
Hari ini Andi bebas setelah mendekam selama empat tahun di dalam penjara.
Pagi ini sekira jam sepuluh pagi, dua orang pegawai Lapas mengantarkannya sampai di luar gerbang lapas.
Di luar lapas telah ada orangtua dan saudaranya, termasuk pula mas Indra suami mbak Ningsih
Tangis haru dan bahagia pecah begitu Andi keluar dari gerbang. Keluarganya yang sejak tadi menunggu langsung memeluk hangat dirinya, bahkan sampai menitikkan airmata
"Kemana kita sekarang?" tanya Andi setelah mereka semua agak tenang setelah saling menangis.
"Kita makan-makan untuk merayakan kebebasan kamu" jawab ibunya
Andi tersenyum hangat kearah sang ibu.
"Terima kasih ya buk karena sudah sabar sama Andi" ucap Andi sambil kembali merangkul ibunya
Bu Mira sekarang tampak kurus, beban pikiran yang membuat tubuhnya kian hari kian menyusut, faktor utamanya adalah karena memikirkan kebun sawitnya yang sudah terjual ditambah lagi karena mobil truk satu-satunya milik mereka disita pihak leasing karena sudah digadaikan oleh Rudi dan Tina
Lengkap sudahlah penderitaan keluarga pak Hermawan, kebun sawit hilang, mobil truk disita leasing, dua anaknya menjadi janda dan duda dalam waktu yang bersamaan, dan kini mereka jadi bahan ghibahan orang sekampung
"Ini semua tidak akan terjadi jika kamu tidak membawa Tina, si perempuan sialan itu kedalam keluarga kita!" jawab Laras ketus
Andi menoleh pada kakak perempuannya itu sambil menarik nafas dalam
"Kalau saya tahu akan jadi begini, mana mau aku memperistri dia mbak"
Laras mendengus kesal mendengar jawaban Andi
"Sudah, jangan ribut. Ayo kita pergi makan-makannya" lerai pak Hermawan
Andi bergeming saat keluarga besarnya naik kedalam mobil Grandia merah bapaknya itu
"Heh, ayo. Kok malah melamun" ujar Ningsih mengagetkan Andi dari lamunannya
"Aku kangen dengan anak-anakku mbak" jawabnya lirih
Ningsih yang kaki kanannya sudah akan naik kemobil turun kembali. Ditepuknya pundak Andi
"Hampir lima tahun mereka tidak bertemu dengan kamu" ucap Ningsih lirih
Andi menundukkan kepalanya, wajahnya murung seketika
"Nanti kita kesana, itupun kalau kamu mau" lanjut Ningsih
"Aku inginnya sekarang mbak"
Ningsih menarik nafas berat
"Ayo, kita bilang sama bapak untuk jemput anak-anak kamu"
Andi mengangkat wajahnya, ada sinar kebahagiaan terpancar dari sana. Segera dia masuk kedalam mobil dan mereka berdesak-desakan.
"Kerumah nenek Naura dulu pak" ucap Ningsih ketika mobil sudah menyala
"Apa?" tanya Laras cepat
Ningsih membuang muka, malas dia meladeni adiknya itu. Tingkahnya tidak pernah berubah, bahkan ketika sudah menjanda seperti sekarang masih saja tidak taubat
"Aku kangen dengan anak-anakku pak" ucap Andi lirih
Semuanya diam, pak Hermawan juga belum menjalankan mobilnya
"Tolong pak, saya mohon" lanjut Andi dengan wajah sedih
Dengan menarik nafas dalam akhirnya pak Hermawan menurut dan menjalankan mobil kearah Merasi
"Aku nggak mau turun, kamu saja yang kesana!" ucap Laras ketus ketika mereka sudah di jalan
"Ibuk juga nggak mau!" lanjut bu Mira
Ningsih langsung beristighfar mendengar ucapan ibunya
"Terserah kalau kalian tidak mau, yang pasti aku yang akan turun, dan menemani Andi kesana" jawab Ningsih
Mobil terus melaju membelah jalanan kota Lubuklinggau. Pikiran Andi berkecamuk tak karuan. Ada rasa takut di dalam hatinya untuk menemui bekas mertuanya tapi kerinduan dihatinya kian memaksanya untuk menemui anak-anak yang telah hampir lima tahun tidak pernah ditemuinya.
...****************...
"Ibuuukkkk" teriak Adam begitu dilihatnya Ningsih mendorong pagar
Bu Siti, yang ada di dalam rumah begitu mendengar Adam berteriak kegirangan segera melongokkan kepalanya melalui jendela
Ningsih segera memeluk Adam begitu dia sampai di depan anak kecil berumur delapan tahun tersebut.
