Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Memarahi Andi


__ADS_3

Melihat kami bertiga berpelukan, umakku berdiri, menepuk bahuku berkali-kali, aku menoleh dan berganti memeluknya.


Adam dan Naura sama-sama menyusut matanya.


Mc yang didapuk mengatakan acara selanjutnya gunting pita. Dengan sayang Naura dan Adam menggandeng tanganku, mengajak kearah gedung utama klinik yang tertutup rapat.


Adam memimpin doa, dan sekali lagi aku bangga karena anakku sendiri yang mendoakan klinik saudarinya


"Bismillah..." ucapku lirih sambil menggunting pita diikuti dengan tepuk tangan.


Secara langsung kedua anakku membuka klinik dan membawaku beserta rombongan dari pemerintahan masuk kedalam klinik


Sebentar masuk hanya sebagai seremonial saja, aku dan rombongan keluar lagi.


Kembali acara dilanjutkan dengan doa. Kali ini yang berdoa adalah Akmar. Tentu saja aku sangat terkejut karena ternyata dia ada di sini.


Sejak tadi aku tidak melihatnya, rupanya dia ada di barisan para santri perwakilan panti yang kami undang, pantaslah jika aku tidak melihatnya


Kami mengaminkan semua doa yang dilafadzkan Akmar. Walau aku menunduk, tapi aku mencuri curi pandang pada Naura yang duduk di sebelahku.


Selesai berdoa, Akmar menghampiriku dan menyalamiku


"Terima kasih Akmar"


Akmar mengangguk dan membungkukkan sedikit tubuhnya lalu dia kembali ketempat duduknya


Selanjutnya acara makan bersama, kami menyiapkan lima meja prasmanan. Seluruh tamu undangan makan, aku tetap duduk di tempatku bersama dengan umak bapakku


"Kok ada Akmar?"


Aku tersenyum pada bapakku


"Naura yang mengundangnya, pak"


Bapak dan umakku hanya menganggukkan kepala.


Kulihat rombongan pegawai kantor cabang Salam Group juga berbaris antri mengambil makan. Aku terus melihat kearah Riyan dan Afdal


Selesai semuanya makan, para pejabat mulai mendekati dan memberi selamat padaku, bahkan dari Dinkes sangat mendukung dibukanya klinik ini


Setelah cukup berbasa basi, mereka pamit, dan kak Andri yang mengantarkan mereka sampai di depan


Rombongan Riyan mendekatiku sesuai dengan pesan yang tadi disampaikan Adam pada mereka


"Assalamualaikum mbak Indah" sapa Afdal


Aku menjawab salamnya dan menyalaminya dengan hangat


"Hei, Riyan, Maa Syaa Alloh lama sekali ya kita tidak bertemu, gimana kabarnya?"


Riyan yang masih seperti dulu tampak malu saat menyalamiku. Lalu semua karyawan cabang yang lain ikut menyalamiku


Kami kembali duduk di dalam tenda. Adam sedikitpun tak jauh dariku. Begitupun dengan pak Abraham, setelah berjabat tangan dengan Afdal akhirnya dia kembali berdiri tegap menjagaku


"Selamat ya mbak, kami sangat bangga dengan kesuksesan mbak"


Aku tersenyum mendengar pujian Afdal


Dari jauh aku dapat melihat Andi yang terus menatap kearah kami yang mengobrol


"Saya punya toko juga, saya yakin produk kalian mengisi toko saya"


"Oh benar mbak, saya sendiri yang terjun langsung"


Aku menoleh kearah Riyan


"Benarkah?"


"Iya mbak, karena sekarang Riyan menjadi kepala penjualan"


Aku tersenyum bahagia mendengar jawaban Afdal


"Wah, selamat ya Riyan. Tak ada yang nyangka kan jika akhirnya malah kamu yang jadi kepala penjualan"


Riyan mengangguk sambil tersenyum


"Bapak Ariadi tidak disini mbak?"


"Oh, beliau di Jeddah, dua bulan yang lalu beliau disini, bahkan sempat berlebaran disini"


Afdal mengangguk-anggukkan kepalanya


"Sebagai gantinya beliau mengirimkan Pak Abraham dan teman-temannya untuk menjaga saya"


"Jadi keinget pas di Pekanbaru ya mbak"


Aku spontan terkekeh, diikuti Afdal yang juga tertawa

__ADS_1


"Mbak sampai sekarang terus berkomunikasi loh dengan kak Jen"


"Madam Jen?"


