
Pagi ini Andi dengan wajah lesu berangkat kekantornya. Sepanjang perjalanan dia banyak melamun. Dia sangat tidak nyaman melihat perubahan istrinya. Dan hal itu wajar adanya. Tapi dia juga merutuki kecerobohannya, mengapa dia harus tergoda dengan Tina, perempuan penggoda yang seharusnya tak hadir diantara mereka berdua.
Ponsel Andi dari tadi tak berhenti berdering. Tapi sedikitpun Andi tidak berniat untuk menerima panggilan tersebut. Dia tahu itu adalah panggilan dari Tina. Dia ingin menjauhi wanita itu pelan-pelan, walau entah itu bisa dia lakukan apa tidak. Karena jujur saja, dalam beberapa bulan ini dia sudah terbiasa bermain api dengan perempuan itu.
Ponselnya berbunyi tanda notifikasi pesan masuk. Tapi Andi lagi-lagi tidak berniat membuka ponselnya. Dia hanya fokus menyetir dan ingin cepat sampai kekantor.
Tak butuh waktu terlalu lama untuk Andi sampai di kantornya. Teman kerjanya sudah banyak yang datang, dan mereka mengangguk hormat pada Andi ketika melihat Andi berjalan menuju ruangannya.
Rian yang sedang membersihkan meja Andi terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya. Dengan gesit dia membersihkan ruangan tersebut dan segera berpamitan dengan Andi lalu menutup pintu ruangan yang bertuliskan "Manager Room" tersebut.
Sepeninggal Rian, Andi duduk di kursinya. Dia merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan memijit pelipisnya yang dirasa pusing.
Cukup lama dia tepekur di sana. Laporan yang harus dia periksa selama satu minggu kemarin yang tertumpuk di meja belum disentuhnya sama sekali.
Kembali ponselnya berdering nada panggilan. Kembali tertera nama Gusti di sana. Andi segera menekan tombol reject lalu meletakkan ponsel tersebut di atas meja.
Pikirannya terlalu kusut mengingat wajah Indah. Kembali diingatnya mata sembab itu, sikap dinginnya, amarah yang berkilat di matanya dan kepiluan yang juga terlukis dimata lentiknya.
Diusapnya wajahnya dengan kasar, kembali teringat di matanya perjuangan Indah melahirkan ketiga anaknya, kesetiaannya mendampingi ketika masih ngontrak, kerelaannya ketika harus menerima uang bulanan jauh lebih kecil dari ibunya, bahkan jauh lebih kecil ketimbang yang diberikannya pada Tina, ketaatannya pada Sang Khalik, ketaatannya melayani Andi, pengorbanannya pada keluarga.
Ahhhhh,, Andi menggeram sendiri sambil memukul meja. Betapa dia telah menjadi suami yang dzalim. Benar kata istrinya, jika mati dia akan masuk neraka. Karena dia telah menjadi seorang pendosa.
Laporan sama sekali belum disentuhnya, padahal kantor pusat sudah menunggu.
Fax dari pusat mengagetkan lamunannya. Segera diambilnya faximile tersebut dan membacanya. Dengan segera dia memeriksa laporan yang sedari tadi dia acuhkan.
Jam istirahat kantor sama sekali tidak digunakannya untuk makan siang. Jika biasanya dia akan makan keluar dengan Tina, tapi tidak hari ini. Hari ini Andi begitu sibuk memeriksa laporan lima stock point dibawah pemeriksaannya.
Ponselnya kembali berdering. Dan lagi-lagi, Tina yang menelponnya. Sedari tadi, entah sudah berapa kali wanita itu menelpon dan mengiriminya pesan.
Dengan malas akhirnya Andi mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Mas, mas kemana sih, dari pagi aku telpon nggak diangkat, di sms nggak dibalas" suara diseberang langsung memenuhi telinganya.
Andi diam belum menjawab pertanyaan dari Tina. Dia masih bingung harus memberi alasan apa pada wanita itu agar wanita itu berhenti mengganggunya.
"Mas?" kembali Tina memanggil
"Iya" Andi menjawab lesu
"Mas kenapa sih, kita semalam masih baik-baik saja, terus kenapa pagi ini mas kaya gini?"
__ADS_1
"Kita ketemu nanti jam 5 setelah jam kantor selesai, kita ketemu di tempat biasa" jawab Andi lalu memutus panggilan secara sepihak
Tina yang ada diseberang melongo menatap ponselnya yang tiba-tiba terputus. Dengan bersungut-sungut dimasukkannya ponsel itu kedalam tas dan segera bergabung dengan teman-temannya untuk makan siang.
Andi yang telah memutuskan panggilan telepon segera membuang nafas kasar, dia menghirup udara dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya agar perasaannya lebih plong.
