Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Menolong Andi


__ADS_3

Malam ini aku tidur di kamar yang sama dengan ketiga anakku.


Momen seperti dulu kembali terulang lagi. Momen dimana kami tidur bertiga ketika kami tinggal di rumah bedengan


Naura dan Adam di sebelahku, dan Mikail di sebelah Adam


"Aku selalu kalah..." ucap Mikail ketika meletakkan bantalnya


Kami tertawa mendengar dumelannya.


Lalu ketiganya merebahkan tubuh mereka, dengan segera Naura dan Adam memelukku. Mikail tak mau kalah, dia mengulurkan tangannya melewati tubuh Adam, menggapai perutku


Aku tersenyum, tak ada kebahagiaan melebihi ini. Rasanya aku sangat bahagia.


Lalu kami mulai mengulang cerita kami dulu, tentang cita-cita anak-anakku, tentang rumah impian mereka, mobil impian mereka, sampai akhirnya cerita mereka sampai pada masa mereka memaksa ingin pulang ke rumah


Naura telentang, lalu menarik nafas panjang


"Sekarang ayuk tahu bagaimana kesedihan bunda dulu"


Aku tersenyum lalu mengusap kepalanya


"Itu sudah lewat nak, sudah jauh. Dan tak akan kembali lagi"


Handphone ku yang berada di atas meja berdering. Naura yang berada di pinggir segera mengambilnya


"Papa, bun"


Aku segera duduk dan mengambil handphone yang diulurkan Naura


Itu adalah video call, dengan segera aku menggeser ikon video ke atas


"Mama..."


Wajah Defne dan Serkan langsung muncul ketika video call tersambung


Aku dan ketiga anakku melambaikan tangan kearah mereka


"When mama go home?"


Aku memutar mataku, bingung harus menjawab apa


"We are really miss you Ma.."


"Sawf takun 'umiy fi almanzil, lakin lays alan, eazizi" (Mama akan pulang, tapi belum sekarang ya sayang)


Wajah Serkan dan Defne mendung


"Really sorry, please pardon me"


Keduanya masih cemberut


"lam natlub mink aleawdat 'iilaa almanzil, qulna lak faqat albaqa' fi 'iindunisia" goda Naura(bunda tidak kami suruh pulang, bunda kami suruh menetap di Indonesia saja)


"No!!" teriak keduanya keras


Spontan Defne langsung menangis dan memeluk abang yang duduk memangku mereka


"Daddy, arsil al'umu 'iilaa almanzili. al'umi ghayr masmuh biha fi 'iindunisya. al'umu yajib 'an tadhhab 'iilaa almanzil" (Daddy, suruh mama pulang. Mama tidak boleh di Indonesia. Mama harus pulang) teriaknya sambil memukul abang


Naura langsung kebingungan melihat adiknya menangis, dan dia berusaha membujuknya


"Only a jokes honey, not serious"


"Hayo ayuk, adek Defne nangis, ayolah ayuk..."


Naura memukul lengan Adam yang disambut dengan suara terkekeh darinya


Abang terus berusaha menenangkan Defne yang masih tak berhenti menangis. Aku lihat wajah Serkan menatap sedih pada adiknya.


"Okey, baed ghad mama taeud lilmanzil (Oke, lusa mama pulang)" jawabku dengan harapan Defne akan berhenti menangis


"Hei, you heard, your Mama said the day after tomorrow she will go home, so don't cry anymore, ok?"


Defne yang menempelkan wajahnya di dada abang perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke layar hp


"Mama serious?"