Setelah mengucap salam dan dijawab yang punya rumah, mereka masuk
Wajah pak Ahmad dan istrinya berubah ketika mereka melihat Ningsih masuk bersama dengan Andi.
__ADS_1
Saat itu mereka berempat bersama Indra suami Ningsih dan juga Dimas
Andi dengan kikuk mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh pak Hermawan dan bu Siti
"Silahkan duduk" ucap Pak Ahmad
"Adam sudah salim sama ibuk?" tanya neneknya.
Adam mengangguk sambil menggelendot manja pada neneknya tersebut.
"Sama ayah?" lanjut bu Siti
Adam diam dan mendongak menatap neneknya
"Ayah? siapa itu ayah?" jawab Adam polos
Wajah Andi berubah merah mendengar jawaban Adam. Ingin sekali rasanya saat itu dia menangis meraung-raung karena anaknya tidak mengenalinya lagi
Bu Siti menatap Andi dengan sinis, Ningsih menunduk malu
"Loh, jadi Adek nggak salaman sama dia?" tunjuk bu Siti pada Andi
Adam menggeleng
"Nggak kenal, kan kata uwak kita nggak boleh dekat-dekat sama orang asing, tadi adek cuma salaman sama ibuk, sama pakde terus sama kakak Mas"
Andi mengusap wajahnya, menghapus airmata yang terlanjur mengalir
Pak Ahmad memandang pada Andi dan Ningsih bergantian, sampai akhirnya dia membawa Adam kepangkuannya
"Orang ini ayah Adam, Adam lupa?" tanya pak Ahmad pelan
"Kan Adam nggak punya ayah nek nang, nek nang lupa yaaaa?" jawab Adam yang membuat pak Ahmad dan bu Siti tersenyum
"Adam kan punyanya Bunda, nek nang, nek no, uwo, sama uwak" lanjutnya polos
Airmata Andi kian deras mengalir, berkali-kali dia mengusap kasar wajahnya. Begitu juga dengan Ningsih, dia menangis tertahan mendengar jawaban polos Adam. Sementara Dimas dan mas Indra juga hanya bisa diam
"Kamu lihat sendiri kan Andi bagaimana reaksi anakmu? dia bahkan tidak mengenalmu dan tidak menganggapmu" ucap bu Siti sinis
Andi kian tertunduk malu. Sementara di teras terdengar suara langkah sepatu yang diseret
"Kakak itu nek" ucap Adam sambil merosot dari pangkuan kakeknya
Segera dia berlari sambil berteriak kegirangan karena sang kakak sudah pulang sekolah
Andi menoleh kearah luar, dia juga sangat ingin bertemu dengan Mikail
Mikail yang sedang membuka sepatunya segera menoleh kearah adiknya
"Ayah?" ulangnya
Adam mengangguk. Mikail yang saat itu sudah kelas empat segera buru-buru memasukkan kaos kaki kedalam sepatu lalu masuk sambil mengucap salam
"Assalamualaikum" ucapnya
"Waalaikumussalam" jawab mereka yang ada di dalam
Mata Mikail langsung tertuju pada sosok Andi. Mikail menatap bingung pada Andi lalu menoleh pada Ningsih. Segera dia mencium punggung tangan Ningsih, mas Indra, dan Dimas, lalu berpindah pada Andi
Andi segera memeluk erat Mikail ketika anak tersebut menyalaminya. Andi menangis tertahan, sedang Mikail hanya diam saja saat dipeluk olehnya
"Ayah sangat rindu sama kamu nak" lirih Andi
Pak Ahmad membuang muka melihat bekas menantunya itu memeluk Mikail.
"Kakak ingatkan sama ayah?" tanya Andi saat dia melepas pelukannya
Mikail menatap kakek neneknya bergantian. Bu Siti hanya menarik nafas dalam
"Saat kamu meninggalkan mereka, umur mereka baru tiga dan empat tahun. Dan sekarang mereka sudah berumur sembilan tahun lebih dan delapan tahun, wajar jika mereka lupa sama kamu Andi. Kamu sekalipun tidak pernah menengok mereka" ucap bu Siti emosi sambil berurai airmata.
Mikail yang saat itu dipeluk Andi hanya diam saja, sedang Adam kembali kepangkuan kakeknya
"Maafkan saya bu, saya minta maaf" jawab Andi pelan
Pak Ahmad tersenyum sinis mendengar jawaban Andi
"Ada perlu apa kamu kesini?" tanyanya
Andi menarik nafas dalam sambil mengelus kepala Mikail
"Saya rindu sama ketiga anak saya pak" jawabnya lirih
Kembali pak Ahmad tersenyum sinis.
