
Akibat kejadian hari minggu tadi, Naura tidak berani pergi keluar. Dia hanya di rumah saja atau sesekali ke rumah mbak Ningsih
"Tuh anak ngapain sih mendep aja di rumah" sungut Laras
"Entah, sudah pusing ibuk mikirin nya" jawab bu Mira
"Naura trauma karena minggu tadi ada yang maki dia sama ngatain dia" Raffa menjawab
Laras dan ibunya saling toleh
"Siapa?"
Raffa angkat bahu
"Dia kapan sih pulangnya, sudah bosan ibuk lihat dia disini"
"Kan Andi bilang kita harus baik sama dia buk"
Bu Mira membuang nafas kasar
"Kalau bukan karena ibuk pengen nyuruh Andi nguras harta Indah, hii amit-amit sama anak Andi itu"
"Mbah kok nggak berubah-berubah sih, dari dulu benci Ula. Padahal Ula anaknya baik, sayang lagi sama oom" bela Raffa
"Anak kecil diam!!" bentak Laras
Raffa melengos dan terus bermain games di hpnya.
"Ibuk juga, jahat. Sudah dapat karma masih nggak tobat juga. Nanti ibuk tu kalo mati kaya di sinetron ikan terbang" sambung Raffa tanpa mengalihkan perhatiannya dari hpnya.
"Anak kurang ajar!" ucap Laras sambil memukul paha Raffa
Raffa meringis sedikit lalu ngeloyor masuk ke kamarnya
"Ula mana mbah?" Dimas yang tiba-tiba muncul dari pintu menanyakan keberadaan Naura pada embahnya
"Tau, dari tadi mendap tu di kamar nggak keluar-keluar. Coba kamu lihat siapa tahu sudah kaku dia"
"Embah!!!" Dimas terpekik
Dengan wajah cemberut dia masuk dan mengetuk pintu kamar depan. Naura membuka pintu, matanya sembab
"Ula kenapa dek?" Dimas langsung memegang bahu adik sepupunya itu
Naura langsung terisak
"Ula mau pulang kak, Ula dengar semua apa yang mbah dan bu Las katakan"
Dimas langsung menoleh pada embahnya yang tampak kaget
Laras langsung berdiri dan dengan cepat memeluk Naura
"Kami tidak ngomong apa-apa nak, kamu salah dengar. Nggak mungkinkan kami jahat sama kamu"
Naura mendorong pelan tubuh Laras yang mendekapnya. Dia menjinjing tasnya dan berjalan keluar
"Ula!!" teriak Dimas menarik tas yang dijinjing Naura
"Ula sudah nelpon uwak, uwak sudah di jalan sekarang"
Wajah bu Mira makin terlihat panik
"Naura sayang, kamu salah dengar nak, nggak mungkin kan mbah jelek-jelekin kamu"
Naura menoleh
"Sudah beberapa hari ini aku selalu dengar mbah dan bu Las ngeluh tentang aku. Dan hari ini kembali aku dengar jika kalian mau nyuruh ayahku nguras harta bundaku"
"Bahkan aku juga dengar jika ayah mentalak seribu bundaku"
Mengatakan itu air mata Naura mengalir deras.
"Aku tidak menyangka, orang yang sangat kubanggakan ternyata begitu jahatnya sama bundaku"
"Dan embah, tidak malu apa menyuruh ayahku menguras harta bundaku. Ingat mbah, itu uang hasil jerih payah bundaku"
"Iya hasil jerih payah ibumu jual diri!!" teriak Laras emosi
Dada Naura langsung turun naik. Matanya tajam menatap Laras. Di lemparnya tas yang sejak tadi di jinjingnya. Berlari dia kearah Laras
"Bundaku bukan lon***eeee!!" teriaknya sambil mendorong badan Laras hingga terjatuh di lantai
Postur tubuh Naura yang tinggi 178cm memudahkannya untuk menindih Laras yang terjengkang
Dipukulnya tubuh Laras membabi buta.
__ADS_1
Kegaduhan di luar memaksa Raffa yang ada di dalam kamar keluar, dilihatnya ibunya sedang dipukuli dengan Naura
"Bundaku bukan lon****e, kamu dengar buk Las.... bundaku bukan lon****e!!" Naura berteriak sambil menangis
Dengan susah payah Dimas menarik badan Naura agar melepaskan Laras yang ditindihnya
Bu Mira tak mau kalah dia juga menarik Naura hingga hijab di kepala Naura terlepas
Raffa bingung harus berbuat apa. Dia segera menarik ibunya agar duduk.