Aku mengangguk dan tersenyum padanya


"In Syaa Alloh" jawabku


Kulihat abang merapikan rambut Defne dan memeluk keduanya

__ADS_1


"Defne, apologize me, please...." ucap Naura dengan wajah memelas


Defne memasang wajah cemberut dan itu membuat kami terkekeh


"Serkan, kayf halika? (Serkan, apa kabar?) tanya Mikail


Serkan tersenyum


"Alhamd lilah bisihat 'akhi mabruk altakharuj" (Alhamdulillah sehat kakak, selamat ya kak untuk kelulusannya)


"Congratulation too Abi..." ucap Defne


"Thank you my little twins, thank you so much" jawab Mikail


"Selamat ya nak, akhirnya kamu lulus. Papa senang mendengarnya. Kamu bisa sebutkan apa saja hadiah yang kamu inginkan, nanti akan papa kirim ke Indonesia"


Mikail tersenyum sambil menggeleng


"Terima kasih banyak papa, tapi tidak perlu, cukup hadiahkan aku doa dan dukungan"


"Kalau itu sudah pasti nak, papa selalu mendukung dan mendoakan mu"


"Maaf ya bang, aku ninggalin abang dan anak-anak lama"


Ozkan tersenyum dan menganggukkan kepalanya


"Serkan dan Defne biar jadi urusan abang, kan ada pengasuh. Kamu urus saja dulu segala keperluan Mikail, nanti setelah fix kapan Mikail berangkat pendidikan baru kamu pulang"


Aku mengangguk.


"Mama, don't lie. You said the day after tomorrow you will go home, I am waiting for it"


Aku tersenyum masam mendengar ucapan Serkan


"Sepertinya tidak bisa abang, abang dengar sendirikan apa kata abi Serkan?"


Aku dan abang terkekeh


...****************...


Besoknya, Mikail kembali lagi ketempat pengumuman kemarin. Dak hasilnya dia mendapatkan informasi bahwa besoknya dia akan berangkat pendidikan selama lima bulan.


Setelah mengetahui jika anak keduaku itu akan berangkat pendidikan, dan akan kembali setelah lima bulan yang akan datang, maka aku berpamitan dengan kedua orang tuaku dan kakak serta ketiga anakku.


Dan kembali segala kepengurusan keperluan Mikail untuk pendidikan aku serahkan pada kak Andri.


Adam yang tahun depan akan lulus SMA selalu aku beri semangat untuk rajin belajar, terutama bidang tahfidznya, dari dulu aku tidak menekankan nilai pelajaran pada ketiga anakku, yang selalu aku tekankan hanya tahfidznya.


Untuk nilai pelajaran, aku anggap bonus saja. Tapi Alhamdulillahnya ketiganya selalu masuk ranking lima besar.


Mungkin benarlah kata orang, jika kecerdasan itu menurun dari ibunya. Aku tidak menganggap aku cerdas, tapi lumayan cerdaslah, hehehe.


Karena jika tidak cerdas, mana bisa aku jadi tenaga pendidik dan asisten ummi.


Hari ini, aku dan kedua anakku kembali ketempat kami masing-masing. Setelah berpamitan dan memeluk erat umak bapakku, dan kak Andri, kami bertiga meninggalkan hotel


Saat akan pergi, aku dengan erat memeluk dan menciumi Mikail. Entahlah, rasanya aku masih menganggapnya anak kecil umur empat tahun yang dulu aku tinggalkan. Hanya bedanya sekarang dia sudah tinggi.


Aku benar-benar kehilangan momen mengasuh dan membesarkannya. Dan rasanya itu, jangan pernah kalian tanyakan, rasanya jauh lebih sakit dari terkena sembilu


"Bunda doakan kamu sukses di pendidikanmu ya kak, bunda janji jika Alloh memberi bunda umur panjang, bunda akan kembali lagi untuk melihat pelantikan mu"


Mikail mengangguk dan memelukku.


"Doakan semoga kakak kuat ya bun dalam menempuh pendidikannya"


"Pasti nak"


Selanjutnya ketiga anakku saling menjabat tangan dan berpelukan


"Kita ketemu kembali lima bulan lagi" ucap Naura sambil menyusut air matanya


Kedua adiknya mengangguk. Lalu kami segera naik mobil, kak Andri yang mengantarkan kami ke bandara menggunakan mobil Mikail


"Kok mobil kakak ada disini?" tanya kak Andri


Aku dan kedua anakku diam.


"Siapa yang bawa?"


Kami masih diam. Kak Andri langsung menepikan mobil dan menghentikannya, dan menatap ke arahku yang duduk di belakang


"Sat?"

__ADS_1


Aku menelan ludah.


