
Satu bulan sejak kejadian keributan
Suara ketukan di luar membuat Andi yang sedang bercanda dengan Naura di kamar bangkit. Dari kaca jendela di lihatnya kalau itu adalah keluarga besarnya yang datang. Segera dibukanya pintu dan mempersilahkan semuanya masuk.
Ini adalah kali pertama mereka datang ke kontrakan Andi. Mata sang ibu langsung mengelilingi ruangan tersebut. Tak ada yang istimewa pikirnya.
Mengetahui jika mertuanya datang, Indah yang sedang memasak segera keluar dari dapur. Segera disalaminya mertua dan ipar-iparannya.
Sementara Nina begitu masuk rumah langsung mengambil Naura yang tadi di gendong Andi dan sekarang dia sedang asyik bermain dengan ketiga keponakannya. Dimas, Raffa dan Naura.
Indah kembali ke dapur dan tak lama telah kembali dengan membawa teh di atas nampan.
"Silahkan diminum pak, buk, mbak, mas" tawarnya. Ningsih dan Indra sang suami menganggukkan kepala seraya tersenyum.
Lalu Indah duduk disebelah Andi, ikut bergabung.
"Tujuan kami kesini mau menagih uang yang telah kita omongkan sebulan lalu" Pak Hermawan to the point tanpa basa basi.
Semuanya diam tanpa bersuara, yang terdengar hanya tawa dari Nina dan keponakan-keponakannya.
Setelah diam sesaat, Andi menoleh kearah istrinya dan hanya dibalas tatapan oleh sang istri.
"Gimana ya pak" jawab Andi dengan menghela nafas berat
"Saya itu ada uangnya, Bapak dan ibuk tahu sendiri gaji saya berapa, tapi kan saya sekarang juga lagi ngumpulin uang untuk bikin rumah" sambungnya
"Cuma dua puluh juta Ndi" ucap sang ibu
"Sawit bapak itu berhektar-hektar, panennya dua minggu sekali, saya rasa sekali panen lebih dari dua puluh juta uangnya" balas Andi
"Kan sudah dibilangin Ndi, bapakmu mau beli mobil truck, dan Nina mau kuliah di Jawa" sambung sang ibu lagi
"Bapak buat beli mobil ada uangnya, masa buat nikahin anak tidak mau ngurangin jatah buay beli mobil, pakailah dulu uang buat beli mobil itu sedikit untuk biaya Joni menikah, toh nanti kalau panen sawit lagi tinggal diganti, gampang kan?" tambahnya
"Jadi kamu tidak mau ngasih uang ke ibuk?" sang ibu mulai emosi
"Bukan tidak mau buk, seperti yang Andi omongkan tadi, kami lagi ngumpulin uang buat bikin rumah, tidak mungkin selamanya kami ngontrak buk"
"Halah, palingan hasutan istri kamu tu" timpal Laras
Indah menghela nafas dan menatap tajam Laras.
"Nantikan kamu juga bisa Ndi ganti uang kamu dengan gaji kamu" jawab sang ayah
"Kak Ningsih dan kak Laras sudah ibuk bapak mintain belum uangnya" kata Andi
"Loh kok kami?" potong Laras cepat
"Ada masalah kalau bapak ibuk juga minta uang kekalian? toh kalian juga anaknya kan?" balas Andi
__ADS_1
Rudi dan Indra menunduk.
"Lagian Joni kan sudah kerja buk, yaa walaupun kerjanya di kebun sawit sebagai mandor setidaknya dia juga punya uang gaji kan, kenapa tidak minta uang dia juga pak biar cukup dua puluh juta. Jangan seluruhnya dibebankan ke saya, saya sudah punya tanggungan"
"Kamu tahu sendiri Joni, gajinya mana cukup buat dia. Hari ini gajian, besok sudah habis dia foya-foyakan" jawab pak Hermawan
Andi tersenyum kecut. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bisa kan Ndi?" desak sang ibu
Andi kembali terdiam, dia bingung harus menjawab apalagi.