Rambut ibunya sudah tak karuan lagi, sudah acak-acakan karena tadi dijambak Naura
"Dasar cucu kurang ajar. Kami memang sangat membencimu Naura, pergi kamu dari sini!!" bentak bu Mira
Naura yang wajahnya basah oleh air mata menoleh tajam pada embahnya
"Uwakku memang sudah bilang jika embah itu jahat. Tapi memang aku yang salah, tidak mempercayainya. Masih terus berpikir jika kalian akan berubah. Tapi ternyata tidak. Kalian memang jahat!!!"
Ningsih masuk, dan dengan segera dia memeluk Naura
"Ula kenapa sayang?, kenapa nak?" tanyanya khawatir
Naura diam tidak menjawab, tapi air matanya kian deras mengalir
"Tempat ibuk. Ke rumah ibuk saja" ucapnya sambil memegang tangan Naura dan membawanya keluar
Dimas menatap tajam kearah Laras dan mbah uti nya.
"Jangan pernah kamu menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi!!!" teriak bu Mira
Naura tidak menggubris, dia terus saja berjalan mengikuti Ningsih
...****************...
"Naura mana?, ini kenapa rumah begini?, mbak kenapa ini?" Andi yang baru pulang langsung terlihat bengong melihat ibunya dan Laras duduk di kursi dengan wajah muram
Andi langsung berjalan ke kamar depan, lalu keluar lagi
"Naura mana?"
"Mati!!" jawab Laras ketus
Andi menatap tajam kearah Laras lalu menoleh pada ibunya
"Anak kamu itu kurang ajar, dia sudah memukuli Laras. Kamu lihat bagaimana kondisi mbakmu, anak mu itu mirip ibunya, temperamen"
"Apa yang sudah mbak lakukan sama Naura?"
Laras memandang tajam kearah Andi
"Anakmu itu sudah kurang ajar, makanya mbak kasih pelajaran. Biar dia tahu rasa!"
Bergemuruh dada Andi mendengarnya
"Mana Naura!!!"
"Tempat kak Mas, oom" jawab Raffa yang sejak tadi diam
Tanpa banyak komentar lagi Andi segera melesat ke rumah mbak Ningsih
Sampai di sana, dilihatnya ada motor matic warna merah. Tanpa mengucap salam Andi segera masuk
Langkahnya terhenti ketika dilihatnya ada Mia dan Lena di dalam rumah mbak Ningsih. Dan dilihatnya Naura menangis sesenggukan
Ningsih menoleh kearah Andi dengan tatapan marah, Mas Indra segera menyingkir, pindah ke kursi lain. Sedangkan Dimas terus menenangkan Naura yang sesenggukan
"Mau apa kalian kesini?" ucap Andi dengan suara penuh penekanan kearah Lena dan Mia
Lena melengos seolah tak melihat Andi
Andi duduk di sebelah Naura. Tapi Naura malah mendorongnya menjauh
"Pergiiii..." ucap Naura dengan suara serak
"Naura kenapa nak?" tanyanya dengan tangan yang sudah terulur hendak memeluk Naura
"Aku bilang pergi!!!" ucap Naura histeris
Dimas segera mendekapnya
"Tenang Ula, tenang dek"
Air mata Naura terus mengalir, mbak Ningsih dan Mia ikut menitikkan air matanya
"Kamu apakan anakku, hah???!" Andi berdiri di depan Lena
__ADS_1
Lena mendongakkan kepalanya dan menatap Andi dengan sinis
"Aku bilang seluruhnya sama anak kamu!!" jawab Lena santai lalu tertawa penuh kemenangan
Andi mengusap wajahnya, lalu kembali ketempat Naura. Dia berjongkok di lantai memegang tangan anaknya
"Ayah bisa jelaskan nak" bujuknya
"Jelaskan Andi, jelaskan seluruhnya pada anak kamu. Biar dia tahu siapa sebenarnya kamu!!!" tantang Lena
Gigi Andi gemeletuk menatap tajam kearah Lena
"Naura sudah tahu semua rencana jahat kamu sama ibuk. Mbak tidak menyangka jika kamu selicik ini Andi" lirih mbak Ningsih sambil menyusut air matanya
"Rencana apa mbak, aku tidak merencanakan apa-apa"
"Ayah bohong. Naura dengar semua pembicaraan ayah sama mbah dan buk Las, tapi Naura diam karena Naura ingin mengumpulkan semua bukti. Sampai akhirnya tante Lena menyumpahi Naura yang membuat Naura makin hancur, dan hari ini kembali mbah dan buk Las membongkar niat busuk ayah yang ingin menguras harta bunda aku"
"Ayah jahat. Ayah tidak merasa apa, jika cuma bunda yang membiayai kami"
"Dan tante Lena kesini karena aku yang memintanya. Aku ingin tante Lena mengatakan semua apa yang telah ayah lakukan sama dia. Dan ternyata ayah memang hina, ayah tega..." suara Naura sudah hilang ditelan tangisnya
"Dia bohong nak, jangan percaya sama dia!" Andi membela diri
Lena tertawa sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya
"Sadarlah Andi, kamu sudah tua. Jangan nakal lagi, tobat!"
