai di rumah ternyata anak-anakku tidak ada di rumah. Jam di dinding sudah menunjukkan angka lima lewat. Aku mengambil ponsel dan menelpon umakku
"Mak, anak-anak di sana dulu ya, aku mau beres-beres rumah, nanti kalau selesai, aku jemput" bohongku
"Iya, mereka juga sudah umak mandikan" jawab umakku
"Terima kasih mak" tutupku
Aku segera masuk kamar, berganti memakai handuk lalu mandi. Selesai berganti baju aku duduk depan tivi menunggu suamiku pulang.
Tak lama suara mobil suamiku terdengar. Wajahku langsung berubah masam.
"Assalamualaikum" ucapnya begitu masuk rumah
"Waalaikumussalam" jawabku ketus
Andi segera masuk tanpa menoleh padaku. Aku makin marah melihat sikap cueknya.
Setelah dia selesai mandi dan duduk santai aku mulai mendekatinya dengan emosi yang ku tahan
"Sekarang aku minta sama kamu, jauhin perempuan itu!" kataku langsung
Andi menoleh dan menatapku dengan bingung. Aku menghempas nafas dalam melihatnya diam.
"Jika kamu tidak bisa menjauhi dia, berarti kamu bisa menjauhi ku"
"Maksud bunda apa?" ucapnya akhirnya
"Lepaskan aku, kembalikan aku dengan baik-baik pada kedua orang tuaku"
Andi melengos sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kamu harus bisa memilih satu diantara kami" tegasku
"Aku jelas milih kamu bun" jawabnya sambil memegang tanganku
Segera kutepis tangannya
"Jika kamu memang memilih aku, jauhin perempuan itu. Stop berhubungan dengan dia. Tiga tahun Andi, tiga tahun kamu bermain api, serong di belakangku. Aku fikir setelah kita dari Bengkulu dulu kamu benar-benar menjauhi perempuan itu. Tapi ternyata tidak, kamu sering keluar makan siang sama dia, antar jemput dia, bahkan kamu sering pulang kerumah dia sebelum kamu pulang kerumah!" teriakku
"Bohong itu bun. Siapa yang meracuni otak bunda sampai bunda menuduh seperti itu?" elak Andi
"Bohong kata kamu? aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Andi bagaimana kamu berduaan di dalam mobil sama dia, kamu keluar dari dalam rumahnya, kamu bercinta di ruang kerja, kamu ciuman di sana, kalian... ahhh sampai aku tidak sanggup menyebutkan apa yang aku lihat Andi saking jijiknya aku"
Andi tertunduk. Dia tidak menyangka jika istrinya mengetahui semua perbuatannya.
"Aku bertahan sama kamu cuma karena ketiga anak kita. Jika tidak karena aku memikirkan bagaimana nasib mereka, kamu sudah aku tinggal pergi. Tidak sudi rasanya aku bersuamikan pria macam kamu. Tukang selingkuh, pelit, dan sekarang kamu mulai main tangan sama aku"
"Kamu jahat Andi. Bukan cuma fisikku yang kamu sakiti, tapi jiwa lahir batin aku juga kamu sakiti" Ucapku dengan airmata yang lolos dari mataku.
"Aku sengaja menitipkan anak kerumah umak, agar mereka tidak mendengar bagaimana aku teriak-teriak. Agar mereka tidak tahu kalau orangtuanya bertengkar. Aku memikirkan mental anak-anak. Tapi kamu?? kamu sedikitpun tidak berfikir kesana Andi. Nafsu syahwat saja yang kamu fikirkan"
"Bilang sama aku, gaya bercinta yang seperti apa yang diberikan selingkuhan kamu yang tidak bisa aku kasih ke kamu, hah??, sampai kalian berzina seperti binatang"
Wajah Andi terangkat demi mendengar kalimat terakhir istrinya
"Kenapa? tidak suka aku bilang binatang? cuma binatang yang sah berzina Andi, bukan manusia"
__ADS_1
"Sekali lagi kamu ngomong lancang, aku pukul kamu!" geramnya
"Pukul, silahkan pukul. Ini sudah di rumah. Bukan di Pekanbaru. Di rumah ada pisau, ada golok, jadi kalau kamu pukul aku, aku bisa tusuk perut kamu pakai pisau" ancamku
Wajah Andi memerah.
"Ingat Andi, aku pernah bilang sama kamu, apapun yang kamu lakukan sama aku, pasti aku balas" ucapku sambil berdiri
Belum sempat aku untuk berjalan, tangan Andi sudah menarik kasar tanganku
"Silahkan. Silahkan kamu mau berbuat apapun semau kamu. Tapi aku tidak akan meninggalkan Tina" bentaknya
Tanganku segera bergerak mengambil vas bunga yang ada di meja
"Praaangggg"
Vas itu aku pukulkan ke kepalanya. Andi spontan melepaskan cengkraman tangannya lalu memegang kepalanya yang berdenyut sakit karena pukulan vas bunga.