"Kalau lima juta bisa buk, kalau dua puluh juta maaf, Andi tidak bisa" jawabnya pasrah
"Lima juta dapat apa?" jawab Laras cepat
"Ya kakak tambahin dong biar pas dua puluh" balas Andi
"Kita ga ada uang Ndi, kita juga punya kebutuhan masing-masing, kamu kan tahu Mas Rudi dan saya cuma kerja dikebun" jawab mas Indra yang disambut anggukan kepala oleh Rudi
"Sejujurnya saya menolak itu karena Joni lebih memilih murtad, kalau saya memberikan uang itu pada bapak itu sama saja artinya saya menyetujui dia untuk murtad" jawab Andi akhirnya
"Ohhhh, ini pasti karena kamu termakan dengan omongan istri kamu ini" jawab sang ibu sambil menatap sinis Indah
"Kok aku dibawa-bawa" Indah menjawab
"Kalau bukan kamu yang meracuni otak anak saya, dia tidak akan mungkin menolak permintaan kami, lagian kamu pasti foya-foyakan gaji suami kamu, iya kan?" tuduhnya
"tanya kak Andi buk, pernah ga dia itu ngasih aku uang buat aku hambur-hamburkan? aku itu dikasih jatah bulanan cuma enam ratus ribu buk. Sisanya ayah Naura semua yang simpan. Buat beli bedak sama keperluan aku, aku pakai uang aku sendiri" bela Indah
"Halah, mana mungkin Andi cuma ngasih enam ratus ribu" sergah Laras
"Benar kak, Indah cuma aku kasih enam ratus ribu untuk satu bulan. Semua kebutuhan disana semua, untuk makan, untuk susu Naura, untuk nyumbang, semua disana" jawab Andi
"Sudahlah, ndak usah banyak cing cong, terserah istri kamu mau dikasih berapa sebulan, yang penting yang ibuk tau, kalau ibuk pulang, ibuk bawa uang dua puluh juta itu"
Andi lagi-lagi menghela nafas berat. Dia begitu kecewa dengan sikap kedua orangtuanya yang egois.
"Bagaimana dek?" tanyanya menoleh ke Indah. Indah hanya mengangkat bahunya.
"Tuh benarkan, kalau kamu itu disetir oleh istri kamu" kembali sang ibu menuduh Indah
"Indah tidak pernah menyetir saya buk, justru kalau saya memberikan uang dua puluh juta pada ibuk, itu sama artinya dengan saya mendzaliminya. Dia cuma saya beri enam ratus ribu satu bulan, sekarang dia hampir dua tahun jadi istri saya, uang saya yang dia makan itu belum sampai separuhnya dari dua puluh juta itu buk"
Mulailah sang ibu mengumpat-umpat. Dia memaki Andi yang pelit terhadapnya dan lagi-lagi menuduh Indah. Indah yang tak tahan mendengar tuduhan sang mertua yang mengatakan kalau dia sebagai benalu akhirnya menjawab
"Astaghfirullah buk, demi Alloh saya tidak pernah memakai uang ayah Naura untuk kepentingan pribadi saya, jadi stop ibuk menuduh saya, walaupun gaji saya kecil, tapi saya punya uang sendiri tanpa harus meminta pada suami"
"Kamu lihat sendiri kan Ndi, dia berani melawan ibuk di depan kamu, hahaha, hebat ya istri kamu" ucapnya mencibir
__ADS_1
"Ibuk yang memaksa saya buat bicara kasar sama ibuk" balas Indah
"Ibuk ini lucu, mau minta uang dengan saya, tapi dengan anak dan istri saya bencinya minta ampun, dari awal ibuk tidak pernah suka sama istri saya, bahkan Naura yang sudah berumur delapan bulan, sekali saja belum ibuk menggendongnya, boro-boro mau menciumnya" jawab Andi tak kalah sinis
Bu Mira dan Pak Hermawan terkesiap. Mereka tak menyangka jika Andi akan berbicara seperti itu. Mereka menyadari memang sekalipun mereka tidak pernah menggendong Naura seperti cucu-cucunya yang lain. Karena rasa benci mereka pada Indah itulah yang menyebabkan mereka juga tidak suka pada Naura.