Aku mengangguk sambil tertawa


"Apa madame Jen masih suka berantem dengan pak Abraham?"


Aku menoleh kearah pak Abraham yang masih berwajah datar


"Iya, malah sempat jadian mereka"


Aku lalu terkekeh, pak Abraham berdehem yang membuatku makin tertawa geli


"Bercanda pak, maaf"


"Saya kaget loh mbak tahu mbak jadi TKW"


Aku menarik nafas dalam tersenyum kearah Afdal dan Riyan yang wajahnya sangat serius menunggu jawabanku


"Semuanya terjadi setelah perceraian itu mas Afdal. Andi menikah lagi dengan Tina, kami diusirnya, mas sama pak Abraham pernah kan mampir ke kontrakan kami"


"Iya mbak, sehabis dari sanalah pak Abraham ngamuk dan pak Andi habis dihajarnya di depan kami"


Mulutku ternganga, lalu aku mendongakkan kepalaku menatap pak Abraham


"Serius pak?"


"Untung dia tidak saya bunuh, mbak"


Aku cepat berpaling dari pak Abraham, melihat kearah karyawan lain yang wajahnya tampak kaget


"Beliau ini bodyguard suami saya, makanya keselamatan saya menjadi prioritas beliau"


"Jangan macam-macam sama beliau, dulu pak Andi yang tadi mengobrol sama kita habis babak belur dihajarnya dalam sekejap"


Aku tersenyum simpul mendengar ucapan Afdal dan karyawan yang lain makin menegang wajahnya


"Kalau begitu ajari saya bela diri pak"


Aku menoleh pada Adam yang sejak tadi diam yang sekarang mendongakkan kepalanya menatap pak Abraham


"Tenang saja dek, guru wushu terbaik di Jakarta teman bapak, nanti bapak yang akan membawamu padanya"


Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat, tak setuju dengan niat Adam


Aku dan yang lain terkekeh mendengar jawaban Adam


Kami terus mengobrol sampai cukup lama, sedikitpun Andi tak berani mendekati kami.


Kulihat Naura dan Akmar duduk didekatnya, mengajaknya mengobrol


Hingga akhirnya rombongan Afdal berpamitan padaku dan Adam


"Sampaikan salam hormat saya pada bapak Ariadi ya mbak"


"Pasti mas, saya pasti akan menyampaikan sama beliau"


Lalu Afdal dan seluruh anak buahnya menyalami kami.


...****************...


"Akmar kapan sampainya nak?"


"Kemarin siang bunda"


Aku segera menoleh pada Naura yang duduk di dekat Adam


Saat ini telah hampir malam, tapi kami masih di klinik, pihak penyelenggara mulai membereskan tenda, sementara mbak Dian dan temannya sibuk membereskan sisa piring dan mencucinya.


Yang lain sibuk membersihkan halaman klinik, bahkan ada yang turut mengangkut sisa sampah ke mobil sampah yang telah menunggu


"Sendirian?"


"Iya bunda, papa tidak bisa ikut, pekerjaannya sebagai kepala daerah menuntut beliau tidak bisa pergi kecuali dinas luar"


Aku menganggukkan kepalaku


Saat kami masih mengobrol, pintu diketuk, kami yang ada di dalam spontan menoleh


Andi.


Dia berdiri di depan pintu sambil tersenyum kaku kearah kami


Aku membuang mukaku, tiba-tiba kembali rasa muak itu muncul


"Adek, ajak Akmar berkeliling klinik dulu nak, bunda sama ayuk mau bicara sama tamu kita"

__ADS_1


Adam mengangguk dan sepertinya dia faham arah omonganku.


"Ayo Akmar, kamu kan belum lihat semuanya"


Akmar mengangguk dan segera bangkit dari kursinya.


