Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bertemu Kak Jen


__ADS_3

Setelah Naura pergi dengan Andi aku memilih untuk kembali kerumah. Sepanjang jalan aku lebih banyak diam karena hatiku masih kesal.


"Loh, Naura mana?" tanya bapakku begitu kami masuk rumah


"Ikut Andi, tadi Andi juga ada di pesantren" jawabku sambil mencium punggung tangan bapakku


"Ngapain Naura ikut bajingan itu?" teriak kakakku yang ternyata ada di dalam rumah


Aku menoleh pada kak Andri dan menarik nafas dalam.


"Kalian istirahat dulu nak ya" ucapku kepada kedua jagoanku.


Mereka menurut dan masuk kedalam kamar


"Andi sudah beberapa kali bertemu dengan kami" ucapku pelan sambil duduk di kursi


Wajah Kak Andri berubah, dia langsung menatapku dengan tajam


"Awas kalau kamu rujuk sama bajingan itu!" geramnya


Aku terkekeh


"Isss, mahap bae" jawabku dengan bahasa daerah kami (Is, sori saja)


Lalu aku menceritakan semuanya pada kakakku bagaimana Andi pernah menemui kami ketika kami di JM MALL, meminta maaf padaku, dan yang terakhir hari ini


"Naura harus diberi pelajaran! geram kakakku


"Aku yakin kak Andi sudah brain wash dia, makanya dia kaya gini" jawabku


"Naurakan memang dekat dengan Andi" timpal umakku


"Tapi sejak Indah cerai, apa ada bajingan itu menemui Naura, tidak ada mak, dan sekarang giliran anak-anaknya sudah besar enak saja dia mau kesini" jawab kakakku kesal


"Langkahi mayatku jika Andi berani mengambil Naura!" geramnya lagi


Aku kembali menarik nafas dalam.


"Naura biar jadi urusan kakak sat, kamu jangan risau" kembali kakakku berkata yang membuatku sedikit lega


...****************...


Sore harinya Andi mengantarkan Naura pulang. Aku tidak menemuinya, hanya bapakku yang menyambut mereka di pintu pagar. Aku mengintip dari balik gorden, kulihat Naura memeluk erat Andi ketika Andi akan pulang. Dan kulihat juga jika Andi mengelus kepala Naura sambil tersenyum sayang. Aku mencibir melihat sikap sok manisnya


Naura masuk sambil memeluk teddy bear pink yang tadi diberikan Andi. Melihatku duduk di ruang tamu, dia segera berjalan pelan kearahku


"Bunda marah?" lirihnya


Aku menoleh padanya, menatapnya dengan sendu


"Anak ini kalau aku kerasi dia akan makin keras, tapi jika aku melunak dia bakal ngelunjak" batinku


Aku menepuk kursi di sebelahku memberi kode untuknya agar duduk di sebelahku


Naura menurut, lalu duduk di sebelahku. Kembali kutatap wajah cantiknya yang sangat mirip dengan Andi, sedikitpun tidak buang, Andi versi perempuan.


"Naura sayang tidak sama bunda?" tanyaku


Dia mengangguk


"Sama ayah?"


Dia kembali mengangguk


Aku menarik nafas dalam


"Bunda tidak pernah melarang ayuk untuk sayang sama ayah, karena walau bagaimanapun juga dia adalah ayahmu, dari kecil ayuk memang paling dekat dengan ayah"


Naura diam menatapku


"Tapi berhubung ayah sama bunda sudah pisah jadi tolong Naura fahami posisi kami, Naura boleh ketemu ayah kapan saja. Bahkan mau ikut ayah juga boleh, tapi jangan pernah Naura berfikir untuk meminta bunda kembali pada ayah" sambungku


Wajah Naura berubah dan aku bisa menangkap perubahan itu. Dia langsung merebahkan badannya kesandaran kursi


