
"Kenyang kamu sat?" tanya kakakku sambil terus mengunyah
"Laparku hilang kak" jawabku sambil kembali memeluk kedua jagoanku
"Kak, telpon mamak bilang ada bunda di rumah" ucapku pada Mikail yang masih menggelendot manja padaku
Mikail langsung berdiri dan masuk kekamar mengambil handphone. Langsung dia menekan tombol di atas handphone dan meletakkan handphone ketelinganya
"Mamak, ada bunda di rumah, kata bunda mamak disuruh kerumah nenek"
Entah apa jawaban mbak Dian yang pasti wajah Mikail kulihat tersenyum-senyum
"Kak Angga dengan Yuk Yana sudah dikasih tahu kak?" tanyaku
Kakakku mengangguk. Umakku berdiri menarik koperku, memasukkannya kedalam kamarku.
Terdengar suara geradak geruduk suara berlari di teras, aku segera melongokkan kepalaku
"Bundaaa...." mbak Dian masuk sambil berlari dan berurai airmata
Kedua anakku menyingkir dari pelukanku ketika mbak Dian masuk, beliau langsung memelukku erat dan menangis sesenggukan.
Aku membalas pelukannya dan ikutan menangis.
Belum lagi selesai kami bertangis-tangisan muncul seorang perempuan yang sekira seumuran denganku, masuk sambil membawa dua anak, lelaki dan perempuan.
Kedua anak kecil itu segera berlari kearah kak Andri, barulah aku sadar, jika itu adalah istri dan anaknya kak Andri.
Aku segera berdiri dan menyalami ayuk ipar yang selama ini hanya aku kenal lewat sosmed dan telepon
Aku segera menarik kedua keponakanku dan memeluk erat mereka.
"Kenalkan, ini cicik" ucapku pada mereka yang tampak heran melihat kearahku
"Bunda yang sering kakak ceritakan itu loh dek" jawab anakku Adam
Kedua anak kecil itu kembali menatap kearahku, aku tersenyum pada mereka dan kembali merangkul tubuh mungil mereka.
Mbak Dian masih terus menangis padahal aku sudah tidak menangis lagi, akhirnya kami tertawa melihat kelakuannya.
"Aku tuh kangen sekali sama bunda" jawabnya sambil menangis.
Aku memeluknya erat
"Terima kasih ya mbak karena telah menjaga dan mengasuh anak-anakku" jawabku
Beliau hanya mengangguk karena tak bisa berkata-kata karena terus menangis.
Tak lama muncul yuk Yana dan kak Angga beserta keluarga mereka
Kupeluk erat kedua saudaraku
"Kakak pikir tidak akan melihat kamu lagi sat" ucap kak Angga sambil menyusut airmatanya
Yuk Yana sama seperti mbak Dian, menangis tak henti saat memelukku.
"Sudah ah, cukup nangisnya, kalian ini" kak Andri berkata dengan suara beratnya
Lalu seluruh anak kak Angga dan yuk Yana menyalamiku.
Jadilah rumah umakku siang ini sangat ramai. Melihat rumah kami ramai, tetangga yang mengetahui kepulanganku berbondong-bondong pula bertamu
"Apa perlu kita mendirikan tenda?" gurau kak Angga yang disambut tawa kami semua
"Indah jadi makin cantik ya sepulang merantau" ucap para tetanggaku
Aku tersenyum kearah mereka
"Eh cik, ini oleh-oleh untuk kami mana?" potong keponakanku ketika aku asyik melayani pertanyaan tetanggaku
Aku kaget mendengar pertanyaannya.
"Di pesawat tidak boleh bawa barang banyak, kak" jawabku kepada anak tertua ayukku itu
"Yaaaaa" seluruh keponakanku yang berjumlah sembilan orang itu kompak menjawab kecewa
Aku tersenyum tak enak melihat mereka kecewa.
"Maaf...." ucapku tak enak hati
"Air zam-zam?" tanya tetanggaku
Aku lalu berdiri dan masuk kekamar, mengambil satu jirigen lima liter air zam-zam.