Sampai di dekat Andi, Adam hanya melirik sekilas lalu ngeloyor keluar


Karena Adam dan Akmar tak terlihat lagi, aku segera menatap tajam kearah Naura


"Tanyakan apa perlu ayah kamu kesini"


Naura bangkit, menarik sebuah kursi lalu menatap kearah Andi


"Masuk ayah"


Andi tanpa ragu masuk dan duduk di kursi yang tadi ditarik kan Naura


"Indah, tujuanku kesini pertama adalah ingin mengucapkan selamat untuk keberhasilan kamu membangunkan klinik untuk Naura"


Aku tersenyum sekilas mendengar ucapannya


"Yang kedua aku mewakili ibuku mau meminta maaf padamu"


"Wakil?, maaf?, mengapa bukan ibumu langsung yang meminta maaf sama saya? mengapa harus lewat kamu?"


Andi menundukkan kepalanya


"Pak Tomo ada diluar kan yuk?"


Naura menoleh ke depan, lalu menggeleng


Aku segera mengambil handphone, menghubunginya


"Maaf pak, bisa keruangan kepala sekarang?"


Ku lihat wajah Andi menegang. Dan tak lama pak Tomo muncul berdua dengan pak Binsar


"Ya mbak?, maaf tadi kami di bawah. Tidak tahu jika mbak hanya berdua saja dengan Naura"


"Tolong bapak berdua berjaga di depan pintu. Saya merasa terganggu ada orang asing disini"


Keduanya mengangguk lalu memandang dingin kearah Andi, dan Andi hanya bisa pasrah mendengar ucapan Indah


"Baik mbak, kami pastikan tidak akan seujung kuku pun sesuatu hal buruk terjadi pada mbak"


Aku mengangguk, sementara pak Tomo dan pak Binsar segera keluar dan berjaga di depan pintu


"Cepat katakan apa tujuan kamu yang sebenarnya, saya tidak punya banyak waktu untuk mendengar ocehan mu yang tidak penting itu"


Naura menggigit bibirnya mendengar ucapan sang bunda, sementara Andi menarik nafas dalam


"Ibuku didiagnosis kanker otak stadium tiga, dan sekarang kami masih mengumpulkan uang untuk membawanya ke Palembang sesuai dengan rujukan rumah sakit disini"


"Jadi ibuku tidak bisa kemana-mana, dia terbaring lemas di rumah sakit"


Aku tersenyum menyeringai mendengarnya.


"Jauh sebelum ibumu sakit, dia punya banyak kesempatan untuk meminta maaf padaku Andi, tapi apa yang ibumu lakukan?, dia terus saja menghina dan memakiku"


"Aku tidak meminta dia untuk bersujud di kakiku, aku hanya meminta dia memohon maaf dengan setulus hati dia, itu saja"


"Bahkan kemarin saat di rumahku pun ibumu masih enggan meminta maaf padaku"


"Padahal dia meminta padaku untuk membiayai pengobatannya, tapi meminta maaf padaku tak mau, kan lucu"


"Aku bukan ingin dihormati atau gila hormat, tapi perlakuan ibumu padaku sudah melewati batas, sehari saja ibumu itu tidak pernah menganggap ku menantunya"


"Selalu menganggap ku ini musuh. Aku sampai heran apa sih salahku sama ibumu dan Laras sampai mereka sangat membenciku?"


"Sekarang, giliran sakit parah baru kepikiran meminta maaf padaku, untuk apa?, biar aku luluh pada dia terus bersedia menanggung segala biaya pengobatannya?"


"Tidak Andi, aku tidak bodoh. Aku membangun semua impian ketiga anakku dengan air mata, bukan dengan menjual diri seperti yang dituduhkan ibumu"


"Aku mewujudkan segala mimpi mereka bertiga dengan dendam kesumat ku pada kalian"


"Kamu lihat Andi, Naura aku jadikan bidan seperti cita-citanya, aku buatkan klinik seperti angan-angannya, aku jadikan Mikail tentara seperti cita-citanya, dan besok Adam pun akan aku jadikan tentara"


"Dan kamu?, aku saja heran mengapa kamu masih bisa kesini"


"Kau lihat kan video slide tadi? ada tidak ketiga anakku menyebutmu sebagai ayahnya?"


"Tidak, mereka malah menganggap suamiku, Ozkan Yilmaz sebagai sosok papa yang mendukung mereka"


Kepala Andi rasanya tak bisa diangkat, dia terus menunduk. Sementara aku terus meluapkan emosiku, dan Naura seperti apa keadaannya? Naura menangis melihatku yang memarahi ayahnya


Aku tak tahu, dia menangis karena aku memarahi Andi atau dia sedih karena melihat penderitaanku

__ADS_1


__ADS_2