"Gudang maksiat seperti kamu jangan sok-sokan menasehati ku!" geram Andi
Kembali Lena tertawa mencemooh
"Dan ayah juga mentalak seribu bunda kan?, tega ayah!!"
Refleks tangan mbak Ningsih terayun dan menampar wajah Andi mendengar perkataan Naura
Air matanya mengalir deras
"Ya Alloh Andi, kamu buat mbak malu. Kemana mbak mau meletakkan wajah mbak karena kamu ini!!" geramnya
"Kamu mentalak seribu istri kamu?, iya?"
Lena terkekeh
"Dasar manusia gila, kamu itu tidak bersyukur punya istri baik. Malah selingkuh dengan perempuan rendah, ah iya, kamu sendirikan rendah. Jadi cocoklah kamu sama selingkuhanmu itu, sama-sama sampah!!"
"Indah tidak pernah menceritakan kesedihannya, padahal aku sering mancing-mancingnya, tapi dia selalu menutup aibmu, dan Tuhan Maha Adil Andi, tanpa perlu Indah bersusah payah menjelaskan pada anak-anaknya siapa kamu sebenarnya, bobroknya kamu terbuka dengan sendiri!" jawab Mia
"Aku berjanji, bahwa aku mendukung bunda untuk tidak kembali sama ayah. Pilihan bunda sudah benar dengan berpisah dengan ayah. Dan ayah, aku mohon mulai sekarang jangan lagi temui aku, karena membela ayah, aku jadi anak durhaka. Karena ingin membuat ayah dan bunda rujuk, aku telah melukai hati bunda"
Naura lalu memeluk Ningsih dengan erat.
"Karma ayah tidak akan turun ke Ula kan buk?, Ula tidak akan diperkosa seperti sumpah tante Lena kan buk?"
Lena terdiam, dadanya bergemuruh mendengar ucapan Naura yang menyayat hati
"Tidak nak, karma hanya akan kembali pada mereka yang melakukan dosa. Kamu tidak melakukan dosa, ayahmu yang berdosa, jadi biar Alloh yang menghukum ayahmu" jawab mbak Ningsih sambil berlinang air mata
Mia menoleh kearah Lena yang tertunduk. Digenggamnya jemari sahabatnya itu
Lena menoleh dan tampak oleh Mia ada air mata di pelupuk mata Lena. Mia menganggukkan kepalanya.
Dengan pelan Lena bangkit dan berjalan kearah Naura.
Dimas menyingkir dan duduk di dekat ayahnya
"Maafkan mulut jahat tante, nak. Tante minta maaf" lirih Lena sambil menarik Naura yang didekap mbak Ningsih
Naura menangis sesenggukan di dada Lena. Wanita cantik yang hidupnya dihancurkan oleh ayahnya.
"Maafkan ayah saya, tante. Maafkan dia"
Lena diam tidak menjawab, tapi air matanya terus mengalir mengingat masa lalunya yang kelam.
Andi tertunduk dalam. Air matanya mengalir deras. Bahkan sekarang, anak satu-satunya yang selama ini mendukungnya pun telah membencinya.
Jadilah ruangan itu dipenuhi dengan isak tangis.
Andi terus berusaha membujuk Naura, tapi hati Naura sudah terlanjur kecewa hingga segala bujuk rayu Andi tak dapat meluluhkan hatinya
"Assalamualaikum.."
Sontak semua yang ada di dalam rumah menoleh ke arah pintu.
Kak Andri berdiri dengan senyum di wajahnya. Naura segera berdiri dan menghambur ke pelukan uwaknya
__ADS_1
Kak Andri mengelus kepala Naura dengan sayang dan tampak menganggukkan kepalanya kearah Lena dan Mia