
"Apa dek?, kening kamu luka karena dilempar mbahmu dengan gelas?"
Adam yang mendengar pertanyaan bundanya langsung terdiam
"Jawab bunda dek!"
Adam tersenyum kaku
"Nggak sakit kok bun, luka ini tidak seberapa sakit dibanding sakit yang kami rasakan karena dijauhi bunda"
Air mataku langsung turun, jujur aku sedih mendengar suara seraknya
"Maafkan kami bunda..."
"Nanti urusan itu, bilang sama bunda kenapa mbahmu bisa melempar gelas ke kening kamu"
"Nggak sengaja kok bun"
Aku membuang wajahku sambil tersenyum sinis
"Pilih jujur atau pilih bunda marah dan tetap memblokir nomor kalian?" ancam ku
Adam tak punya pilihan lain selain berkata jujur, jika dia kembali membela mbahnya, bukan tidak mungkin jika kali ini bundanya akan makin murka padanya
"Karena kejadian kemarin bun"
Aku menatap lekat anakku
"Ayo ceritakan semuanya!"
Adam menarik nafas dalam lalu menceritakan semuanya bahkan sampai dengan kak Andri yang membabi buta memukuli pak Hermawan
"Itu, itu kalau kalian mau tahu. Itulah makanya bunda marah kalian membantu mereka. Mereka manusia yang tak tahu berterima kasih"
Adam tersenyum tak enak mendengar omelan bundanya
"Iya maafkan kami bunda"
Aku mendecak kesal. Lalu handphone kuberikan pada abang sedangkan aku segera menelpon kak Andri
"Ya sat?"
"Gimana ceritanya kening Adam bisa bocor?" semprotku begitu terhubung dengan kak Andri
"Semuanya sudah beres Sat, kamu nggak usah marah-marah lagi"
"Gimana aku nggak marah kak, dulu lututnya luka sampai sekarang ada bekasnya gara-gara dia mengejar Andi dan sekarang malah keningnya bocor karena dilempar gelas dengan bandot tua itu!!!"
Kak Andri menarik nafas panjang, jika dia menjawab bakal runyam ini, jadi dia hanya diam mendengarkan adiknya ngomel
"Terus gimana ceritanya uang Naura itu kak?"
"Mereka kakak kasih jatah seminggu untuk melunasi, jika tidak rumah beserta isinya akan kakak sita, surat dari kades juga sudah ada di tangan kakak"
__ADS_1
"Bagus kak, aku yakin mereka tak akan sanggup membayar. Begitu rumah itu kita sita, segera kakak hancurkan rumah itu. Biar pak Hermawan tahu, betapa marah dan dendamnya aku pada mereka"
Kak Andri menarik nafas panjang mendengar jawaban Indah. Sedangkan Ozkan yang duduk di depan istrinya turut menggelengkan kepalanya
...****************...
Tak puas rasanya aku hanya ngomelin kak Andri, begitu suamiku pergi kekantor aku segera menelpon Nina
"Bapak kamu ada Nin?"
Nina yang telah tahu maksud Indah menanyakan bapaknya segera mengelak
"Nggak ada mbak"
"Kemana?"
"Nggak tahu mbak, cari orang yang mau beli rumah ini mungkin"
Karena dadaku masih panas, suara Nina yang lemah lembut tak mampu meredam emosiku
"Rekam omongan saya Nin. Biar nanti ketika bapakmu pulang kamu bisa dengarkan omongan saya ini pada bapakmu"
Nina yang saat itu sedang berkumpul dengan keluarganya memandang bingung pada semuanya
"Loudspeaker" kode Joni
Nina menurut
"Bilang ya Nin sama bapak kamu, apa belum cukup selama ini mereka mendzolimi saya sampai dengan anak saya mau mereka dzolimi juga?"
Semua mata langsung menatap kearah Maria yang wajahnya terkesiap
"Baju? baju apa mbak?"
