Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Berpisahnya Ozkan dan Hatice


__ADS_3

Murat membuka matanya, dia mendapati selang infus di tangan dan ada perban di bahunya. Dia mencoba mengingat kembali mengapa sampai dia ada di ruangan ini.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar" ucap salah seorang bodyguard dengan bahasa Turki


Murat menoleh pada lelaki sangar itu. Ingatlah dia bagaimana dia bisa tiba di ruangan ini.


"Hatice" gumamnya


"Perempuan itu sekarang di kantor polisi" jawab bodyguard itu lagi


Murat terdiam mendengar jawaban bodyguard itu.


"Karena kamu sudah sadar kami juga akan segera membawamu ke kantor polisi".


Dengan sigap, seorang bodyguard melepas selang infus lalu dua orang yang lain membantu Murat untuk duduk.


Setelah Murat sudah agak tenang, mereka membawa Murat keluar dari dalam apartemen, masuk kedalam mobil yang sama seperti kemarin ketika membawanya dari Karaagac.


Mobil melaju menuju kantor polisi. Setelah sampai depan kantor polisi, mobil berhenti, dengan tampang dingin dua orang bodyguard membawa Murat masuk


"Murat" suara Hatice tercekat demi dilihatnya Murat yang sangat lemah


Murat memandang dengan sendu pada Hatice yang memandang panik padanya.


"Semua sudah berakhir Hatice. Maafkan aku karena tidak bisa membantumu lagi" jawab Murat


Seorang polisi yang sedang mengurus berkas Hatice melihat dengan dingin pada dua orang yang duduk di depannya.


Disaat yang bersamaan Ozlem muncul, Hatice dengan wajah malu menundukkan kepalanya.


"Sudah saya bilang Hatice, jangan bermain-main dengan keluarga Yilmaz, sekarang kau tahukan akibatnya" ucap Ozlem dingin


"Ini bukti semua kejahatannya pak Polisi, dan ini juga bukti DNA yang menyatakan jika Kiral adalah anak dari Murat, bukan kakak saya yang agung, Ozkan Yilmaz" lanjutnya sambil menyerahkan berkas dalam map kepada polisi


Polisi tersebut segera memeriksa berkas yang diberikan Ozlem, bergantian dengan menatap Murat dan Hatice bergantian.


"Kalian berdua bisa dikenakan pasal berlapis"


Wajah Hatice dan Murat menegang. Disaat polisi terus melengkapi berkas penahanan mereka berdua, polisi masuk dengan membawa tuan Kaderimin.


Hatice makin tercekat saat ayahnya masuk dengan wajah tertunduk


"Baba..." lirihnya


Tuan Kaderimin membalas tatapan Hatice dengan wajah sedih.


"Kalian bertiga masuk sel dulu, sampai pelimpahan ke pengadilan untuk menentukan berapa lama hukuman kurungan kalian"


Ketiganya digiring masuk kedalam sel terpisah. Saat Hatice melewati Ozlem, dia berhenti


"Tolong lepaskan kami Ozlem, kasihan Kiral"


Ozlem tersenyum sinis


"Kamu sudah tahu akan begini akibatnya, tapi kamu tidak memikirkan nasib anakmu, sekarang terimalah akibat perbuatanmu"


Polisi lalu membawa pergi Hatice dari hadapan Ozlem, sedangkan Tuan Kaderimin memandang tajam kearah Ozlem ketika dia melewatinya


...****************...


Setelah Hatice dan ayahnya di penjara, makin memudahkan untuk keluarga Yilmaz memaksa perempuan licik itu untuk menandatangani surat persetujuan cerai.


Seperti siang ini, kembali Ozlem dan anak buahnya menemui Hatice yang ada di penjara dengan membawa kertas perceraian yang kemarin ditolak Hatice.


Dengan wajah muram Hatice menemui Ozlem dan anak buahnya di ruang besuk.


Tanpa basa basi Ozlem yang terkenal dingin menyodorkan map yang berisi kertas perceraian pada Hatice.


