
"Bu Adiba, iya. Aku harus meminta bantuannya. Bukankah kata ummi jika aku butuh apa-apa hubungi saja beliau?" lirihku
Aku segera keluar dari dalam kamar dan segera menuruni anak tangga.
Saat aku akan berbelok kearah tangga menuju lantai pertama bu Adibah memanggilku.
Secepatnya aku menoleh kearah beliau
"Saya butuh bantuan ibu, tolong make up in saya, saya tidak bisa make up. Saya khawatir jika nanti saya make up sendiri hasilnya tidak sesuai harapan 'ummi"
Bu Adibah tersenyum, dengan pelan digandengnya aku berjalan menuju lift dan kami masuk.
Sampai di kamarku, beliau dengan cekatan merias wajah dan merapikan blazer model cardigan berwarna peach di badanku
"Kamu harus terbiasa tampil rapih begini Indah. Karena kamu adalah assisten pribadi pertama ummi. Selama ini beliau tidak pernah memiliki asisten, tapi sejak Abi Ibrahim meninggal tiga tahun yang lalu. Perusahaan induk, ummi langsung yang memimpin menggantikan abi"
"Ummi adalah pekerja keras, beliau mengurusi puluhan perusahaan dan juga pertambangan minyak serta perkebunan kurma milik keluarganya"
"Ummi memiliki tujuh orang anak, dan keenam anaknya adalah pengusaha semua. Hanya nona Alima yang dokter. Perusahaan yang lain diurus oleh enam anak lelaki ummi, dan khusus perusahaan induk itu yang mengurusi adalah abi, yang sekarang berganti diurusi ummi"
"Apakah sebelum saya ummi tidak mencari asisten? tanyaku yang menurut saja ketika bu Adiba melilitkan hijab keleherku
'Ummi itu tidak sembarangan memperkerjakan orang. Jadi beruntunglah kamu yang dipilih ummi. Kalau kamu bisa mengambil hati ummi, yakinlah, seberapa besar kamu minta gaji sama beliau, beliau tidak akan mempertimbangkannya"
Aku terkekeh.
"Tujuanku memang mencari uang ibu, tapi jika aku meminta nominal sama ummi, itu Insha Alloh tidak akan pernah aku lakukan, aku serahkan sama ummi, berapa beliau mau membayarku"
Bu Adibah tersenyum kagum mendengar jawaban Indah
"Insha Alloh ummi tidak salah memilihmu Indah" lirihnya
Aku mengangguk.
"Sudah siap, yuk kita temui ummi"
Aku segera berdiri dan kembali melihat pantulan wajahku di cermin. Lalu aku meraih bingkai foto ketiga anakku yang sengaja aku bawa dari rumah
"Doakan bunda ya nak" ucapku lirih sambil mencium foto tersebut.
Lalu aku mengikuti bu Adibah keluar dari dalam kamar
Diluar kamar di perjalanan menuju lift bu Adibah bertanya
"Itu tadi foto anak-anak kamu?"
"Iya bu" jawabku
"Maaf sedikit lancang, mengapa kamu lebih memilih meninggalkan mereka?"
Aku menarik nafas dalam
"Aku pergi karena aku ingin memberikan penghidupan yang layak dan membuat semua cita-cita mereka tercapai"
Bu Adibah menepuk bahuku
"Saya do'akan semoga cita-cita dan harapanmu terkabul"
"Aamiinn"
Kami masuk lift, hanya butuh sekian detik kami sudah sampai di lantai pertama.
Ummi sudah duduk di kursi, sepertinya beliau sudah siap untuk berangkat kerja
"Saya siap ummi" ucapku
__ADS_1
Ummi mendongak dari hp yang sejak tadi diperhatikannya. Dia menatapku tak berkedip
"Good job kamu Adibah" ucapnya
"Syukron ummi" jawab bu Adibah
Lalu beliau berjalan, dan aku mengikutinya dari belakang
Mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir di depan, saat melihat ummi berjalan, supir segera membukakan pintu lalu ummi masuk diikutiku.
Dibelakang mobil mewah yang kami naiki ternyata ada satu mobil hitam lain yang juga mengikuti kami dari belakang. Aku menebak itu pasti bodyguard yang bertugas mengawal ummi
Lalu mobil tersebut segera melaju menembus kota Jeddah.
Aku melirik keluar melalui jendela mobil yang tertutup. Sedangkan Ummi tampak fokus menatap layar laptopnya.
Aku begitu takjub melihat kota Riyadh. Kota terbesar di Arab Saudi. Gedung pencakar langitnya begitu menakjubkan, terlebih lagi ketika mobil melalui Kingdom Centre. Mataku tak berkedip menatapnya.
"Kapan-kapan kita kesana" suara ummi mengagetkanku.
Aku tersenyum sambil menunduk malu.
Mobil terus melaju sampai akhirnya berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang bertuliskan Al Mursalat Ibrahim Holding.
Aku menelan ludah ketika melihat gedung tinggi tersebut.
Supir langsung membukakan pintu untukku dan lalu berpindah pada ummi.
Ummi segera turun dan dengan anggun beliau masuk kedalam gedung tersebut.
Dan benar dugaanku, mobil di belakang kami tadi benarlah berisikan bodyguard. Jumlah mereka ada empat orang, saat ummi berjalan masuk, mereka berjalan di samping kiri kanan ummi, berjajar kebelakang. Melihat mereka aku jadi teringat pak Abraham. Postur mereka sama besar dan juga wajah sangar mereka hampir sama. Apa semua bodyguard seperti ini batinku.