"Tanya Maria, dia pasti tahu. Baju yang lebih mirip kain perca saking hancurnya digunting-gunting. Terus itu diberikan Laras pada saya, dengan hinaan, saya tidak akan bisa membelikan ketiga anak saya baju makanya dia berikan baju sisa Raffa dan Nicholas"
"Nanti, setelah ini akan saya lihat kan sama kamu Nin, bagaimana rupa baju yang dulu diberikan mereka buat ketiga anak saya"
"Dan sekarang, kedua anak saya sudah berniat baik membantu, malah bapak kamu menyakiti Adam. Bilang sama bapakmu Nin, aku tidak ridho dunia akhirat dia menyakiti anakku, dan aku tidak ikhlas merelakan uang Naura yang kalian pakai. Sampai kapanpun kalian harus mengganti uang itu"
"Tidak sedikit Nin uang dua ratus juta itu, banyak jumlahnya. Puluhan tahun saya bekerja mendapatkan uang itu. Seenak saja bapakmu mau minta Naura dan Adam merelakan, nggak bisa!, itu uang saya"
Nina hanya mampu terdiam mendengar luapan kemarahan Indah. Begitupun yang lain, sedangkan Maria yang sejak tadi menjadi pusat tatapan makin tampak gelisah
"Ini Andi yang sedang sekarat, mungkin tak lama lagi dia akan menyusul Laras dan ibu kamu"
Wajah seluruh keluarga pak Hermawan terkesiap mendengar ucapan Indah
"Tinggal saya menunggu kematian Maria, setelah itu orang yang meracuni hati dan hidup saya habis dari muka bumi ini!"
Wajah Maria langsung merah padam menahan marah
"Sorry Nin jika kamu menganggap saya terlalu kasar"
__ADS_1
"Karena saya memang bukan wanita sempurna, banyak kekurangan dalam diri saya. Saya menjadi keras karena terlalu banyak disepelekan dan tidak dihargai"
"Saya melawan bukan berarti saya tidak sopan, tapi saya sudah lelah menjadi orang yang selalu diinjak-injak"
"Baik dan jahat sikap saya tergantung bagaimana orang memperlakukan saya"
Semuanya diam mendengar kalimat Indah, terlebih pak Hermawan
"Bilang ya Nin sama bapak kamu, surat perjanjian sudah ada di tangan kak Andri, itu artinya hanya hitungan hari lagi rumah kalian harus laku"
"Jika belum laku bagaimana mbak?"
"Saya tidak tahu, karena itu sudah menjadi urusan kak Andri. Terserah bagaimana nanti keputusan kak Andri"
"Kata kak Andri jika dalam seminggu belum juga laku rumah ini bakal beliau sita"
Aku tertawa sinis
"Terserah kakak saya. Dan jika rumah itu nanti sudah disita sama kakak saya, sorry ya Nin jika rumah itu akan saya ratakan dengan tanah!!!"
Mata pak Hermawan terbelalak begitu juga dengan mata Nina dan mbak Ningsih
"Diratakan mbak?"
"Iya, agar kenangan buruk saya pada rumah itu hilang"
Kembali wajah seluruh penghuni rumah itu terkesiap
"Di rumah itu dulu saya tidak pernah dianggap menantu, malah saya dianggap musuh, setiap kesana pakaian kami diletakkan dalam gudang dan saya sama Naura tidur di lantai"
Kemudian aku tertawa, tapi Nina tak tahu jika saat itu aku tertawa sambil berurai air mata
"Bahkan di rumah itu pula ibumu dan Laras mengatakan langsung persetujuan mereka atas sikap Andi yang berselingkuh"
"Aku tidak akan memaafkan itu Nina, tidak akan, hatiku sangat sakit karena perlakuan orang tuamu dan saudaramu"
"Hingga rasanya di hatiku tak ada pintu maaf buat mereka"
Setelah itu aku memutuskan obrolan, terduduk di lantai dengan berlinang air mata
"Kalian terlalu jahat padaku, sangat jahat"
Ozkan yang ternyata tidak pergi kekantor menarik nafas panjang melihat istrinya menangis tersedu
Ozkan ragu, antara mendekati istrinya atau membiarkannya menangis. Tapi melihat air mata istrinya sungguh hati kecilnya tak rela dan tak tega
Bagaimanapun Ozkan sangat mencintai istrinya dan dia juga tahu bagaimana penderitaan istrinya oleh perbuatan Andi
Ozkan mengetuk pintu kamar, aku yang sedang menangis refleks menoleh ke arah pintu
Dengan cepat aku menghapus air mataku agar tak terlihat oleh suamiku
Ozkan masuk dan segera ikut duduk di lantai, menarik kepala istrinya.
__ADS_1
Aku langsung menangis sesenggukan di pelukan suamiku, segala kesal, marah dan sedih aku tumpahkan semua saat itu
Dan Ozkan dengan sayangnya terus mengusap kepala istrinya sambil sesekali menciumi hijabnya