
Naura sudah lebih dari dua jam mengikuti pemotretan. Dengan sabar Ozkan menunggui anak sambungnya itu
Sedangkan Mikail dan Adam yang bosan dibawa Ozkan ke cafe yang berada tak jauh dari studio milik Canan
Naura melihat bagaimana model-model lain berpose, dan mereka sangat anggun dan hebat, karena memang mereka sudah berpengalaman
"Kalau kamu mau, kamu bisa stay di Turkey, nanti sekolah modeling saja" ucap Canan ketika pemotretan selesai
Naura langsung menoleh kearah Ozkan yang wajahnya berubah tak senang
"Sembarangan kamu. Anakku ini seorang hafidzah, mana mungkin dia mau. Ini saja dia mau karena tidak ingin mengecewakan mu"
Canan menatap kearah Naura, lalu Naura mengangguk pelan
"Oh, sayang sekali. Padahal jika kamu mau, kamu bisa hebat seperti mereka" ucap Canan melirik kearah model-modelnya yang masih berpose
Naura tersenyum
"Maaf aunty, tapi saya harus kembali ke Indonesia, sekolah saya belum selesai, dan saya juga ingin jadi bidan bukan model"
Canan tersenyum sambil mengelus pundak Naura
"Tapi hasil foto-foto kamu tadi bagus" lanjut Canan sambil menunjukkan hasil jepretan fotografer pada Ozkan dan Naura
Wajah Naura langsung bersemu merah demi melihat hasil foto shoot nya. Sedangkan Ozkan tersenyum
"Kita kasih tahu bunda, bunda pasti kaget"
Naura menggeleng, dan wajahnya kian merah
"Malu pa..."
Ozkan mengusap kepalanya
"Nanti kirimkan ke abi, ya?"
Canan mengangguk
"Ya sudah, abi sama anak-anak mau jalan-jalan. Ini sudah terlambat sekali kami, karena harusnya kami sudah tiba di Cappadocia sejak tadi"
Canan nyengir, lalu dia memeluk Ozkan
"Makasih ya abi, karena sudah mau mengantar Naura kesini"
Ozkan mencubit kecil hidung Canan
"Kalau abi tidak menuruti kemauan kamu, bisa ngamuk kamu"
Canan memukul dada Ozkan sambil cemberut
"Aunty, aku mau ganti baju, boleh?"
Canan mengangguk, lalu dia memanggil asistennya untuk membantu Naura berganti pakaian
Setelah selesai ganti baju, Naura kembali menemui papanya
"Sudah pa"
Ozkan mengangguk lalu memeluk dan mencium kening Canan, lalu mengajak Naura pergi dari studio itu menuju cafe menjemput kedua anak lelakinya yang tadi ditinggalkannya di sana
Setelah ketiga anaknya naik ke dalam mobil, kembali Ozkan melajukan mobil menuju Cappadocia. Sementara mobil bodyguard terus mengiring di depan dan belakang mobilnya.
...****************...
Hari ini kami akan pulang kembali ke Jeddah. Anne tidak ikut lagi karena baba sangat manja tidak ingin ditinggal lagi
"Maafkan babane ya sayang" ucap anne sambil mengusap kasar air mata yang mengalir di wajah cantiknya ketika mencium wajah twins
Aku tersenyum hangat kearah anne. Abang mengambil Defne yang ada dalam pelukanku, baru setelah itu aku memeluk anne
"Anne bisa setiap saat mengunjungi kami, jadi anne jangan sedih"
Anne mengangguk tapi air matanya masih saja mengalir
Canan dan istri Ozlem juga berwajah murung ketika memelukku
"Kami akan merindukan kalian, terutama twins"
Aku tersenyum mendengar ucapan Canan
Ozlem mencium pipi Serkan yang saat itu dalam gendongan baba
"Sudah baba, mereka sudah mau pulang" ucap Ozlem
Aku menangkap kesedihan di wajah baba, diciumnya dengan dalam Serkan
"Buyukbaba akan sangat merindukanmu"
Seperti mengerti, Serkan menggumam dan menempelkan tangan mungilnya di wajah baba yang membuat baba kembali menciuminya
Lalu ketiga anakku mencium punggung tangan baba, anne, Canan dan suaminya serta Ozlem dan istrinya.
Saat Naura mencium punggung Canan, Canan memeluknya dan ketika melepas pelukan, Canan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas branded nya.
"Hadiah untuk kamu karena telah mau foto shoot sama Aunty"
Naura bengong menerima cek yang diberikan Canan
"Nggak usah aunty, saya senang kok di foto sama aunty"
__ADS_1
Canan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
"Kamu sudah kerja sama aunty, jadi aunty wajib bayar kamu"
Naura menoleh padaku, dan aku menganggukkan kepalaku
"Thank you so much aunty"
Baru setelah selesai semuanya, kami berpamitan dan masuk mobil. Anne dan baba tak henti-hentinya menciumi Serkan dan Defne
"Sering-seringlah kesini" lirih anne dan baba
Kami mengangguk dan melambaikan tangan kami
...***************...