"Kurang ajar kamu!" bentaknya
"Kamu yang kurang ajar!" bentakku balik
Dengan kasar Andi menarik tubuhku dan aku dengan sekuat tenaga berusaha melepaskannya. Karena tidak juga lepas, akhirnya aku menggigit tangannya
"Arghhhh" Andi menjerit tertekan karena kesakitan.
Aku lari kedapur, Andi mengejarku. Dengan cepat aku ambil pisau dapur
"Kamu mendekat, perut kamu buyar!" ancamku
Aku sudah nekat, sudah gelap mata. Saat Andi mau merebut pisau dari tanganku, aku segera mengarahkan pisau ketangannya dan melukai tangannya.
Setelah Andi luka, aku berlari masuk kekamarku dan mengambil hp berniat menelpon kakakku. Tapi segera aku batalkan niat itu, karena jika sampai kakakku tahu, alamat mati Andi di tangannya
"Bukak perempuan sialan!" gedor Andi
Aku tetap diam di kamar, bingung apa yang harus aku lakukan.
"Cepat buka!" gedornya lagi
Saat Andi berteriak tiba-tiba terdengar suara klakson motor kakakku. Nafasku jadi sedikit lega karena kedatangan kakakku, setidaknya aku bisa selamat dari pukulan Andi.
"Sat? Pisat?" panggil kakakku
Aku segera merapikan jilbabku lalu membuka pintu kamar
Kulihat sudah tidak ada lagi Andi, entah kemana dia. Mungkin dia lari kekamar depan demi mendengar suara kakakku
Aku segera membuka pintu dan mendapati kakakku telah membawa ketiga anakku
"Kirain tidur tadi" kata kakakku begitu melihatku
Aku segera membawa ketiga anakku masuk dan kakakku pulang.
"Bunda kok lama" protes Naura
"Iya maaf" jawabku
__ADS_1
Ketiga anakku aku bawa masuk kekamar belakang, lalu pintu aku kunci
...****************...
Tengah malam aku terbangun karena haus. Aku turun dari ranjang lalu berjalan menuju dapur dan mengambil air dalam kulkas
Bugh!!!
Sebuah pukulan menghantam pundakku. Aku terhuyung dan kepalaku tiba-tiba pusing.
Rambutku langsung dijambak dan aku terdongak keatas
"Rasakan hah oleh kamu, enak?!" suara Andi terdengar geram
Aku berusaha melepaskan tangannya dari kepalaku
Aku injak kakinya, cengkramannya lepas. Lalu aku mengambil batu yang biasa aku gunakan untuk mengulek di cobek.
Dengan emosi aku pukulkan kekepalanya. Andi tampak jatuh dan memegangi kepalanya.
Dengan kalap aku menjambak rambutnya dan aku jedot-jedotkan ke dinding kulkas.
"Rasakan sama kamu ya.. rasakan. Dasar lelaki pengecut, beraninya sama perempuan" geramku sambil terus menjambak rambutnya
"Ini balasan karena kamu telah memukul saya" kataku lagi dengan geram.
Aku lepaskan cengkraman tanganku dari kepalanya saat aku merasakan tanganku basah.
Aku segera menghidupkan saklar lampu, dan betapa kagetnya aku saat aku melihat telapak tanganku penuh darah.
Kulihat di pelipis Andi mengalir darah. Andi yang terlihat lemas, terduduk di lantai. Aku segera mencuci tanganku dan segera mendekatinya yang semakin lemas.
"Tolong aku" ucapnya lirih
"Ihhh males banget" jawabku jijik
Brukk.
Andi ambruk pingsan. Aku kaget melihatnya pingsan, dan kebingungan sendiri. Aku teringat jika Andi memang takut dengan darah. Jadi wajar jika dia pingsan.
Aku ambil senter, dan melihat bekas pukulanku di kepalanya. Aku tidak faham apakah itu parah atau tidak, setidaknya Andi sudah mendapatkan balasan instan dariku
Jika diturut rasa sakit hati, ingin sekali rasanya aku meninggalkannya tergeletak di sini. Tapi demi rasa kemanusiaannya, tak urung lukanya bersihkan.
Saat aku membersihkan luka di kepalanya Andi siuman
"Bun..." lirihnya
"Diam, nggak usah berisik!" bentakku
Aku terus membersihkan lukanya lalu memberikan obat merah dan menutupnya dengan plester. Setelah aku berdiri dan meninggalkannya sendiri di dapur
"Bun, tolong bawa aku kekamar" ucapnya memelas
"Mahap yaa" jawabku sambil berlalu
Dengan menahan kesal dan sakit Andi bangkit dan berjalan menuju kamar depan lalu berbaring dengan kepala yang berdenyut sakit
__ADS_1