
Benturan keras yang terjadi membuat para pekerja dan penjaga alat berat yang tidur tak jauh dari lokasi kecelakaan segera berhamburan keluar menuju ketempat dimana mobil yang dikemudikan Andi telah ringsek
"Allahu Akbar...." teriak mereka dengan panik dan segera berlari menolong
Asap mengepul keluar dari dalam kap mesin, posisi mobil sudah berputar 360 derajat, bahkan salah satu pintu telah terbuka
Dengan cepat seluruh pekerja dan beberapa mobil yang melintas membantu mengeluarkan seluruh korban
Tiga penghuni mobil tidak ada yang sadarkan diri. Mata mereka semuanya terpejam
"Hati-hati, supirnya terjepit...!" teriak salah seorang yang berusaha menarik paksa pintu mobil untuk menolong Andi
"Astaghfirullah..." teriak yang lain saat melihat korban perempuan yang kepalanya mengucurkan darah
"Astaghfirullah, Allahu Akbar...." teriak yang lain saat melihat seorang korban perempuan lain yang terpelanting jauh di aspal, dengan posisi tertelungkup tak bergerak lagi
"Cepat... bawa semuanya ke rumah sakit!!" teriak yang lain sambil menghentikan sebuah mobil pick up
Korban perempuan yang tergeletak di aspal mereka angkat keatas bak pick up, lalu menyusul perempuan kedua.
Sedang yang lain masih berusaha mengeluarkan supir yang terjepit. Sementara seorang pria muda yang duduk disebelah supir kepalanya berdarah, wajahnya lebam dan tangan, kaki serta bahunya patah.
Karena dia memakai save belt, jadi dia tidak terpelanting keluar. Tapi naas pada sang supir, kaca mobil yang hancur mengenai wajahnya, bahkan karena mobil beberapa kali terguling menyebabkan dia terjepit.
"Cepat bawa ke rumah sakit. Dua korban ini menyusul. Yang penting yang dua itu bawa dulu!" teriak yang lain pada supir pick up
Supir pick up yang bingung dan tegang segera masuk kedalam mobil. Beberapa pekerja proyek jalan ikut naik, memegangi tubuh kedua korban yang tak bergerak
"Sepertinya mereka tewas..." desis salah satu dari tiga pekerja yang ikut mobil pick up. Temannya yang lain hanya mengangguk dengan wajah tegang
Segera pick up membawa korban ke puskesmas terdekat, tapi pihak puskesmas menolak karena pasien sangat gawat darurat dan butuh penangan ekstra yang alat kesehatannya tak dimiliki puskesmas
"Bawa ke rumah sakit Lubuklinggau saja" usul perawat yang piket
Segera mobil berputar keluar puskesmas dan kembali lewat jalan tempat kecelakaan yang kini semakin ramai.
Di belakang mobil pick up tadi mengiring dua mobil ambulance, dimana di salah satu ambulance telah berisi dua korban
Dua korban kecelakaan yang telah berhasil dikeluarkan dari dalam mobil yang ringsek segera mereka masukkan kedalam ambulance.
Dan dengan cepat ambulance membawa keempat korban menuju rumah sakit Lubuklinggau
Raungan sirine ambulance, membuat semua mobil dan kendaraan lain menyingkir
"Apakah mereka masih hidup?" tanya salah satu perawat yang duduk di sebelah supir ambulance
"Wallahu alam, kamu lihat sendiri bagaiman bentuk mobilnya"
...****************...
Postingan di media sosial tentang kecelakaan segera tersebar cepat. Naura yang sedang bersiap berangkat ke klinik mendapat telepon dari temannya yang bekerja di rumah sakit
"Ra, buka medsos, kok kayanya aku kenal ya sama mobil yang kecelakaan di perbatasan kabupaten"
"Mobil apa? kecelakaan apa?"
"Ngeri Ra, kamu lihat aja deh sendiri"
Naura yang penasaran segera membuka media sosial pribadinya. Segera di scrollnya kebawah mencari berita kecelakaan
Lemas sudah kakinya ketika melihat mobil merah yang diyakininya adalah mobil mbahnya, terlebih ketika dia melihat video orang-orang menyelamatkan para korban
"Ayaaahhhhh...." Naura meraung
Raungan kencang Naura membuat Adam yang sedang berlatih bela diri di halaman segera berlari masuk, dan Nina yang sedang berdandan di kamar segera berlari keluar
"Ada apa yuk??"