Akhirnya sampai juga kami di mansion saat tengah hari. Ketiga anakku masuk ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat
Karena anne tidak ada, jadi aku lebih leluasa dengan twins. Jika biasanya Serkan dan Defne lebih banyak dengan anne, jadi siang ini mereka seharian bersama aku dan abang
Dapat aku lihat jika abang sangat menyayangi twins, sedetikpun dia tak mau jauh dari twins. Bahkan memandikan mereka pun abang.
Dari kamar kami aku melihat jika ketiga anakku sedang berenang. Abang yang saat itu sedang memangku Defne dan duduk di dekat jendela segera aku cegah
"Kenapa?"
"Naura sedang berenang"
"Dia tidak pakai baju renang kan?, terus salahnya dimana?"
"Abang bukan mahramnya"
Ozkan mengangguk dan menurut. Sejak di Jeddah, ketiga anakku memang selalu berenang ketika sore, mungkin karena di Merasi mereka jarang berenang. Terlebih ketika mereka mondok.
Karena Defne dan Serkan telah wangi, aku dan abang membawa mereka ke taman belakang
Para pelayan yang melihat kami di taman tampak mengangguk hormat kepada kami yang dibalas kami dengan senyum ramah.
---Di kolam renang
Naura terus berenang seakan tiada lelahnya. Dari gaya dada, gaya bebas, gaya punggung semua dilakukannya.
Sedangkan kedua adiknya berenang dengan gaya bebas mereka sendiri. Bahkan mereka berdua terkadang jadi juri dadakan ketika Naura meminta mereka menghitung berapa menit waktu yang dicapainya.
Sebuah mobil mewah masuk, tapi ketiganya tak perduli, mereka terus saja berenang. Bahkan Naura terus saja menyelam lama, baru setelah jauh tubuhnya muncul lalu memulai gaya berenangnya
Mereka tidak mengetahui jika yang datang adalah ummi beserta nona Alima dan tiga tuan muda
Melihat ada yang berenang di kolam renang, ketiga tuan muda berniat mendekat.
Saat yang bersamaan Naura dengan berlatih gaya punggung jadi dia tidak menyadari jika tiga tuan muda makin dekat. Karena pandangan Naura fokus ke atas
Setelah Naura dua kali seratus meter melakukan gaya punggung lalu dia menyelam lama dan melompat dari dalam air
Saat dia dalam posisi berdiri sambil menarik nafas dilihatnya kedua adiknya berdiri berdekatan seakan menutupinya
"Aaaahhhhh....."
Naura menjerit histeris. Adam dan Mikail terus berusaha menutupi ayuk nya yang kembali menyelam
Tiga tuan muda juga tampak kaget dan dengan cepat membalik badan mereka
Mendengar ada teriakan, beberapa bodyguard berlari cepat kearah kolam renang.
Naura makin panik ketika banyak lelaki di pinggir kolam, dan makin tak berani untuk muncul kepermukaan
"Bundaaaaa...." teriak Mikail
"Don't, jump!!! teriak Mikail pada ketiga bodyguard yang sudah bersiap melompat masuk ke kolam
"Bundaaaaa..." kembali dia berteriak berkali-kali
Aku yang sedang berada di belakang lamat-lamat mendengar teriakan. Wajahku menegang, secepat kilat aku berlari meninggalkan Defne yang ada di dalam troli.
Ozkan yang melihat istrinya berlari segera memanggil pelayan untuk menunggui Serkan dan Defne
"Jaga mereka, saya mau ke depan sebentar"
Pelayan yang sudah berumur itu mengangguk.
Aku melihat ada ummi dan nona Alima, aku hanya tersenyum sekilas pada mereka lalu kembali berlari
"Maaf ummi..." teriakku
Aku lihat air kolam bergerak tapi Naura tak ada, hanya ada Adam dan Mikail yang terus berputar seakan menutupi Naura
Faham aku apa yang terjadi sekarang
"Menghadap kebelakang kalian sekarang!!!" ucapku pada tiga bodyguard yang wajahnya menegang
Ozkan yang juga mengetahui keadaan sebenarnya segera menyuruh mereka pergi kembali ke depan.
Mereka menurut
"Tarik ayuk nak!" ucapku
Mikail segera menarik tangan Naura. Lalu Naura muncul, nafasnya tersengal-sengal dan dia terbatuk
Wajah Naura langsung mendung begitu melihatku.
