Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Anggota Keluarga Baru


__ADS_3

Dua minggu setelah uang tersebut diterima, pesta pemberkatan pernikahan Joni berlangsung. Aku sebenarnya sudah mengajak ayah Naura untuk pulang kampung, mengajaknya menghadiri pernikahan adiknya tersebut, walau jujur saja dalam hati itu bertentangan dengan bathin ku. Dan Alhamdulillahnya, ayah Naura menolak ajakanku. Dia tidak sudi menyaksikan kemurtadan adiknya tersebut.


Di hari pernikahan Joni, suami ku, ayah Naura tampak murung. Aku tidak berani bertanya, karena aku tahu hatinya pasti sedih karena keputusan sang adik.


"Dulu waktu kecil, setiap malam kami ngaji sama-sama di surau yang tak jauh dari rumah. Kami membawa lampu teplok karena belum ada listrik. Dan kamu tahu tidak dek, Joni itu paling cepat pindahnya kalau ngaji, dia cepat sekali nangkap kalau pak Haji menjelaskan tentang tajwid. Dia cepat sekali nangkap hukum-hukum tajwid, huruf-hurufnya, cara membacanya, dulu pak Haji sangat memuji Joni. Kami berdua sering dibandingkan" ucapnya lirih.


Aku menyentuh tangan suamiku. ku genggam tangannya seolah ingin menguatkan. Tiba-tiba dia langsung menubrukku dan menangis tersedu. Ke elus pundaknya berusaha memenangkan.


"Dan sekarang?, Astaghfirullah" ucapnya mengusap kasar wajahnya.


"Kita doakan saja, semoga Joni cepat sadar dan kembali bertaubat kak" jawabku.


...++++++++...


Di lain tempat, proses pemberkatan pernikahan Joni dan Maria berjalan begitu hikmad. Selesai proses pemberkatan tersebut, mereka pulang kerumah orang tua Maria. Disana telah berdiri tenda yang begitu besar dengan pelaminan yang mewah. Pasangan pengantin tersebut langsung duduk di pelaminan. Sebagai orang berada, orang tua Maria menyewa orkes dangdut langsung dari Palembang dengan biaya yang fantastis.


Sebagai anak perempuan satu-satunya tentulah pernikahan Maria begitu mewah, apalagi orang tuanya seorang toke sawit yang banyak koleganya.


Pesta berjalan hingga sore hari. Senyum tak pernah hilang dari wajah bu Mira yang begitu bahagia mendampingi anaknya di pelaminan yang menyalami tamu undangan.


Hingga pesta usai, dan tamu mulai agak sepi, barulah pasangan pengantin tersebut turun dari pelaminan dan istirahat di kamar. Sementara pak Hermawan dan anggota keluarganya berpamitan pulang.


"Wahhh, banyak sekali ya pak tamu yang datang, itu sumbangan besan kita bisa puluhan juta itu" ucap bu Mira saat perjalanan pulang


Pak Hermawan mengangguk. "Bisa kaya juga nanti si Joni, nanti dia tidak usah capek-capek lagi jadi mandor Lonsum" tambahnya


"Benar itu bu, siapa tahu nanti kita juga kecipratan dari Joni, saya lihat teman-teman Joni dan Maria tadi banyak yang hadir" sambung Laras


"He eh" jawab sang ibu

__ADS_1


"Tuh Nin, nanti kalau cari suami kaya kakak kamu Joni tu, cari yang kaya" ucapnya pada Nina yang duduk di belakang.


Nina melengos malas mendengar ucapan ibunya.


...++++++++...


Pagi-pagi buta bu Mira sudah heboh ketika ada utusan dari keluarga Maria yang datang mengatakan kalau Maria akan dibawa ke rumah sakit kota karena mau melahirkan.


Seluruh anggota keluarga yang masih terlelap terbangun karena suaranya. Bu Mira telah berkemas ketika membangunkan suaminya.


"Ayo pak cepat, kita ikut besan kita ke rumah sakit. Maria mau lahiran pak, ayo pak cepat" ucapnya


Pak Hermawan yang baru bangun masih duduk di tepi tempat tidur belum berbuat apa-apa. Melihat itu bu Mira segera menyerahkan handuk kesuaminya sementara dia berdandan.


"Ayo cepat, kalau terlambat apa nanti kata besan kita"


Selesai berdandan, bu Mira segera keluar dari kamarnya. Dan didapatinya Nina duduk di sofa di ruang tamu.


