Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Suara Merdu Emir


__ADS_3

Pak Hermawan terhenyak mengetahui jika tumor otak di kepala istrinya sekarang telah menjadi kanker stadium tiga


Itu artinya penyakit istrinya makin parah dan bisa dipastikan jika biayanya akan semakin mahal


Laras sama seperti bapaknya, dia sangat shock mengetahui jika ibunya makin parah


Dimas yang juga mendengar langsung penjelasan dokter hanya bisa menundukkan kepalanya saja


"Tolong kartu kesehatannya kami minta, mau di cek dulu, bisa dipakai atau tidak"


Dimas segera membuka tasnya, memberikan kartu yang diminta oleh perawat tadi


Setelah menerima kartu kesehatan, perawat itu langsung pergi. Tapi tak lama dia telah kembali


"Bapak mengalami tunggakan dalam membayar jaminan sosial kesehatan ini, jadi pihak rumah sakit tidak bisa memprosesnya, diharapkan segala tunggakan dilunasi terlebih dulu"


Dimas segera mengambil kartu yang diulurkan perawat tadi lalu memberikannya pada pak Hermawan.


"Bagaimana mbah?"


Pak Hermawan diam.


"Kalau pakai umum mahal mbah" lanjut Dimas


Pak Hermawan membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang merah pada Dimas


"Segera kamu urus, biar mbah mu segera di tangani"


Dimas mengangguk dan segera keluar dari rumah sakit


...****************...


Aku sedang bersama dengan Nina saat tak sengaja kami berpapasan dengan mobil pak Hermawan


"Itu mobil bapakmu kan Nin?"


Nina mengangguk


"Kok ada di sini?"


"Nggak tahu juga mbak"


"Sana telpon mbak Ning. Ada apa"


Dengan segera Nina mengeluarkan handphone miliknya, handphone baru yang kemarin aku belikan. Mendial nomor mbak Ningsih. Aku yang mengemudi tak terlalu memperhatikan wajah Nina yang berubah mendung


Baru setelah obrolan berakhir aku bertanya padanya


"Napa Nin?"


"Ibuk mbak, ibuk kena kanker otak"


"Innalilahi, terus?"


"Sekarang di rumah sakit. Tadi Dimas mau bayar tunggakan kartu kesehatan ibuk"


Aku diam, tak berkomentar apa-apa. Segera aku membelokkan mobil masuk ke basement mall, membeli peralatan kantor klinik Naura yang In Syaa Alloh akan grand opening minggu depan


Selama kami berbelanja aku lihat Nina lebih banyak diam, kepikiran ibunya mungkin


"Nanti habis belanja mbak antar kamu ke rumah sakit"


Nina menoleh kearah Indah dan mengangguk pelan. Habis dari bagian atk, aku membawa Nina kebagian bakery. Segera aku memilih beberapa roti untuk Nina bawa ke rumah sakit sebagai buah tangan untuk ibunya


Setelah selesai aku dan Nina keluar dari mall dan aku segera mengantarnya ke rumah sakit


Aku sengaja tidak masuk ke area rumah sakit, aku hanya menurunkan Nina tepat di dekat gerbang rumah sakit


"Mbak nggak ikut masuk?" tanya Nina padaku saat sampai di depan rumah sakit


Aku menggeleng


"Mbak langsung pulang saja Nin. Nanti jika kamu mau pulang, chat mbak aja, mbak akan jemput"


Nina tersenyum tak enak pada Indah. Tentulah dia faham, mana mau Indah masuk menemui ibunya. Karena walau sebaik apapun niat Indah akan tetap salah di mata ibunya.


Nina segera masuk kedalam rumah sakit, langsung menuju ruangan tempat dirawatnya bu Mira

__ADS_1


Sampai di sana, ada bapaknya dan Laras yang tampak duduk merenung, sedangkan mbak Ningsih sedang menyuapi bu Mira makan


Nina langsung menyalami seluruh anggota keluarganya


"Ini bu, ada titipan dari mbak Indah"


Bu Mira menoleh kearah bungkusan plastik yang dibawa Nina. Nina lalu membuka isinya dan memberikan sepotong roti pada ibunya


Laras yang melihat hanya mencibir tanpa berniat untuk mencicipi. Dengan telaten Nina mengambil alih tugas mbak Ningsih, menyuapi ibunya


Bu Mira banyak bertanya bagaimana keadaannya selama tinggal di rumah Indah. Dan dengan luwesnya Nina bercerita bagaimana Indah dan dua keponakannya memperlakukan dia dengan baik


Bahkan Nina diberi kepercayaan sebagai kepala bagian administrasi di klinik milik Naura yang sebentar lagi akan grand opening


Wajah Laras makin tak suka mendengar cerita Nina. Ketika Dimas kembali dari membayar tunggakan dia segera keluar dari dalam ruangan


Dengan wajah kesal Laras berjalan di lorong rumah sakit. Wajahnya ditekuk dan matanya menyiratkan banyak benci


Langkah kesalnya langsung terhenti ketika di salah satu ruangan yang terbuka dia mendengar suara yang tak asing di telinganya


Segera dia menoleh dan berjalan mendekat ke arah pintu. Benarlah pendengarannya. Di dalam dia melihat mas Rudi mantan suaminya yang dulu meninggalkannya yang kabur bersama Tina


"Mas Rudi..!!"


Mas Rudi yang ada di dalam ruangan refleks menoleh dan tampak kaget ketika dilihatnya Laras telah berdiri di dalam ruangan


Tina yang juga ada di ruangan tersebut ikut menoleh


"Oh, hebat ya setelah kabur puluhan tahun akhirnya kita bisa bertemu di sini"


Mas Rudi segera menoleh pada Tina yang saat itu sedang terbaring


"Ngapain kamu ada disini?"