Hatice hanya diam ketika kertas itu sudah di hadapannya


"Cepat tanda tangani!" ucap Ozlem dingin

__ADS_1


Hatice bergeming, hal itu membuat Ozlem naik pitam


"Jangan bangkitkan setan di dalam diriku Hatice!" geramnya


Hatice menengadahkan wajahnya menatap Ozlem dengan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya


"Aku memikirkan anakku Kiral" lirihnya


Ozlem membuang muka, dia paling benci jika sudah menyangkut masalah anak. Naluri dirinya sebagai ayah tidak bisa dibohongi.


"Cepat kau tanda tangani, jangan menjual cerita anakmu di hadapanku"


Airmata Hatice mengalir


"Dari awal aku terpaksa melakukan ini Ozlem, aku dan Murat saling mencintai, tapi cinta kami ditentang ayahku karena Murat tidak setara dan tidak seperti harapan ayahku"


"Saat ayahku mengetahui jika aku hamil anak Murat, dia memaksaku untuk aborsi, tapi aku menolak. Tetapi malah ayahku memaksaku untuk menikah dengan Ozkan"


"Aku tahu Ozkan tidak pernah mencintaiku, tapi aku terpaksa mengikuti kemauan ayahku, karena ayahku ditagih hutang dengan debt colector, bahkan mereka mengancam akan menghabisi ayahku jika kami tidak membayar hutang"


Hatice menarik nafas dalam, dia berharap jika Ozlem akan percaya pada ceritanya


Ozlem menyeringai


"Cepat kau tanda tangani, jika tidak, bisa dipastikan kau akan membusuk di penjara dan tidak akan bertemu dengan anakmu lagi!"


Hatice terperangah. Harapannya untuk bebas makin pupus.


Segera diambilnya pena yang terletak di atas surat perceraian itu. Dengan tangan gemetar dia meletakkan pena tepat di atas namanya.


Kembali dia menatap Ozlem


"Apa jaminan keluargamu untuk anakku jika aku menyetujui menanda tangani surat ini?" tanyanya


Ozlem mendengus.


"Dia akan selamat, kamu tidak usah memikirkannya. Aku telah menitipkannya kesekolah asrama. Saat kau bebas kau bisa menemuinya"


Airmata Hatice mengalir.


Ozlem mendengus.


"Cepat kau tanda tangani jika ingin anakmu selamat!" teriaknya


Hatice ketakutan mendengar teriakan Ozlem, dengan segera dia menanda tangani kertas itu, dan dengan segera Ozlem mengambil kertas tersebut lalu memasukkannya kedalam map.


Lalu dia pergi meninggalkan Hatice yang menangis tersedu.


...****************...


Aku terus fokus menatap layar komputer, entah sudah berapa jam ini kulakukan. Seingatku aku hanya berdiri ketika dipanggil ummi atau ketika aku akan ketoilet. Selebihnya aku akan fokus dengan pekerjaanku.


Aku harus segera menyelesaikan semua laporan yang diminta ummi, karena minggu depan kami akan terbang ke Swiss.


Tiga tuan muda sudah sangat kegirangan ketika tahu akan berlibur ke Swiss.


Mereka sama seperti Mommynya, nona Alima, tidak sabar menunggu hari liburan itu tiba.


Aku menarik nafas dalam ketika punggungku terasa pegal. Dengan sedikit menyandarkan tubuh ke kursi, aku meregangkan ototku


"Rilekskan dulu tubuhmu, berjalan-jalanlah keluar" ucap ummi ketika melihatku


Aku setuju dengan saran ummi. Aku keluar dari dalam ruangan, lalu berjalan kearah balkon ruangan.


Aku bergidik ngeri ketika menyadari jika tempatku berdiri sangat tinggi. Aku sedikit memundurkan tubuhku dari pembatas balkon, menghirup udara sebanyak-banyaknya dari atas ketinggian.


Dari tempatku berdiri aku bisa melihat gedung tinggi lainnya, aku tersenyum ketika teringat momen ketika malam dengan abang.


Ah, mengapa aku teringat abang, bisik batinku. Segera aku menepisnya. Aku mengusap-usap wajahku untuk membuang wajah abang yang tiba-tiba hadir di mataku.