"Mereka tidak melihat, ayo naik nak" bujuk ku mengulurkan tangan kearahnya
__ADS_1
Dengan cepat Naura naik dan menutupkan handuk ke kepalanya. Lalu dia berlari masuk kebangunan sebelah kolam. Adam dan Mikail melakukan hal yang sama, mereka naik dan masuk kebangunan sebelah, membilas tubuh mereka dan berganti baju
Ummi dan nona Alima mendekatiku
"Anakku dari Indonesia" ucapku pada mereka
Ummi dan Alima menganggukkan kepalanya
"Maafkan kami bunda" lirih tuan muda Fadh
Aku mengelus kepalanya, lalu mereka bertiga bergantian memelukku
"Ayo kita masuk, Serkan dan Defne ada di belakang" ucap Ozkan
Ummi Afsha dan Alima masuk diikuti tiga tuan muda, sedangkan aku menunggu ketiga anakku yang masih berganti baju
Naura keluar telah berganti pakaian dan memakai hijab, tampak sekali ketegangan di wajahnya
"Mereka tidak tahu jika ada ayuk" lirihku
Naura menunduk dan dengan sayang aku memeluknya
"Mereka cucunya ummi, tiga tuan muda yang dulu sering bunda ceritakan"
"Tapi mereka tidak sopan" protes Adam
"Bunda yakin mereka tidak tahu jika ada ayuk, nak"
Mikail mengangguk
"Iya bunda, tadi begitu ayuk teriak mereka langsung membalikkan badan mereka"
"Pokoknya ayuk nggak mau renang lagi"
Aku tersenyum dan mengangguk mendengar Naura yang merajuk
"Ayo kita temui mereka"
Ketiganya menurut dan mengikutiku berjalan masuk menemui ummi
Ketiga anakku mencium punggung tangan ummi dan nona Alima. Ummi sampai mencium kening Naura dan memintanya duduk di sebelah ummi
"Limadha la tadhhab 'iilaa manzil mumya'i? (*kenapa tidak kerumah ummi?)"
"Nahn faqat fi manzil al'umi. walamis airbieat ayam ala Turkia" (Kami hanya di rumah ummi. Dan kemarin empat hari ke Turkey*)
Ummi tersenyum dan membelai kepala Naura
"Aghfir lilhafid ghayr almuhadhab ummi (maafkan ketidak sopanan cucu ummi)
"Naeam al'um (iya ummi)
Ketiga tuan muda memandang kearah Naura yang menjawab setiap pertanyaan ummi dengan lancar
"Samiet 'anakum thalathatuhum hafiz , thuma yumkinuna almusharaka (saya dengar kalian bertiga hafidz, kalau begitu kita bisa sharing)
Adam dan Mikail saling toleh dan Naura kembali menunduk
"Ma zilna nataealam , walays alkamal" jawab Mikail (kami masih belajar, belum sempurna)
"Nahn huna faqat linaqdi 'iijazatan wanaltaqi bi'umina wa'abina wa'ukhatina altaw'am" lanjut Mikail (kami kesini hanya ingin liburan dan bertemu dengan bunda kami, papa kami dan adik kembar kami)
Aku tersenyum dan membelai kepala Mikail yang kebetulan duduk di sebelahku. Sementara Abang duduk di sebelah kiriku
Mikail lalu merebahkan kepalanya dan tersenyum manja ke arahku
Di luar dugaan kami, tuan muda Fadh langsung memasang wajah masam
"Innaha walidatuna" ucapnya dengan wajah cemberut (Itu bunda kami!)
Mikail langsung mengangkat kepalanya, tampak kekagetan di wajahnya
Aku segera memegang tangannya. Nona Alima yang sedang bermain dengan Defne dan Serkan langsung menoleh kearah tuan Fadh
"Fadh, what's wrong?"
Tuan muda Fadh menoleh pada nona Alima sambil memasang wajah masam
"I think he is jealous mom" jawab tuan Muda Emir
Aku tersenyum begitu juga dengan ummi
"Is that true, honey?"
Tuan muda Fadh masih cemberut
"Asf 'iidha jaealnak taghar , lakini atmayana, al'umu 'atwal maeak muqaranatan bithalathat minaa"
(maaf jika kami membuatmu cemburu, tapi yakinlah, bunda jauh lebih lama bersama kalian di bandingkan dengan kami bertiga)
Refleks aku dan abang menoleh kearah Mikail. Aku memandang tak percaya mendengar jawaban bijaknya sekaligus merasakan nyeri disudut hatiku.
Tuan muda Fadh menoleh kearah Mikail, menatapnya dengan serius
"I'm so sorry, seriously I am jealous, because I really love bunda so much"
Adam dan Mikail tersenyum begitu pula dengan Naura
"Dia memang paling dekat dengan bunda, kak.." ucapku
Ketiga anakku mengangguk-anggukkan kepala mereka, sementara tuan muda Fadh tersenyum malu
__ADS_1