Mereka langsung berebutan meminumnya
"Kak, reservasi restoran kalau begitu" ucapku pada kak Andri
__ADS_1
"Pondok ijo saja yang dekat" ucapnya
Aku mengangguk
"Ayo, siapa yang mau ikut makan-makan di pondok hijau?, kalau ada yang mau ikut kita siap-siap sekarang juga" ucapku
Seluruh tetanggaku yang jumlahnya puluhan itu kompak ingin ikut semua. Umakku melongo mendengar jawaban mereka
"Pakai motor masing-masing, tidak mengapa kan?" tanyaku
Mereka kompak menyetujui. Lalu mereka semua pulang kerumah untuk berganti baju
"Kak, maaf ini sebelumnya. Aku tidak ada uang rupiah" ucapku
Kak Andri faham dan menoleh pada istrinya
Istri kak Andri, yuk Vera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Lalu menyerahkan ketangan kak Andri, lalu kak Andri menyerahkan padaku
"Ini seluruh uang kamu, dan juga catatan pengeluaran selama ini" ucap kakakku sambil memberi buku tabungan dan buku tulis padaku
Aku menerima buku tabunganku yang jumlahnya ada lima
"Kok banyak kak?" tanyaku
"Ya kalo buku tabungannya habis kan ganti buku baru" jelasnya
Aku mengangguk lalu membuka buku tabungan terbaru
"Ini serius nominalnya kak?" tanyaku
Kakakku mengangguk
"Kan aku sudah beli kebun, beli tanah dan lain-lain kok masih banyak kak?" tanyaku heran
"Gaji kamu tiap bulan saja tahun pertama dua puluh lima juta dalam bentuk rupiah, terus naik lagi sampai kamu pulang. Kakak yang tiap bulan print out buku tabungan kamu saja sampai ditanyain dengan teller kakak dapat uang dari mana, dipikir mereka kakak melakukan pencucian uang" jawabnya sambil nyengir
"Belum lagi kebun sawit kamu kan sudah ngasil, dua minggu sekali panennya, kamu lupa kalau kebun kamu itu hampir satu kawasan punya kamu semua?" lanjutnya
Aku menggeleng
"Sawit kamu awalnya beli dua puluh paket, terus nambah dua puluh lagi, yang terakhir sepuluh, jadi totalnya lima puluh paket, itu sama dengan seratus hektar, yang sudah ngasil delapan puluh hektar. Dalam dua minggu kamu ratusan juta dapat uang" jawabnya
Aku melongo mendengar jawaban kakakku.
"Serius kak?" tanyaku
Kakakku mengangguk.
"Berapa sat totalnya?" tanya yuk Yana
"Lebih dari seratus M yuk" jawabku
"Waaawwww" teriak keponakan-keponakanku
"Gaji kamu saja dua tahun kemarin sampai bulan lalu lima puluh juta" jawab kakakku.
"Serius kak?" tanyaku tak percaya
"Ya ampun sat kamu itu apa tidak pernah dikasih tahu dengan bos kamu sih nominal gaji kamu?"
Aku menggelengkan kepalaku
"Aku malu kak untuk menanyakan berapa gajiku, karena ummi sangat baik" ucapku
"Ahhh, kalau begitu traktir kami cik" jawab anak kedua yuk Yana sambil nyengir
Yang lain juga ribut minta traktir juga
"Terserah kalian mau beli apa, pokoknya hari ini cik traktir" jawabku dengan mata berbinar
"Serius cik apa saja?" jawab anak tertua ayukku
Aku mengangguk.
"Kalau aku minta motor, boleh cik?" jawabnya
Aku mengangguk
"Enak saja, adik aku kerja jauh jadi babu orang bukan untuk nyarikan kalian duit, enak saja kalian minta belikan motor!" jawab yuk Yana emosi
Aku terbahak mendengar jawabannya
"Apa saja yuk, apa saja. Ayuk mau minta belikan apa saja aku belikan" jawabku sambil memeluk pundaknya. Yuk Yana menoleh kearahku dengan malas
"Kebiasaan, dari dulu royal" sungutnya
Aku tersenyum sambil mencium pundaknya
__ADS_1
Seluruh keponakan dan kedua anakku melonjak kegirangan
"Ayo bun.." teriak suara dari luar pagar.
Ternyata tetanggaku sudah datang semua.