Harus kuakui jika aku merindukannya. Tapi apalah daya, rinduku adalah rindu yang tak berujung padanya.

__ADS_1


Aku menghembus nafas dalam, ketika segala kenangan kami berdua melintas. Aku menutup wajahku.


"Tidak, tidak!" lirihku sambil terus berusaha kuat membuang bayangan abang.


"Bantu hamba ya Rabb" lirihku


Tak ingin terus larut mengingat abang, aku segera mengambil handphone di dalam blazerku, memutar sebuah lagu


*Disini kasih pernah berbunga


Tiada harum, tiada warna


Disini cinta pernah membara


Tanpa bahang dan tanpa apinya


Begini yang kurasa, hidup kita berdua


Disini langit mendung selalu tiada cahaya menerangiku


Disini aku tiada berdaya memikul kata tanpa bicara


Kerana engkau tahu, aku tidak sepadan dengan mu*...


Ya Rabb, lagu ini malah makin mengingatkanku pada perpisahan kami di bandara King Abdul Aziz dua bulan yang lalu.


Aku menarik nafas dalam, segera mematikan lagu tersebut lalu beranjak meninggalkan balkon menuju keruangan ummi lagi


...****************...


"Pengadilan memutuskan perceraian antara Tuan Ozkan Yilmaz dan Nyonya Hatice sah"


Ozkan menarik nafas lega ketika hakim mengetuk palu. Nyonya Aylin dan Canan yang menunggu di luar ruang sidang berjalan hilir mudik dengan gugup


Hatice tertunduk ketika hakim selesai dengan tugasnya. Dia menarik nafas dalam.


Ozkan berjalan mendekatinya. Hatice mendongakkan kepala ketika Ozkan berdiri di samping kursinya


"Maafkan aku Ozkan" lirihnya


Ozkan tersenyum segaris


"Harusnya kita dari awal memang tidak bersama Hatice" jawab Ozkan sambil menghembus nafas dalam


"Saya menurut karena tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku, begitu juga dengan kamu. Semoga ini bisa kita ambil hikmahnya. Yang saya sayangkan dari kamu adalah mengapa kamu begitu tamak? Apakah tujuanmu hanya kekayaan?, dimana harga diri kamu?"


Hatice menundukkan kepalanya


"Saya akan mencabut tuntutan saya padamu dan ayahmu asal kalian meninggalkan Istanbul sejauh-jauhnya"


Hatice terperangah mendengar ucapan Ozkan.


"Bagaimana dengan Murat?" tanyanya


"Dia juga akan saya bebaskan, asal kalian menuruti permintaan saya. Tentang saham ayahmu, saham itu akan saya beli jika ayahmu setuju. Atau jika ayahmu mau meneruskan usahanya, dia bisa terus bekerja sama dengan ayahku, dengan syarat dia harus tunduk dibawah perintah ayahku"


Hatice diam, dia tidak tahu harus menjawab apa jika itu berhubungan dengan bisnis, karena dia tidak mengetahui apa-apa


"Menikahlah dengan Murat, kamu sendiri sudah merasakan bagaimana rasanya memiliki orangtua yang tak lengkap. Jangan egois, jangan hanya mementingkan keuntungan pribadi, anak sendiri kau abaikan"


Hatice terharu mendengar ucapan Ozkan. Dia jadi semakin merindukan Kiral, karena sudah hampir sebulan mereka tidak bertemu


"Apakah kau benar-benar mencintai perempuan Indonesia itu, Ozkan?" tanya Hatice sambil menatap mata tajam Ozkan


Ozkan tersenyum manis


"Dia sangat berarti bagiku" jawabnya singkat


Hatice menarik nafas dalam


"Maafkan saya, karena saya akhirnya perempuan itu berjanji untuk menjauhimu. Kejar dia jika dia memang jiwamu Ozkan. Jangan tunda waktu lagi, aku mendoakan kebahagiaanmu"

__ADS_1


Ozkan menatap Hatice dengan tidak percaya.


Indah aku pasti menjemputmu, batinnya


__ADS_2