"Kemana saja kamu selama ini, hah? kenapa baru sekarang kamu muncul saat anak-anak kamu sudah besar!" jawab pak Ahmad dingin
__ADS_1
"Kakak ganti baju dulu ya, nanti baru kesini lagi" bujuk bu Siti pada Mikail, dia tak ingin kedua cucunya mendengar percakapan orang dewasa
Secepat kilat Mikail langsung turun dari pangkuan Andi dan masuk kedalam diiringi Adam yang berjalan di sampingnya yang membawakan sepatu
"Dia bukan ayah kita kan kak? kita kan nggak punya ayah" ucap Adam sambil mengikuti langkah Mikail masuk
Tentu saja ucapan Adam tadi didengar jelas oleh mereka yang duduk, wajah Andi kian sedih mendengarnya
"Jangan salahkan mereka jika mereka tidak mengenali kamu lagi!" lanjut pak Ahmad
"Saya dipenjara pak, dan baru hari ini bebas" jawab Andi lemah sambil menunduk dalam
Bu Siti dan pak Ahmad saling toleh, tampak sekali kekagetan di wajah mereka mendengar ucapan Andi
"Empat tahun saya dipenjara" lanjutnya
Pak Ahmad diam mendengar ucapan Andi. Dia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya mengapa Andi bisa ditahan, kekecewaan dan sakit hatinya pada lelaki itu telah mengubah rasa simpati di dalam dadanya.
"Adek Ula pulang sekolah jam berapa nek?" tanya Dimas mengalihkan topik
Dari tadi Nauralah yang paling ditunggunya, dari dia kecil sampai sekarang kelas tiga SMA dia tetap menyayangi dan memanggil Naura dengan sebutan Ula.
"Biasanya nggak jauh dari Mikail, mereka hanya beda mobil jemputan saja" jawab bu Mira
Tak lama dari luar kembali terdengar langkah sepatu yang diseret.
Dimas langsung berdiri dari kursinya dan keluar
"Kakaaaaakkkkk" teriak Naura begitu dia melihat Dimas keluar dari pintu
Segera dia berlari dan memeluk Dimas. Dimas membalas pelukan Naura dengan hangat. Dengan sedikit menjinjit Naura mencium pipi Dimas.
"Ula kangen sama kakak" ucap Naura manja
Dimas mengelus kepala adik sepupunya yang tingginya hampir menyamainya itu.
"Kakak juga kangen sama Ula"
"Kakak kesini sama siapa? Adek Hanum ikutkan?"
Dimas menggeleng
"Adek Hanum kan sekolah, kakak sama ibuk sama ayah"
Naura langsung menggandeng tangan Dimas masuk kedalam rumah.
Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat Andi yang menatapnya dengan berurai airmata
"Ayah?" lirihnya
Andi segera berdiri dari kursi lalu menyongsong kearah Naura, lalu memeluknya erat
Lama mereka berpelukan dan saling menangis. Tak urung momen haru itu membuat bu Siti dan pak Ahmad menitikkan airmata, bahkan Ningsih yang paling parah terisak-isaknya melihat Andi dan Naura berpelukan melepas rindu
"Ayahhh, ayuk kangeenn" ucap Naura setelah lama tak bisa berkata
Andi hanya sanggup menganggukkan kepalanya saja sambil tetap memeluk erat Naura
"Ayah kemana, kenapa nggak pernah nemuin kami?" lanjut Naura masih sambil terisak
Andi kian menangis sesenggukan mendengar pertanyaan anaknya itu
Adam dan Mikail yang mendengar suara Naura menangis segera keluar dari dalam kamar mereka
Adam melototkan matanya marah melihat Andi yang memeluk Naura yang sedang menangis.
Tanpa disangka, dia segera menarik tubuh Andi yang memeluk erat Naura
"Lepaskan ayukku!, kamu apakan ayukku hah sampai dia nangis?" bentaknya marah
Andi yang ditarik kasar Adam segera melepaskan pelukannya dari Naura, diusapnya kasar wajahnya yang penuh airmata.
Bu Siti dan pak Ahmad tidak berniat mencegah kemarahan Adam, mereka hanya diam saja
"Adekkkk" ucap Naura memegang pundak Adam
Adam segera menepiskan tangan Naura dengan menghentakkan bahunya
"Tidak boleh ada orang yang buat ayukku nangis, aku akan tembak dia" ucap Adam masih melotot marah
Andi tersenyum mendengar ucapan Adam.
"Ini ayah dek, ayah kita" jawab Naura
Adam menatap Naura dengan tajam
"Kita tidak punya ayah ayuk, kita tidak punya ayah!! Kita cuma punya bundaaaaa" teriaknya sambil nangis meraung
__ADS_1
Bu Siti segera berdiri dan memeluk Adam, sedangkan Andi kembali berurai airmata menangis pilu. Naura kembali menangis dan memeluk tubuh ayahnya
Sedang Mikail hanya berdiri terpaku melihat semua yang terjadi di depan matanya.