Indah menunduk mendengar ucapan Andi. Ditahannya airmata yang sedari tadi ingin runtuh. Kembali hatinya sakit mendapati jika mertuanya juga tidak menyukai Naura.
Andi bangkit dari kursi dan berjalan ke kamar dan tak lama telah kembali dengan uang segepok ditangannya.
"Ini pak uangnya, pas dua puluh juta, kemarin Jum'at saya ambil dari tabungan saya di bank, ini awalnya mau saya belikan tanah, karena ada yang menawari tanah ke kami, tapi berhubung bapak yang kesini, mungkin belum rezeki kami buat beli tanah. Uang ini bisa ibuk bapak pakai untuk nikahan Joni" ucapnya seraya meletakkan uang tersebut di meja
Cepat Bu Mira menyambar uang tersebut. Matanya langsung berbinar cerah.
"Teh nya sudah dingin pak buk, apakah bapak ibuk tidak mau meminumnya? tanyanya
Pak Hermawan denga gugup meraih cangkir teh dan menyeruputnya. Sementara bu Mira tak bergeming.
"Hem, ibuk masih saja sama, bahkan teh yang dibuatkan istri saya saja tidak mau ibuk minum" Andi mencibir
Sang ibu diam tak bergeming. Sedangkan yang lain meminum teh mereka.
"Aku sudah memasak tadi, yuk makan semuanya" tawar Indah mencairkan suasana
"kebenaran Te, saya belum sarapan tadi dari rumah" jawab Rudi sambil berdiri diikuti Indah dan Ningsih
Mereka berempat berjalan beriringan. Indah dan Ningsih menyiapkan piring dan menata meja meja makan. Setelah semuanya selesai, Rudi dan Indra langsung mengisi piring mereka dan makan dengan lahap. Sementara Ningsih kembali kedepan memanggil orangtunya dan Laras. Tapi mereka bertiga menolaknya.
"Takut rasanya aneh lagi ya buk?" sindir Indah
sang ibu mertua tak menjawab, dia pura-pura tak mendengar.
"Bapak dan mbak Laras ga makan juga?" tawar Indah
Laras dan Pak Hermawan menggeleng dan memberi alasan jika mereka masih kenyang.
Selesai makan, Ningsih mencuci piring dengan ditemani Indah
"Jangan tersinggung ya Te dengan omongan bapak ibuk, mereka memang seperti itu" ucapnya
Indah hanya tersenyum dan menganggukkan kepala menanggapinya.
Setelah semuanya selesai, akhirnya pak Hermawan beserta anak menantunya berpamitan pulang. Andi dan Indah mencium punggung tangan mereka semua. Nina dan Ningsih bergantian memeluk hangat Indah dan mencium pipi Naura sebelum akhirnya mereka naik kemobil.
"Maafkan kakak ya dek, kita ga jadi beli tanah" ucap Andi lirih tanpa menoleh ke arah istrinya karena dia melihat ke mobil yang mulai dihidupkan mesinnya oleh sang ayah.
Mereka melambaikan tangan ketika mobil dengan perlahan bergerak maju.
"Ga papa kak, mungkin belum rezeki kita. Kalau rezeki ga akan kemana" balasnya
__ADS_1
"Ini kakak lakukan agar ibuk berhenti menghina dan memojokkan kamu" jawabnya sambil membimbing anak istrinya masuk ke dalam rumah.
Indah menarik nafas dalam menghempaskannya untuk melegakan dadanya.