"Ibuk kok heboh banget tau mbak Maria mau lahiran. Dulu ketika mbak Indah, ibuk ga seheboh ini. Jangankan mau mbesuk, ketika aqiqahan saja ibuk malas buat datang" sindirnya


"Kamu jangan samakan Maria dg perempuan ga diuntung itu. Gara-gara dia kakakmu Andi sampai tidak datang ke pernikahan Joni. Entah apa yang dilakukannya pada kakakmu sampai kakakmu begitu nurutnya sama dia" gerutunya


Nina melengos tidak perduli dengan omongan sang ibu. Dalam hati dia mulai menghitung-hitung jarak pernikahan Joni dengan Maria yang mau melahirkan sekarang. Wajahnya tampak terkejut ketika diingatnya tanggal pernikahan kakaknya dengan hari ini cuma berjarak 42 hari. What?? instans sekali batinnya bergidik.


...+++++++++...


Aku melajukan motorku menuju ke rumah orang tuaku pagi menjelang siang ini. Naura aku gendong. Kebiasaanku, setiap mau ngajar siang Naura aku titipkan dengan ibuku.


Di tengah perjalanan aku melihat mobil merah mirip mobil mertuaku. Dan ketika sudah dekat memang benar itu mertuaku, aku klakson saat berpapasan dan menaikkan helm yang menutupi wajahku. Tapi tidak ada balasan klakson dari mobil tersebut, ah mungkin mertuaku tidak tahu kalau yang mengklakson barusan adalah aku, fikirku.

__ADS_1


Aku terus melajukan motor bebek ku dengan pelan, hingga akhirnya sampai di rumah ibuku. Karena jam mengajar siang baru akan dimulai dua jam lagi aku beristirahat dulu di kamarku yang dulu sambil ngeloni Naura.


...+++++++++...


Maria merintih kesakitan ketika perawat mulai memakaikan infus di tangannya. Berkali-kali dia meremas sprei yang ada di bawahnya menahan sakit.


Tak lama dokter dan bidan datang, setelah memeriksa keseluruhan kondisi Maria dan kandungannya l, dokter memutuskan untuk mengoperasi Maria. Maria tidak bisa melahirkan normal karena posisi bayi yang membahayakan bagi keselamatannya.


Joni yang terus berada di samping sang istri tampak begitu khawatir. Keluarga yang lain menunggu di luar. Ayah dan ibu Maria tampak berjalan mondar mandir di koridor ruangan menunggu dokter keluar dari ruang UGD.


Tak lama dokter dan bidan keluar dari ruangan tersebut yang langsung disambut berondongan pertanyaan dari ibunya Maria. Sang dokter lalu menjelaskan kalau Maria harus dioperasi secepatnya karena tidak ada kemungkinan untuk melahirkan normal. Mendengar penjelasan dokter tersebut, sontak mereka semua shock, terlebih sang ibu yang langsung berurai air mata. Bu Mira segera memeluk besannya untuk saling menguatkan.


Joni pun keluar dari ruangan dan mengikuti perawat untuk mengurusi segala administrasi. Tampak sekali kekhawatiran di matanya. Pak Hermawan yang melihat hal tersebut menepuk pundaknya yang dibalas Joni dengan anggukan kepala.


Tak butuh waktu lama, brankar tempat Maria telah di dorong oleh perawat keluar ruangan UGD menuju ruangan operasi. Ketika brankar melewati orang tuanya, sang ibu langsung memeluknya.


"Doain Maria Ma" ucapnya lirih


Sang ibu mengangguk sambil berurai air mata.


Tak terasa sudah dua jam Maria di dalam ruangan operasi. Segala perasaan berkecamuk menyelimuti mereka yang menunggu di luar ruangan operasi. Berkali-kali orang tuanya tegak duduk karena gelisah.


Tak lama lampu yang menyala di atas pintu ruangan operasi padam, dan mereka yang di luar segera berdiri. Tak lama dokter keluar, dan langsung di serbu oleh ibunya Maria.


"Bagaimana anak saya dok?" tanyanya khawatir


"Alhamdulillah, anak dan cucu ibu semuanya selamat dan cucu ibu laki-laki" jawab sang dokter sambil tersenyum.


"Alhamdulillah" ucap pak Hermawan. Sementara besannya langsung berpelukan begitu mendengar jawaban dokter. Mereka sangat bahagia mendapatkan cucu laki-laki, setelah sebelumnya mereka mendapatkan dua cucu perempuan dari kakaknya Maria.

__ADS_1


Setelah melepas pelukan dari sang suami, Bu Helena langsung memeluk besannya, bu Mira. Berdua mereka berpelukan haru. Sementara pak Hermawan menyalami besannya.


__ADS_2