
Andi terus memperhatikan wajah lelaki yang duduk di sebelah Indah. Sampai di zoom nya bagian wajah lelaki itu
"Apa benar dia ya, tapi... ah nggak mungkin"
Kembali Andi berpikir keras untuk mengingat lelaki itu.
"Afdal, iya Afdal. Aku rasa dia ingat"
Segera Andi membuka menu kontak dan segera mendial nomor Afdal
Tersambung
"Ya, halo ini siapa?"
"Dal, ini aku Andi"
"Andi?, Andi siapa ya?"
"Ya ampun mentang-mentang sekarang jadi bos sama aku yang mantan bos nya lupa ya"
"Serius, aku nggak tahu, nama Andi itu banyak"
"Aku Andi Wijaya, ingat?"
"Astaghfirullah, pak Andi??!, ini betul bapak?"
"Hehehehe, iya Dal. Kamu apa kabar?"
"Baik pak, bapak sehat kan?"
"Iya Alhamdulillah. Eh, by the way saya nggak lagi ganggu kamu kan?"
"Tidak pak, saya lagi santai, ada apa pak?"
"Gini, aku mau minta bantuan sama kamu, kamu pasti punya akun sosial media ungu itu kan?"
"Iya, kenapa pak?"
"Tolong kamu cari akun dengan nama Dinda Naura, profilnya seperti ayat Al-Qur'an gitu"
"Iya, terus dia itu siapa pak?"
"Anak tertua ku"
"Oh, anak bapak. Lah kenapa tidak bapak sendiri yang cari akunnya, kan dia anak bapak?"
"Aku berteman sama akunnya, dan aku juga sedang buka akun itu. Gini, aku mau tanya ke kamu, lelaki yang duduk di sebelah mantan istriku yang di posting anakku itu lelaki yang pernah nolong Indah waktu di Pekanbaru bukan sih?"
"Yang mana ya pak?, itu sudah lama sekali, delapan tahun yang lalu"
"Halah, itu lelaki yang nolong Indah waktu dia hampir jatuh waktu mau naik jadi guest mc?"
"Ohh, lelaki itu. Itu kan wakil ceo Salam Group pak. Pak Ariadi namanya"
"Wakil ceo?, kamu serius?"
"Lah, kok bapak lupa?, kan malam tahun baru itu pak CEO Salam Group memperkenalkan beliau pada kita semua?, CEO juga mengatakan jika 45% saham Salam Group itu miliknya"
Andi terdiam, detak jantungnya kian berdegup kencang
"Ah nanti dulu lah kamu bilang tentang siapa dia, pokoknya kamu buka dulu itu akun media sosialmu, lihat dengan benar, beneran lelaki itu apa bukan, ya?, tolong aku"
"Siap pak"
"Nanti miskol saja jika sudah selesai, nanti aku telpon"
"Iya pak"
Lalu Andi memutuskan panggilannya. Afdal yang sedang santai di rumahnya karena baru pulang dari kantor segera membuka akun media sosialnya
"Dinda Naura..." gumamnya sambil mengetik di kolom pencarian
Muncul banyak sekali pilihan nama serupa bahkan ada nama yang dibalik seperti nama Naura Dinda.
Afdal terus melihat ciri profil yang tadi di sebutkan Andi.
"Sepertinya ini..." gumamnya sambil mengklik akun itu
Tampil lah akun yang tadi diklik Andi. Lalu di scroll nya kebawah untuk melihat postingan Naura
__ADS_1
"Pak Ari..." desisnya begitu melihat gambar yang di posting Naura
Diamatinya dengan seksama lagi
"Mbak Indah..." kembali dis bergumam
Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat wajah Indah.
Lalu dia membaca keterangan yang dituliskan Naura di atas gambar yang tadi diamati
"Papa? adik kembar?"
Lalu diamatinya lagi dua anak lelaki yang menggendong bayi
"Apa mbak Indah menikah dengan pak Ariadi?"
Selagi dia masih mengamati gambar itu, panggilan Andi masuk kembali
"Ya pak?"
"Gimana?"
"Benar pak, itu wakil CEO Salam Group, pak Ariadi, yang dulu menolong mbak Indah"
Terdengar Andi menarik nafas dalam
"Oh, benar dia. Terima kasih ya Dal"
"Iya pak sama-sama"
Lalu panggilan berakhir. Kembali Afdal fokus melihat dua foto yang di posting Naura
"Pak Andi, Pak Andi, dulu anda mengabaikan mbak Indah. Bahkan anda sangat merendahkannya, sekarang semua berbalik jadi kebahagiaan. Siapa sangka wanita yang kau campakkan kini berada di atas"
Afdal bergumam sambil tersenyum menyeringai
"Lama sekali mbak aku tidak melihat mu, rindu rasanya"
Kembali Afdal teringat bagaimana mereka dulu pernah sama-sama ke Pekanbaru, pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana Andi menghina Indah, mendatangi kontrakannya.