Tubuh Naura menggigil, air matanya berhamburan keluar.
Adam segera mendekap Naura dari samping sambil membisikkan istighfar berkali-kali ke telinga Naura yang masih terlihat shock
Nina segera mengambil handphone Naura yang terletak di meja dan membukanya.
Tubuh Nina langsung ambruk, tak sadarkan diri. Adam jadi panik melihat tantenya pingsan dan makin bingung apa yang terjadi
Segera dia mengambil handphone Naura yang tergeletak di lantai. Segera dia mengusap wajahnya berkali-kali sambil beristighfar. Lalu Adam membaca sekali lagi postingan yang tertulis di media sosial itu
__ADS_1
Kecelakaan berat terjadi di jalan Lintas Sumatera, mobil pribadi yang menabrak alat berat. Belum diketahui bagaimana kabar korban, karena semua korban sekarang dilarikan ke rumah sakit Lubuklinggau.
Semoga semuanya selamat. Aamiin
Adam berlari kearah samping mencari kotak P3K, mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan di atas hidung Nina dengan harapan dia akan sadar
Sementara Naura yang shock masih terus menangis.
"Istighfar yuk, ayo kita ke rumah sakit, kita cari di rumah sakit mana ayah kita di bawa"
"Mbak Ning...." ucap Nina lemah sambil membuka matanya. Segera Adam berjongkok dan membantu Nina berdiri. Segera Nina memeluk Adam sambil sesenggukan menangis
"Kalian harus sabar, kita ke rumah sakit sekarang, kita cari di rumah sakit mana ayah dan yang lainnya di bawa"
"Yuk?, ayolah yuk, ayuk harus tegar. Berdoa semoga tidak terjadi apa-apa sama ayah. Telpon yuk di rumah sakit mana saja yang ayuk ada kontaknya, tanya sama mereka apa ada korban kecelakaan di perbatasan kabupaten di rumah sakit mereka!"
Seperti tersadar, Naura segera menelpon temannya tadi
"Ya Ra, udah lihat?"
"Udah, ada di rumah sakit kamu nggak korbannya?"
"Nggak ada, emang kenapa Ra?"
Panggilan langsung Naura putus begitu mendengar jawaban tak ada dari temannya.
Dengan tangan gemetar Naura mencari kontak dokter dan perawat kenalannya
"Nggak ada Ra, di rumah sakit kabupaten paling"
Kembali Naura memutus panggilan. Masih dengan degup jantung yang cepat dia menghubungi rumah sakit tempat dimana dulu dia membawa Nina terapi
"Iya ada Ra, ini sedang ditangani. Kenapa?"
Tangis Naura kembali pecah dan dengan cepat dia berlari naik ke kamarnya, mengambil atm yang selama ini disimpannya dan tas selempang.
Baju klinik masih terpasang, tak digantinya. Dengan segera dia menyambar jaket dan melesat turun dimana Adam telah memanaskan mobil.
Nina dengan lemah berjalan masuk kedalam mobil, dan dengan cepat satpam rumah membuka pagar ketika dilihatnya mobil Pajero milik Adam akan keluar
"Maaf bu, saya dan tante saya tidak bisa piket hari ini, keluarga kami mengalami kecelakaan" ucap Naura di handphone pada bidan Karmila dan pada dokter Viktor
...****************...
Di Jeddah
Ozkan yang sedang terlelap langsung terjaga begitu mendengar suara istrinya seperti bergumam tak jelas
Ozkan langsung bangun, mengangkat separuh tubuhnya lalu menghidupkan lampu
Dilihatnya jika Indah bergerak gelisah sambil bergumam tak jelas
"Sayang... Sayang..., sayang bangun kamu kenapa?, sayanggg..." ucap Ozkan sambil mengguncangkan pelan tubuh istrinya
Aku segera terjaga dan membuka mataku
"Astaghfirullah hal adzim" ucapku sambil segera memeluk suamiku
Degup jantungku langsung berpacu cepat. Ozkan segera mengelus kepala istrinya yang menempel di dadanya. Sambil menciumi puncak kepala istrinya dengan dalam
"Sebentar lagi subuh, lebih baik kita bangun dan mandi"
Aku mendongakkan kepalaku kearah suamiku, menggeleng
"Hei, kenapa?, mimpi buruk, heemmm?"
Aku mengangguk. Ozkan lalu mengelus bahu istrinya yang masih terus lekat memeluk pinggangnya
"Boleh abang tahu, mimpi buruk apa?"