"Jangan tanya apa alasannya karena bunda yakin Naura tidak akan bisa menerimanya, karena bunda yakin saat ini Naura terlalu sayang sama ayah, jadi apa yang ayah katakan selalu dituruti sama Naura. Tapi Naurakan sudah besar nak, sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk"

__ADS_1


"Ayah tidak pernah mengajari buruk pada Naura" jawabnya cepat


"Kapan Naura mulai dekat sama ayah, hem?" tanyaku masih menahan sabar


Naura diam


"Ingat tidak nak bagaimana dulu kita ngontrak, kamu sakit, malam-malam bunda ke puskesmas ngantar kamu, puluhan kali nelpon ayah kamu, tapi sekalipun dia tidak mau mengangkatnya nak, bahkan saat kamu menangis ingin mendengar suaranya, apa dia mau mengangkat telpon kita?"


"Ingat tidak nak bagaimana embah dan bukde kamu bilang jangan menganggap mereka keluarga lagi?"


"Ingat tidak nak bagaimana adek jatuh mengejar ayah karena ingin minta uang seribu untuk beli permen?"


"Ingat nak?, ingat???!!" ucapku sambil menangis


"Sekarang setelah kalian besar, dia datang, waktu kalian kecil apa ada sehari saja dia datang menengok kalian?"


"Apa ada dia memberi kalian uang jajan seperak saja?, tidak ada nak. Cuma bunda nak, cuma bunda yang berjuang untuk kalian. Menangis darah menahan hinaan dan pedihnya berpisah sama kalian!" lanjutku makin emosional


Kedua putraku muncul, keduanya berwajah murung ketika melihatku menangis.


"Bunda tidak marah kamu jalan sama ayahmu, cuma bunda kecewa dengan sikapmu!" jawabku sambil berdiri meninggalkannya yang terpekur di kursi


Aku segera memeluk kedua jagoanku lalu membawa mereka kembali kedalam kamar


...****************...


"Aku akan ke Pekanbaru bang, mau liburan" isi bbmku pada abang pagi ini


"Sama siapa sayang?" balas abang


Aku menatap jam di smartphone, jam enam kurang, itu artinya di Jeddah jam 2 dini hari


"Abang tidak tidur?"


"Banyak kerjaan karena minggu depan grand opening hotel"


Aku menepuk keningku, aku lupa jika ummi pernah berencana akan launching di akhir tahun


"Kamu kapan pulang? bukankah cutimu sudah akan berakhir?"


"Lihat nantilah bang" balasku


Abang membalas dengan emoticon senyum dan gambar hati


Aku tersenyum melihatnya lalu kembali berkemas, sedangkan ketiga anakku juga sedang berkemas


"Travelnya jam berapa jemput kita?" tanya Adam


"Jam tujuh" jawabku


Segera mereka melesat kedalam kamar mandi dan dengan cepat sudah berganti pakaian


Pukul tujuh kurang travel yang akan membawa kami ke Bengkulu tiba, aku dan ketiga anakku segera berpamitan pada kedua orang tuaku.


Kurang lebih empat jam travel yang membawa kami tiba di bandara Fatmawati Soekarno. Setelah membeli tiket kami menunggu di waiting room.


Pukul dua siang pesawat mulai take off dan aku bisa melihat bagaimana antusiasnya ketiga anakku saat naik pesawat karena ini adalah pengalaman pertama untuk mereka


"Pekanbaru, aku datang lagi" bisikku dalam hati


Sudah tak sabar rasanya ingin bertemu dengan kak Jen. Dia pasti sangat kaget melihatku nanti, kembali aku membatin dan tersenyum


Kurang lebih satu setengah jam pesawat landing di bandara Sultan Syarif Kasim II, aku segera mengajak ketiga anakku berjalan keluar dari dalam bandara


"Ini Pekanbaru, bunda?" tanya Mikail antusias


Aku mendehem menjawab pertanyaannya karena saat ini aku sedang mencari taksi untuk membawa kami kesalon kak Jen


Tak lama ada sebuah taksi lewat, aku segera melambaikan tangan kearah taksi tersebut dan kami langsung masuk begitu taksinya berhenti


"Masih marah sama bunda?" lirikku pada Naura


Karena sudah seminggu ini dia sama sekali tidak menyapaku sejak kejadian aku menangis waktu itu.


