Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sampai Di Rumah


__ADS_3

"Abang sudah menyuruh Abraham untuk menjemputmu ketika malam nanti kamu tiba di Bandara" ucap abang ketika aku sudah bersiap akan meninggalkan waiting room


Aku tersenyum padanya, merasa tersanjung dengan perhatiannya


"Pak Abraham belum menikah?" tanyaku


Ozkan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Indah


"Maksudnya?" tanya abang


"Nanya aja" jawabku


"Kamu tidak naksir Abraham kan?" tanya abang


Aku langsung terkekeh mendengar pertanyaan abang.


"Kalau iya?" godaku


Abang langsung memasang wajah marah, aku makin terkekeh.


Selagi abang diam karena kesal, announcement yang menyatakan pesawat yang akan aku tumpangi akan segera take off.


Aku bangkit lalu aku memeluk erat abang ketika aku akan meninggalkan waiting room. Ada rasa hampa saat kakiku berjalan meninggalkannya. Aku kembali menoleh, dan kudapati abang masih menatapku, aku memutar badan dan kembali berlari kearahnya


Aku kembali menubruk tubuhnya dan memeluknya erat. Abang membalas pelukanku, diusap-usapnya pundakku


"Abang akan selalu merindukan mu" bisik Ozkan


Aku melepas pelukanku, dan menjinjitkan kakiku lalu menarik tengkuknya.


Cupp, aku mencium pipi kanan abang lalu kemudian berlari meninggalkannya yang tersenyum karena ulahku.


Aku naik kedalam pesawat dan mulai mencari nomor kursiku, lalu segera duduk.


Walau sedikit tegang, tapi aku berusaha tenang, karena aku sudah lumayan sering naik pesawat, apalagi jika akhir tahun, sudah bisa dipastikan aku akan naik pesawat terus karena mengikuti nona Alima berlibur.


Pesawat mulai take off, sambil mengucapkan Basmallah aku menyandarkan tubuhku di kursi dan berusaha tenang menikmati penerbangan yang akan memakan waktu lama.


...****************...


"Mbak Indah" teriak sebuah suara ketika aku berjalan keluar dari dalam bandara. Saat itu hampir pukul sebelas malam


Aku menoleh kesumber suara, kudapati pak Abraham yang berjalan kearahku


Aku melebarkan senyumku begitu melihatnya, lalu kami saling berjabat tangan ketika sudah berdiri berhadap-hadapan


"Lama tidak jumpa, makin cantik saja" pujinya padaku


Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya


"Alhamdulillah pak" jawabku


"Bos besar sudah menyuruh saya menyiapkan hotel untuk anda menginap malam ini"


Aku makin terharu dengan perhatian abang


"Ayo mbak" lanjut pak Abraham mengajakku berjalan menuju area parkir


Aku melangkah mengikuti pak Abraham, ketika sampai di depan mobil, beliau langsung membukakan untukku, dan aku masuk


"Abang, aku sudah sampai Jakarta, dan sekarang sedang dalam perjalanan dengan pak Abraham" ucapku di telepon


"Pokoknya kamu setiap jam harus ngabari abang, atau abang akan mati berdiri karena merindukanmu" jawab abang


Aku terkekeh mendengar gombalannya


"Terima kasih untuk reservasi hotelnya" lanjutku


"Apa sih yang tidak untuk kamu" jawab abang


"Aaahhh, manisnyaaaa" jawabku manja


Ozkan yang diseberang segera mengusap wajahnya begitu mendengar suara Indah yang menggodanya

__ADS_1


"Ya Tuhan, kuatkan aku" lirihnya


"Abang?, maksudnya apa ya?" jawabku cepat


Ozkan gelagapan


"Nothing honey, take care ya. Love you more than after" jawabnya mengalihkan topik


Aku tersenyum dan dengan malu aku menjawab


"Love you more than after too"


Abraham yang sedang mengemudikan mobil tampak tersenyum dikulum mendengar jawaban Indah. Tak bisa dibayangkannya, jika bosnya yang garang dan dingin itu ternyata bisa begitu bucin juga


Mobil terus melaju membelah jalanan ibukota, lalu berhenti di area hotel mewah. Pak Abraham segera turun dan membukakan pintu mobil untukku, lalu aku segera turun.


Pak Abraham memberikan kunci mobil pada juru parkir khusus hotel, Lalu dia mengajak Indah menuju resepsionis untuk mengambil kunci kamar


"Kamar atas nama tuan Ozkan Yilmaz" ucapnya pada seorang resepsionis yang menyambut kami


Segera resepsionis tersebut memberikan kunci lalu kami segera pergi, berjalan menuju kamar.


"Tugas saya selesai mbak, mbak silahkan istirahat, besok pagi saya jemput lagi untuk mengantar mbak kebandara" ucap pak Abraham


Aku mengucapkan terima kasih lalu masuk kedalam kamar. Meletakkan koper lalu merebahkan tubuhku di atas kasur empuk


"Call abang lagi, nanti dia khawatir" lirihku sambil tengkurap


Aku segera mengambil smartphone lalu kembali mendial nomor abang


"Aku sudah di kamar, bersiap untuk tidur, abang belum ngantuk?" tanyaku


"Disini masih jam delapan malam sayang" ucap abang


Aku menepuk keningku, aku hanya melihat jam di tembok, lupa jika kami beda alam


"Disini jam dua belas, aku tidur ya bang, ngantuk"


"Males ah mimpiin abang" jawabku cepat


"Kenapa?"


"Nanti kalau abang aneh², bahaya" jawabku sambil terkekeh


Abang juga terdengar terkekeh.