Diliriknya jam yang tergantung di tembok, menunjukkan angka satu lewat.
Perutnya mulai bersuara minta diisi. Segera diraihnya tas lunchbox yang tiap hari disiapkan istrinya. Dengan cepat dibukanya lalu mencium aroma dengan dalam.
"Hemmmm, harumnya. Pasti enak" ucapnya sambil segera meraih sendok dan menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Semarah apapun kamu, kamu masih tetap menyiapkan bekalku, terima kasih bun" tulis sms Andi pada istrinya sambil mengunyah nasi.
Aku yang sedang menyiapkan diri untuk berangkat mengajar segera meraih ponselku yang berbunyi notifikasi pesan.
Pesan dari suamiku. Cuma kubaca saja tanpa membalas. Rasa marahku masih telalu besar padanya.
Setelah menitipkan anak-anak pada Mbak Dian, aku berangkat kesekolah untuk segera mengajar.
...****************...
"Kita jaga jarak sekarang" kata Andi ketika sudah duduk berhadap-hadapan dengan Tina sore ini di sebuah cafe.
"Istriku tahu kalau aku selingkuh di belakangnya" jawab Andi langsung
"Bagus dong. Jadi lebih gampang buat mas ceraikan dia" dengan enteng Tina menjawab sambil menyeruput orange juice yang diletakkan oleh waiters.
"Jang ngarang kamu" Andi cepat menyanggah
"Loh, bukannya mas tidak cinta lagi sama dia, bukannya mas cuma cintanya sama aku, jadi salahnya dimana?" kembali Tina dengan santai menjawab omongan Andi
"Tidak semudah itu Tin, walau bagaimanapun dia itu istriku, ibu dari anak-anakku, aku menyayanginya"
"Jadi mas membohongiku? mas bilang cuma aku yang mas sayang, mas bilang mas bakal menceraikan istri mas dan menikahiku" suara Tina mulai meninggi
Andi diam tak perduli. Dia menyesap cappuccino hangat dan mengeluarkan ponselnya yang tiba-tiba berdering.
Di layar tertera tulisan "Bunda Sayang". Itu artinya istrinya yang menelpon.
"Jangan berisik, istri aku menelpon" ucap Andi memberi kode pada Tina agar perempuan itu diam sebelum akhirnya dia menjawab panggilan itu.
__ADS_1
Tina bersungut-sungut, dengan kesal di minumnya kembali juice dan memakan makanan yang sedari tadi belum disentuhnya.
"Hallo assalamualaikum, iya bunda" ucap Andi lembut.
Tina makin masam wajahnya mendengar suara Andi.
"Ayah.." suara di seberang ternyata adalah Naura bukan Indah.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Andi
Wajah Tina makin cemberut. Makanan dipiring diacak-acaknya dengan sendok.
"Ayah pulang, ayuk mau mandinya sama ayah, nggak mau sama bunda. Bundanya sama kakak dan adek saja" terdengar Naura merengek.
"Iya, sebentar lagi ayah pulang sayang, tunggu ayah yaa"
Mata Tina melotot tajam kearah Andi. Andi tidak menanggapinya.
"Cepat, gak pake lama"
Andi terkekeh mendengar kalimat terakhir anaknya.
"Iya sayang ku, mana bunda, ayah mau bicara sama bunda"
Sadarlah Tina jika yang sedari tadi dipanggil sayang itu adalah anaknya bukan istrinya.
"Hemm" suara berdehem di seberang. Andi tahu itu istrinya.
"Sebentar lagi ayah pulang, ini lagi beres-beres berkas" ucap Andi berbohong
Aku diam tidak menyahut.
"Bunda lagi apa?, mana adek sama kakak?" Andi mencoba mencairkan suasana hati istrinya.
"Ada, ini lagi aku gantiin baju. Ya sudah cepatlah pulang. Ayuk nggak mau aku mandikan, nggak mau juga sama mbak Dian. Maunya sama ayah" aku menjelaskan
"Oke sayang, I love you" ucap Andi mesra
Aku tidak membalas, malah aku segera mematikan ponsel.
"Aku mau pulang, keluarga aku sudah menunggu di rumah. Jangan hubungi aku kalau bukan aku yang ngubungi" ucap Andi sambil beranjak dari kursinya dan keluar meninggalkan Tina sendirian.
__ADS_1
Tina memaki kesal pada Andi yang mulai berjalan menjauh. Didorongnya piring makanan di atas meja. Wajahnya makin kesal. Di hentak-hentakkannya kakinya di lantai. Pengunjung yang ada di sana menoleh heran kearahnya. Dan sebagian berbisik-bisik.
Dengan kesal dan malu akhirnya Tina segera keluar dari cafe tersebut dan menuju keparkiran dimana motornya terparkir dan segera mengegas motornya pulang