
"Kak Jeeeennn...." aku langsung berteriak begitu hakim ketua dan anggotanya keluar.
Aku segera berlari kearahnya. Aku tidak memperdulikan tatapan heran orang yang melihatku berlari kearah kak Jen.
Aku sudah siap hendak memeluknya ketika dengan sikap dinginnya kak Jen mengangkat telapak tangannya menyuruhku berhenti
"Eits, stop!!"
Aku yang tadi begitu antusias dengan mata berbinar memasang wajah merajuk
"Yeay siapa?" tanyanya angkuh
Aku makin menekuk wajahku dan memanyunkan bibirku
"Sana jauh-jauh dari eyke, eyke nggak mau ketularan jadi jendong" jawabnya masih dengan gaya angkuhnya
"Yakin?" tanyaku dengan suara khas merajuk
Kak Jen bergeming. Dia pura-pura merapikan rambutnya
"Aku telpon abang ya, aku adukan sama abang perbuatan kakak" ancamku sambil mengeluarkan hp
"Eh eh eh stop!! jangaaann!!! teriaknya panik
Aku terkekeh.
Segera dia memelukku. Aku membalas memeluk hangat dirinya.
"Aku kangen banget sama kakak" ucapku
"Tapi eyke nggak tuh" jawabnya
Aku segera mencubit pinggangnya.
"Awww" pekiknya
"Terima kasih atas bantuan madam" ucap bang Hotlan yang tiba-tiba sudah berdiri di depan kami
Kami segera melepas pelukan kami. Dan aku tersenyum malu kearah pak Hotlan.
"Itu tidak gratis bapak Hotlan yang terhormat" jawab kak Jen kembali angkuh
"Ya ampun ternyata yang kudengar jika anda benc***g matre rupanya bukan isapan jempol belaka" balas pak Hotlan
Kak Jen langsung melototkan matanya.
"Bercanda kali pak ah" jawabnya merajuk
Aku dan pak Hotlan terkekeh.
"Seperti biasa, saya harus segera kembali ke Jakarta Ndah, sampai ketemu disidang terakhir dua minggu yang akan datang" ucap pak Hotlan sambil mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangan beliau dengan haru
"Sekali lagi terima kasih atas semuanya pak Hotlan. Aku tidak tahu jadi apa sidang ini jika tidak ada bantuan bapak" jawabku dengan mata berkaca-kaca
"Ari itu orang berpengaruh di negeri ini. Jadi tidak sulit untuk dia mencari bukti untuk menjatuhkan mantan suami kamu itu"
Aku menganggukkan kepalaku. Setelah bersalaman dengan kak Jen, pak Hotlan pergi dengan enam pengawal yang sama seperti minggu lalu.
"Ayo mbak" ucap pak Abraham mengagetkanku yang sedang menatap langkah pak Hotlan yang kian menjauh
"Ya ampuuunnn.. Ni laki sigap siaga kenapa ada disini juga sih. Hei lelaki sigap siaga, apa dunia ini begitu sempit sehingga anda ada dimana-mana" ucap kak Jen bernada kesal
"Bukan urusan kamu!" bentak pak Abraham
Kak Jen terperanjat lalu terkekeh.
"Jangan-jangan kita jodoh" ucapnya genit
Sekarang giliran aku yang terkekeh.
"Hiii amit-amit" jawab pak Abraham geli yang makin membuat aku terpingkal.
"Ayo mbak, benc**"g ini kita tinggalkan sendiri di sini biar dia mati di palak preman" ucap pak Abraham sambil berjalan mendahului kami.
"Heiii... aku ikut" teriak kak Jen menyusul kami yang sudah berjalan duluan meninggalkannya
Aku merogoh hp dalam tasku lalu membuka kontak. Aku terpaku sesaat menatap hp, aku ragu apakah aku pantas menelpon abang duluan. Bagaimana jika dia sibuk.
"Telpon saja" ucap kak Jen seperti tahu kebimbanganku
Mukaku merona karena ketahuan olehnya.
"Yeay abis nelan tomat berapa biji?"
Aku menoleh heran padanya
"Tuh muka udah kaya tomat masak merahnya" jawabnya sambil berlari
Aku segera mengerjarnya tetapi hp berdering memaksaku untuk menghentikan aksi lariku
Abang.