"Dagh abang" tutupku


Lalu aku segera meletakkan handphone di atas meja yang ada di sebelah ranjang, lalu mulai memejamkan mataku


...****************...


Penerbangan dari Jakarta menuju Lubuklinggau kurang lebih satu setengah jam. Dan sekarang pesawat NAM AIR yang membawaku telah mendarat di Bandara Silampari.


Aku mengikuti penumpang lain turun, mataku langsung berkaca-kaca ketika aku berdiri di tangga pesawat


Ya Rabb, segala puji bagiMu hingga aku bisa kembali menginjakkan kakiku di negeri kelahiranku, batinku


Airmata tak dapat aku cegah, aku begitu emosional ketika aku melihat kak Andri melambaikan tangan kearahku.


Dengan cepat aku menyeret koper dan seperti berlari aku berjalan kearahnya.


Aku segera memeluk erat kakakku, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Begitupun dengan kakakku, beliau juga menyusut airmata yang mengalir di pipinya.


"Lamanya kamu meninggalkan kami sat" lirih kakakku


Aku tak bisa menjawab karena masih menangis terisak.


Semua penumpang dan penjemput di bandara memandang heran kepada kami, tapi aku cuek saja, aku tidak memperdulikan tatapan heran mereka.


"Ayo kita pulang, umak dengan bapak serta anak-anakmu pasti kaget melihatmu pulang" ucap kak Andri sambil membimbingku berjalan keluar dari bandara


Kami berjalan menuju parkiran dan kakakku segera memasukkan koperku di bagian belakang dan aku duduk di sebelahnya yang menyetir

__ADS_1


"Langsung pulang apa makan dulu sat?" tanya kakakku sambil menjalankan mobil


"Langsung pulang kak, masakan umak jauh lebih enak dari masakan restoran" jawabku


Kakakku tersenyum dan dia segera melajukan mobilnya menembus jalanan kota Linggau.


Aku membuka kaca jendela, mengedarkan pandanganku kekanan kiri jalan


"Wow, pesat sekali perubah Linggau ya kak" ucapku takjub melihat perubahan yang sangat pesat pada kota tercintaku


"Benar sat, bahkan di daerah kita, sawah sudah banyak dijadikan kaplingan dan berubah menjadi ruko" jawab kakakku


Mobil berbelok menuju arah Merasi. Aku menghirup udara segar khas Merasi, udara segar dari hamparan ribuan hektar sawah


"Ya Alloh kangennya aku dengan suasana ini" ucapku dengan mata berbinar melihat sawah


Kakakku tersenyum melihatku yang begitu antusias melihat kembali kampung halamanku


Mobil makin mendekat kearah rumah dan aku makin deg-degan


"Anak-anakku ada kak?" tanyaku bergetar


"Biasa jam dua belas mereka sudah pulang sekolah, kecuali Naura kan dia di pesantren" jawab kakakku yang membelokkan mobil masuk kejalan setapak menuju rumah orangtuaku.


Mobil berhenti dan kakakku turun, mendorong pagar. Aku yang melihat kakakku turun, ikut turun juga. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orangtua dan anakku.


Saat pagar terbuka aku melihat kedua anak lelakiku sedang bermain kelereng, mereka tidak menyadari kedatanganku, mereka sibuk dengan kelereng mereka.


Aku menutup mulutku karena tangis yang sudah pecah, juga karena terharu ketika kulihat mereka sudah besar-besar dan tinggi.


"Naaakkk..." lirihku dengan suara tercekat karena kalah dengan tangisanku


Mikail menoleh, dan dia segera melempar kelereng yang tadi digenggamnya


"Bundaaaaaa...." teriaknya berlari dengan cepat kearahku diikuti dengan Adam


Aku merentangkan kedua tanganku menangkap pelukan mereka.


Kupeluk erat kedua jagoanku, dan aku menangis sejadinya.


"Ada apa kak.." suara umakku terdengar panik.


Aku segera menatap kearah umakku yang berdiri di depan pintu samping, umakku segera berlari kearahku dan aku melepas pelukanku kepada kedua putraku lalu bersujud memeluk kedua kaki umakku


"Umaaakkk..." ucapku tergugu


Umakku memelukku yang bersujud di kakinya, kedua anakku mendekat dan kembali mereka memelukku


"Ayo masuk, nanti dipikir tetangga ada yang mati" ucap kak Andri sambil menghapus airmata di wajahnya


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Lalu aku berjalan masuk sambil menggendong Adam, tentu saja aku keberatan karena sekarang dia sudah besar


Mikail memegang gamisku saat kami berjalan masuk kedalam rumah


Kulihat bapakku yang duduk di kursi sedang menangis. Aku segera menurunkan Adam lalu berlari kearah bapakku, bersujud di kakinya dan memeluk erat tubuhnya


"Maafkan aku Pak" ucapku tersedu


Kembali umakku memelukku. Jadilah kami bertiga berpelukan.


Cukup lama aku menangis meluapkan rindu yang tak terkira kepada kedua orangtua dan anakku.


"Kalau kalian mau terus menangis, terserah, aku lapar" ucap kak Andri yang sudah membawa piring penuh nasi beserta lauk


Aku kembali terkekeh sambil berurai airmata mendengar ucapannya


"Kenapa tidak bilang kalau pulang" protes umakku


"Kan untuk kejutan mak" jawabku


Umakku tersenyum sambil kembali menyusut airmata yang masih mengalir di pipinya


Adam dan Mikail seperti tak mau jauh dariku, dari tadi keduanya terus memeluk tanganku. Dan aku terus bergantian memeluk dan menciumi mereka

__ADS_1


__ADS_2