Aku diam sejenak, mengingat mimpiku barusan
"Rumah mantan mertuaku terbakar, dan aku lihat ada Naura di sana sedang menangis meraung"
"Aku berusaha untuk menarik Naura tapi tak bisa, sampai akhirnya Adam yang menolongnya dengan mengorbankan dirinya terbakar"
Aku lalu kembali mengeratkan pelukanku dan terisak
__ADS_1
"Aku takut hal buruk terjadi pada kedua anakku bang"
Ozkan masih mengalungkan tangannya di bahu istrinya dan masih terus menciumi puncak kepala Indah
"Semoga hanya mimpi, setelah Subuh, telpon mereka"
Aku mengangguk sambil menghapus air mataku
_Sementara di rumah sakit Lubuklinggau_
Naura dan Nina segera berlari kebagian informasi untuk menanyakan dimana korban kecelakaan dibawa
"Mereka dibawa keruang IGD, bahkan ada yang langsung masuk ICU"
Naura dan Nina segera berlari masuk ke IGD setelah mendapatkan informasi, sementara Adam memberi kabar pada Mikail
Lemas lutut Naura dan Nina ketika melihat wajah Dimas yang bengkak dan lebam.
Berkali-kali dia merintih kesakitan, apalagi bahu dan kakinya patah, sehingga dia makin kesakitan
Sementara di sebelahnya ada mbak Ningsih yang juga merintih kesakitan, kepalanya luka, wajahnya lebam, matanya bengkak, bahkan putih matanya telah berubah merah seperti darah
Naura dan Nina hanya bisa melihat dari balik kaca saat para dokter berjibaku memberi pertolongan pada Dimas dan mbak Ningsih
"Berarti ayah sama buk Las di icu" lirih Naura sambil segera berlari diikuti Nina di belakang
Adam hanya mengikuti Naura kemanapun ayuknya pergi. Dia ingin memastikan jika ayuknya itu baik-baik saja
Kembali Nina dan Naura hanya bisa mengintip dari balik kaca saat tiga orang dokter sibuk memasang selang dan alat bantu pernapasan pada tubuh Andi yang penuh darah
Air mata Naura mengalir deras saat ditatapnya layar komputer yang menyala yang menunjukkan detak jantung Andi yang kian melemah
Dokter keluar dari ruang Icu, dengan segera Naura menghampiri
"Bagaimana ayah saya dokter?"
Dokter membuka maskernya, menatap Naura
"Luka ditubuh ayah anda sangat parah, bahkan paru-parunya juga luka akibat benturan keras. Dan beliau kehabisan banyak darah. Kami butuh banyak darah untuk menyelamatkannya"
"Ambil darah saya dokter, saya anaknya"
"Boleh, segera anda keruang PMI, semoga darah anda dan ayah anda cocok"
"Darah saya A dokter, ayah saya darahnya apa?"
"Ayah anda darahnya AB, berarti anda tidak bisa mendonorkan darah anda"
Naura langsung menyandarkan tubuhnya di tembok, air matanya kembali deras mengalir
"Selamatkan ayah saya dokter, berapapun biayanya akan saya bayar, tapi saya mohon selamatkan ayah saya" ucapnya tergugu
Adam mengelus bahu Naura.
"Pasien satu lagi mana dokter?, korban kecelakaan kan ada empat?" tanya Nina sambil menghapus air matanya
"Satu korban meninggal dunia di lokasi, dan saat ini sudah berada di ruang jenazah"
Kaki Nina langsung lunglai, tubuhnya langsung ambruk di lantai mendengar ucapan dokter
Naura kembali terisak, dengan cepat dia membalikkan badannya memeluk erat Adam
"Dokter, pasien kritis!" teriak perawat menghentikan langkah dokter
Dokter yang semula hendak pergi segera membalikkan kembali badannya masuk kedalam ruang icu
"Ayaaaahhh....bertahanlah ayaaahhh..." ratap Naura
Seorang perawat keluar dengan wajah tegang
"Ada apa dengan ayah saya sus?"
"Pasien makin drop, saya mau ke PMI mencari darah lagi"
"Ambil darah saya dokter, darah saya AB" lirih Adam yang membuat mata Naura terbelalak
Dengan segera Adam berjalan cepat mengikuti langkah suster menuju ruang PMI
__ADS_1
"Ayah, semoga darah ayah yang mengalir di tubuhku bisa menolong ayah" batin Adam ketika darahnya mulai mengalir mengisi kantong darah