Segera aku jawab
__ADS_1
"Ya abang?" jawabku terengah-engah
Diseberang Ariadi mengernyitkan dahinya mendengar nafas Indah
"What are you doing?" tanyanya cepat
Baru aku akan menjawab hp di tanganku direbut kak Jen
"Hai bos ganteengggg" ucap kak Jen genit
Ariadi yang mendengar suara Jennifer langsung memasang wajah datar.
"Mana Indah?" jawabnya dingin
"Ihhh, galak banget sih, nih perempuan yeay lagi sama eyke, kok kalian kaya ada chemistry gitu yaa" ucapnya sambil cekikikan.
"Kak sudah, jangan!" larangku
Tapi kak Jen tidak perduli
"Tadinya si Indah mau nelpon yeay, tapi dia malu, terus nggak jadi, Terus sama eyke diledekin, sampai merah tu wajahnya"
Ariadi tersenyum simpul. Hatinya jadi senang
"Berikan sama Indah, aku mau ngomong sama dia"
Jennifer lalu memberikan hp ketangan Indah.
"Mau ngomong apa?" tanya Ariadi
"Ehmmm, mau ngomong itu bang" ucapku bingung
"Mau ngomong I love you katanya bos" teriak kak Jen
"Kak Jen!" teriakku geram
Jennifer cekikikan.
"Benar?" tanya abang
"Nggak kok bang" ucapku malu
Ariadi tersenyum kembali
"Terima kasih ya bang"
"For what?"
"Karena telah mendatangkan kak Jen"
"Abang tahu Jennifer itu dibutuhkan, itulah makanya abang mengirim dia kesana"
"Abangnya kapan kesini?" ucapku pelan
"Apa Ndah?" ulang Ariadi
"Ah nggak papa bang, nggak papa. Untung abang nggak dengar" jawabku lega
Kembali di seberang Ariadi tersenyum.
"Someday" jawabnya
Mukaku langsung terasa panas.
"Cie cieeee" kak Jen kembali menggodaku
"Kakaakkk..." kejarku
Ariadi tersenyum mendengar suara Indah yang kesal terhadap Jennifer. Dan dapat didengar olehnya suara gaduh Indah yang berlari
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Waiting for me" ucapnya sambil meletakkan hp di meja.
...****************...
"Nah inilah tempat tinggal saya sekarang kak" ucapku sambil membukakan pintu untuk kak Jennifer dan pak Abraham
Tampak kak Jen mengedarkan pandangannya kedalam kontrakanku yang sederhana
"Kak Jen pasti heran, ya kan?" tebakku sambil meletakkan teko air minum
"Ah tidak, biasa saja" jawabnya
"Masaaa? godaku
"Dulu sebelum sukses seperti sekarang kakak juga tinggal dikontrakan. Jadi asisten mua, kerja banting tulang tak kenal lelah, dan alhamdulillah kerja keras kakak tidak sia-sia"
Aku tersenyum bangga padanya.
"Kalo yeay?" tanyanya pada pak Abraham yang sedang menuangkan air kedalam gelas
"Gue?" tanya pak Abraham
"Ya iya lah yeay, kan kita belum tahu latar belakang situ kaya apa"
__ADS_1
Aku tersenyum melihat tingkah kak Jen
"Gue mantan napi" jawab pak Abraham
Aku dan kak Jen menelan ludah dan saling toleh
"Widikkk berarti yeay orang jahat dong" jawab kak Jen yang langsung terburu menutup mulutnya
"Iya, makanya elu jangan macam-macam sama gue kalau nggak mau gue bunuh kaya orang rese yang gue bunuh dulu"
"Jadi yeay masuk penjara akibat bunuh orang??"
"Iya" jawab pak Abraham singkat dengan suara beratnya.
"Aww,,, takuuuttt" gidik kak Jen
Aku terkikik melihat ulah genitnya
"Terus kok bisa yeay jadi bodyguardnya si bos ganteng gimana ceritanya?"