"Yuk Yana sama yuk Diana duluan, aku nyusul nanti sama umak" jawabku menyuruh yuk Yana dan istri kak Angga beserta keluarganya duluan
"Kalian duluan sama ayukku ya, aku mau ganti baju dulu" jawabku
"Kami pesan langsung boleh bun?" tanya mereka
"Boleh, pesan apa saja. Mau di vvip room juga boleh, pokoknya aku yang traktir" jawabku
Mereka langsung bersorak dan tak menunggu lama semuanya memutar motor mereka.
"Gila, sekampung ini berangkat semua" ucap umakku sambil tertawa
Aku ikut tertawa mendengar ucapan umakku
"Umak gantilah baju aku masuk kamar dulu, dari sampai aku belum sempat masuk kamar, masuk sebentar tadi saja" ucapku
"Kak Andri tolong ke teller ya, ambil uangnya" jawabku
"Bayar pakai atm saja sat" jawab kakakku
"Ohh, sekarang makan di sana sudah bisa pakai kartu atm ya kak?" tanyaku
"Jaman sudah canggih sat, kamu saja yang ketinggalan" jawab kakakku sambil tersenyum
...****************...
Aku merebahkan tubuhku di ranjang yang sama seperti dulu, suasananya pun tidak berubah, semua fotoku masih tergantung tapi sekarang ditambah dengan foto ketiga anakku ketika mereka wisuda TK.
Aku tersenyum haru melihat semua itu. Kesederhanaan dan kesahajaan orangtuaku masih terus dijaganya.
"Ayo nak" ucap umakku yang ternyata sudah rapih
Aku segera bangkit lalu berjalan kekamar mandi mencuci muka, ternyata umak bapak dan anak istri kak Andri sudah di dalam mobil
"Bos duduk depan" goda kakakku ketika aku mau duduk di tengah
Aku terkekeh dan menurut karena memang di bagian tengah dan belakang sudah penuh
Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit kami sudah sampai di rumah makan Pondok Hijau, yang kalau kami orang Merasi menyebutnya dengan nama Pondok Ijo
Aku lihat betapa sibuknya pelayan berjalan hilir mudik membawa pesanan
"Penuh pondok-pondok disini" ucap kakakku
Aku tersenyum, memang hampir seluruh pondok makan yang ada disini penuh oleh para tetanggaku
"Bunda nanti kami boleh karaokean?" tanya salah satu dari mereka
"Boleh" jawabku
"Asyiiikkk kita bisa jogettt" teriak mereka
Lalu kami semua makan, setelah selesai sebagian yang lain segera berjalan kearah ruang karaoke. Dan mereka mulai bernyanyi dan berjingkrakan joget
"Hajaaarrrrr" teriak kakakku ketika melihat semua ibu-ibu itu joget
Aku dan umak bapakku terkekeh melihat kakakku yang ikutan heboh
"Kak, ada uang cash kan?" tanyaku
"Ada" jawab kakakku
"Lima juta ada?" tanyaku
Kakakku lalu mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan sejumlah uang yang kupinta
Aku segera berdiri dan bergabung dengan ibu-ibu yang joget dan bernyanyi itu
"Ayo bunda, saweeerrrr" teriak mereka
Aku segera mengacungkan lembaran uang merah di tanganku pada mereka, mereka spontan saling berteriak
"Pasti dapat semua, jangan rebutan" jawabku
Yang awalnya tadi ada beberapa ibu-ibu yang hanya duduk, melihat aku menunjukkan uang merah mereka turun pula kelantai karaoke, ikut berjoget heboh
Aku dengan ikutan joget menyawer mereka satu persatu. Melihat mereka tertawa bahagia menimbulkan rasa bahagia yang jauh berlipat-lipat di hatiku
Kakak dan adek yang melihat aku berjoget segera ikutan joget juga. Mereka memegang tanganku lalu mengangkatnya, mereka tampak sangat bahagia berjoget bersamaku
Aku menitikkan airmata, terkenang dulu mereka juga sering aku ajak joget jika kami santai saat sore.
__ADS_1
Kurang Naura, rasanya bahagiaku belum lengkap karena anak gadisku saat ini di asrama. Tapi tadi aku sudah bilang sama kak Andri untuk mengantarku kepesantren tempatnya sekolah, aku ingin menemuinya