Laras tersenyum menyeringai kearah Rudi yang tak bersahabat melihatnya


"Begitukah cara kamu menyapa istri yang telah lama kamu tinggalkan?"


"Istri?, kamu lupa jika kita telah puluhan tahun berpisah?"


"Bajingan kamu mas!"


"Sekarang kamu pergi, jangan kamu datang kesini lagi, istri saya mau istirahat"


Panas hati Laras mendengar mas Rudi berkata seperti itu. Apalagi dilihatnya jika Rudi sangat perhatian pada Tina yang sedang terbaring


"Oh, jadi istri kamu sakit?, saya harap dia cepat mati!"


Tina langsung melototkan matanya mendengar ucapan Laras


"Kamu yang harusnya cepat mati. Kenapa? kamu masih nggak bisa nerima jika mas Rudi jauh lebih bahagia sama aku ketimbang sama kamu?"


Kembali wajah Laras memerah, dan Rudi segera menarik tangan Laras keluar dari dalam ruangan


"Awas kamu mas, akan ku buat kalian berdua menerima sakit yang selama ini aku rasakan"


"Laras!!!, dengarkan aku, aku itu meninggalkan kamu karena ada sebabnya"


"Hampir sembilan tahun menikah sama kamu, kamu tak pernah menuruti ajakanku untuk pindah dari rumah orang tuamu, sifat buruk mu yang selalu iri sama orang makin membuatku tak suka. Seluruh nasihatku kamu anggap salah, kamu selalu lebih mendengarkan kata ibumu"


Wajah Laras kian memerah, dengan dada turun naik dia mengangkat tangannya hendak menampar wajah Rudi, tapi gerakan tangannya kalah cepat karena Rudi segera menangkap tangannya dan menepisnya


"Jangan kau anggap aku tidak berani memukulmu, aku bukanlah lelaki pengecut yang akan memukul perempuan, aku diam selama ini karena aku menghargai kamu, tapi kamu tak pernah menghargai aku"


"Dasar lelaki bajingan, dan itu istri kamu itu. Dia perempuan jal****g yang tak punya hati yang tega merebut suami iparnya sendiri"


Rudi tersenyum sinis mendengar ucapan Laras


"Tak punya hati kamu bilang?, saya tanya sama kamu, apa kamu punya hati saat kamu mendzolimi Indah dan anak-anaknya, hah?"


"Kamu ingat bagaimana kamu menggunting pakaian yang masih bagus untuk kamu berikan pada anak Indah sebagai penghinaan kamu, kamu anggap itu punya hati, iya?"


"Dan masalah Tina, dia tak salah disini, kamulah yang bersalah. Karena tingkah buruk kamu yang membuatku akhirnya pergi meninggalkan kamu"


"Sekarang kamu pergi, jika tidak aku akan mengusir kamu!"


Sambil berkata begitu, Rudi mendorong tubuh Laras

__ADS_1


Laras pergi sambil menatap penuh kebencian pada Rudi yang masuk kembali keruang perawatan dan menutup pintu


...****************...


Aku yang pulang segera memasukkan mobil kedalam garasi dan segera masuk kedalam rumah


Naik kelantai dua dimana aku temukan Adam sedang mengajari kedua anak Nina merujoah.


Tak tampak adanya Naura. Dengan pelan aku kembali keluar dari ruangan, naik kelantai tiga menuju kamar Naura


Saat aku mau mengetuk pintu, kudengar dari dalam seperti ada lantunan lagu


Baghir min 'aeyniy wana shayfik


Wadallii washalti liih


Lau esma' ismii bisyfayfik


Bauulik kararih


Kudengar juga Naura ikut bersenandung. Dengan diliputi rasa penasaran aku mengetuk kamarnya dan mengucap salam


Naura yang mendengar bundanya mengetuk pintu segera berjalan membukakan


Aku masuk, kulihat handphone Naura masih bersuara. Dan aku juga dapat melihat jika Naura gugup dan segera mematikan lagunya


"Lagunya bagus, dapat dari mana?"


Naura tersenyum samar


"Download bun"


Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya. Tiba-tiba handphonenya berdering, dan aku melirik


Emir


Wajah Naura menegang dan tampak gugup. Aku berdiri menjauh, berjalan kearah jendela, memberi privasi pada anak gadisku


Naura mengabaikan panggilan Emir dan mendekati bundanya ketika handphonenya kembali berdering


"Angkatlah"


Naura melirik kearah handphone di atas ranjang lalu menoleh ke arahku


"Bunda tidak mau ummi marah dan menganggap bunda gagal mendidik mu"


Naura mengangguk dan segera menerima panggilan video call dari Emir


Law tuthlubii minnii 'aeynaia


Law tuthlubii 'eumurii kamaan


Hadiikii siniini algayaa


Wahakun raadhii wa farhan


Intilliw guudik ganbiy


Hasisnii anaana insaan


Dhaa min awwel deqiqah lahubbak


qalbii maal


Aku tersenyum simpul mendengar suara tuan muda Emir. Ternyata bisa juga dia bernyanyi dan merayu anak gadisku


Wajah Naura seketika langsung merah mendengar Emir menyanyikan lagu untuknya


"asf 'Emir , huna 'umiy" (Maaf Emir, disini ada bundaku)


"Astaghfirullah"


Naura memutar handphone ke arahku dan aku melambaikan tangan kearah tuan muda Emir yang aku yakini sedang berada di kantor karena dia memakai jas dan duduk di kursi kerja


"Assalamualaikum bunda"


"Waalaikumussalam ya Habibi..."

__ADS_1


Aku melihat jika tuan muda Emir juga tampak malu padaku


"Does young master have a special relationship with my daughter?" godaku yang makin membuat wajah keduanya tersipu


__ADS_2