"Ceritanya panjang" jawab Pak Abraham sambil menyulut rokok
Aku dan kak Jen duduk di depan beliau dengan antusias menantikan cerita beliau
"Gue dipenjara selama sepuluh tahun"
"What?? sepuluh tahunnn??" pekik kak Jen yang langsung aku colek tangannya
Kak Jen langsung tersenyum basi pada pak Abraham dan tak enak hati
"Pak Ari yang menolong gue saat gue luntang lantung di jalan" lanjutnya sambil menyandarkan badannya ke tembok
"Gue ingat banget hari itu. Itu adalah hari ketujuh kebebasan gue saat gue ketemu beliau. Gue bebas tanpa satupun keluarga yang menjemput. Gue pulang kerumah ternyata bini gue udah pergi ninggalin gue, gue dengar dari tetangga dia pergi sama laki-laki lain dan udah nikah waktu tahun pertama gue di penjara"
"Saat itu gue benar-benar nggak ada duit, sepeserpun nggak ada. Gue mencoba kerja apa saja yang penting gue bisa makan. Sampai akhirnya pak Ari menemukan gue sedang cari sisa makan di kotak sampah pas depan kantor beliau"
"Saat itu beliau entah dari mana. Melihat gue ngais-ngais kotak sampah beliau mendekat. Dan jujur saat itu gue takut jangan-jangan gue diusir kaya yang sudah-sudah"
"Tapi ternyata tidak. Beliau ngajak gue masuk keruangannya dan beliau langsung nyuruh anak buahnya untuk belikan gue makanan yang banyak. Gue yang saat itu kelaparan kalap menghabiskan makanan depan gue"
"Baru setelah itu beliau nanyain asal usul gue, pekerjaan gue, status gue. Seluruhnya gue ceritain tanpa ada yang gue tutup-tutupin. Diluar perkiraan gue, beliau menawarkan pekerjaan pada gue. Beliau meminta gue menjadi security. Dan kesempatan itu tidak gue sia-siakan. Hari itu juga gue langsung kerja. Dan baru dua bulan gue jadi security beliau minta gue untuk jadi bodyguardnya bersama dengan dua teman gue Binsar dan Tomo, yang pernah kalian lihat pas di Pekanbaru"
Aku dan kak Jen manggut-manggut mendengarkan kisahnya.
"Semua orang punya cerita masing-masing ya pak" jawabku sambil menghembus nafas berat
"By the way itu bos udah punya istri belum sih?" tanya kak Jen yang membuat hatiku juga ingin mengetahui
Pak Abraham menggeleng.
"Beliau masih lajang" jawabnya
"Awwwww"pekik kak Jen kegirangan yang membuat aku dan pak Abraham menatap heran padanya
"Berarti yeay ada kesempatan" tepuknya pada bahuku dengan genit
Aku tersenyum basi. Pak Abraham juga tersenyum kearah kami berdua
"Lahhhh ni bapak bisa senyum juga ternyata?" mata kak Jen melotot demi melihat pak Abraham yang tersenyum kearah kami
Pak Abraham terkekeh.
"Saya juga manusia, Paijo!" bentaknya
Aku makin terbahak mendengar beliau menyebut kak Jen dengan sebutan Paijo. Tapi berbeda dengan kak Jen, mulutnya langsung komat kamit tidak jelas dengan bola mata yang berputar, tampak sekali dia kesal
...****************...
"Terima kasih banyak ya Nak Jenni untuk pertolongannya sama Indah" ucap ibuku sore ini saat kak Jen dan pak Abraham aku ajak kerumah orang tuaku.
Ketiga saudaraku juga ada di rumah orang tuaku. Sepertinya kedua kakakku sudah menceritakan bagaimana sidangku tadi
"Bapak ini siapa?" tanya kak Andri pada pak Abraham
"Saya bodyguardnya madam Jennifer" jawab pak Abraham
Aku dan kak Jennifer bernafas lega karena akhirnya pak Abraham menyetujui untuk tidak membuka jati dirinya depan keluargaku.
Kak Andri tampak menganggukkan kepalanya.
Setelah cukup basa basinya, yuk Yana menghidangkan makanan yang tadi telah dibuatnya.
"Nah, kakak dan pak Abraham puas-puasin makan empek-empek dan modelnya" jawabku
"Model?" tanya kak Jen heran
"Iya, ini namanya model. Terbuat dari adonan sagu dicampur ikan, enak banget kak, dia tidak pakai cuko, tapi pakai kuah" ucapku sambil menaruh model dalam mangkuk
"Dan ini kapal selam, terus ini lenggang" ucapku lagi
"Namanya unik-unik ya" jawab kak Jen sambil menyendok model
Kami terkekeh.
"Itulah hebatnya orang Palembang" jawabku bangga
__ADS_1
Jadilah sore itu kami makan bersama. Tampak sekali antusias kedua tamu kami. Sepanjang makan kak Jen tak henti-hentinya bertanya nama dan bahan-bahannya. Dengan sabar yuk Yana menjelaskan pada kak Jen apa saja bahan dan bagaimana prosesnya.