Wajah Afdal berubah mendung ketika mengingat jika Indah jadi tkw
"Nikmatilah kesakitan mu pak Andi. Dulu kau bahagia di atas penderitaan anak dan istrimu, sekarang semuanya berbalik padamu"
Lalu pandangan Afdal menerawang jauh. Di tariknya nafas dalam
"Kenapa pa?"
Afdal menoleh kearah istrinya yang keluar dari dalam rumah
"Nggak ma, cuma keinget dengan mantan bos papa dulu"
"Kenapa dia pa?"
Kembali Afdal menarik nafas dalam
"Ceritanya panjang ma"
"Aku siap kok dengerin"
Afdal tersenyum lalu dia mulai bercerita tentang Andi dan Indah, bahkan cerita mereka di Pekanbaru dan perceraian diceritakannya semua, bahkan sampai dengan Indah yang jadi tkw
Wajah istri Afdal berubah marah ketika mendengar tentang perselingkuhan
"Dasar lelaki kurang ajar, nggak bisa berduit dikit, langsung mata keranjang. Nggak mikir siapa yang nemenin saat kere"
"Tapi sekarang dia sudah bahagia ma, papa lihat postingan anaknya jika mbak Indah sekarang menikah dengan wakil CEO kami"
"Papa serius??!"
Afdal mengangguk
"Tuh, bukti kalau Alloh itu nggak tidur pa, doa orang teraniaya itu diijabah Alloh"
Afdal mengangguk kembali
"Makanya saat di atas jangan suka merendahkan orang lain, karena kita tidak tahu bagaimana nasib orang kedepannya" lirih Afdal
Istrinya mengangguk setuju
__ADS_1
Sementara di kamar Andi
Andi terus memandangi foto yang di posting Naura dengan perasaan campur aduk
"Wakil CEO Salam Group?, saham 45%?"
Ditariknya rambutnya dengan menghembus nafas dalam
"Aku tidak menyangka jika dari sana mereka bisa berjodoh"
"Apa lagi mereka juga sudah anak sekarang"
"Bahkan ketiga anakku bersama mereka"
Tak terasa air mata Andi mengalir.
"Maafkan aku Indah..." lirihnya
"Aku menyesal telah jahat sama kamu, aku menyesal Indah. Aku menyesal"
...****************...
Sementara di Jeddah
Ketiga anak Indah sedang berenang di kolam renang yang terdapat di samping mansion
Naura yang notabene seorang atlit renang begitu melihat kolam renang sejak mereka sampai sudah kebat kebit jantungnya kepengen nyemplung
Jadi sore ini, ketika mansion sepi, dia mengajak kedua adiknya berenang.
Indah sambil mendorong troli Defne dan Gulsen mendorong troli Serkan memperhatikan mereka dari pinggir kolam
"Ikutin ayuk dek" teriak Naura
Kedua adiknya mengikuti gaya bebas yang dibuat Naura
"Sebentar nyonya Gulsen, aku ingin melihat dari dekat bagaimana Naura berenang"
Gulsen mengangguk. Lalu aku berjalan ke tepi kolam
"Jarak kolamnya seratus meter yuk, bunda hitung berapa menit kamu sampai sana" ucapku sambil membuka timer di handphone
Naura segera naik dan bersiap dengan posisinya
"1 2 3..., go!" teriakku
Naura segera nyemplung dan cukup lama baru kepalanya muncul. Aku geleng-geleng kepala melihat kecepatan dan kelincahannya dalam berenang, aku sampai berlari mengikuti gerakan cepatnya.
"1 menit 16 detik" ucapku takjub
Naura yang sudah sampai di ujung segera mengambil nafas dengan menenggelamkan dan menimbulkan kepalanya lagi
"Yaa... kok lama ya bund" jawab Naura kecewa
"Itu hebat nak" jawabku
"Dibawah satu menit baru oke bunda, ah ayuk mau coba lagi, hitung lagi ya bun"
Aku mengangguk
Kembali Naura naik dan kembali bersiap lalu kembali dia nyemplung
Aku kembali berlari mengikutinya, sementara kedua anak lelakiku minggir ke tepian ketika ayuknya terjun
"01 menit 02 detik" ucapku
Wajah Naura kembali memancarkan kecewa.
Sementara di depan aku lihat mobil abang masuk diiringi dengan mobil bodyguard
Naura segera masuk berendam dalam kolam. Aku faham karena dia malu karena saat itu dia tak berhijab
Aku memberi kode dengan tanganku pada abang untuk masuk dan menyuruh bodyguard menjauh
Aku lihat abang seperti berbicara pada dua bodyguard yang tampak menganggukkan kepala mereka, lalu mereka pergi dan abang melambaikan tangan kearahku
Naura yang tadi nyelam hanya memunculkan kepalanya saja dengan memandang khawatir padaku
"Papamu sudah masuk, dan bodyguard sudah pergi, ayuk bisa naik dan ganti baju di sana" ucapku menunjuk ke bangunan sebelah kolam
__ADS_1
Ketiga anakku naik, dengan cepat Naura melesat masuk sementara kedua adiknya berjalan santai