"Andi dan keluarganya kak"


Kak Andri menghembus nafas kasar sambil mengusap wajahnya. Sekian detik dia diam


"Bagaimana mereka bisa kesini?, siapa yang memberitahunya jika Mikail ikut tes TNI?"


Kembali kami diam, aku tahu anak-anakku sangat takut sama kakakku satu ini, walau kepadanya lah mereka sangat dekat


"Ayuk?"


Naura yang sejak tadi menundukkan wajahnya makin tak berani mengangkat kepala


"Uwak yakin ini ulah ayuk, karena hanya ayuk yang nyimpan nomor mereka, adek nggak mungkin, karena adek nggak ada handphone"


Kami bertiga masih diam, aku menarik nafas dalam


"Semuanya sudah selesai kak, malam kelulusan itu semuanya sudah diselesaikan dengan ketiga anakku"


"Apanya yang selesai?"


"Semuanya kak. Semuanya telah anakku katakan pada Andi dan keluarganya, kuharap mereka punya hati dan malu pada kami sehingga mereka tidak akan menampakkan wajah mereka di hadapan kami"


Kak Andri kembali menarik nafas panjang, lalu mengusap kepala Adam


"Jika ada apa-apa, bilang uwak ya dek, uwak yang akan selesaikan semuanya. Untuk kalian, jangankan tenaga, nyawa uwak pertaruhkan!"


Aku mengusap kasar wajahku karena air mata yang jatuh mendengar ucapan kak Andri.


Lalu kembali kak Andri melajukan mobil, dan di tengah perjalanan kami lihat ada rombongan Andi dan keluarganya seperti sedang menunggu angkot atau bis, entah lah. Entah mereka mau kemana


"Itu ayah dan embah mau kemana bun?"


Aku menoleh pada Naura lalu kembali menatap ke depan seolah tak mendengar ucapannya


"Tolong berhenti sebentar wak, ayuk mau tanya ayah mau kemana"


"Naura..!!!" bentakku


Kak Andri menurut, dia segera menepikan mobilnya


"Maaf bun, ayuk turun sebentar, sebentar aja bun" ucapnya sambil segera turun


Aku menarik nafas panjang ketika melihatnya berlari kearah rombongan Andi


Entah apa yang dibicarakan Naura pada mereka, karena tak lama setelahnya Andi dan Naura berjalan kearah mobil kami


"Mau apa kamu?" bentak kakakku yang segera turun begitu melihat Andi berdiri di luar mobil


Aku hanya memperhatikan kakakku yang terlihat emosi


"Maaf kak, aku mau bicara sama Indah"


Kaca mobil sebelah Naura yang terbuka membuatku bisa melihat kearah Andi


Tapi karena aku muak padanya maka aku tak memperdulikannya


"Bicara sama saya saja!"


Andi menelan ludahnya dan dengan wajah tegang dia mengubah posisi tubuhnya menghadap kak Andri


"Kami kekurangan uang kak untuk ongkos pulang, kalau bisa aku mau pinjam uang untuk ongkos"


Aku terhenyak mendengarnya. Satu sisi aku iba, tapi satu sisi lagi aku mensyukurinya, ingin sekali rasanya aku tertawa terbahak-bahak


"Nggak ada uang, kalaupun ada, saya nggak sudi pinjami kamu"


Andi tertunduk, aku lihat Naura mengeluarkan dompetnya.


"Kita cari atm terdekat ayah, tabungan Naura ada"


"Naura, itu uang kamu yang kasih bunda, kamu harus ingat itu!" bentak ku


"Sekali saja bun, ayuk janji, ayuk cuma sekali ini saja nolong ayah, selebihnya ayuk janji ayuk nggak bakal nolong ayah lagi"


Aku membuang kasar nafasku, gigiku gemeletuk


"Ayo yah naik"


Naura lalu membukakan pintu mobil untuk Andi dan dengan bingung Andi naik


"Naura kamu tengah nak, biar dia yang pinggir!"

__ADS_1


Kaki Andi yang tadi telah siap naik segera turun lagi, berganti Naura yang naik, baru dirinya naik juga


Di dalam mobil kami semua diam, aku memasang wajah murka


__ADS_2