Dia menoleh sebentar lalu memeluk lenganku lalu menempelkan kepalanya kebahuku

__ADS_1


"Ayuk minta maaf" lirihnya


Aku mengelus kepalanya.


...****************...


Taksi yang kami tumpangi berhenti tepat di depan salon yang bertuliskan MADAM JENNIFER SALON AND SPA"


Kami turun dan aku segera membayar sesuai dengan agro yang tertulis di sana


"Ini tempat apa bunda?" tanya Naura


Aku diam, karena aku juga merasa asing dengan tempat ini.


Dulu tempat ini tidak seperti ini, kok sekarang makin megah ya?, Jangan-jangan taksi tadi salah alamat, batinku


Dengan sedikit bingung seperti orang hilang aku melangkah dan mendorong pintu kaca


"Welcome di salon Madam Jen, disini anda akan berubah total di tangan profesional kami" ucap seorang lelaki gemulai yang membuat kedua putraku cekikikan


Mata lelaki jadi-jadian itu mengerling kearah kedua putraku


"Kalian kok ganteng-ganteng sih" ucapnya mencubit gemas pipi kedua anakku


Adam langsung mengelap pipinya, dan aku menggeleng kearahnya


"Maaf kak, ini benar salonnya kak Jen?" tanyaku


Ben*****g tersebut mengernyitkan keningnya


"Maksudnya?" ucapnya balik nanya


Aku segera mengambil handphone dalam tasku lalu memamerkan foto kak Jen pada ben******ng tersebut


Dia langsung cekikikan


"Iya benar, ini memang madame Jen, bos kami" jawabnya yang membuatku lega


"Bisa saya bertemu kak Jen?"


Ben*******ng tersebut langsung menatapku dari atas hingga bawah


"Ini penting, saya datang dari jauh" mohonku


Lalu ben******ng tersebut pergi meninggalkan kami setelah aku menjelaskan panjang lebar dan memohon


Sepeninggal ben******ng tersebut, aku segera mengajak ketiga anakku duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut


"Siapa sih orang yang berani ganggu waktu istirahat madam? tidak tahu apa kalau madam ini orang penting!" ucap suara cempreng yang kuyakini adalah kak Jen


Aku segera menoleh kesumber suara, kulihat kak Jen berjalan sambil sibuk mengibaskan rambut merah bergelombangnya


"Yuk cuss pinter" ucapnya melambaikan tangan kearah pegawainya yang sedang mewarnai rambut pelanggan saat kak Jen lewat


Sepanjang lewat dia sibuk menyapa para pelanggannya dan kembali berwajah jutek ketika berjalan kearah kami


Aku segera memalingkan tubuhku membelakanginya.


"Heii!! eyke sapo sehh" coleknya kepundakku


Aku tetap belum menoleh padanya. Tampak ketiga anakku makin kaget melihat kak Jen. Sibungsu mulutnya sampai ternganga


"Ihhh..., rese yaa!" geram kak Jen menarik pundakku hingga aku langsung berhadapan dengannya


Aku tersenyum manis kearahnya. Langsung Kak Jen menutup mulutnya dan aku makin melebarkan senyumku


"Ini bukan mimpi kan?" ucap kak Jen sambil menepuk pipinya


Aku segera maju dan memeluknya. Diluar dugaanku kak Jen langsung melompat kegirangan


"Serius ini yeay, hah?" ucapnya sambil melepas pelukan dan kembali memelukku


Ketiga anakku menatap bengong.


"Ya Alloh, mimpi apa eyke semalam" ucap kak Jen sumringah

__ADS_1


__ADS_2