Ketika ummi masuk, seluruh karyawan tampak membungkukkan badan mereka.
Aku berjalan dengan degup jantung yang tak menentu. Ya Rabb takdir apa ini? batinku. Aku kesini hanya ingin jadi babu atau mungkin baby sitter, tapi ternyata Engkau memberikanku jauh melebihi ekspektasiku.
"Kolega dari Eropa sudah hadir Um" ucap salah seorang dari mereka
Ummi mengangguk dan kami lalu masuk ke dalam lift.
Lagi-lagi wajahku menegang ketika seorang karyawan ummi tadi menekan angka 156.
Ya Rabb, diketinggian berapa ratus meter itu? batinku.
Diluar dugaanku, ummi menggenggam tanganku yang dingin.
"Nanti kamu akan terbiasa" ucapnya
Aku menelan ludah dan tersenyum kaku kearah beliau
"Oh iya, kenalkan, ini asisten pribadi saya, namanya Indah. Dia dari Indonesia" ucap ummi memperkenalkanku pada orang-orang yang selift bersama kami.
Keempat bodyguard dan ketiga karyawan ummi menganggukkan kepala mereka kearahku. Jika tiga orang karyawan tadi tersenyum ramah, lain halnya dengan keempat bodyguard, mereka tetap memasang wajah datar.
Dan lagi-lagi aku teringat dengan ketiga bodyguard abang. Aku tersenyum dalam hati melihat ekspresi mereka.
Tak butuh waktu lama, kami sudah tiba di lantai 156.
Kembali keempat bodyguard tadi berjalan di samping kanan kiri ummi, dan aku dibelakang ummi, dan ketiga karyawan yang lain di belakangku. Jadi kami berjalan dengan pengawalan empat bodyguard yang berjalan di samping kami.
Dengan ragu aku ikut masuk keruang meeting. Seluruh kolega ummi yang berwajah bule seketika berdiri ketika ummi masuk.
Tiga karyawan tadi langsung mengambil tempat mereka masing-masing. Keempat bodyguard berjaga di tiap sudut ruangan dan aku di minta ummi duduk di sebelahnya.
Wajahku menegang. Ini adalah kali pertamanya aku mengikuti meeting penting seorang konglomerat.
__ADS_1
Aku mendengarkan dan memperhatikan setiap laporan, slide dan juga penawaran kerja sama dari para bule itu.
Aku mencerna setiap omongan mereka, dan aku sangat kagum dengan bahasa asing yang dikuasai ummi. Walau sesekali beliau bertanya padaku maksud dari omongan para bule itu.
Meeting berjalan panjang, hingga jam makan siang.
Dan kembali kekagumanku pada ummi bertambah. Ketika jam makan siang, kolega bule, karyawan, bodyguard dan aku makan bersama di ruangan makan khusus.
Ummi tidak membedakan kami. Kami makan dalam satu meja panjang secara bersama-sama.
Aku dan bule Eropa, mungkin baru kali ini lah makan nasi Haneeth, seperti itulah tadi ummi menyebutnya.
Ummi dengan ramah memperkenalkan makanan khas Arab kepada koleganya yang tampak antusias. Ada Jalamah, ada Thared yang lebih mirip sop menurutku, dan ada juga Mantu yang lebih mirip dimsum.
Kami semua makan dengan lahap.
Selesai makan siang, kami yang muslim melaksanakan shalat, baru setelahnya meeting kembali dilanjutkan di ruang tadi. Hingga berakhir sore hari.
...****************...
Di Indonesia
"Sumpah say, aku benar-benar nggak tahan di rumah mertua gue. Cerewet banget" ucap Tina melalui sambungan telepon dengan temannya
Terdengar suara tawa di seberang.
"Tinggal kabur kok repot sih Tin" jawab temannya di seberang
"Nanti say, kalau gue sudah nguras harta mereka baru gue kabur" jawab Tina pelan, lalu mereka cekikikan.
Tina menghentikan tawanya ketika diluar kamar terdengar Laras menggedor pintu
"Nanti gue hubungin lagi say, Laras si mak lampir manggil gue"
Lalu panggilan terputus. Dengan malas Tina membuka pintu
"Cuci piring!" bentak Laras
"Besok saja kenapa sih, inikan sudah malam" jawab Tina kesal
"Besok kamu pasti bangun siang, jadi malam ini kamu harus cuci piring itu!" bentak Laras lagi
Dengan cemberut Tina berjalan kearah dapur, piring kotor bertumpuk. Dia menarik nafas dalam demi melihat tumpukan piring.
Dengan kesal akhirnya dicucinya piring kotor itu. Laras yang mengintip tersenyum penuh kemenangan
"Syukurin! emang enak" ucapnya.
...****************...
Dipenjara
Andi menahan sakit perutnya karena lapar. Jatah makan malamnya tadi direbut dengan preman di penjara ini.
"Mati aku kalau lama di sini" batinnya sedih
"Baru tiga bulan saja aku sudah tidak betah, bagaimana mau empat tahun"
"Ibu bapak sudah lama pula tidak membesukku" keluhnya
Pikirannya menerawang. Jika temannya yang lain sudah terlelap, maka tidak halnya dengan Andi, dia tidak bisa memicingkan matanya. Perutnya bernyanyi minta diisi.
"Seandainya waktu bisa kuputar" batinnya.
Pikirannya kian terbang kemana-mana, kepada Tina yang saat ini jauh darinya.
__ADS_1
"Semoga Tina memang menungguku, dan dia benar-benar mencintaiku" lirihnya